
...Happy Reading....
Waktu menunjukkan pukul setengah 19.30. Pertemuan selesai. Lili mengantar tamu pulang sampai di depan lift.
Rafa kembali ke ruang kerjanya. Di ikuti Wisnu dan Ryu. Ketiganya melangkah terburu buru karena harus mengerjakan shalat Isya. Rafa segera masuk setelah Wisnu membuka pintu. Mereka mendapati ruang kerja yang kosong. Tak ada Khanza.
Rafa menuju ruang pribadi. Putrinya itu pasti sedang istirahat di ruang itu.
"Sayang..." panggil Rafa melihat Khanza yang duduk setengah berbaring di tempat tidur sambil membaca buku. Putrinya itu tampak telah mandi dan berganti berpakaian dengan mengenakan kemeja putihnya.
Rara segera bangun dan turun dari tempat melihat papanya.
"Sudah selesai pa?" tanyanya.
"Iya! Kenapa gak pesan pakaian pada bu Lili?"
"Kemeja papa udah cukup kok! Ibu Lili juga lagi kerja. Rara gak mau merepotkan beliau. Lagi pula kita juga mau pulang kan?"
"Iya, tapi Khanza tunggu sebentar ya. Papa mau shalat dulu bersama Wisnu dan kakak mu. Waktunya sudah lewat." kata Rafa mendekat dan mencium kening Rara.
Rara mengerti, dia segera melangkah ke luar karena ruang ini mau di pakai untuk shalat. Di sudut ruang ada tempat yang di gunakan untuk shalat dalam kapasitas 10 orang. Yang sering di pakai Rafa dan Wisnu untuk shalat bersama.
Saat keluar, Rara berpapasan dengan Ryu di pintu.
"Halo dek....!" sapa Ryu tersenyum menggoda.
Rara menatap sinis, lalu kembali melangkah.
"Lihat, apa tuh yang jatuh?" kata Ryu ingin menjahili. Dia menunjuk ke bawah.
Rara yang tepat berada di depannya segera menunduk ke bawah. Rara mencari-cari benda apa yang di maksud kakaknya. Tapi tak ada. Rara menyadari sepertinya kakaknya itu sengaja mengerjainya. Rara mendesis kesal karena di bohongi. Dia mendongak keatas melihat Ryu dengan kesal. Bertepatan satu kecupan mendarat di bibirnya tanpa bisa di hindari. Cup...
Rara kaget mendapat serangan tiba-tiba.
Sementara Ryu segera berlalu dari hadapannya sambil cekikan penuh kemenangan.
Rara mengeram kesal karena tertipu."Ih menyebalkan." umpatnya dengan gerakan kedua tangan di udara Ingin mencengkram Ryu. Rara ingin sekali berteriak dan menyerang Ryu tapi ada papanya di dalam.
Rara menatap tajam Ryu yang masih dengan senyuman manis menggoda. Lalu pria itu masuk ke kamar mandi menyusul Rafa untuk berwudhu.
Rara masuk ke ruang kerja sambil ngomel. Dia belum bisa melaksanakan kewajiban-Nya karena masih berhalangan.
Setelah selesai shalat.
"Papa....!" panggil Rara pelan.
"Ada apa sayang?" melihat sekilas pada Rara sambil memeriksa berkas pertemuan tadi. Wisnu berada di sampingnya ikut membantu. Sementara Ryu masih diruang pribadi.
"Belum selesai kerjanya?"
"Sedikit lagi. Kalau Khanza ngantuk, tidurlah. Nanti akan papa bangunin saat semuanya sudah selesai. Mama masih sementara perjalanan pulang. Dua jam Lagi mungkin sampai ke rumah. Dari pada pulang ke rumah nggak ada mama, mending kita di sini dulu." kata Rafa tersenyum.
Rara ikut tersenyum. Dia terharu melihat papanya bekerja keras untuk mereka. Sudah dapat di tebak kalau papanya pasti sangat capek dan mengantuk. Rara berjalan di belakang papanya. Dia ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk papanya. Daripada hanya duduk diam. Pelan pelan dia memijit punggung Rafa.
"Itu gak perlu sayang. Nanti tangannya sakit!" kata Rafa kaget merasakan pijatan lembut di bahunya. Dia meraih ke dua tangan putrinya dan di kecup.
"Rara belum mengantuk. Rara juga gak tahu harus melakukan apa." kata Rara menarik pelan tangannya lalu kembali memijit bahu papanya asal asalan dan semampu kekuatannya, karena dia bukan tukang urut profesional.
Meski tak terasa kuat, Rafa menikmati dan merasakan enak pada leher dan punggungnya. Biasanya Ara yang selalu melakukan pijatan seperti ini.
"Kenapa gak di lanjutkan besok saja pekerjaannya? Raga papa juga butuh istirahat. Begitu juga dengan paman Wisnu! Kalian berdua pasti sangat capek bukan? Rara gak mau papa dan paman sakit! Jika kalian sakit, kasihan kan mama dan tante Ines. Mereka pasti akan sangat sedih jika kalian sakit." ujar Rara sambil terus memijit.
Rafa dan Wisnu tersenyum mendengar ucapannya.
"Sayang, papa dan paman Wisnu tahu di saat raga ini menuntut haknya untuk istirahat. Kami juga tak mau sakit! Hanya saja berkas berkas ini tidak bisa di tunda sampai besok. Karena besok pagi akan di gunakan! Semua berkas ini akan di kirim malam ini. Makanya kami berusaha menyelesaikannya." kata Rafa.
"Ohhh, gitu___" Rara mengerti.
Rafa kembali tersenyum.
"Maaf ya karena kita tidak bisa pulang cepat malam ini. Khanza gak apa-apa kan menunggu sedikit lagi?"
"Nggak apa-apa, Rara gak masalah." kata Rara segera."Kalau ada yang bisa Rara bantu, katakan saja. Rara ingin sekali bisa membantu pekerjaan papa."
"Dengan memijit papa, Rara udah membantu kok. Ini pijatan lembut terenak yang papa rasa setelah tangan mama. Pijatan tangan kalian mengalahkan mesin dan kursi pijat papa."
"Benar papa suka pijatan Rara?" tanya Rara senang.
"Tentu saja. Papa merasa enakkan punggungnya, pegal di leher juga hilang. Sepertinya Papa nggak akan sanggup deh membayar jasa pijatan tangan mungil dan lembut ini!" kata Rafa menggoda sembari menyentuh tangan Khanza di bahunya.
Rara tertawa kecil.
Ryu muncul di depan mereka. Dia sudah mandi dan berganti pakaian kasual.
Ekspresi ceria di wajah Rara langsung redup melihat kedatangannya. Rara buru buru melihat punggung Rafa berpura pura tidak melihat kedatanganya.
Ryu memerhatikan apa yang dilakukan Khanza, yang lagi memijat Rafa."Sepertinya enak ya Daddy? Aku mau juga dong pijatannya. Leher aku pegal nih!" kata Cio seraya memegang leher dan tengkuknya. Hatinya tersenyum ingin menjahili adiknya ini kembali.
Rara melirik sinis dengan ekor mata, terus memijit pura pura tidak mendengar perkataannya. Dia masih kesal dengan apa yang di lakukan Ryu tadi.
"Sayang, cukup. Papa udah enakan. Kakak mu juga mau di pijit. Kasihan badannya juga pegal. Tolong Khanza pijit kakak mu sebentar." kata Rafa.
"Gak, Rara gak mau." tolak Rara segera. Papanya malah menuruti keinginan Ryu.
"Kenapa? Dulu Rara sangat suka melakukan pijatan pada kakakmu. Kalian sering melakukannya."
"Nggak ah, tangan Rara keram." kata Rara bohong. Dia rik menatap masam pada Cio.
"Ayolah dek, sebentar saja. Kakak rindu pijatan tanganmu!" Cio ikut melas meminta.
"Lain kali saja. Tangan Rara sakit." kata Rara mengakhiri pijatan di punggung Rafa. Dia tahu Ryu ingin menggodanya lagi.
Pintu di ketuk, lalu masuklah Simon. Ditangannya memegang tas kantor. Pria blasteran itu menyapa sopan pada mereka.
Rara kaget melihat pria ini. Simon juga ada di sini? Apa keduanya baru sampai dari Australia? Karena dia mendengar perkataan Anggi kalau suaminya ada di Australia.
"Selamat malam Nona muda!" sapa Simon yang senang melihat Khanza lagi.
Rara segera mengangguk tersenyum.
Simon segera menyerahkan tas berisi dokumen penting pada Ryu yang duduk di sofa. Lalu untuk selanjutnya kedua terlibat kesibukan seperti papanya dan Wisnu.
Sejam berlalu, Rara gelisah di tempatnya. Berulangkali dia melihat jam tangannya. Waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam. Sedikit lagi tengah malam, batas waktu yang diberikan oleh penemu ponselnya tidak lama lagi. Sementara dia belum mendapatkan imbalan yang di inginkan. Dia mencoba menghubungi nomornya, tapi tidak aktif. Rara mengirim pesan untuk meminta kelonggaran waktu. Berharap ponselnya akan segera aktif dan si penemu membaca pesannya. Tapi pesannya tetap belum terbaca. Rara mengeluh gusar.
Sementara Ryu memperhatikan kegelisahannya diam diam.
Setengah jam berlalu, Wisnu tampak membereskan dokumen dan berkas kerja. Sepertinya pekerjaan mereka telah selesai.
Rafa bangkit dari duduknya menuju ruang pribadi.
"Ini kesempatan Rara untuk bicara dengan papa." gumam Rara. Dia segera menyusul papanya.
Rafa tampak menyimpan beberapa dokumen penting pada brankas rahasia.
"Pa, apa pekerjaannya sudah selesai?"
"Iya sayang, kita akan pulang." jawab Rafa. Dia berbalik dan melihat pada Rara yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa? Apa Khanza mau mengatakan sesuatu?"
"Iya....tapi Rara ragu untuk mengatakan."
"Kenapa ragu? Katakan saja sayang."
Rara meremas kedua tangannya di depan perut.
"Ada apa sayang? katakan saja Masa sama papa sendiri ragu?" kata Rafa melihat sikap Rara yang masih ragu ragu.
"Apa boleh Rara minta uang?" kata Rara pelan.
__ADS_1
Rafa tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.
"Rara mau minta uang?" merasa aneh. Karena ini kali pertama Rara meminta uang kepadanya. Kemarin kemarin dia tinggal mentransfer uang jajan dan belanja putrinya ini. Dan Rara tidak mempertanyakan dan mempermasalahkan jumlah uang jajannya setiap bulan. Bahkan putrinya ini jarang menggunakan uang untuk sesuatu yang tidak penting. Kehidupannya yang sederhana sama seperti ibunya dulu.
Rara mengangguk tersenyum setengah.
"Tentu boleh sayang. Apa Rara mau membeli sesuatu?" tanya Rafa.
"Tidak, tapi akan Rara gunakan untuk sesuatu!"
"Boleh papa tahu untuk apa?"
Rara menggeleng pelan.
"Oke, papa tidak akan bertanya untuk apa! Khanza ingin berapa?"
"Banyak."
"Oh ya? Sebanyak apa?" Rafa menatap wajahnya penuh tanya.
Rara membuat lingkaran besar di depannya tanpa berkata. Rafa mengerti dengan isyarat gerakan tubuh itu. Sepertinya ini adalah sesuatu yang rahasia tidak boleh di ketahui oleh orang lain. Tapi dia percaya dengan apa yang di lakukan putrinya ini. Karena selama ini Khanza dan ketiga anak lelakinya tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk dan membuat malu keluarga.
Rafa kembali membuka brankas kecil dan mengambil cek. Lalu segera menandatanganinya. Dia memberikan kertas itu pada Rara.
"Ini, Nanti Khanza isi sendiri berapa yang di inginkan. Papa sudah menandatanganinya." katanya tersenyum seraya meletakkan kertas itu dalam genggaman Khanza.
"Terimakasih, Terimakasih juga atas kepercayaan papa. Rara janji akan mengembalikannya setelah Rara bekerja nanti. Dan untuk selanjutnya papa gak perlu lagi memberi Rara uang jajan lagi." kata Rara senang.
Rafa tersenyum terharu. Dia memegang kedua bahu Khanza.
"Sayang, kenapa ngomong begitu? Papa kerja keras selama ini hanya Untuk Khanza, mama, kakakmu.... untuk keluarga kita. Semua yang papa miliki hanya untuk menyenangkan dan membahagiakan kalian! Selama papa mampu, apapun yang Khanza inginkan akan papa beri." katanya menatap dalam dalam mata teduh putrinya.
Rara terharu. Dia langsung memeluk Rafa.
"Terimakasih. Rara sayang papa. Rara sangat beruntung di beri orang tua yang sangat baik dan tulus tanpa pamrih seperti papa dan mama! Rara sangat menyayangi kalian." ucap Rara sedih terharu.
"Papa juga sangat menyayangi mu nak, papa sangat menyayangi kalian. Kalian anak anak papa dan mama adalah harta yang paling berharga kami miliki." Rafa mengecup kening Khanza. Rara kembali terharu.
"Simpan cek nya baik baik. Mari kita pulang. Sebentar lagi mama akan tiba di rumah." ajak Rafa. Keduanya segera keluar.
Ryu dan Simon sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Mari kita pulang." kata Rafa.
Mereka segera keluar dan turun kebawah menggunakan lift privat. Sampai di parkiran Simon segera pamit menggunakan mobil sendiri.
"Aku ikut pulang bersama Daddy. Aku mau menginap di rumah Daddy." kata Cio.
Rara termangu mendengar ucapannya.
"Ya, sudah. Mari kita pulang sama sama." kata Rafa.
"Nggak, nggak boleh. Kakak nggak boleh naik mobil bersama kami. Naik mobil sendiri." kata Rara tak suka dengan keinginan Cio.
"Lho kenapa? Mobil Daddy gede. Cukup muat untuk kita berempat." kata Cio yang kaget.
"Sayang, ada apa sih? biarkan kakak mu ikut bersama kita." Rafa menyela.
"Rara mau naik berdua sama papa. Gak mau ada yang ganggu!" kata Rara menatap Cio masam.
"Kok begitu? Kalian berdua baru bertemu setelah lama berpisah. Ada apa dengan kalian? Tidak biasanya seperti ini......!"
"Pokoknya Rara gak mau naik satu mobil sama kak Cio. Kakak menyebalkan." Rara memotong ucapan Rafa. Dia segera menarik tangan Rafa untuk masuk ke dalam mobil. Wisnu juga segera masuk duduk di belakang kemudi.
"Oke...aku naik mobil ku sendiri." kata Cio kesal menatap Khanza.
Rara tak perduli.
"Sekalian pulang langsung ke rumah utama. Jangan ke rumah pribadi. Kakak di larang tidur di rumah kami!" kata Rara agak keras seraya memonyongkan bibirnya. Bukan tanpa alasan dia berkata begitu. Karena dia tidak ingin ada kesalahpahaman dari Anggi jika sampai kakaknya itu menginap di rumah mereka. Rara juga heran kenapa Cio bukannya tidur menemani Anggi istirnya yang sedang hamil setelah kepulangan dari Australia, tapi malah ingin tidur bersama mereka.
Sementara Rafa semakin bingung dan heran dengan keduanya. Entah ada apa yang terjadi pada mereka sehingga Rara tampak kesal pada Cio. Padahal mereka baru juga bertemu.
Setelah kepergian mereka, Ryu segera masuk kedalam mobilnya. Dia mengetik sesuatu pada ponsel lalu mengirimkannya sambil senyum senyum sendiri. Setelah itu dia melarikan mobilnya ke sebuah tempat, bukan ke rumah utama atau rumah pribadi.
"Nona muda?"
"Paman Wisnu. Maaf.... Rara mau minta tolong boleh?"
"Tentu nona, apa yang bisa saya bantu." kata Wisnu.
"Tapi jangan bilang papa dan mama ya? Rara mohon!" meminta memelas.
"Baik Nona." Wisnu mengiyakan meski ragu ragu.
Rara segera masuk kedalam mobil, dekat dengan Wisnu. Asisten pribadi itu kembali kaget.
"Tolong antar kan Rara ke alamat ini." kata Rara seraya menyebut alamat orang yang menemukan ponselnya.
Wisnu membaca alamat itu. Wajahnya mengernyit menatap kertas itu.
"Ini alamat siapa Nona?" sebenarnya dia tahu dengan alamat ini. Tapi dia ingin memperjelas apa Rara ingin ke alamat ini.
"Udah, pokonya paman antar Rara segera. Rara hanya bisa percaya sama paman! Ayo cepat kita pergi!"
"Tapi ini mau masuk tengah malam. Nona yakin mau ke sana jam begini? Ini sepertinya mau hujan. Kenapa gak besok pagi saja ke sana?" Wisnu melihat kilatan petir kecil menyambar di angkasa, cahayanya seolah membelah langit.
"Rara punya alasan untuk itu. Tapi Rara gak bisa mengatakan! Ayo paman, kita pergi sekarang." pinta Rara.
Wisnu segera mengikuti perintah anak majikannya. Meksi bingung untuk apa Rara mau ke alamat itu tengah malam begini secara diam-diam. Wisnu segera tancap gas. Hujan mulai turun di sertai hembusan angin kencang.
Setengah jam berlalu, mereka tiba di sebuah gedung apartemen bertingkat tinggi yang megah berlantai banyak.
Wisnu segera mengambil payung dan turun. Lalu membuka pintu mobil, dan memakaikan payung pada Rara. Keduanya berjalan menuju apartemen.
"Paman antar Rara di sini saja. Rara akan ke atas sendiri." kata Rara.
"Saya akan temani nona ke atas. Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada nona."
"Paman jangan khawatir. Rara akan baik-baik saja. Rara gak lama Kok. Paman tunggu Rara di mobil saja!" kata Rara mengingat isi pesan untuk datang sendiri tak boleh di ketahui oleh orang lain. Orang itu juga berkata tidak perlu khawatir untuk datang sendiri. Karena dia bukan orang jahat. Dan Rara percaya saja.
Wisnu mengalah.
Rara segera masuk ke dalam lift. Dia menekan angka paling atas. Sepertinya orang itu bukan orang sembarangan di lihat dari apartemen miliknya yang begitu mewah. Paling mewah dari semua unit apartemen yang berada di gedung ini. Satu satunya berada di lantai atas. Rara menekan bel berulang. Tidak berapa lama Pintu di buka dari dalam. Pemiliknya muncul dari balik pintu.
Rara kaget melihat siapa orang yang berdiri di depannya ini.
"Kakak?" ucapnya menatap tak berkedip pada Cio yang memakai jubah tidur dan bokser pendek."Kok kak Cio ada di sini? Apa aku salah alamat ya?" batinnya.
Cio menatapnya tersenyum.
Rara hendak bicara, tapi dengan cepat Cio menarik tangannya untuk masuk ke dalam. Lalu pintu di tutup. Rara memperhatikan keadaan ruang yang luas, fasilitasnya yang mewah. Sejauh mata memandang terlihat pemandangan alam malam hari di antara derasnya hujan. Gemerlap lampu pada bangunan bangunan tinggi pencakar langit.
"Sudah jam begini kenapa masih keluar rumah?" tanya Cio memperhatikannya. Masih memakai kemeja Daddynya. Untung saja kemeja itu kebesaran di tubuhnya, sampai melewati paha mulusnya.
Rara hanya menatap karena bingung melihat Cio ada di sini.
"Sepertinya Khanza sangat merindukan kakak ya hingga menyusul kemari?" Cio tersenyum menggodanya.
Dahi Rara mengerut.
"Kenapa kakak ada di sini?" mengabaikan godaan Cio.
"Karena ini tempat kakak."
"Tempat kakak? Maksudnya ini adalah apartment kakak?" tanyanya lagi memperjelas.
Cio mengangguk terus menatapnya.
"Khanza sendiri ngapain bisa sampai ke sini larut malam begini?"
__ADS_1
"Rara ada urusan penting! Kakak di sini sama siapa? Apa hanya berdua dengan kak Anggi?" tanyanya, kali aja si penemu ponselnya itu tinggal bersama Cio di sini.
"Sendiri!" jawab Cio.
"Sendiri? benarkah?" wajah Rara mengernyit.
"Iya. Khanza lihat kan gak ada siapapun di sini. Hanya kita berdua. Memangnya ada apa?"
"Gak ada apa apa. Sepertinya Rara salah alamat. Rara permisi dulu." katanya lalu segera berbalik. Tapi Cio menahan lengannya.
"Ada apa?" tanya Cio.
"Gak ada apa apa. Lepas Rara mau pulang." Rara melepas tangan Cio pada lengannya.
"Katakan dulu ada urusan apa datang ke sini, baru itu kakak lepasin." Cio mendekatkan wajahnya.
Rara mundur takut Cio akan menciumnya lagi. Cio semakin maju, tubuh Rara menabrak tembok. Jantung mulai berdebar tak karuan.
"Kakak mau apa? Jangan dekat-dekat." Rara segera berpaling menghindari wajah Cio yang sangat dekat.
"Mau ngomong atau kakak cium?" Cio tersenyum dalam hati.
Rara terbelalak. Dia mendengus kesal.
"Kenapa ancam Rara begitu?" menatap tajam Cio." Rara gak suka di ancam seperti itu. Bukan urusan kakak Rara mau apa ke sini." katanya ketus.
Kecupan cepat mendarat di bibirnya. Rara kembali terbelalak.
"Kau adikku. Keselamatan mu sangat penting bagi kakak. Ini sudah larut malam dan kau masih berkeliaran, sendirian lagi!" kata Cio membalas tatapannya.
Rara mantap semakin kesal.
"Mau ngomong atau mau di cium? Hanya ini cara yang bisa kakak lakukan untuk memaksamu bicara. Nggak mungkin kakak marah atau bertindak keras agar kau mau jujur. Karena kakak tidak akan tega melakukan itu." sambung Cio lagi. Lalu sedikit memaksa dengan menggunakan tenaga dia membawa kedua tangan Khanza di belakang gadis itu dan di pegang kuat dengan satu tangannya. Satu tangannya lagi memegang tengkuk Khanza.
Rara kaget dan meringis merasakan sakit pada ke dua tangannya yang di cengkram kuat. berusaha melepaskan diri, tapi tangannya semakin sakit.
"Masih tetap gak mau ngomong?" ancam Cio tepat di depan wajah Khanza. Menyentuh kan bibirnya di bibir Khanza.
Rara mendesah sedih. Dia tidak menyangka kakak sepupunya ini akan melakukan ini padanya. Berani menciumnya. Ciuman yang di rasakan aneh dan lain. Ini bukan Cio yang di kenal dulu.
"Rara mau menemui seseorang!" Rara mengalah dari pada di cium lagi oleh suami Anggi ini.
"Siapa?" Cio menatap matanya.
"Tadi siang ponsel Rara jatuh di jalan dan di temukan orang. Rara ingin ponsel itu kembali, tapi dia meminta imbalan. Rara menyetujuinya. Dia menyuruh Rara datang ke alamat ini pada jam begini. Makanya Rara datang ke sini dan malah bertemu kakak! Rara bingung apa salah alamat? Tapi sepertinya nggak. Ini sudah sesuai dengan alamat yang ada dalam pesannya. Paman Wisnu juga mengatakan alamatnya di sini. Rara meminta paman untuk menemani ke sini. Beliau ada di bawa sekarang sedang menunggu Rara!" ujar Rara panjang lebar menjelaskan.
"Rara sudah katakan yang sebenarnya. Jadi tolong lepasin Rara. Rara mau pulang. Rara kesini tanpa sepengetahuan papa." katanya lagi menatap mata Cio." Aduh, tangan Rara sakit, boleh lepasin nggak?" pintanya meringis.
Cio segera melepaskan pegangannya, tapi masih mengurung tubuh Rara di tembok.
"Orang itu meminta imbalan apa?" tanyanya.
Rara menarik cek yang telah di isi dari saku kemeja Rafa, lalu di perlihatkan pada Cio.
"Uang sebanyak ini?" tanya Cio melihat angka fantastis itu.
Rara mengangguk.
"Rara minta pada papa!" katanya.
"Kenapa gak beli saja yang baru? Khanza tahu kan harga ponsel itu tidak seberapa dari imbalan yang di minta?" Cio menatap matanya.
"Rara tahu!" keluh Rara kembali sedih. "Rara sudah jelasin semuanya. Sepertinya Rara memang salah alamat. Mungkin orang itu menipu Rara! Rara mau pulang, selamat malam!" katanya kecewa dengan wajah sedih karena tidak mendapatkan ponselnya. Dia mendorong tubuh Cio, lalu berjalan melangkah menuju pintu dengan lemas karena tidak berhasil bertemu dengan orang itu.
Dengan gerakan cepat Cio menghadang jalannya. Lalu memeluk.
Rara kaget.
"Kakak mau apa lagi? Rara udah jelasin semuanya. Lepas.....!" Rara mendorong tubuh Cio hingga pelukannya lepas.
Cio kembali meraih tubuhnya dan di peluk erat hingga Rara sulit bergerak.
"Khanza tidak salah alamat. Alamatnya memang benar." kata Cio. Saat itu dia dan Simon baru tiba dari Bali dan di jemput Wisnu dengan menggunakan mobil putih. Raka mengatakan akan menjemput Rara di Mall karena Rangga tidak sempat menjemput. Dalam perjalanan, tanpa sengaja dia melihat ponsel Khanza karena dia menyadap telepon gadis itu. Dia mengambilnya tanpa sepengetahuan Wisnu dan Raka, lalu segera di matikan. Timbul suatu ide di kepalanya untuk mengetahui perasaan Khanza pada dirinya setelah enam bulan tak ketemu. Dia meminta imbalan uang dan sengaja menuntunnya untuk datang ke apartemennya. Karena dia tahu ponsel itu sangat berarti bagi Khanza.
Rara terkejut."Jadi yang menemukan ponsel Rara adalah kakak....?"
Satu kecupan mendarat di bibirnya.
"Kakak nggak akan lepasin kamu lagi. Kakak sangat merindukanmu sayang!" ucap Cio seraya mencium bahu Khanza.
Rara kaget. Tubuhnya merinding merasakan ciuman itu. Dia ingin bicara lagi tapi bibirnya kembali di bungkam dengan l**atan lembut. Lenguhan lembut lolos keluar dari mulutnya.
"Jangan cium Rara. Jangan lakukan ini." berontak.
"Emangnya kenapa gak boleh? Kakak suka. Kita selalu dekat seperti ini kan sebelumnya?" Cio terus menggodanya.
"Ya beda sekarang dan dulu. Kakak udah menikah. Apa kakak gak merasa berdosa sama kak Anggi?"
"Pokoknya kakak nggak akan lepasin kamu." Ryu mengangkat tubuhnya dan membawa ke kamar.
Rara kaget.
"Kenapa Rara di bawah ke sini? Lepasin Rara. Rara mau pulang." jerit Rara.
"Malam ini Khanza akan tidur di sini bersama kakak. Sama seperti yang sering kita lakukan dulu. Tidur seranjang bersama." Katanya tersenyum jahil.
Rara terbelalak mendengar ucapannya. Dia kembali berontak, tapi tubuhnya di tahan Cio dengan kuat.
Cio membaringkan tubuh Khanza, Lalu dia ikut berbaring dan segera memeluk Khanza yang berontak untuk bangun.
"Apa kakak sudah gila? Kakak sudah punya istri masih saja menggoda Rara. Lepaskan Rara. Jangan seperti ini." kata Rara keras seraya melepas pelukan tangan Cio di perutnya. Tapi sia sia. Rara tidak tenang dan takut. Bagaimana jika Anggi melihat mereka seperti ini? Tapi di mana Anggi, dia tidak melihat Anggi sejak di seret paksa masuk tadi. Hanya Cio sendiri yang berada di sini.
Rara kaget saat Cio naik ke atas tubuhnya lalu kembali mencium bibirnya. Karena dia melakukan perlawanan, Ciuman itu berubah menjadi liar. Cio menciumnya dengan brutal. Rara dapat melihat pancaran api gairah dari mata kakaknya itu.
"Jangan lakukan ini kak. Apa yang kakak lakukan?" pekik Rara sedih merasakan ciuman itu sudah merambah ke telinga dan lehernya. Ini sudah melewati batas dari hubungan mereka sebagai kakak beradik. Dia mulai ketakutan dan menangis karena baru pertama kali merasakan seperti ini.
Rara semakin menangis keras memanggil papa dan mamanya. Cio semakin liar di atas tubuhnya. Kemeja papanya telah lepas dari tubuhnya menyisakan bra dan benda segi tiganya. Rara semakin ketakutan saat wajah Ryu sudah merambah turun ke dadanya. Dia menarik rambut Ryu kuat sambil berteriak-teriak keras menangis memanggil papanya.
Cio segera menghentikan aksinya. Dia mengangkat tubuhnya. Melihat wajah pucat ketakutan Khanza banjir air mata, tangan gemetaran. Dia segera turun dari tubuh gadis itu dan merebahkan diri di samping Khanza Lalu menutupkan selimut pada mereka. Dia segera memeluk Khanza dari samping.
"Maafkan kakak dek....maaf!" ucapnya merasa bersalah melihat ketakutan itu.
"Apa yang kakak lakukan? Rara takut, kakak membuat Rara takut!" isak Rara terus menangis. Dia mendorong tubuh Ryu menjauh darinya. Dia tidak menyangka Ryu akan menyentuhnya. Ryu sudah berubah, tidak seperti dulu yang menyayanginya dengan tulus. Dan itu membuatnya mulai takut pada Ryu.
"Khanza, maaf dek." pinta Ryu menyesal.
"Pergi, jauh jauh dari Rara. Jangan dekat dekat!" teriak Rara keras. Dia bangun menutup selimut pada tubuhnya, lalu memakai kemeja papanya.
"Rara mau pulang! Kakak menyakiti Rara. Rara benci kakak, Rara benci. Rara tidak mau melihat kakak lagi." katanya menatap tajam penuh kemarahan.
Ryu terhenyak mendengar ucapannya. Untuk pertama kalinya Khanza menunjukkan kemarahan pada dirinya.
"Ini sudah malam. Khanza tidur di saja. Lihat di luar hujan deras, angin kencang dan petir menyambar! Kakak akan keluar dari sini tak akan dekat dan menyentuh Khanza lagi. Kakak akan menghubungi Daddy dan mengatakan khanza menginap di sini. Sumpah....kakak tidak akan macam macam lagi. Kakak keluar sekarang! Khanza tetap di sini." kata Ryu buru buru. Dia segera memungut Jubah tidurnya lalu berlari keluar menuju ruang tengah.
Rara menatap kepergiannya dengan kesedihan yang mendalam. Dia sedih dan sangat kecewa, kakaknya telah berubah.
Ryu duduk di sofa lalu meraih air putih dan minum dua gelas berturut-turut untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas. Berulangkali dia membuang nafas berat dan mengusap wajahnya kasar. Tangisan ketakutan Khanza menari nari di matanya. Dia yang lepas kendali tidak dapat menahan hasratnya yang bergejolak hingga terus menyentuh gadis itu dan hampir memakainya. Kini gadis itu takut dan membencinya. Ryu kembali mengeram keras. Dia mengambil sebatang rokok milik Simon yang tertinggal. Di pasang dan hisapnya. Tapi dia yang tidak terbiasa merokok batuk batuk. Dia melempar benda itu ke lantai dan di injaknya dengan telapak kaki tanpa alas. Rasa sakit panas dari api tidak berarti apa-apa di banding dengan rasa sakit di hatinya.
Ryu bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar satunya. Masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya untuk menenangkan miliknya yang masih menegang karena menyentuh Khanza tadi. Dua jam dia mengurung diri di kamar mandi, mendinginkan hatinya yang panas juga menenangkan diri sembari memikirkan Khanza dan juga hubungan mereka.
Setelah merasa tenang, Ryu segera keluar dan memakai pakaian. Dia berjalan melangkah mendekati kamar Khanza. Dia tahu gadis itu sudah tidur setelah hampir dua jam menangis di dalam selimut. Ryu tahu hal itu setelah memeriksa CCTV.
Ryu naik ke ranjang pelan pelan. Membuka selimut yang menutupi kepala Khanza. Ryu hanya membuka sebatas dada. Khanza memang telah tertidur dengan dengkuran halusnya. Tertidur karena capek menangis. Ryu menyingkap rambut berantakan yang menutupi wajah mulus itu. Wajah yang tampak sembab. Sisa sisa air mata membekas di pipinya. Ryu mengecup keningnya sangat lembut. Semakin bersalah dirinya ketika melihat diujung mata kiri gadis itu mengalir air mata.
"Maafkan kakak sayang." kembali mengecup dengan perasaan sedih karena bersalah.
"Kau pasti sangat kecewa pada kakak. Kau pasti menganggap kakak telah berubah menjadi pria bejad yang menakutkan." gumamnya lirih.
"Kakak menyentuhmu karena kakak berhak atas dirimu. Bukan hanya berhak atas hatimu, tapi juga tubuhmu! Tubuh ini adalah milik kakak. Karena Khanza adalah Istri kakak." gumamnya lagi seraya memeluk tubuh Khanza.
__ADS_1
******
Tinggalkan jejak dukungan ya 😘