Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
31. Senyuman manis penuh kepalsuan


__ADS_3

Anggi merasa tidak tenang setelah melihat adegan antara Ryu dan Rara di atas ranjang. Benarkah kedekatan itu hanya sebatas hubungan kakak dan adik sepupu? Tapi dalam penilaiannya kedekatan seperti itu hal yang terlalu berlebihan. Berpelukan dan berciuman layaknya pasangan kekasih.


Dia dan adik kandungnya saja tidak pernah melakukan kedekatan seperti itu. Meski saling menyayangi, Ada batasan yang di jaga dan tidak wajar di lakukan di antara hubungan kakak beradik. Dan tentunya tidak lepas dari itu adalah perasaan canggung dan malu.


Tapi Ryu dan Rara tidak memiliki rasa itu. Apa yang di lakukan oleh Ryu dan Rara sudah lebih dari sekedar hubungan persaudaraan.


Tatapan Ryu yang terlihat lain memandangi Rara, dan juga ciuman yang dia lakukan. Mengartikan sesuatu yang di rasakan Ryu pada Rara. Anggi dapat melihat hal itu di mata Ryu.


Dan apa yang di rasakan Rara pada Ryu, saat berpelukan dan Ciuman? Apa hanya sebagai rasa sayang seorang adik pada kakaknya?


Karena tidak tenang di tambah sakit hati dan cemburu, Anggi berkeinginan untuk mendapatkan jawabannya. Dan hanya pada Rara dia dapat mengetahui sejauh mana hubungan keduanya. Anggi memikirkan cara untuk datang menemui Rara dan membicarakan hal itu.


Sore hari kediaman Ryu.


Bel berbunyi.


Dengan semangat Rara membuka pintu, karena dia sedang menunggu seseorang yang berjanji akan datang sore ini.


Dahinya langsung mengerut setelah melihat siapa yang datang.


"Kak Anggi?" dia mengira Rangga yang datang. Tapi ternyata kekasih kakaknya.


"Hay Ra....!" sapa Anggi tersenyum manis yang di buat.


"Sepertinya kau sedang menunggu seseorang ya? terlihat dari wajah mu yang berubah setelah melihat aku yang datang."


"Iya kak, Rara sedang menunggu seseorang sejak tadi."


"Apa temanmu?"


Rara mengangguk. Rara melihat sesuatu di tangan Anggi.


"Sewaktu kesini, jalanan macet karena ada kecelakaan dan demo mahasiswa di beberapa titik jalan. Mungkin karena itu temanmu terlambat datang." kata Anggi.


"Oh gitu ya! Pantas saja dia belum datang. Mari masuk kak....!"


"Kamu sedang apa?" tanya Anggi mengikuti langkah Rara masuk kedalam. Mereka menuju ruang keluarga. Di mana ada sebuah TV besar yang di pakai Rara untuk mengusir rasa bosannya. Dia sedang menonton film romantis.


"Rara sedang nonton! Kakak mau ketemu kak Ryu? kakak masih di kantor!"


"Aku tahu, tadi aku menghubunginya untuk mengingatkan agar tidak telat dapat ke acara pernikahan."


"Terus ada apa kakak kemari?"


"Aku mau mengambil barang ku yang tertinggal. Aku tidak sengaja menjatuhkannya tadi saat ke sini."


"Apa itu?"


"Antingku. Tadi aku menghubungi pelayan untuk mencarinya. Dan syukur lah dia menemukannya. Makanya aku kemari untuk mengambilnya. Tapi kata kepala pelayan, dia sedang keluar untuk mengambil bahan makanan." katanya berbohong. Karena semua hanya karangannya. Dia sudah bekerja sama dengan pelayan itu.


"Ohh gitu...!" mata Rara kembali melihat sebuah buku tebal di tangan Anggi.


"Apa itu yang kakak pegang?"


"Ini...buku novel. Aku membacanya untuk mengisi waktu senggang. Kamu suka novel nggak? ini bagus lho!"


"Suka, tapi dikit. Judul nya apa?"

__ADS_1


"Ini novel fiksi Karya dari Ana Yulia. Judulnya Rafa & Ara. Ceritanya bagus banget." menyerahkan buku cerita tersebut.


"Oh ya....?" tanya Rara penasaran. Dia segera menerima novel tersebut. Melihat sampulnya.


"Cerita bergenre romantis. Kisah cinta seorang kakak terhadap adik iparnya. Seru banget ceritanya. Kamu pasti suka bila membaca prolog nya." kata Anggi.


"Kakak dan adik ipar?"


"Iya....!" Anggi mengangguk.


"Hubungan terlarang gitu? Masa kakak ipar cinta sama istri dari adiknya sendiri?"


Anggi tersenyum lebar.


"Nggak begitu juga sih.....! ini seperti mencintai dalam diam. Coba deh kamu baca saja! Biar kamu tahu."


Rara kembali memperhatikan setiap lembar, hanya membaca sekilas yang penting saja.


"Sepertinya ada unsur dewasanya ya? Rara gak mau baca! Umur Rara baru 17 tahun. Papa, mama dan kak Ryu melarang Rara membaca cerita dan nonton film yang berisi adegan vulgar mengandung unsur pornografi." Rara meletakkan benda segi empat itu di atas meja.


Anggi kembali tersenyum.


"Hanya adegan ciuman kok! Ciuman di bibir doang. Lagi pula ini hanya di baca kan? bukan di lihat!"


"Tetap gak boleh. Kemarin saja kak Ryu marah marah saat Rara melihat adegan cium di film bioskop." kata Rara menatap Anggi.


Anggi melongo.


Ryu melarang Rara melihat adegan seperti itu sementara dia sendiri melakukan ciuman pada gadis ini? batinnya.


"Nggak sevulgar itu kali Ra! Aku tahu kamu tidak sepolos ini tentang ciuman! Kamu pasti pernah berciuman bukan? Entah dengan pacarmu atau.....!" Anggi mulai ke pokok inti yang ingin di ketahuinya.


Rara melihat ke TV. Pasangan kekasih sedang ciuman di pipi, hidung, dagu lalu berlanjut ke bibir. Saling kecup mengecup dan menempelkan bibir dan hidung dalam beberapa detik.


"Kamu pasti pernah ciuman seperti itu kan?" Anggi terus memancing.


"Iya," Rara mengangguk.


"Sama pacarnya? Maksud aku sama cowok kamu."


"Nggak, Rara tidak punya pacar. Dan tidak pernah melakukan ciuman dengan siapa pun."


Anggi terhenyak, wajah mengernyit.


"Belum pernah ciuman? Terus yang kau lakukan dengan Ryu di atas ranjang tadi apa?" batinnya geram.


"Aku nggak percaya deh. Kamu tuh gadis manis, cantik, pintar. Sudah pasti banyak cowok yang suka. Masa gak punya pacar?" tanyanya lagi tersenyum manis penuh kepalsuan.


"Benar kak, Rara gak punya pacar dan gak pernah pacaran."


"Masa sih? Kenapa? Banyak anak gadis seusia kamu udah pancaran."


"Papa mama melarang. Karena Rara masih sekolah. Lagi pula Rara juga nggak suka."


"Tapi tadi katanya sudah ciuman. Terus sama siapa?" terus memancing.


"Dengan papa, mama, kakak kakak Rara dan juga kak Ryu." jawab Rara polos.

__ADS_1


"Ryu...? kau dan yang Ryu ciuman seperti itu?" Anggi terkejut.


"Iya, sejak kami masih kecil sampai sekarang sering ciuman. Tapi kak, itu hanya ciuman kasih sayang antara kakak dan adik. Sebagai sayangnya kak Ryu sama Rara, Begitu juga sebaliknya! Maaf, Rara harap kak Anggi tidak berpikir buruk." kata Rara menangkap perubahan di wajah Anggi


"Hanya sekedar ciuman kasih sayang? Menyentuhkan bibir dan hidung dalam waktu lama dan sering melakukannya kau bilang hanya sebagai ciuman kasih sayang?" batin Anggi semakin geram. Dia saja tidak pernah melakukan hal itu dengan Ryu. Ryu selalu menghindar jika di ajak untuk kontak fisik meski hanya ciuman di bibir.


"Apa kakak nggak suka?" tanya Rara melihat wajah Anggi yang tampak tegang dan memerah.


Anggi segera menetralisir darahnya yang sempat panas. Dia mengulas senyum pada Ryu.


"Ah....tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja mengetahui kalau kalian sudah terbiasa berciuman seperti itu. Ya nggak apa-apa selama itu hanya sebatas ciuman kasih sayang antara kakak dan adik. Boleh aku bertanya? Aku harap kau menjawab dengan jujur!"


Rara mengangguk.


"Apa kamu tidak merasakan sesuatu saat ciuman dengan kakak mu?"


"Maksud kak Anggi?"


"Begini Rara, kalian memang kakak dan adik. Kalian juga saling menyayangi. Aku bisa melihat hal itu. Lepas dari kasih sayang di antara kalian, kalian tetap kakak dan adik sepupu. Apa kau dan juga Ryu tidak merasakan sesuatu saat berciuman?" tanya Anggi menatap mata Rara.


Wajah Rara mengernyit. Mencermati pertanyaan Anggi.


"Merasakan apa? bagi Rara itu hanya ciuman sayang sebagai adik terhadap kakaknya. Karena selama ini kak Ryu sangat baik pada Rara, menjaga Rara, melindungi Rara dari orang jahat. Rara enggak merasakan apapun. Kak Ryu juga begitu. Ciuman yang kami lakukan hanya sebatas rasa sayang terhadap adik dan kakak. Sama seperti rasa sayang Rara pada ketiga kakak Rara. Papa dan mama! Tadi pagi Rara dan kak Ryu juga ciuman seperti itu. Kenapa kak Anggi bertanya begitu?"


"Akhh...." Anggi tertawa kecil.


"Tidak ada apa-apa. Aku tidak menyangka begitu besarnya kasih sayang di antara kalian. Pantas saja Ryu terlalu memperhatikan mu, selalu ada waktu untukmu dan mulai mengabaikan ku!" katanya tersenyum sambil mengerlingkan mata.


Dia tidak menyangka gadis itu sangat polos, bicara Jujur apa adanya tak menyembunyikan apapun. Karena dia juga melihat adegan ciuman di atas ranjang itu dari balik pintu. Tapi yang membuatnya geram kenapa Rara tidak menyadari akibat dari ciuman yang mereka lakukan ada hati seorang wanita terluka? yaitu dirinya sebagai kekasih Ryu. Mereka tidak berpikir bagaimana perasaannya?


Rara tertawa kecil.


"Maaf kak, bila keberadaan Rara membuat kalian jarang bertemu dan bersama. Tapi kakak jangan khawatir, itu tidak akan terjadi lagi. Karena masa liburan Rara tidak lama lagi akan berkahir. Dan Rara akan balik ke tanah air."


"Oh jadi kau akan balik ke tanah air? Maaf, Aku harap kau tidak tersinggung dengan pertanyaan ku tadi. Seharusnya aku tidak bertanya seperti dan membicarakannya." Anggi kembali tersenyum pura pura. Tapi hatinya senang mendengar gadis ini akan kembali. Artinya perhatian Ryu akan kembali padanya.


"Tidak apa-apa! Rara ngerti kok."


"Boleh aku bertanya lagi?"


"Boleh....!"


"Rara, aku rasa kamu tidak terlalu polos soal ciuman. Kamu sudah besar dan pasti tahu arti ciuman." kata Anggi menatap kembali matanya. "Menurutmu, Selain sebagai rasa sayang terhadap seseorang, apa alasan pria melakukan ciuman pada wanita?"


Wajah Rara mengernyit tampak sedang berpikir. Dia juga sedang mengingat sesuatu.


"Untuk menunjukan rasa cintanya." katanya kemudian.


"Menunjukkan rasa cinta? Kau tahu dari mana?"


tanyanya lagi. Dia ingin tahu apa Rara mengetahui hal itu dari ciuman yang lakukan Ryu?


"Papa dan mama! Rara sering melihat papa kissing dengan mama untuk membuktikan cintanya pada mama. Mama pun demikian." jawab Rara apa adanya. Karena dia sering melihat hal itu pada orang tuanya. Juga kata kata cinta yang di ucapkan mereka saat berciuman.


Anggi tersenyum.


"Kau benar sekali. Untuk menunjukan rasa cinta kepada pasangan yang dia sukai." kata Anggi.

__ADS_1


"Rara.... mungkin kau tidak merasa. Tapi aku yakin Ryu melakukan ciuman kepadamu bukan hanya karena sayangnya kepada dirimu, tapi juga karena cinta. Rasa Cintanya kepada mu! Aku bisa merasakan dan melihat itu dari tatapan matanya saat melihat mu!" batinnya melihat Rara dengan tatapan sinis.


*****


__ADS_2