Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
67. Kekesalan Cio


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Rara, Riri dan fitri berjalan kejalan raya dan berhenti di dekat halte bus. Mereka baru keluar dari cafe tempat biasa mereka hangout.


"Ya ampun, kak Raka kemana sih? lama amat!" omel Rara setelah 20 menit berlalu menunggu Raka yang belum juga muncul dan dia gak enak hati sama ke dua temannya yang setia menemaninya sementara hari mulai gelap mendekati Magrib.


"Mungkin urusannya belum kelar kali Ra. Sabarlah sedikit." kata Riri.


"Aku gak tahu. Aku gak enak sama kalian berdua yang ikut menunggu lama." kata Rara kesal. Ponselnya berdering. Telepon dari Raka.


"Kakak di mana sih?" tanyanya kesal.


"Maaf dek, kakak gak bisa jemput. Urusannya belum kelar. Tapi akan ada yang jemput kamu. Tunggu saja di situ. Kakak lagi nyetir nih, sudah ya....Kakak menyayangimu!" Raka memberi penjelasan lalu segera mematikan telepon karena saat ini dia sedang mengejar mobil di depan yang hampir menghilang dari pandangannya.


"Ih kakak, kenapa di matikan?" omel Rara kembali kesal. Belum sempat membalas tapi malah di matikan.


"Kenapa Ra?" Fitri menatapnya.


"Kak Raka batal jemput karena ada urusan penting. Kalian pergi saja, bentar lagi magrib. Tuh busnya datang."


Dan bus itu berhenti di depan mereka. Beberapa orang yang juga menunggu bergegas masuk.


"Terus kamu gimana?" tanya Fitri.


"Aku di suruh menunggu sebentar, akan ada yang jemput menggantikan dirinya."


"Kami temani dulu sampai jemputan mu tiba. Kami gak mau kamu kenapa napa lagi seperti kemarin." kata Riri.


"Kalian gak usah khawatir. Lihat, di sini ramai kok. Gak akan ada yang berani jahatin aku. Pergilah sebelum bus-nya ke buru pergi."


"Ya sudah, kami pergi dulu. Sampai ketemu besok. Bye...!" kedua gadis itu segera naik bus.


Rara melambaikan tangan pada mereka saat kenderaan ramah lingkungan itu bergerak melaju.


Sebuah mobil putih tiba-tiba berhenti tepat di depan Rara. Rara memperhatikan mobil itu, Kaca mobil di buka.


Wajah Rara mengernyit melihat wajah tampan Ryu di dalam mobil.


"Kenapa kakak ada di sini?" batinnya


"Sorry lama, masuklah." kata Ryu tersenyum meski dia tahu Khanza tidak suka melihatnya.


Rara menyadari ternyata Ryu yang menggantikan Raka untuk menjemputnya. Rara masih terpaku di tempatnya.


Ryu segera turun. Dia tahu Khanza masih marah padanya dan tidak akan naik mobilnya.


"Raka menghubungi kakak untuk menjemput Khanza. Ayo, kakak antar pulang." katanya agar Rara mau di antar pulang.


"Rara mau naik taksi saja!" Rara menolak, lalu segera berjalan. Dengan cepat Ryu mengejarnya. Ryu cepat menahan lengan kanannya, lalu mengangkat tubuh mungil itu.


Khanza kaget.


"Apa yang kakak lakukan? turunkan Rara!" Rara berontak untuk turun. Ryu menahan kuat seraya melangkah ke mobil.


"Turunkan Rara." sentak Rara agak keras.


"Diamlah dek, nanti orang orang mengira kakak menculik mu." kata Ryu.


Rara berhenti berontak, dia melihat ke sekelilingnya. Benar, orang orang sedang memperhatikan mereka berdua. Rara segera diam tak melakukan perlawanan.


Ryu segera memasukkannya ke dalam mobil dan di dudukan. Terus dia cepat naik. Dan melarikan mobilnya.


Rara melirik kesal dengan ekor matanya yang tajam. Dia diam sepanjang perjalanan melihat ke samping. Ryu menepikan mobil di jalan yang sepi. Lalu menoleh pada Rara. Maksud hati ingin menjelaskan mengenai pernikahan palsunya dengan Anggi.


"Khanza....!"


"Jangan pegang pegang." Rara segera menarik tangannya ketika hendak di pegang Ryu.

__ADS_1


Ryu membuang nafas berat.


"Kakak mau menjelaskan sesuatu padamu."


"Jangan bicara apapun, Diam. Dan jangan sentuh sentuh Rara. Jalan saja, Kalau tidak, Rara akan turun di sini." potong Rara segera, lalu kembali membuang pandangannya ke arah lain.


Mau tidak mau Ryu diam. Sedikit kesal dia segera menjalankan mobilnya. Mereka diam sepanjang perjalanan. Ryu tiba-tiba berbelok arah, Tujuannya ke rumah sakit. Bukan ke rumah pribadi.


"Lho, kita mau kemana?" Rara melihat ke depan dan samping kiri-kanan. Ini bukan arah jalan pulang ke rumahnya.


"Kakak mau bawah Rara kemana?" tanya Rara lagi karena Cio tak menjawab. Rara berpikir mungkin Cio akan membawa ke apartemennya atau rumahnya yang lain.


"Turunkan Rara, Rara gak mau ke rumah kakak." takut Cio akan macem-macem lagi. Apalagi saat ini dia melihat wajah Cio tampa ekspresi, tatapan dingin ke depan. Cio sepertinya marah kepadanya. Dan itu yang Rara inginkan. Cio marah, membencinya terus menjauhinya. Karena sejujurnya dia sangat takut dengan apa yang di lakukan Cio semalam, sementara kakaknya itu punya istri yang sedang hamil.


"Dengar nggak Rara bertanya? Kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang ke rumah pribadi." kata Rara lagi sedikit keras, bercampur takut.


Ryu masih diam tak menjawab, suasana hatinya sangat buruk dengan ucapan dan tingkah Khanza.


Rara mengeluh sedih melihat tetap diam. Dia mengambil ponselnya menghubungi Yuri untuk menjemputnya. Karena dia tahu saat ini Wisnu pasti sedang sibuk dengan papanya. Dan dia tidak ingin mengganggu mereka.


Belum sempat dia bicara dengan Yuri, ponselnya di rebut Ryu tiba-tiba. Rara kaget bercampur takut melihat tatapan tajam Ryu. Ryu kembali menepikan mobil. Dia segera menoleh pada Khanza.


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu pikir kakak akan berbuat jahat padamu? Apa di matamu kakak seperti seorang penjahat sehingga kamu begitu takut pada kakak?" kata Ryu dengan suara meninggi bercampur emosi.


Khanza mengalihkan matanya ke bawah, tak mau bertatapan dengan Ryu.


"Khanza....! Lihat kakak!" suara Ryu masih keras.


Rara terisak, dia menangis semakin takut. Menunduk tak mau melihat pada Ryu. Kedua tangannya gemetaran saling meremas di atas pahanya.


Ryu menghempas kuat nafasnya melihat air mata gadis itu, juga ketakutannya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha mendinginkan hatinya yang panas. Lalu perlahan memberanikan diri memegang tangan Khanza agar gadis itu tidak takut padanya.


Rara terkejut dan segera menarik tangannya. Dia mundur ke pintu mobil.


"Jangan pegang pegang, Jangan sentuh Rara." ucapnya semakin takut melihat Ryu.


"Kakak hanya ingin menenangkan mu, kamu ketakutan dan sedih. Kakak nggak akan melakukan sesuatu yang menyakitimu lagi."


"Kakak bohong. Terus kenapa ini bukan arah rumah papa? Kakak mau bawah Rara kemana? Rara bertanya kakak gak menjawab."


"Maaf dek! Kakak tidak menjawab tadi karena kakak kesal dengan sikapmu, Bukan karena ada niatan buruk seperti apa yang kau pikirkan. Sebaiknya buang pikiran buruk mu itu dan juga ketakutan mu! Sebenarnya kakak ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sangat penting. Tapi sepertinya kau tidak akan percaya. Mari kita akan pulang ke rumah pribadi." kata Ryu. Lalu kembali melarikan mobilnya. Sebenarnya dia mau mengajak Rara ke rumah sakit. Karena gadis itu belum tahu Ara berada di rumah sakit. Daddynya, Rafa sengaja menyuruh mereka jangan dulu memberi tahu Khanza karena dia sedang ada ujian tambahan. Tapi Rara pasti tidak akan percaya jika dia katakan Ara berada di rumah sakit. Rara pasti akan mengatakan dirinya berbohong, membuat alasan dan akan macam macam-macam lagi.


Ryu segera memutar arah ke rumah pribadi.


Tiba lama mereka sampai. Rara segera turun dan berlari terburu buru ke dalam rumah. Ryu menatap kepergiannya dengan sedih. Lalu segera berbalik dan pergi dari rumah Daddynya.


Rara mendapati rumah tampak sepi, seperti biasa. Karena papa dan mamanya masih bekerja dan belum kembali. Hanya pelayan yang di temuinya. Rara segera naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Dia membuang tas di atas ranjang, lalu ikut merebahkan tubuhnya ditempat empuk itu. Memejamkan mata, pikiran nya kembali melayang dengan apa yang di lakukan Ryu padanya semalam.


Ketukan berulang terdengar dari pintu.


"Masuk." katanya agak keras.


Pintu di buka, masuklah Yuri.


Rara membuka matanya yang terpejam.


"Ada apa mbak?" tanyanya seraya bangun, terus membuka jas dan dasi.


"Saya hanya ingin menanyakan apa Nona muda mau makan malam?"


"Rara belum ingin makan. Nanti bersama papa dan mama saja. Sebentar lagi mereka akan kembali."


"Maaf nona, sepertinya Nyonya Ara dan tuan Rafa tidak akan makan malam di rumah, Karena mereka tidak akan pulang malam ini."


"Kenapa? apa mereka lembur?"

__ADS_1


Wajah Yuri mengernyit mendengar pertanyaan itu. "Apa Nona muda belum tahu apa yang terjadi pada Nyonya Ara?" batinnya.


"Kenapa mbak? Kenapa hanya diam?" tanya Rara seraya melepas sepatu dan kaus kaki.


"Apa Nona nggak tahu kalau mama Non berada di rumah sakit saat ini?"


"Mama berada di rumah sakit?" Rara terkejut menatap lekat pada Yuri.


30 menit berlalu, Rara tiba di rumah sakit Azahra di antar Yuri. Mereka langsung naik ke lantai atas tempat mamanya menginap. Perasaan sedih, cemas dan takut campur aduk jadi satu. Dia yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada mamanya, dan tak ada satupun orang yang memberi tahunya. Mereka benar benar tega tidak memberi tahu dirinya. Dan Rara sangat kesal akan hal itu.


Mungkin karena dia sedang sibuk dengan ujian percobaan beberapa MP hari ini makanya tidak ingin di ganggu. Meski sedang sibuk dengan pelajaran sekolahnya, seharusnya dia tetap di kabari.


Rara langsung membuka pintu ruang Ara."Mama....!" panggilnya serak karena sedih. Dia melihat ke dalam. Semuanya tampak berkumpul. Ada papanya, ketiga kakaknya, Nesa, Cia dan juga Cio. Kecuali dirinya yang tak ada bersama mereka. Semuanya berkumpul mengerumuni mamanya di tempat tidur dengan ekspresi senang dan bahagia. Dan itu membuatnya semakin sedih dan kesal. Dia ingat saat tadi Cio hendak mengajaknya ke suatu tempat yang penting. Sepertinya kakaknya itu hendak mengajaknya ke sini, tapi batal karena Cio mengatakan dia tidak percaya. Jujur dia memang tidak percaya, menganggap Cio hanya beralasan saja. Makanya tadi dia tidak mempertanyakan mau di ajak kemana.


Mereka semua segera menoleh kepada Rara.


"Sayang..." panggil Rafa. Pria itu segera berdiri, yang lainnya juga berdiri menyapa dirinya, kecuali Cio yang hanya diam menatapnya. Rara tak menggubris sapaan mereka, dia segera berlari ke bed tempat tidur mamanya.


Air matanya langsung jatuh melihat Ara.


"Mama kenapa?" terisak memeluk Ara, lalu bangun lagi memegang wajah Ara, terus memeriksa tubuh Ara atas bawah. Meluk lagi terus menangis.


"Mama sakit apa? Kenapa nggak ngabarin Rara di sekolah?"


"Sayang.... sudah jangan nangis. Mama gak apa-apa kok. Mama gak sakit." kata Ara menyapu air matanya.


"Gak sakit tapi kenapa ada di sini?" terus meluk Ara. Bangun lagi melihat pada mereka semua.


"Kenapa kalian gak beri tahu Rara kalau mama sakit dan berada di sini?" Rara menatap mereka satu persatu dengan sedih."Papa dan kalian semuanya tega banget gak beri tahu Rara!" katanya dengan kesal.


"Rara sedang ujian tadi. Makanya kami gak ingin menganggu belajar Rara. Mama Ara juga gak kenapa napa kok! Mama Ara sangat baik gak sakit. Mama Ara malah lagi bahagia saat ini. Kita semua juga bahagia nggak ada yang sedih. Khanza lihat kan?" kata Nesa.


Rara memang tidak melihat ada kesedihan dan cemas di wajah mereka saat masuk. Semuanya tampak tertawa bahagia. Dia juga melihat ada beberapa buket bunga terletak di samping mamanya dan juga di beberapa tempat.


"Lalu mama sakit apa bibi Nesa?" tanyanya.


"Bukan bibi sayang, tapi mama Nesa. Karena aku adalah mama mertuamu dan kau menantuku!" kata Nesa, tapi hanya sampai kerongkongan.


Cia mendekati Rara. Memegang bahu Rara. Menatap tersenyum.


"Kau, aku dan ke empat kakak mu sebentar lagi akan punya adik."


"Adik?" wajah Rara mengernyit.


"Iya...!" Cia mengangguk." Karena saat ini mama Ara sedang hamil. Yeeeee." kata Cia lagi sangat senang. Yang lain juga tersenyum senang.


Rara terperangah "Mama hamil?" bertanya kembali.


"Iya sayang, saat ini mama sedang hamil dua bulan. Tidak lama lagi kalian akan punya adik bayi." sambung Rafa tersenyum bahagia.


Rara kembali terperangah seraya menutup mulut dengan kedua tangan, seakan tak percaya mendengar perkataan Rafa dan Cia. Dia tertawa kecil, sedih dan terharu. Dia segera melihat wajah Ara.


"Mama hamil? Rara akan punya adik?"


Ara mengangguk tersenyum.


Rara tertawa kecil, lalu memeluk mamanya. Dia mencium wajah Ara. Lalu memegang perut mamanya dan di cium."Rara senang sekali." ucapnya tertawa dan menangis bahagia. Mengucap syukur, melonjak gembira. Untuk sesaat dia lupa dengan kesedihannya. Lupa permasalahannya dengan Cio.


Ara tersenyum lega, setelah sebelumnya dia ragu dan khawatir apa ke enam anak itu akan menerima kehamilannya di usia yang tidak muda lagi. Dia khawatir anak anak itu akan malu, karena mereka sudah besar tapi akan punya adik bayi. Tapi syukurlah anak anak itu malah sangat senang dan bahagia menyambut kehamilannya.


Mereka yang ada disitu juga kembali tersenyum bahagia.


Anak anak itu kembali duduk mengelilingi Ara di tempat tidur. Kecuali Cio yang hanya duduk di sofa bersama Rafa, Nesa dan Wisnu. Dia tidak bergabung karena menjaga suasana hati Khanza yang saat ini sedang bahagia dan senang. Melihat gadis itu senang dan tersenyum lagi, hatinya cukup senang.


*****

__ADS_1


Para reader tersayang, terimakasih atas dukungannya 😍 dukung terus ya.... beri like, komen dan hadiah seikhlasnya 😘


__ADS_2