
Ryu melarikan mobilnya mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia meluapkan emosi pada kecepatan kendaraannya. Tak perduli dengan lampu merah, bunyi klakson kendaraan lain yang hampir bertabrakan karena ulah liarnya. Beberapa mobil polisi yang memperingatkan dan mengejarnya tidak di pedulikan. Terjadi kejar kejaran di antara mereka. Tapi mereka ketinggalan jauh.
Ryu menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi. Keadaannya yang sangat kacau. Dia membuka mobil lalu segera turun. Kemudian berteriak sekeras kerasnya mengeluarkan segala emosi yang memenuhi ruang hatinya, yang menyiksa dirinya. Dia terus berteriak keras berulang ulang mengeluarkan amarah dan kesedihan. Wajahnya yang memerah, keringatan bercampur air mata.
Dia benci pada dirinya seorang pengecut dan pecundang karena terlalu takut mengungkapkan perasaannya pada Khanza.
Dia yang mulai mengagumi Khanza sejak kecil. Dan kekaguman itu berubah menjadi suka, tertarik dan cinta saat adik kecilnya itu memasuki SMP, hingga sekarang tumbuh menjadi gadis remaja. Belasan tahun dia memendam dan menahan perasaannya. Yang pada akhirnya membuat dirinya tersiksa dan menderita. Hatinya sungguh sakit dan hancur melihat Khanza menjauhinya dan bersama pria lain. Tapi dia lebih memilih merasakan kesakitan itu, lebih memilih memendam perasaannya dari pada mendapatkan kebencian Khanza.
Ryu jatuh berlutut sambil terisak. Dia menekan letak jantungnya yang terukir nama Khanza.
"Khanza.... Khanza... Khanza!" ucapnya sedih.
Nafasnya memburu cepat dan dada yang bergemuruh kuat. Bayangan wajah gadis itu menari nari di peluk matanya. Tawa dan sikap manjanya. Setiap kebersamaan yang mereka lalui dari kecil, hingga pertemuan mereka beberapa waktu lalu.
Beberapa menit berlalu telinganya mendengar suara mobil yang berhenti tidak jauh darinya.
Ryu segera berdiri dan berbalik. 10 meter di depannya berjejer lima buah mobil hitam. Lalu turunlah 20 pria bertubuh kekar, berpakaian hitam dengan beberapa benda keras dan tajam di tangan. Dua orang diantaranya memegang pistol.
Tidak lama kemudian salah seorang membuka pintu mobil dan keluarlah seorang pria dengan jas lengkap berwarna coklat yang merupakan bos mereka. Kira kira berumur 40 tahun. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jas. Lalu dihirupnya. Beberapa saat dia merasakan reaksi dari bubuk serbuk itu.
"Kau?" kata Ryu yang telah mengenali wajah pria tersebut. Dia menatap tajam mereka satu-persatu.
Pria tersebut tersenyum sinis dengan wajah bahagia setelah mengkonsumsi serbuk itu. Lalu tiba-tiba wajahnya berubah garang.
"Habisi dia." perintahnya pada anak buahnya.
Selesai dua kata itu, para gangster itu bergerak berlari cepat menyerang Ryu yang hanya seorang diri.
Ryu yang sudah waspada dan menyiapkan diri segera berlari menyambut mereka dengan ikat pinggang di tangan. Untuk selanjutnya terjadi pertarungan di antara mereka.
Ryu menyerang liar dan ganas melampiaskan emosi yang di rasakan pada segerombolan organisasi kriminal itu. Dia terus menyerang membabi buta tanpa ampun dan tanpa perduli dengan keselamatan jiwanya.
.
.
Tiga hari berlalu.
Perasaan Rara tidak tenang. Dia resah dan gelisah. Tiga hari berlalu, tak ada pesan dan juga telepon yang masuk dari Ryu. Sejak bertemu di alun-alun kota malam itu, mereka tidak bertemu dan saling berhubungan. Padahal biasanya, dalam sehari Ryu selalu menghubunginya dan juga mengirimkan pesan berulang kali. Tapi sudah masuk hari ke tiga, tak ada komunikasi di antara mereka. Rara berpikir mungkin Ryu sengaja tidak menghubunginya lagi, karena marah kepadanya.
__ADS_1
Bagi Rara itu tidak mengapa Ryu mulai menjauhinya. Itu akan membuat hubungan kakaknya dengan Anggi akan kembali membaik. Ryu akan kembali memberi perhatian penuh pada kekasihnya itu. Tapi entah kenapa dia merasa perasaan yang lain. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya itu. Entah apa benar yang di rasakan oleh hatinya. Bahkan dalam tidur pun dia mengigau bermimpi aneh yang berhubungan dengan Ryu.
Tidak tahan lagi dengan kekhawatiran pada Ryu, Rara pamit pulang ke rumah pribadi kakaknya itu. Dion dan Cindy senang dengan keputusannya untuk pulang. Artinya Rara akan kembali berhubungan baik dengan Ryu. Tidak merasakan takut lagi pada kakaknya itu. Rangga mengantar dirinya sampai di depan pintu masuk.
"Kalau perlu sesuatu, hubungi aku. Aku akan selalu ada untukmu. Ingat, hubungi aku mama dan juga papa. Kami menyayangimu. Datanglah ke rumah kami kapan pun kau mau. Pintu rumah selalu terbuka kapan saja kau datang!" kata Rangga sebelum pamit pulang.
Rara masuk kedalam rumah di tuntun pelayan yang bertugas membersihkan rumah. Dia bertemu dengan Ratih yang baru keluar dari lift. Wanita itu baru turun dari atas.
"Nona muda?" Ratih kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Dia baru saja dari atas mengambil beberapa pakaian Ryu.
"Syukurlah Nona sudah kembali!" katanya kembali dengan senang melihat Rara pulang.
"Ibu mau pergi ya?" tanya Rara melihat koper baju di tangan kepala pelayan itu.
"Iya Nona." jawab Ratih sedikit gugup.
"Kak Cio ada?" tanya Rara.
"Tuan tidak berada di rumah!"
"Apa masih kerja?"
"Itu....tuan sedang pergi ke Jerman!" kata Ratih kembali dengan ragu ragu.
"Iya Nona. Tuan punya urusan pekerjaan di sana. Mengecek usaha bisnisnya di sana!"
"Sudah berapa hari kakak pergi?"
"Tiga hari nona!" jawab Ratih tanpa melihat wajah Rara.
Rara membuang nafas panjang.
"Meski berada di Jerman setidaknya kakak tetap menghubungi aku. Karena biasanya kakak akan menghubungiku di mana saja berada." batinnya.
"Terus kapan kakak kembali?" tanyanya pada Ratih.
"Saya tidak tahu Nona. Mungkin setelah urusan tuan selesai." kata Ratih. "Nona sudah menghubungi tuan Ryu?" tanya Ratih.
"Sudah berulangkali Rara hubungi tapi nomor kakak tidak aktif. Rara ingin menghubungi asisten pribadinya tapi tidak punya nomornya. Apa ibu punya nomor nya?"
__ADS_1
"Punya nona, saya akan berikan!" kata Ratih. Dia segera mengeluarkan ponsel kecilnya. Lalu menyebutkan satu persatu yang langsung di save oleh Rara.
"Terimakasih buk, Rara ke atas dulu!"
"Nona tidak makan siang dulu?"
"Rara belum lapar. Nanti kalau Rara mau makan Rara akan beri tahu."
"Baik Nona, jangan terlambat makan ya, biar gak sakit!" ujar Ratih. Rara mengangguk pelan.
Dia memperhatikan bentuk tubuh Rara yang menurun. Juga wajahnya yang tidak bersemangat dan menunjukkan kekhawatiran.
"Nona tampak lemah tidak bersemangat. Apa nona sakit?"
Rara menggeleng.
"Gak buk. Rara hanya khawatir dengan kak Ryu. Entah kenapa Rara merasakan hal itu. Sudah tiga hari ini kakak tidak menghubungi Rara atau sekedar mengirim pesan seperti biasa!" kata Rara lemah menatap Ratih.
"Mungkin tuan sedang sibuk hingga lupa menghubungi Nona!" ujar Ratih ikut merasakan gundah gulana gadis itu.
"Semoga saja hanya karena kesibukan itu kak ryu lupa menghubungi Rara. Dan apa yang Rara rasakan dan juga pikirkan gak benar!"
"Nona merasakan apa?" Ratih menatapnya.
"Entahlah buk. Sudah tiga hari ini Rara kepikiran terus pada kak Ryu, perasaan Rara tidak tenang. Rara takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakak!" kata Rara sedih dan kembali khawatir.
"Berdoa saja, semoga tuan Ryu baik baik saja!" kata Ratih menyentuh lengan Rara.
Rara mengangguk.
"Semoga saja. Aamiin...." ucap Rara. Lalu segera pamit untuk ke atas. Dia segera masuk kedalam lift.
"Ikatan batin yang sangat kuat. Yang satu sakit yang lainnya pasti akan ikut merasakan." ucap Ratih melihat benda berjalan yang bergerak naik ke atas membawa Rara.
Apa yang di rasakan oleh gadis itu benar. Kekhawatiran dan ketakutan. Karena saat ini Ryu sedang sakit. Sudah tiga hari dia menginap di rumah sakit.
Ratih segera memberi isyarat pada pelayan untuk membawa koper Ryu ke dalam mobil. Untung saja Rara tidak memperhatikan koper milik kakaknya itu.
*****
__ADS_1
Dukung ya,, berikan jempol manisnya, komen positifnya, juga hadiah seikhlasnya.
Terimakasih 😘