
Khanza duduk bersila di bibir kolam. Dia menatap wajahnya dari pantulan air kolam. Wajah yang terlihat jelek karena sedih. Kelopak matanya di genangi riak riak bening air mata. Hatinya sangat sedih. Dadanya terasa sesak.
Biasanya saat lagi sedih begini dia akan teringat papa dan mamanya. Yang selalu mencurahi setiap detik kehidupannya dengan cinta, setiap detak nafasnya dengan kasih sayang.
"Papa, Rara rindu! Mama... Rara rindu! Rara sangat merindukan kalian!" ucapnya sendu. Akhirnya bongkahan kristal itu merembes jatuh langsung di air kolam. Bayangan cerminan wajah sedihnya hilang.
Rara terisak isak sambil menekan dadanya yang terasa sesak dan sakit seperti kena hantaman benda keras. Air matanya semakin deras jatuh membasahi pipi. Bahunya sampai terguncang berusaha menahan suara tangis agar tidak pecah. Selama hidup, dua kali dia mengalami kesedihan yang teramat sangat seperti ini. Pertama saat Cio meninggalkannya dulu. Dan kedua tak kalah menyakitkan, yaitu saat ini Sementara di rasakan. Dan untuk kesedihan kedua yang di rasakan saat ini, juga akan di pendam seorang diri tanpa mau berbagi pada siapa pun termasuk papa mamanya.
Tak tahan lagi menahan kesedihan, suara tangisnya pecah.
"Papa....hiks hiks hiks, mama..hiks hiks hiks!"
"Nona muda....!" panggilan di belakangnya membuatnya terkejut. Buru buru dia menyapu air matanya, menenangkan diri. Lalu menoleh kebelakang.
Ratih berdiri di belakangnya dengan ke dua tangan di depan perut.
Wanita ini memperhatikan wajah Rara yang sembab.
"Ada apa buk?" tanya Rara serak. Dia berharap Ratih tidak mendengar suara tangisnya.
"Maaf nona. Saya hanya ingin menyampaikan dokternya sudah datang!"
"Oh iya buk, mari kita ke dalam!"
Rara meraih ponselnya di samping. Benda yang membuatnya menangis sedih sejak tadi. Lalu berdiri pelan pelan.
Ratih mendekat untuk membantunya berdiri.
"Biar saya bantu nona!"
"Terimakasih buk!"
Rara berusaha berdiri dengan di bantu Ratih.
"Apa yang membuat nona sedih?" batin Ratih melihat sekilas mata Rara yang basah dan merah. Sebenarnya dia sudah memperhatikan Rara sejak tadi.
Mereka berjalan pelan-pelan masuk ke dalam.
Setelah menjalani pemeriksaan, menjalani beberapa tes dan juga pengobatan dari dokter selama tiga jam, kaki Rara sudah terasa enakan. Begitu juga bagian bagian tubuhnya yang lain. Dia mulai lancar berjalan, rasa sakit juga sudah berkurang.
.
.
__ADS_1
Sementara di kantor Ryu tidak tenang. Dia tidak fokus dengan rapat yang sementara berlangsung. Sejak turun dari rumah sampai sekarang ini dia kepikiran terus pada Khanza. Perubahan sikap gadis itu yang membuatnya bingung dan terganggu. Berulangkali dia membuang nafas berat.
Kalau hanya tentang pertengkarannya dengan Anggi tadi pagi tidak ada masalah. Karena setelah di lihat dari video rekaman CCTV, Khanza masih tertidur saat terjadi pertengkaran di antara mereka. Kata kata dan suara keras Anggi tidak membuatnya terbangun. Khanza hanya melakukan pergerakan sedikit kemudian tidur lagi. Lalu apa yang membuat sikapnya dingin seperti itu? Belum sebulan dia dan Khanza baikan dan menjalani hidup bersama, kini hubungan itu mulai renggang lagi dengan sikap dinginnya Khanza yang di rasakan menjaga jarak dan menjauhinya. Ryu semakin bingung dan gusar karena tidak mendapatkan jawabannya.
"Sebenarnya kamu kenapa dek?" ucapnya tanpa sadar.
Ucapannya yang terdengar jelas membuat peserta rapat melihat ke arahnya. Keadaan jadi sedikit berisik.
"Tuan!" Caroline segera berbisik padanya untuk menyadarkan.
Simon yang memimpin rapat segera memberi isyarat pada mereka untuk diam.
Ryu mengusap kasar wajahnya setelah sadar dengan keadaan. Dia membuang nafas berat.
"Lanjutkan rapatnya." perintahnya pada Simon. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang meeting.
Caroline memperhatikan kepergiannya secara diam-diam.
"Ada apa dengan tuan? Apa yang dia risaukan?" batinnya.
Dengan langkah panjang dan cepat Ryu menuju ruang kerjanya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
Ponselnya bergetar. Dia merogoh benda itu di dalam saku celananya seraya membuka dasi.
Dia langsung mengecek video rekaman CCTV.
Wajahnya kembali tegang setelah melihat video tersebut. Kaget melihat apa yang Khanza lakukan di pinggir kolam sambil memegang ponselnya. Juga menekan dadanya.
"Kenapa dia menangis?" gumamnya terkejut.
"Apa dia sakit?" melihat Khanza menekan dada.
Tapi tidak ada informasi dari dokter Kalau Khanza punya penyakit lain selain rasa sakit di tubuh akibat terpeleset. Kedua dokter itu sudah menghubungi dirinya setelah melakukan pekerjaannya.
Ryu kembali melihat rekaman video CCTV di rumahnya. Melihat dengan secara detail kejadian semalam hingga pagi tadi yang terjadi di kamarnya. Berharap menemukan sesuatu yang membuat sikap Khanza seperti itu, juga kesedihannya di pinggir kolam.
Hampir sejam berlalu terdengar ketukan dari luar. Masuklah Simon dan Caroline. Mereka melaporkan Rapat telah selesai.
Simon menyimpan berkas dan dokumen penting ke dalam filing cabinet. Caroline mengatur beberapa berkas di meja kerja Ryu seraya memperhatikan wajah tampan pria yang sangat di inginkan ini.
"Apa yang di lihatnya?" batinnya melihat Ryu tampak serius melihat layar ponsel.
Pelan pelan dia mendekati Ryu.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya ingin mengingatkan kembali undangan nanti malam!" katanya.
Ryu mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia hanya menanggapi dengan tatapan. Kemudian.....
"Keluarlah!" katanya dengan gerakan tangan. Lalu kembali menatap layar ponsel.
Simon memberi isyarat pada Caroline untuk keluar. Wanita bule itu segera keluar.
Simon tak berani mengganggu tuannya. Dia menyibukkan diri dengan memeriksa daftar beberapa perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan tuannya.
Lima menit berlalu, terdengar suara ribut-ribut di luar. Perdebatan yang cukup keras hingga terdengar sampai ke dalam ruang kerja Ryu.
"Apa yang terjadi di luar?" tanyanya melihat pada Simon.
"Saya akan memeriksanya!" Simon segera berjalan cepat ke pintu.
Di luar terjadi keributan yang di lakukan Anggi. Dia memaksa untuk masuk tapi terus di halangi Caroline. Anggi mengamuk. Caroline berusaha menahannya dengan menarik menjauhkan dari pintu. Bukan tanpa alasan Caroline melakukan itu, karena dia sudah mendapat perintah dari Ryu. Dan tentu saja dia akan melakukannya dengan senang hati. Karena dia benci dengan Anggi yang menjadi saingannya untuk mendapatkan Ryu. Dan ini kesempatannya untuk menjauhkan Ryu dari wanita ini.
Terjadi pergulatan di antara mereka. Yang satu bersikeras masuk, yang satunya sekuat tenaga menahan dan menghalangi. Mereka tidak perduli dengan mata para karyawan yang menonton gratis pertengkaran di antara mereka.
Hingga terdengar tamparan keras mendarat di pipi Caroline yang di layangkan Anggi.
"Beraninya kau menghalangi ku. Aku calon istri bosmu. Ingat statusmu. Kau hanya karyawan di sini! Jangan macam macam dengan ku!" sentak Anggi menunjuk Caroline yang meringis sakit sambil memegang pipi kanannya.
"Cih....!" Caroline mendengus sinis.
"Benarkah? Apa benar kau calon istrinya bos? Sepertinya itu hanya bualanmu saja. Jangan terlalu berangan-angan tinggi. Sebaiknya anda pergi dari sini. Karena tuan Ryu melarang mu untuk datang ke sini. Dia sudah memberi pesan seperti itu. Kau di larang datang ke sini apalagi masuk ke ruang nya. Kau tidak bisa datang sembarangan lagi ke sini!" kata Caroline tersenyum mengejek.
"Cepat pergi dari sini. Anda tidak punya keperluan lagi di sini!" sambung Caroline masih tersenyum mengejek.
"Sekretaris sialan! Beraninya kau mengusirku!" Anggi mendengus geram. Dengan gerakan cepat dia menjambak rambut Caroline. Di jambak nya dengan kuat hingga membuat Caroline meringis. Dan Caroline dengan sengaja tidak melakukan perlawanan dan membalas.
Sementara para karyawan lain tidak berani memisahkan mereka.
"Kau kira aku tidak mengetahui perasaan mu pada Ryu? Wanita **lang. Beraninya kau menyukai kekasihku! Jangan pernah berpikir bisa memisahkan aku dari Ryu dan mengambil dirinya. Karena aku tidak akan membiarkan itu dasar **lang rendah!" bisiknya sambil menatap dengan sorotan mata tajam.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak punya rasa malu?" sentak Simon.
*****
Tinggalkan jejak dukungan ya....
Like komen, dan hadiahnya 😘
__ADS_1
Terimakasih....