
Dua piring nasi goreng selesai di buat Ryu.
Selama dia memasak Rara hanya menyaksikan dengan duduk di atas kitchen set tanpa melakukan apapun karena Ryu melarangnya. Dalam tangkapan mata Rara, Ryu sangat lihai dan telaten membuat makanan sederhana itu. Dan Aromanya, sangat wangi tercium oleh hidung Rara. Ryu segera mengatur makanan itu ke meja makan, juga menyiapkan susu dan makanan pencuci mulut.
Terakhir Ryu mengangkat tubuh Rara. Lagi lagi Rara di buat kaget dengan apa yang dia lakukan.
"Tuan, Rara bisa jalan. Turunkan Rara!"
"Sudah diam."
"Hanya tangan Rara yang sakit, bukan kaki!" kata Rara kembali.
Ryu hanya melihat sekilas kepadanya dan terus berjalan. Lalu mendudukkannya.
"Makanlah. Tapi sebelumnya baca doa dulu." ucap Ryu seraya meletakkan sendok dan garpu pada piring makan Rara. Juga serbet ke pangkuan Rara. Dia mengusap puncak kepala Rara pelan.
Lalu segera duduk di depan Rara dan mulai menyantap nasi gorengnya pelan pelan setelah berdoa terlebih dahulu.
Rara tak langsung makan, tapi malah menatapnya. Perlakukan ini sama seperti yang di lakukan Cio padanya sewaktu kecil. Dia ingat betul. Cio selalu mengangkatnya ke meja makan, meletakkan serbet makan di pangkuannya, mengajaknya berdoa sebelum makan. Mengusap kepalanya lembut.
"Hey tetanggaku yang manis, ayo makan. Jangan hanya menatapku begitu!" kata Ryu melihat Rara hanya melihat padanya.
Rara mengulum bibirnya, lalu menelan ludah.
Dia mengaduk makanan.
"Aku sudah makan tadi. Perutku masih kenyang!" kata Rara pelan.
"Aku sudah masak lebih. Sengaja aku lebih kan untukmu. Makanlah sedikit. Kasihan kan nanti mubasir. Ini Rasanya enak lho. Ayo coba dulu. Aku yakin kau pasti suka!" kata Ryu kembali sambil mengunyah.
Rara kembali menelan ludah. Lalu menunduk melihat ke makannya. Perlahan memasukkan sendok berisi sedikit nasi goreng pada mulutnya. Rasanya enak, sama seperti nasi goreng yang di makan tadi.
"Kok bisa ya rasanya sama? enak banget!" gumamnya dalam hati.
Rara kembali mengarahkan tatapannya pada Ryu yang sedang asik menikmati makanannya.
"Apa dia yang membuat nasi goreng untukku tadi? Tapi gak mungkin, dia kan tamu di sini. Orangnya juga bukan orang sembarangan. Gak mungkin dia yang memasaknya. Kata Manager yang membuatnya koki perempuan. Gak mungkin dia. Tapi kenapa rasanya bisa sama seperti ini?" gumam Rara kembali, tak berkedip menatap Ryu.
Ryu mengarahkan pandangannya pada Rara karena merasa di lihat oleh gadis itu.
"Kenapa terus menatap ku begitu? Apa aku sangat tampan?" katanya tersenyum menggoda.
Rara memalingkan wajahnya ke sebelah. Tak ada ekspresi apapun pada wajahnya dengan godaan itu, kecuali hanya kesedihan. Memang di akui tetangganya ini memiliki wajah tampan maskulin di atas rata-rata, kulitnya yang putih, juga bentuk tubuh yang proporsional. Tapi wajah tampan ini tidak begitu mempengaruhi hati Rara, hanya mata Ryu yang menarik hatinya. Mata yang mengingatkan dirinya pada Cio. Semakin di lihat begitu dekat dan di tatap lama, mata elang ini seperti punya Cio, kakaknya. Tapi bisa saja banyak yang memiliki mata seperti Ryu. Sama seperti namanya, Khanza, yang juga di pakai oleh banyak orang.
"Ada apa?" tanya Ryu kembali.
Rara menggeleng pelan. Kembali mengulum bibirnya dan menelan ludah. Sesak terasa menghimpit jiwanya. Dia mengeluh sedih.
"Rara ku yang manis, katakan ada apa? Wajahmu tak ada semangatnya gitu. Dari tadi mendung terus." kata Ryu. Dia menjulurkan tangannya ke depan, kearah wajah Rara. Memungut sebutir nasi yang melekat pada bibir atas Rara.
__ADS_1
Rara kaget seraya menyentuh bibirnya.
"Ada nasi nakal yang menempel di bibir mu!" kata Ryu tersenyum.
"Nih...!" Ryu memperlihatkan benda lembek itu pada Rara. Setelah Rara melihatnya, dia memasukkan nasi tersebut kedalam mulutnya.
Rara melongo dengan apa yang di lakukan.
Dadanya bergemuruh kuat. Kesedihan kembali menyeruak di hatinya.
"Nanti mubasir lho dek!" kata kata Cio terngiang kembali di benaknya. Cio akan mengambil makanan yang belepotan di sekitar mulutnya karena belum lancarnya dia makan sendiri. Dan Cio akan memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.
Isakan kecil keluar dari mulut Rara. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Nggak mungkin, nggak mungkin dia. Ini Hanya kebetulan saja sama. Ya tuhan, Kenapa Rara harus merasakan sakit dan sesedih ini karena dia? Rara membencinya, Rara membencinya!" ucap Rara sedih. Dia langsung bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan makanannya dan juga Cio.
"Rara, Rara....kau mau kemana. Habiskan dulu makanan mu." panggil Cio.
"Hey tetangga....!"
Rara terus melangkah tak menggubris panggilannya.
"Bukan kebetulan dek, ini memang kakak." ucap Cio sendu tahu apa yang di pikirkan dan di rasakan Rara. Diaenatap Rara yang sudah hilang di balik pintu.
"Sampai kapan kau akan membenci kakak?" gumamnya. Tadi mendengar ucapan Rara yang mengatakan membencinya. Hati Cio kembali sedih dan sakit. Cio sengaja melakukan apa yang sering mereka lakukan saat kecil dulu untuk melihat reaksi hati Rara. Tapi yang di dapatkan malah kesedihan dan kebencian gadis itu.
Ryu segera bangkit dari duduknya, menyusul Rara yang kembali ke kamarnya. Dengan sedikit berlari menuju kamar Rara sebelum gadis itu mengunci huniannya. Terlambat sedetik saja, pintu hendak di tutup. Ryu mendorong sedikit kuat sebelum tertutup.
"Ada apa? Kau kenapa?" Ryu menangkap tangannya.
"Lepas, Jangan pegang pegang." Rara menarik tangannya, tapi Ryu memegang kuat.
"Katakan dulu Rara kenapa? kenapa Rara menangis? Apa ada kata kata dan perlakuan ku yang menyakiti Rara?"
"Nggak ada....! Rara hanya gak suka anda dekat dengan Rara dan menganggap Rara adik!" teriak Rara.
"Kenapa?" Ryu memegang kuat tangan Rara.
Rara semakin menangis.
"Rara membencimu tuan.... Rara juga membencinya, Rara benci dia. Dia jahat, dia jahat....!" Rara berusaha menarik tangannya untuk lepas dari pegangan Ryu.
"Perlakuan kalian sama. Rara benci kalian!" teriak Rara di sela tangisnya.
Ryu terhenyak.
"Dia siapa Rara? Siapa yang kau maksud?" tanya Ryu meski sudah tahu siapa yang di maksud Rara.
"Bukan urusan anda, pergi dari sini! Jangan pernah ke sini lagi dan menemui Rara!" sentak Rara seraya menyapu air matanya.
__ADS_1
Bersama dengan Ryu hanya akan membuat dirinya teringat terus pada Cio. Dan itu akan membuatnya semakin sakit dan sedih.
"Rara, Kita tetangga kan? Aku juga sudah menganggap mu seperti adik sendiri! Bagilah padaku masalahmu, beban kesedihanmu. Aku bersumpah atas nama Allah, aku orang baik. Kau bisa mempercayai ku. Katakan ada apa dengan mu?" Ryu Memegang wajahnya yang basah air mata.
Rara terus menangis, Ryu melap air matanya.
"Jangan dekat dekat. Jangan menganggap Rara adik. Nanti anda akan melupakan adikmu sendiri. Sama seperti dia yang melupakan Rara karena telah mendapatkan adik yang lain! Rara membencinya, dia jahat, dia ingkar janji! Rara tidak mau melihatnya lagi! Rara tidak akan mengingatnya lagi. Rara akan melupakannya selamanya. Rara benci dia, Rara benci....!" ucapan dari mulut Rara di sela isak tangisnya.
Ryu terperangah mendengar ucapannya. Dadanya terasa sesak, sakit, juga sedih. Kedua matanya basah.
"Tidak dek, kakak tidak pernah lupa dengan janji kakak kepadamu!" batin Ryu sendu. Sungguh sakit hatinya melihat Rara menangis seperti ini. Lebih sakit lagi saat Rara tidak mau melihatnya serta akan melupakannya.
Ryu segera memeluknya, menenangkan dirinya.
Rara menangis terisak dalam pelukannya.
Beberapa menit berlalu, Ryu merasakan tubuh Rara terkulai lemah, lunglai.
"Rara..... Rara.... Rara....!" Ryu memegang wajah Rara yang menempel lemah pada dadanya.
Kedua mata Rara tertutup.
"Apa Rara pingsan?" Ryu panik dan cemas. Dia memeriksa pernapasan Rara dengan mengecek denyut nadi dan melihat pergerakan dada serta perut Rara. Ryu lega merasakan Rara masih bernafas. Ryu segera mengangkat tubuh Rara dan membawanya ke atas ranjang. Dibaringkan tanpa menggunakan bantal kepala. Tangannya bergerak cepat menghubungi dokter. Dia melakukan beberapa cara sebagai langkah awal pertolongan menangani Rara sementara menunggu dokter datang.
.
.
Empat jam berlalu.
Waktu menunjukkan pukul Empat subuh. Rara bergerak menggeliat di tempat tidur. Rara kaget melihat Ryu tertidur di sampingnya. Satu tangannya berada dalam genggaman Ryu. Pria itu tidur di sofa bed tempat tidur yang di dekatkan dengan ranjangnya, dan tingginya juga sama dengan ranjangnya. Ada jarak sejengkal yang kosong untuk membatasi tempat tidur mereka. Posisinya tubuhnya setengah duduk, setengah berbaring.
Rara mengingat kejadian semalam. Terlalu banyak menangis di tambah tekanan beban yang di rasakan membuat tubuhnya lemah dan gemetaran. Mungkin karena itu dirinya pingsan.
"Apa dia berada di sini semalaman dan menjaga Rara?" ucapnya. Menatap wajah tenang Ryu yang tertidur.
Rara membuang nafas panjang. Dia menghadap miring ke samping, mendekat ke bibir ranjang, lebih tepatnya mendekati Ryu.
Pria ini masih tertidur. Rara mendekatkan wajahnya dan berhenti pada jarak sejengkal dari wajah Ryu. Rara menatap wajah tampan Ryu dengan cermat. Di amatinya setiap bagian dari wajah tampan ini seperti mencari sesuatu.
"Kenapa Rara tak menemukan kesamaan sedikit pun?" Gumamnya. Tak ada kesamaan wajah Ryu dan Cio. Sementara perlakuan Ryu sama dengan yang Cio lakukan kepadanya saat kecil dulu. Rara tiba tiba teringat sesuatu. Jari telunjuknya bergerak ke dada kanan Ryu. Dia menyibak sedikit kimono tidur pria ini. Dilakukannya dengan pelan agar tidak membangunkan Ryu. Rara ingat, tepatnya pada tulang selangka kanan Cio ada dua tahi lalat kecil berdekatan. Untung saja pria ini tidak memakai kaus dalaman sehingga mudah untuk Rara melihatnya. Rara mengamati tulang selangka Ryu, tapi yang di cari tak ada. Dia tidak menemukan tahi lalat itu. Dia mulai ragu dengan ingatannya. Mungkin saja dia salah tempat?
"Kanan atau kiri?" gumam Rara mengingat kembali tanda itu. Dahinya mengerut. Kembali penasaran dan ingin tahu, dia menyibak kimono tidur bagian kiri Ryu. Mungkin saja di bagian kiri, pikirnya. Di carinya ke dua tanda itu. Tak ada di temukan. Dia menggeledah bagian leher, tulang selangka hingga ke dada Ryu untuk menemukan tanda hitam itu. Pikirnya mungkin ke dua tanda itu sudah bergeser tempat seiring bertambah besarnya tubuh Cio.
"Apa ini?" Melihat sesuatu yang tertutupi oleh kimono tidur Ryu.
*****
Maaf, baru Up lagi diriku..
__ADS_1
Moga aja masih ada yang merindukan cerita Rara dan Ryu ☺️😁