
Marhaban ya Ramadhan mohon maaf lahir dan batin 🙏
...Happy Reading...
Setelah perginya Khanza dari toko pakaian.
Wanita yang bersama Ryu segera membuka topeng yang menutupi wajahnya. Dia segera duduk sambil membuang nafas berat, karena apa yang di lakukan selalu sia sia. Dia menatap kesal pada Ryu.
"Sepertinya rencana kakak ini tak kan berhasil. Malah hanya menyakiti Khanza. Kakak lia kan tadi, wajahnya sangat sedih gitu? Aku tak tega melihatnya." kata wanita itu yang tak lain adalah Cia.
Sudah dua kali dia di mintai tolong oleh Cio untuk berpura-pura menjadi selingkuhan kakaknya itu. Dengan memakai topeng wajah wanita lain dan juga rambut palsu. Pertama di cafe kemarin, dan kedua tadi. Cio sengaja melakukan itu untuk mengetes hati dan perasaan Khanza kepadanya.
"Hatinya pasti sangat hancur. Kalau Daddy tahu hal ini, Daddy pasti akan marah besar pada kita." kata Cia lagi.
Cio membuang nafas kasar. Dia duduk di samping adiknya.
"Kakak juga tidak tega! Sebenarnya Khanza menerima Pernikahan kami atau tidak? Kok Khanza hanya tenang saja melihat aku sama wanita lain?" keluhnya sedih.
"Ya karena aku adiknya kakak. Mana mungkin Khanza cemburu." ledek Cia.
"Kakak serius ah, jangan bercanda." kata Cio menatap kesal pada adiknya itu.
Cia kembali tertawa.
Sudah dua kali Cio melakukan drama selingkuh dengan bantuan Cia untuk menguji perasaan dan hati Khanza. Tapi istri kecilnya itu tidak menunjukkan emosi dan kecemburuan pada dirinya. Sedih iya, kecewa juga di lihat dari wajah Khanza, tapi istirnya itu tetap tenang, tak marah atau melabraknya dengan wanita selingkuhannya (Cia). Cio berharap saat Khanza melihatnya bersama wanita lain, Khanza akan marah besar. Tapi Khanza justru pergi. Khanza membiarkannya selingkuh dan tidak memikirkan nasib pernikahan mereka akibat dari drama palsu perselingkuhan yang sedang di jalankan nya. Ryu semakin frustasi. Dia menganggap Khanza tidak perduli dengan pernikahan mereka.
"Yang kakak lakukan ini hanya akan membuat Khanza semakin kecewa dan menjauh kakak. Udah deh gak usah drama selingkuh lagi!" kata Cia lagi. Lalu menyeruput minumnya.
"Khanza itu usianya masih sangat muda. Dia masih bisa mencari pria lain jika suaminya selingkuh. Makanya dia gak perduli kakak sama wanita lain." ledek Cia kembali.
"Ih kau ini senang kakak lagi kesusahan begini ...!" kata Ryu kembali kesal.
Cia kembali tertawa, tak tega juga melihat keadaan kakaknya. Siang malam stress memikirkan Khanza.
"Khanza bersikap begitu karena tidak ingin orang tahu dia telah menikah!" kata Cia menenangkan kakaknya.
"Kalau untuk urusan hati dan perasaannya, aku yakin dia sayang sama kakak, juga menghargai pernikahan kalian."
"Tapi Khanza menghindari kakak terus. Tidak mau di ajak bicara. Dan lebih memilih bersama Rangga. Dia tidak memikirkan perasaan kakak sebagai suaminya, malah dekat dan berhubungan dengan pria lain." kata Ryu emosi.
"Kalau Khanza tidak terima dengan pernikahan kalian, Khanza pasti sudah mengatakan pada kita semua. Tapi tidak kan? Mungkin saja dia masih punya alasan menghindari kakak. Aku yakin begitu! Dan soal Khanza dekat Rangga karena Rangga anak baik, bisa dia percayai, gak akan macam macam sama dia. Rangga juga anak sahabat mama Ara, tante Cindy. Dia pria baik dan sopan. Rangga tahu kalian telah menikah. Rangga menjaga batasan hubungan pertemanan dengan Khanza. Rangga juga telah menerima pernikahan kalian dengan lapang dada, jiwanya yang besar! Karena itu Khanza percaya padanya. Jadi kakak nggak usah khawatir dengan kedekatan mereka. Kakak harus berpikir positif!" kata Cia kembali menenangkan.
"Entahlah Cia, kakak bingung dan kecewa pada Khanza." keluh Cio mengusap wajahnya kasar.
Jujur dia kecewa pada Khanza yang tampak tak perduli dirinya dekat dengan wanita lain.
Cia memegang kedua tangannya.
"Kak, yakinlah sama hati Kakak. Sama seperti kakak yang hanya mengenal sosok Khanza di hatimu, begitu juga dengan Khanza. Dia hanya menempatkan seorang Gracio di hatinya. Pria yang di kaguminya sejak kecil, sangat di sayangnya, yang membuatnya selalu menangis mengeluarkan air mata, menderita merasakan rindu siang dan malam. Hanya kakak seorang. Kami semua tahu hal itu meski selama ini dia tidak mengatakan pada kami. Dia sangat menderita selama perpisahan kalian. Kalau bukan karena cinta lalu apa namanya? Aku yakin dia juga mencintai Kakak, hanya saja dia belum menyadari hal itu. Dia masih menganggap apa yang di rasakan oleh hatinya hanyalah rasa sayang dan cinta pada seorang kakak." kata Cia dengan serius.
Cio menatap mata adiknya, berharap apa yang di katakan Cia benar.
Cia tersenyum, lalu memegang wajah kakaknya."Kita akan melakukan drama ini sekali lagi. Aku akan membantu kakak sekali lagi. Tapi setelah itu jangan lagi. Aku gak tega lihat air matanya!" kata Cia lagi dengan ekspresi sedih membayangkan wajah sedih Khanza melihat sikap mesra mereka.
Cio mengangguk pelan.
Mereka segera keluar dari toko itu sambil bergandengan tangan. Cia bergelayut manja di lengan kakaknya. Mengulang kembali kenangan yang selalu mereka lakukan bersama. Di mana Cio selalu memanjakan dirinya saat mereka masih SD sebelum Cio pergi ke Eropa. Menjaga dirinya dari kejahilan teman teman mereka yang nakal.
"Kak, aku ingin mengatakan sesuatu." kata Cia di sela sela langkah mereka.
__ADS_1
"Apa?" Cio menoleh padanya.
"Tapi aku harap kakak nggak marah." kata Cia takut takut.
"Kecuali kalau kau tidak melakukan kesalahan dan juga masalah yang bikin malu keluarga." kata Cio melihatnya lagi.
"Bukan. Aku gak mungkin lakukan itu....!"
"Terus apa??"
"Itu...aku ingin kakak menyelidikinya." kata Cia ragu ragu. Menyelidiki apakah Edgar pria baik. Karena Cio itu belum tahu kedekatannya dengan Edgar. Hanya Rafa, Ara dan Nesa yang tahu.
"Siapa?" wajah Cio mengernyit. Langkahnya berhenti. Dia menghadapkan tubuhnya pada Cia. Sepertinya ini sesuatu yang penting.
Dia menatap wajah adiknya yang tampak gugup dan malu. Cio sudah dapat menebak apa yang ingin di sampaikan adiknya ini.
"Dia mengatakan mencintai ku, serius, bahkan telah melamar ku, memintaku untuk menjadi istrinya! Tapi aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi sama seperti kemarin." kata Cia pelan.
Cio mengerti.
"Kau sendiri suka padanya?" tanya Cio. Ingin mengetahui isi hati Cia.
Cia mengangguk pelan.
Cio membuang nafas panjang. Untuk pertama kalinya Cia memberi tahu dia dan melibatkan dirinya soal pria yang di sukai adiknya ini. Kemarin kemarin Cia suka bertindak sendiri, tidak mau di beri tahu yang baik, tidak mau di atur dan melarang mereka untuk ikut campur dalam urusan percintaannya dengan pria yang di sukainya. Cuek dan egois. Merasa pilihan hatinya yang benar.
"Dia pria baik, matang dan mapan. Daddy dan mama sudah mengenalnya! Tapi aku juga ingin meminta persetujuan kakak, karena kakak adalah kakakku satu satunya sebagai pengganti almarhum papa." kata Cia kembali.
Cio memegang wajahnya lembut.
" Cia, kakak tidak melarang mu untuk bergaul dan berhubungan dengan pria manapun selama pria itu berakhlak baik, dan tulus padamu. Bukan hanya sekedar main-main. Kakak hanya ingin kamu mendapatkan pria yang baik, memberimu cinta dan banyak kebahagiaan. Membimbing mu menjadi wanita yang lebih baik lagi!" kata Cio lembut."Kita sudah kehilangan sosok ayah sejak kecil. Kau adikku satu satunya. Aku hanya punya dirimu dan mama! Aku sangat menyayangi kalian! Aku hanya ingin melihat kalian selalu tersenyum dan merasakan kebahagiaan dalam hidup." kata Cio penuh perasaan.
Cia mendesah sedih, dia segera memeluk kakaknya. Dia tahu Cio sangat menyayangi dirinya dan Nesa, mama mereka.
Cia mengangguk dalam pelukannya. Cio melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening adiknya lembut. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Cio merangkul bahu adiknya dan Cia memeluk pinggang kakaknya.
Seorang pria mengikuti mereka dengan terburu-buru dari belakang. Edgar yang mendapat informasi kalau Cia pergi ke Mall bersama dengan seorang pria segera menyusul ke tempat ini. Amarahnya seketika meluap. Hatinya begitu sakit, darahnya terasa panas. Melihat Cia bersama dengan pria itu, sangat dekat dan mesra. Apalagi pria itu mencium kening Cia. Dan kini keduanya berjalan sambil berpelukan.
Edgar berlari cepat ke arah mereka. Setelah dekat dia menarik lengan kanan Cio dengan kuat, lalu melayangkan bogem keras ke wajah Cio saat Cio menoleh ke belakang. Cio terkejut dan tidak dapat menangkis pukulan yang datang tiba-tiba. Bibirnya pecah dan berdarah.
Dan Cia lebih terkejut lagi setelah melihat siapa orang yang telah menyerang Cio.
"Bajingan, beraninya kau menyentuh wanita ku!" sentak Edgar penuh amarah. Dia kembali melayangkan pukulan, tapi Cio yang sudah siaga segera mengelak dan balas memberi pukulan. Terjadi adu otot dengan mereka.
Cia berteriak teriak meminta mereka untuk berhenti. Karena perkelahian itu menarik perhatian pengunjung.
"Ya ampun, Tuan Edgar....kak Cio berhenti." teriaknya keras.
"Apa kalian tidak malu membuat keributan di tempat umum? Semua orang pada lihatin kalian. Aku bilang berhenti.... stop, stop!" teriaknya lebih keras.
Teriakkan keras Cia menghentikan gerakan mereka. Kedua tangan saling mencengkram kuat kerah lawan. Mata saling menatap tajam seperti ingin menerkam.
"Aku akan menghabisi bajingan ini, beraninya dia menyentuh mu. Aku tidak sudi kau di sentuh lelaki lain." kata Edgar kasar menatap Cio penuh emosi, mata menyala memancarkan kemarahan yang sangat dalam.
Cia mendesis geram.
"Apa? menghabisinya? Enak saja. Justru aku akan akan membunuhmu jika kau membuatnya terluka." kata Cia menatap tajam pada Edgar.
"Cia...!" sentak Edgar geram. Karena Cia lebih membela pria ini.
__ADS_1
"Lepas kataku." Cia mendorong tubuh Edgar kuat.
"Aku bilang lepas!" sentak Cia kembali karena Edgar masih mencengkeram kerah Cio.
Edgar melepaskan Cio dengan kasar. Sementara Cio yang masih terkejut dengan apa yang terjadi mulai mengerti dan memahami serangan yang di lakukan pria itu.
"Edgar? Apa pria ini yang menyukai Cia? dan Cia ingin aku menyelidikinya?" Batinnya.
Cia segera mendekati Cio, memeriksa wajah kakaknya yang tampak memerah. Bibir pecah dan berdarah. Cia segera membersihkan darah itu.
Edgar semakin marah dan cemburu melihatnya. Dia menarik tangan Cia, dan mendorong Cio dengan kuat.
"Aku sudah bilang jangan dekat-dekat dengan pria lain, aku tidak suka." sentak Edgar menatapnya tajam. Mata menyorot tajam berapi-api di penuhi amarah. Lalu dia menunjuk pada Cio." Dan kau, Jangan pernah lagi dekat dekat dengan kekasihku, apalagi menyentuhnya. Kalau tidak aku akan membunuhmu." ancam Edgar.
Cia semakin kesal. "Pria lain, pria lain.....Dia kakak ku, kakak kandung ku," kata Cia menatap emosi. "Enak saja mau bunuh kakak ku!" Sentak CIA. Dia memukul dada Edgar. Edgar segera menangkap tangannya.
Edgar kaget."Kakakmu?" wajah mengernyit.
Cia tidak menanggapi pertanyaan itu. Dia melepas pegangan tangan Edgar dan kembali mendekati Cio. Meriksa keadaan kakaknya. Sementara Edgar masih terpaku di tempatnya. Melihat kedua kakak beradik itu. Sungguh dia tidak menyangka kalau pria yang membuatnya cemburu adalah kakak Cia.
Dia tahu Cia memiliki seorang kakak kembar.
Cia mengatakan namanya Sahreza Gracio. Tapi dia belum pernah bertemu. Dan ternyata pria yang di serangnya karena alasan cemburu dan sakit hati adalah kakak Cia. Semakin di perhatikan wajah keduanya memang mirip. Dan wajah Cio terasa familiar baginya. Dia seperti tahu. Wajah ini seperti wajah calon rekan bisnisnya, Ryu Deva Mayandra. Pimpinan sekaligus pemilik perusahaan K' Company.
Sebagai seorang pebisnis yang sudah banyak makan garam dan berkecimpung di dunia bisnis, bergaul dengan banyaknya para pebisnis, tentu dia melihat wajah itu berulang kali. Ryu Deva Mayandra, nama pria itu yang di ketahuinya, bukan Sahreza Gracio. Perusahaannya bahkan telah mengajukan penawaran kerjasama dengan perusahaan milik Ryu Deva Mayandra.
Jadi pengusaha sukses terkenal ini kakaknya Cia? Pemilik K'Company yang memiliki banyak perusahaan yang tersebar di beberapa tempat di wilayah tanah air hingga sampai ke luar negeri.
Edgar segera mendekati keduanya."Anda tuan Ryu Deva Mayandra bukan?" kata Edgar.
Cio melihat padanya tanpa menjawab. Begitu juga dengan Cia.
"Maaf, aku tidak tahu kalau anda adalah kakaknya Cia. Aku hanya di beri tahu Cia kalau nama kakaknya adalah Sahreza Gracio. Bukan Ryu Deva Mayandra! Sekali lagi maaf atas kelakuan buruk ku tadi. Aku tersulut emosi dan api cemburu! Aku harap anda mengerti!" kata Edgar menyesal dan merasa bersalah.
"Anda meminta kakak ku mengerti dengan kelakuan arogansi anda?" Cia menatap tajam "Ngerti gimana setelah bogem anda tuh membuat bibir kak Cio pecah, wajahnya lebam biru begini? Cemburu anda tuh berlebihan. Anda hampir membunuh kakak ku." kata Cia menatap tajam.
"Sudah Cia, kakak nggak apa apa." kata Cio segera. Dia melihat kembali pada Edgar. Meski belum begitu mengenal dan baru bertemu sekali ini, dia sudah tahu siapa Edgar. Simon mengatakan ada beberapa perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan perusahaannya, termasuk milik Edgar Wirayudha. Hanya saja dia tidak tahu kalau pria matang dan mapan ini menyukai adiknya.
"Aku mengerti dengan apa yang anda lakukan tadi!" kata Cio mengulas senyum. Lalu mengulurkan tangan.
"Aku kakaknya Cia, Sahreza Gracio. Aku juga punya nama lain, Ryu Deva Mayandra. Senang bisa mengenal mu tuan Edgar Wirayudha." katanya kembali.
Edgar sedikit terkejut, Ryu mengenalnya. Mungkin pria ini mengenalnya lewat proposal pengajuan kontrak kerjasama.
Dengan segera Edgar menyambut uluran tangan Ryu. Keduanya saling berjabat tangan dengan hangat.
Ryu menoleh pada Cia.
"Kakak tidak perlu menyelidiki pria ini. Sama seperti Daddy dan mama, kakak menerima niat baik tuan Edgar untuk melamar mu untuk menikah mu. Kakak merestui hubungan kalian. Tuan Edgar pria yang tepat untuk mu!" katanya kemudian.
Baik Edgar dan Cia terkejut, campur senang mendengar perkataannya.
Terlebih lagi Cia, selain terkejut dia juga malu dan salah tingkah. Kakaknya langsung langsung menerima Edgar di depan mereka."Ih kakak." desisnya kesal. Cia semakin gugup dan salah tingkah melihat senyum kedua pria itu. Wajahnya merah merona. Tanpa pamit, dia buru buru pergi meninggalkan kedua pria itu untuk menyembunyikan wajah malunya.
Edgar menatap Ryu." Terimakasih telah merestui hubungan kami. Aku pria yang sangat beruntung mendapatkan Cia. Aku janji akan menjaganya dengan baik, memberikan cinta dan kebahagiaan seperti yang kalian berikan padanya selama ini. Sudah beberapa kali aku melamar Cia, tapi dia masih menolak. Katanya dia harus meminta persetujuan kakaknya dulu. Dia gadis baik, menghormati dan menghargai orang tuanya dan juga anda sebagai kakaknya. Aku semakin ingin memilikinya. Dan sepertinya Cia masih trauma dengan hubungan percintaannya yang buruk di masa lalu sehingga membuatnya belum yakin untuk menerima niat baik ku. Aku mengerti hal itu dan menunggunya sampai hatinya siap untuk membuka lembaran baru." kata Edgar panjang lebar di sela sela langkah mereka mengikuti Cia.
Ryu semakin yakin jika pria ini benar-benar orang yang tepat untuk menjadi suami Cia. Sangat matang dengan pikirannya yang sangat dewasa.
"Aku percaya dan yakin anda bisa membahagiakan Cia. Terimakasih karena dulu telah menyelamatkan kehormatan Adikku berulangkali tuan Edgar." katanya kemudian dengan senyuman tulus.
__ADS_1
Keduanya saling melempar senyum, seperti orang yang sudah lama saling kenal dan sangat akrab. Mereka semakin mempercepat langkah mengejar Cia.
*****