
Selamat pagi para penghuni dunia n'T.
Rumah pribadi Artawijaya. Semuanya tampak berkumpul di ruang makan, duduk menikmati sarapan pagi. Rafa, Ara, Ryu, Rara dan ketiga putra R. Sesekali terdengar kelakar dan canda tawa mereka. Kecuali Rara dan Ryu yang hanya diam dengan perasaan mereka seolah tidak terjadi apa apa, hanya sesekali senyum senyum mendengar keseruan mereka. Pokok pembicaraan pagi ini seputar kehamilan Ara dan juga calon adik mereka.
Ryu sesekali mencuri pandang pada Khanza yang terus melihat ke piring makannya. Tak sekalipun gadis itu melihat atau sekedar melirik padanya. Hal itu membuat Ryu kesal dan tak berselera untuk makan. Entah sampai kapan keduanya akan seperti ini terus. Dia bukan hanya tidak berselera untuk makan, tapi juga tidak nyenyak tidur, tak bergairah hidup dan tak bersemangat untuk melakukan apapun termasuk bekerja. Setiap helaian lembar kertas kerjanya hanya terlihat wajah Khanza yang membencinya.
Wisnu datang ke meja makan.
"Permisi tuan, Nyonya....!"
"Ada apa?" Rafa melihat padanya. Termasuk penghuni meja makan lainnya.
"Saya hanya ingin memberi tahu teman nona muda sudah datang dan menunggu di depan." kata Wisnu seraya melihat pada Khanza.
"Ohh, dia sudah datang ya.... tolong paman katakan padanya Rara akan segera ke sana." kata Rara, lalu segera bangkit dari duduknya.
Wisnu segera kembali ke depan.
"Siapa sayang?" tanya Ara.
Ryu juga memperhatikan Khanza yang sedang memakaikan tas ke punggungnya.
"Rangga ma, Rara meminta untuk datang ke sini menjemputnya. Rara mau berangkat sekolah dengannya!" kata Rara.
Rafa melirik pada Ryu yang tampak berubah datar wajahnya setelah mendengar perkataan Khanza.
"Sayang, apa gak merepotkan Rangga jika setiap hari memintanya untuk datang ke sini?" tanya Rafa menatap Khanza.
"Itu benar dek, Khanza jangan terus menerus memintanya untuk menjemput. Kali aja Rangga punya urusan sebelum ke sekolah. Dan dia tidak enak menolak keinginan mu untuk menjemput." timpal Riez.
"Kenapa nggak pergi saja bersama Raka? Kalian kan satu sekolah." Ryan ikut menimpali.
"Iya dek...pergi sama kakak saja." sambung Raka.
"Ada kakak mu Cio juga yang tidak akan keberatan mengantar Khanza. Cio malah suka ngantar dan jemput Rara sekolah. Nggak usah ngerepotin orang lain sayang. Nggak enak kalau terus-terusan meminta tolong." kata Ara. Dia merasa gak enak hati pada Cio yang notabenenya adalah suami Khanza dan Khanza malah pergi bersama pria lain.
Rara melihat mereka satu persatu.
"Rangga nggak keberatan kok, dia juga nggak merasa di repotin! Rangga malah senang jemput Rara ke sekolah. Kecuali kalau Rangga punya urusan penting, dia akan kasih tahu lebih dulu pada Rara! Dan Rara lebih senang pergi sama Rangga dari pada kalian! Sudah ah, Rara berangkat sekolah dulu. Assalamualaikum....!" pamit Rara sebelum mereka bicara. Dia segera berbalik dan melangkah. Tapi baru 3 langkah berjalan, tiba-tiba dia balik lagi dan mendekati Ryu. Rara mengeluarkan sesuatu dari dompet. Kartu kredit yang di berikan Ryu padanya, selalu lupa untuk di kembalikan. Dia meletakkan benda tipis itu di depan Ryu.
"Rara kembalikan kartu kredit kakak. Rara tidak memerlukannya. Uang dari papa dan mama lebih dari cukup untuk jajan dan biaya keperluan belanja Rara." menatap Ryu.
"Khanza.....!" Ryu terkejut.
"Yang lebih pantas mendapatkan semua apa yang kakak punya adalah kak Anggi, istri kakak. Seharusnya kakak berikan kartu itu kepadanya, bukan pada Rara. Rara sudah mencoba menghubungi nomor kak Anggi berulangkali untuk mengembalikan kartu ini, tapi nomornya tidak aktif. Sepertinya dia sudah mengganti nomornya. Rara juga sudah mendatangi apartemen kakak tapi tidak menemukan dia di sana. Jadi Rara kembalikan langsung pada kakak." ujar Rara memotong perkataan Ryu. Lalu dia segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka.
Hati Ryu terasa sakit dan kesal. Dia hanya terdiam menatap kepergian Khanza dengan kecewa dan menahan amarah.
Susana meja makan jadi hening, sarapan pagi terhenti. Semua terdiam dengan pikirannya masing-masing. Mereka merasa tidak enak hati pada Ryu dan tidak tega melihat pria itu.
"Aku duluan Daddy. Permisi!" kata Cio dua menit kemudian.
"Cio....!" Ara menatapnya dengan sedih.
"Ante jangan khawatir, aku baik baik saja!" kata Cio mengulas senyum. Dia mengerti dengan perasaan wanita itu. Dan dia tidak ingin membuat Antenya terbebani dengan permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Khanza.
Cio mendekat dan mencium kening Ara.
"Ante cepatlah sembuh. Jaga calon adikku dengan baik." mengelus perut Ara lembut."Aku pergi dulu." katanya lagi. Lalu segera melangkah pergi.
Rafa dan Ara membuang nafas berat melihat kesedihan dan penderitaan keponakan sekaligus menantunya itu.
Ryu mengikuti motor Rangga dari jarak beberapa meter di belakang mereka. Dia menggunakan mobil lain agar tidak di ketahui Khanza dan Rangga. Ryu mendengus geram melihat kedekatan mereka. Khanza tampak memeluk erat perut Rangga, dan bersandar di di punggung pemuda.
Sementara Rara yang tahu Ryu mengikuti mereka, memang sengaja memeluk Rangga.
__ADS_1
Tidak berapa lama motor Rangga berhenti di parkiran sekolah. Keduanya segera turun. Keduanya tampak tertawa senang sedang membicarakan sesuatu. Rara meraih tangan Rangga, dan di pegang. Dia tahu Ryu masih mengikuti mereka secara sembunyi sembunyi dan melihat dari jarak jauh. Rara menarik tangan Rangga melangkah menuju ke ruang kelas.
Rangga senang dengan sikap Rara yang tampak lain tidak seperti biasanya. Rara yang tak canggung memeluk dirinya saat naik motor.
"Ra....kamu aneh deh!" kata Rangga dalam langkah mereka.
"Aneh? maksud mu?" Rara balik bertanya sembari menoleh kepadanya.
"Nggak biasanya kamu begini!" kata Rangga seraya melirik tangan mereka yang berpegangan.
"Aku suka aja......!" kata Rara sambil tersenyum.
"Kenapa? kamu gak suka? Ya udah, aku lepas." kata Rara menarik tangannya, tapi cepat di tahan Rangga.
"Tentu saja aku suka kita dekat kayak gini!" kata Rangga.
"Ya udah, biarkan seperti ini." kata Rara memegang kuat tangan Rangga. Rangga melihat itu dan tersenyum. Keduanya kembali melangkah menaiki tangga.
Sikap dan kedekatan mereka menjadi pusat perhatian para siswa yang mereka lalui. Mereka menyimpulkan kedua punya hubungan dekat. Dan hal itu langsung heboh ke seantero sekolah.
Pulang sekolah keduanya pulang bersama. Tapi Khanza belum langsung pulang. Dia mengajak Rangga ke pantai. Keduanya duduk di atas pasir sambil menikmati pemandangan alam laut lepas. Dengan mulut tak berhenti mengunyah cemilan yang di beli Rangga dalam perjalanan ke sini.
Keduanya menatap ke laut biru. Semilir angin laut mempermainkan rambut panjang Rara yang terurai. Rangga menoleh kepada Rara. Dia memperbaiki rambut Rara yang berantakan dan sebagian menutupi wajahnya. Rangga merasa keduanya sedang berkencan saat ini. Dia sangat senang.
Rara tersenyum padanya.
"Senyum mu manis Ra....kamu semakin cantik." puji Rangga terkesima dengan senyuman Rara. Menambah manis dan cantiknya wajah mungil itu.
Rara kembali tersenyum menanggapi pujian itu.
"Ra, nggak biasanya kamu begini!"
"Aku manusia biasa yang tak mungkin tidak bisa berubah kan?" Rara menatapnya."Kenapa, apa kamu gak suka dengan sikap ku seperti ini? Atau kamu khawatir akan ada yang melihat kedekatan kita? pacarmu mungkin." kata Rara.
"Pacar apa? Aku kan sudah bilang, aku tidak punya pacar. Aku hanya menyukai mu dari dulu. Dan rasa itu masih tetap ada sampai detik ini." menatap wajah Rara dari samping.
"Aku serius Ra....bukan sekedar godain kamu!" Rangga memegang wajahnya. Keduanya saling bertatapan lekat. Entah ada apa tapi yang jelas kini jantung mereka berdebar tak beraturan.
"Perasaan ku masih sama belum berubah. Aku masih menyukaimu. Apa kau mau jadi pacarku?" Rangga kembali menembaknya.
Rara termangu, tapi lima detik kemudian dia terkekeh seraya kembali melihat ke laut lepas.
"Kok tertawa? Aku benar-benar serius Ra....!" ucap Rangga lagi dengan serius. Dia kembali membawa wajah Rara melihat ke padanya.
Keduanya saling menatap dengan tubuh menyamping. Rara dapat melihat dari sorotan mata Rangga yang benar tulus padanya. Tapi kenapa hatinya tidak bisa menerima ketulusan pria ini? Sedikit saja tidak bisa membuka hatinya untuk Rangga. Cowok tampan dan keren Idola cewek cewek di sekolah ini. Hampir semua menginginkan Rangga menjadi pacar mereka.
"Baiklah, aku menerima mu, aku mau jadi pacar mu." katanya kemudian, meski ragu dan tak yakin dengan perasaannya. Sekelebat bayangan wajah Cio melintas di matanya saat mengucap kata menerima.
Dia harus bisa membuka dirinya untuk menerima pria lain, meski hatinya menolak. Dia menerima Rangga agar Cio menjauhinya. Apalagi Cio sudah mengungkapkan perasaannya. Jika dia punya kekasih, Cio tidak akan mendekatinya lagi. Dia tidak akan menjadi duri dalam pernikahan Anggi dan kakaknya itu.
Rangga terperangah mendengar jawabannya.
"Benaran Ra? kamu mau jadi pacarku?" tanyanya kembali dengan ekspresi senang
Rara mengangguk tersenyum.
"Aku gak salah dengar kan?" Rangga kembali menyakinkan jawaban Rara.
Rara menggeleng." Yang kamu dengar benar."
Rangga berteriak senang. Beberapa pengunjung melihat pada mereka dengan tatapan heran dan bingung.
Rara segera menarik tangannya untuk duduk kembali.
"Malu ah di lihat orang. Diamlah...!" katanya dengan rona wajah memerah karena malu menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Rangga segera duduk di sampingnya."Aku sangat senang Ra mengekspresikan kebahagiaan ku. Terimakasih sudah menerima aku jadi pacarmu." Rangga memeluknya.
"Iya, tapi bukan berarti aku sudah mencintai mu!" kata Rara melepas pelukan Rangga. Dia harus jujur dengan perasaannya.
"Nggak apa-apa Ra, kamu bisa belajar untuk mencintai ku. Yang penting sekarang kamu jadi pacarku dulu, aku sudah senang banget!" kata Rangga mengerti perasaan Rara yang tidak mudah untuk jatuh cinta dan di taklukkan. Karena bukan hanya dia yang menyukai Rara di sekolah ini, tapi ada beberapa siswa tampan, cerdas yang status sosialnya tinggi menaruh hati pada Rara dan ingin menjadikan dirinya pacar. Dia tahu hal itu karena dia selalu memperhatikan Rara secara diam-diam, juga cowok cowok yang menyukai gadis itu.
Rangga memegang ke dua tangan Rara, kemudian di kecup. Tak ada yang bisa menandingi kebahagiaan saat ini. Dia benar-benar sangat senang dan bahagia.
Mata Rangga tertuju pada cincin di jemari manis Rara. Setahunya Rara tidak memakai cincin atau sejenisnya sebelumnya. Rangga mengelus lembut benda itu. Rara ikut melihat ke arah cincin itu. Cincin berlian indah dengan desain yang sangat lembut. Pemberian Ryu di Paris sebelum pria itu menikah dengan Anggi. Sebagai syarat Ryu bersedia menikahi Anggi asal dia mau menerima dan memakai cincin ini. Dan sudah enam bulan benda ini melingkar indah di jari manisnya tak pernah lepas.
"Cincin kamu indah deh Ra....! Sangat indah dan lembut. Ini sangat mewah dan mahal. Kamu belinya di mana?" tanya Rangga meraba pelan cincin itu.
"Oh cincin ini....!" kata Rara menyentuh benda itu." Ini pemberian kak Ryu sewaktu di Paris dulu." katanya lagi
"Di beri kakak sepupu mu itu?"
"Iya, dia banyak memberi perhiasan kepadaku dan juga kado mewah setiap aku ulang tahun." kata Rara kembali. Dia teringat kamar rahasia yang berada di kamar pribadi Ryu di Paris. Yang berisi foto-foto dirinya dan juga berbagai macam kado mewah termasuk koleksi perhiasan mewah dan elegan.
Rangga menatap benda itu dengan perasaannya sendiri.
"Pulang yuk, bentar lagi magrib!" ajak Rara seraya bangkit berdiri. Rangga ikut bangkit dan membantu Rara membersihkan butiran butiran pasir yang melekat pada rok Rara. Mereka berjalan ke tempat motor Rangga di parkir. Tapi kendaraan roda dua itu tak ada, telah berganti dengan mobil sport mewah milik Rangga. Rangga segera membuka pintu untuknya.
"Naiklah...!" katanya tersenyum manis.
Rara terkejut dan bingung. Dia segera naik.
Rangga ikut naik, lalu segera menjalankan kenderaannya.
"Motor mu kemana?" tanya Rara dalam perjalanan.
"Sudah di bawah oleh orang kakek( Raymond Alkas). Dan aku memintanya membawa mobil ini!"
"Lho kenapa? Aku suka naik motor." kata Rara.
"Hari sudah sangat sore. Angin bertiup kencang dan terasa dingin. Aku tidak ingin kamu kedinginan naik motor!" kata Rangga melihatnya.
Rara tersenyum juga terharu. Dia melihat pada Rangga sejenak, lalu kembali melihat ke depan.
30 menit mereka sampai di rumah Rara.
"Kamu langsung pulang ya? jangan keluyuran lagi. Apalagi keluyuran gak jelas dan gak ada manfaatnya." kata Rara.
Rangga terkekeh. Rara seperti mama dan neneknya ( Dinda).
"Siap sayang!" katanya mesra.
Rara kaget dengan wajah mengernyit mendengar ucapan itu.
Rangga kembali terkekeh melihat wajahnya yang memerah terlihat menggemaskan.
"Kamu nggak ngajak aku mampir dulu?" tanyanya seraya melepas sabuk pengaman Rara.
"Kapan kapan saja. Ini sudah mau magrib. Sebaiknya kau pulang." kata Rara menghindar wajah Rangga yang bersentuhan dengan wajahnya.
"Oke deh tuan putri." kata Rangga berkelakar.
Rara hendak membuka pintu mobil, tapi lengannya di tahan Rangga. Rara menoleh kepadanya.
"Ra, makasih ya sudah mau jadi pacarku. Aku sangat senang. Aku menyayangimu....!" kata Rangga pelan sambil tersenyum. Dia memegang wajah Rara, lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Rara lembut."Juga mencintai mu." sambungnya kembali.
Rara terkejut dengan mata membulat mendengar kata cinta itu. Tapi kemudian dia segera mengulas senyum. Dia segera turun, dengan jantung berdebar. Menutup mobil lalu melambaikan tangan.
"Salam sama Om Rafa dan tante Ara!" kata Rangga sebelum pergi. Rara mengangguk.
*****
__ADS_1
Akhirnya bisa menyelesaikan episode ini, sambil manggang kue bertarung melawan panasnya oven. Alhamdulillah, dapat pesanan paket kue lebaran sekian ratus toples 😇😇😇.
Bantu dukungan ya kalau suka cerita mamake 😘 Thank you so much yang masih setia dengan karya ini 🙏