Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
70. Senyuman indah di balik ciuman


__ADS_3

Bijaklah dalam membaca ya.....!!!


Rara segera berjalan menuju pintu masuk setelah mobil Rangga pergi. Dia di sambut Rima di pintu masuk.


Rara menuju kamar papa dan mamanya. Dia mengetuk tiga kali lalu membuka pintu.


"Assalamualaikum....!" ucapnya. Rara segera masuk. Dia melihat papanya yang sedang menyuapi stroberi ke mulut mamanya. Keduanya sedang duduk di sofa. Ada macam-macam aneka buah terletak di meja sofa.


"Waalaikumsalam," jawab Rafa dan Ara hampir bersamaan seraya melihat kepada Rara.


Hari ini Rafa tidak masuk kantor karena ingin menemani dan melayani Ara 1x 24 jam seorang diri tanpa bantuan siapapun. Meski keadaan istrinya tidak lagi mengkhawatirkan. Dia menyerahkan pekerjaan kantor pada Wisnu.


Ara sudah memaksa suaminya untuk bekerja, tapi Rafa tidak mau meninggalkannya.


"Sudah pulang sayang?" tanya Rafa.


"Iya pa...!" Rara mendekat lalu mencium tangan orang tuanya. Rara duduk di dekat mamanya, mengelus lembut dan mencium perut mamanya.


"Bagaimana keadaan mama dan adik baby?" katanya meletakkan telinga di perut Ara.


Rafa dan Ara tersenyum melihatnya.


"Mama dan adik Khanza baik baik saja. Alhamdulillah mama sudah baikan kok. Khanza gak perlu cemas." kata Ara membelai lembut kepala putrinya yang berada di atas perutnya.


"Syukurlah, Rara senang dengarnya!" ucap Rara kembali mengecup perut Ara.


"Gimana belajarnya hari ini?" tanya Rafa memasukkan buah ke mulut Ara. Rara segera duduk, membuka mulut di arahkan pada papanya. Rafa yang mengerti segera memasukkan anggur ke mulut putrinya yang terbuka.


"Baik pa, nggak ada masalah." kata Rara sambil mengunyah ."Papa dan mama jangan khawatir, Rara akan kasih nilai tinggi memuaskan dan juga prestasi terbaik untuk papa dan mama." kata Rara.


"Bagus, papa dan mama senang dengarnya. Khanza memang anak cerdas dan membanggakan." kata Rafa. Putrinya ini memang memiliki kecerdasan, otak pintar di atas rata-rata, menurun dari dirinya dan Ara. Anak anak mereka memang di anugerahi otak yang pintar. Di tambah lagi mereka rajin dan giat belajar.


Rafa kembali memasukkan anggur ke mulut Khanza karena putrinya itu kembali membuka mulut.


"Sayang, mama ingin membicarakan sesuatu." kata Rara pelan. Dia ingin membicarakan tentang hubungan Khanza dengan Cio, status mereka yang sudah menikah. Tapi dia ragu dan khawatir akan membuat Khanza sedih dan syok.


"Ngomong apa ma?" tanya Rara terus mengunyah.


"Mengenai kakak mu, Cio....!" kata Ara pelan dan hati-hati.


"Kalau tentang kak Cio Rara gak mau. Gak ada yang perlu di bicarakan. Rara minta maaf." kata Rara segera.


Dia bangkit berdiri meraih tasnya."Rara permisi ke kamar dulu." katanya segera tak memberi kesempatan orang tuanya bicara. Dia mencium pipi kanan papa dan mamanya bergantian, lalu segera melangkah keluar dari kamar itu.


Rafa dan Ara menatap lesu kepergiannya.


"Kalau terus menghindar begitu, kapan masalah kesalahpahaman di antara mereka bisa selesai?" kata Rafa membuang nafas berat.


Rara tiba di depan kamarnya, perlahan dia membuka pintu dan masuk. Dia terkejut melihat Cio berada di belakang pintu kamarnya.


Rara bergerak hendak keluar tapi dengan gerakan cepat Cio menahan lengannya dan segera menutup pintu, lalu menguncinya.


Rara kembali terkejut, dia mulai merasa takut.


"Rara udah bilang jangan sembarangan masuk ke kamar Rara lagi." kata Rara menatap tak suka. Dia tidak menyangka kalau pria ini berada di kamarnya. Setelah apa yang terjadi tadi pagi.

__ADS_1


"Dari mana kamu dan bajingan itu?" tanya Ryu mengabaikan perkataan Khanza. Menatap tajam menahan kemarahan.


"Bajingan?" Wajah Rara mengernyit mendengar perkataan itu. Siapa yang di katakan bajingan? Rara melongo? Apa Rangga? Dia menyebut Rangga bajingan? Rara menatap tajam.


"Kakak menyebut Rangga bajingan? Rangga orang baik. Rara gak suka kakak menyebutnya seperti itu!" kata Rara dengan suara meninggi.


"Orang baik? bajingan itu mencium mu dan kau mengatakan dia pria baik?" suara Cio mulai keras karena terbawa emosi.


"Memang kenapa kalau Rangga cium Rara? Rara tidak keberatan."


"Khanza....!" sentak Cio keras.


"Kakak nggak suka dia mencium mu. Kakak nggak suka dia menyentuh mu." katanya lagi penuh emosi. Dia menyapu kening Rara, menghilangkan bekas kecupan di kening Khanza, terus beralih ke tangan Khanza yang juga di cium Rangga. Dia membersihkan dengan kasar.


"Apa yang kakak lakukan?" Rara mulai takut melihat kemarahan di wajah Cio. Dia berusaha melepaskan diri tapi Cio memeluknya kuat.


"Kakak sudah bilang kakak mencintaimu, kamu milik kakak. Kakak tidak suka kamu dekat dekat dan di sentuh pria lain." kata Cio tegas dengan tatapan tajam. Dia menekan tubuh Rara di pintu hingga sulit bergerak. Keduanya saling menatap dalam jarak dekat.


"Kakak sudah katakan, kakak mencintaimu. Kakak tidak rela kamu di sentuh pria lain!" kata Cio penuh perasaan, ekspresi sedih.


Rara kembali terkejut.


"Kakak sadar dengan apa yang kakak katakan? Kakak sudah menikah, punya istri dan sebentar lagi punya anak. Nggak boleh punya rasa pada perempuan lain." kata Rara dengan kesal.


"Kakak benar benar brengsek, tega menyakiti kak Anggi yang sedang hamil. Rara mengira kakak pria baik dan bertanggung jawab seperti papa. Menghargai dan mencintai seseorang wanita dengan tulus.Tapi ternyata nggak, kakak seorang Bajingan. Rara kecewa sama kakak." kata Rara dengan luapan emosi, mata berkaca-kaca.


"Tahu nggak? sikap kakak ini membuat Rara takut dan ingin menjauhi kakak. Kakak berubah, Rara seperti tidak mengenal kakak lagi." ucap Rara lirih, suara serak. Air matanya sudah jatuh.


"Tidak dek, kakak tidak pernah berubah. Kakak masih sama seperti dulu. Seorang kakak yang menyayangimu, melindungi mu dan juga mencintaimu dengan tulus. Maaf telah menempatkan diirmu di hati kakak, dan mencintaimu. Tapi itulah yang kakak rasakan padamu sejak kakak SMA. Kakak mencintai mu sudah sangat lama." kata Ryu dengan sedih. Matanya juga sudah basah. Wajahnya mendekat dan mengecup bibir Khanza dengan gerakan cepat.


"Apa yang kakak lakukan? Jangan cium cium Rara lagi. Jangan menaruh hati pada Rara. Rara akan semakin bersalah pada kak Anggi. Kenapa kakak gak ngerti juga?" sentaknya sedikit keras.


"Sebaiknya kakak keluar dari sini. Cepat keluar!" berusaha mendorong kuat, tapi Ryu semakin menekan kuat.


Ryu malah kembali mendaratkan satu kecupan, memeluk lalu melepaskan, mengecup lagi.


"Kakak rindu sama kamu dek, rindu canda tawamu, manjamu, rindu kebersamaan kita dulu. Enam bulan lamanya kita tidak bersama, apa sedikit pun kamu tidak merindukan kakak? merindukan kebersamaan kita lakukan dulu?" menatap netra Khanza dengan sedih.


Rara tidak bisa bergerak apalagi melepaskan diri karena tubuhnya di kukung kuat oleh Ryu. Jujur dia merindukan kebersamaan yang mereka sering lakukan dulu. Tapi itu tidak mungkin lagi untuk di ulang kembali. Dia bisa apa? Rara kembali terisak. Ryu sudah menikah. Dan dia harus menjaga perasaan Anggi yang menilai kedekatan mereka sesuatu yang berlebihan dan tidak wajar.


"Jawab dek, apa kau tidak merindukan kakak?" Ryu kembali mendesaknya.


Rara geleng geleng kepala. Dia kembali terisak. Bahunya sampai terguncang menahan tangis.


"Rara rindu, tapi tetap saja kita tidak bisa terlalu dekat.....!" Ucapannya terpotong dengan kecupan Ryu di bibirnya. Ryu terus menekan bibirnya. Berlanjut mengulum bibir Khanza melihat Khanza terdiam. Jika Khanza masih mengatakan rindu padanya berarti gadis ini punya rasa yang sama dengannya, rindu terpisah, kehilangan seperti apa yang dia rasakan. Khanza tidak akan bisa hidup tanpanya.


Ryu terus mencium bibir Khanza, mengulum bibir bawah dan atas bergantian. Ryu tersenyum senang melihat Khanza yang pasrah dengan mata terpejam, dengan tubuh menegang. Dia semakin meliarkan ciumannya tapi dengan kelembutan agar tidak membuat gadis itu takut. Menciumi, mengulum, melumati bibir istrinya ini. Memainkan lidahnya, menyesap manisnya rongga mulut adiknya itu.


Debaran jantung Rara semakin tak beraturan. Tubuhnya semakin bergidik dan menegang. Lenguhan demi lenguhan keluar dari mulutnya


merasakan permainan lembut bibir Ryu. Seakan tersihir dia terdiam, tak melakukan perlawanan dan menerima ciuman pria ini. Tubuh dan otaknya melemah. Kepalanya terasa pening menikmati permainan bibir Ryu yang semakin intens. Hawa panas dirasakan menjalar di sekujur tubuhnya. Dan perlahan dia mulai membalas ciuman itu. Mungkin karena rindu, hanya itu yang di rasakan saat ini...rindu setelah sekian lama tak bersama hingga membuatnya tak sadar diri. Kedua tangannya perlahan melingkar di bahu Ryu, membalas ciuman Ryu, berusaha menyeimbangi ciuman ganas Ryu.


Di antara ciuman yang dia lakukan, Ryu tersenyum indah merasakan kissing style Khanza yang berantakan, dia mengerti pertama kalinya gadis ini berciuman di bibir. Ryu menjerit senang dalam hati mendapat balasan ciuman dari Khanza.


Rara semakin terlena dan terbuai, karena ini pertama kalinya dia merasakan nikmat indah dalam berciuman. Dia tidak menyadari kancing kemeja sudah mulai terbuka satu persatu dan terlepas, Roknya juga sudah jatuh ke bawah. Seragam sekolah itu telah lepas dari tubuhnya. Menyisakan bra dan benda segitiga berenda berwarna navy. Matanya terus terpejam menikmati permainan Ryu.

__ADS_1


"Aku tahu tahu kau pun sangat merindukan diriku sayang. Kau tidak akan bisa lepas dari kakak. Kalau hanya Anggi penghalang kita untuk bersama, kakak sudah membuangnya dari kehidupan kita." batin Ryu tersenyum bahagia. Dia melepas kemeja kantornya dengan cepat menggunakan satu tangan. Lalu tangan itu meraba raba ke punggung Khanza menyentuh pengait bra.


Pengait bra lepas. Penutup gunung kembar itu jatuh melorot ke bawah tak di sadari Rara. Ryu terpukau saat matanya melirik ke bawah dan melihat keindahan gunung kembar istrinya yang masih segar. Hasratnya semakin menggebu-gebu, Dia melepas ciuman di bibir khanza karena gadis itu butuh oksigen, lidahnya berpindah cepat menjalar liar ke telinga Khanza. Tangannya perlahan menyentuh satu kembar gunung Khanza membuat si empunya kembali mengeluarkan lenguhan merdu. Tangan Ryu terus bergerak aktif bergantian di kedua gunung kembar putih, kencang, padat, dengan pucuknya berwarna pink. Bibir dan lidahnya menjalar turun ke leher Khanza, memberi kecupan kecupan lembut. Dia tersenyum melihat tanda ungu di leher jenjang putih dan dada istrinya hasil karyanya tadi pagi.


Lenguhan terus keluar dari mulut Rara yang lupa diri terus terbuai dengan kenikmatan yang dia rasakan.


"Akhhh." desahnya sambil menjambak rambut Ryu tak kalah ciuman itu merambah di kedua gundukan kembarnya. Ryu melahap dengan rakus seperti orang yang kehausan. Lenguhan demi lenguhan merdu semakin lepas keluar dari mulut Khanza menambah gairahnya.


Jam weker tiba tiba berbunyi bersamaan dengan bunyi alarm azan magrib dari ponsel Rara. Begitu kerasnya hingga membuat Rara kaget dan tersadar dengan keadaan. Dia terbelalak melihat Ryu yang sedang bermain di dadanya. Sedang menyusu.


"Kakak....!" teriaknya keras seraya mendorong tubuh Ryu kuat. Ryu terjungkal dan jatuh terjerembab ke lantai.


Rara segera menutup dada dengan ke dua tangan dengan panik. Wajahnya yang memerah dengan nafas memburu cepat tak beraturan. Jantung berdebar kencang.


"Ya tuhan....apa yang terjadi?" Rara baru menyadari sepenuhnya setelah ingat apa yang terjadi. Ryu segera bangkit berdiri dan mendekatinya.


"Khanza....!"


"Jangan dekat dekat, jauhi Rara. Apa yang telah kakak lakukan pada Rara?" teriaknya Rara menatap sedih. Dia terlalu malu melihat dirinya yang hampir telanjang, dan juga melihat wajah Ryu yang di penuhi kabut gairah. Sekilas melintas wajah Anggi di pelupuk matanya. Seketika rasa takut dan berdosa menyeruak di hatinya.


Dia segera membuka pintu dan berlari keluar tak perduli dengan keadaan dirinya. Dia terus menutup dadanya hanya dengan menggunakan tangan. Tak terpikir oleh otaknya untuk meraih sesuatu guna menutupi tubuhnya. Saat ini dia sangat takut.


"Khanza...!" Ryu mengejarnya. Melihat dirinya yang tak mengenakan pakaian.


"Jangan ikuti Rara, pergi.....!" teriak Rara keras terus berlari menghindari Ryu. Dia berbelok dan langsung masuk ke kamar Raka sebelum Ryu berhasil mengejarnya. Terus mengunci pintu kamar Raka.


Raka yang saat itu baru keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk terkejut melihat dirinya.


"Dek, kamu kenapa?" menatap tubuh Rara yang hampir polos dan menggigil ketakutan.


"Kakak....!" Rara berlari mendekati Raka dan memeluk Raka tanpa sadar dengan keadaan tubuhnya. Dia menangis.


"Khanza kenapa? apa yang terjadi?" Raka semakin bingung. Dia merasa risih dengan pelukan adiknya yang tanpa penghalang tubuh. Ke dua buah adiknya bersentuhan langsung dengan kulitnya.


Rara tak menjawab semakin menangis dan memeluk.


"Khanza, Khanza.....!" suara Cio memanggil dari luar di sertai ketukan pintu berulang.


"Kak Cio?" ucap Raka mendengar suara Cio.


"Nggak, jangan di buka...!" kata Rara geleng geleng kepala melihat wajah Raka dengan ketakutan, lalu kembali memeluk kakaknya.


"Ya ampun dek....!" Raka kembali risih merasakan sesuatu yang menekan dadanya.


Sekarang Raka mengerti penyebab adiknya ketakutan begini. Pasti telah terjadi sesuatu di antara adiknya dan kakak sepupunya itu.


"Baik, tapi kakak minta Khanza tenang. Khanza pakai baju dulu, lihat tubuhnya.....!" kata Raka.


Entah apa yang terjadi pada mereka hingga adiknya sampai tidak sadar dengan keadaan tubuhnya. Untung saja Khanza hanyalah adiknya.


Raka segera membawa adiknya ke ruang ganti dan di pakaikan kaus oblongnya. Setelah adiknya tenang, dia segera menjalankan shalat Magrib.


*****


Tinggalkan jejak dukungan ya....

__ADS_1


Like, komen, dan hadiah seikhlasnya.


__ADS_2