Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
58. Keinginan Rara


__ADS_3

Dua jam berlalu.


Rara tertidur di samping Ryu dengan posisi berbantal di lengan Ryu dan masih memeluk kakaknya itu. Kecapean dan mengantuk saat menunggui Ryu yang tertidur setelah operasi tadi.


Ryu terus menatap wajah manisnya seraya membelai lembut pipi adiknya itu. Berulangkali dia mengecup kening Khanza. Ryu bahagia merasakan kedekatan seperti ini lagi. Meski merasakan sakit dan keram pada tubuhnya, Ryu berusaha menahannya.


Tiba tiba Ryu teringat pada ponsel Khanza yang berada di bawah pinggangnya.


"Telepon penting dari siapa sehingga aku tidak boleh mengetahuinya?" gumamnya. Dia meraih benda pipih itu lalu menyalakan. Dia tersenyum melihat foto dirinya dan Khanza saat kecil. Ryu mengecek panggilan masuk. Dan menyebut satu persatu nomor itu. Nomor tanpa nama.


"Katanya teman, tapi kenapa tidak di beri nama?" Ryu melihat sejenak wajah Khanza yang tertidur pulas. Karena penasaran dia menekan nomor itu, untuk memanggil. Tapi "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


Ryu mengembalikan ke layar semula. Di geser ke kiri. Dia melihat ada 2 pesan masuk pada aplikasi WhatsApp. Dua hati Ryu ingin melihat pesan dari siapa. Karena rasa penasaran dia segera membuka aplikasi itu. Tapi terkunci dan harus memasukkan password. Wajahnya mengernyit. Apa yang di sembunyikan gadis ini sampe dikunci segala. Sebelumnya tidak seperti ini. Karena rasa ingin tahunya yang besar, Ryu mencoba membuka dengan memasukkan tanggal lahir Khanza. Tapi tidak terbuka. Ryu teringat ponselnya yang di kunci menggunakan tanggal lahir Khanza. Mungkin saja Khanza memakai tanggal lahir dirinya. Ryu segera memasukkan tanggal lahirnya, terbuka. Dia tersenyum. Melihat sejenak pada Khanza dan mengecup keningnya. Lalu kembali ke chat WA. Urutan pertama pesan masuk dari nomor yang tak bernama tadi. Pesan kedua dari Rangga, ketiga pesan group sekolah.


Pertama dia membuka pesan dari Rangga. "Halo nona manis, aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu?" Ryu mendengus pelan membaca pesan itu.


Pesan group sekolah berisi pemberitahuan masa liburan akan berkahir.


Untuk pesan berikutnya dari ketiga kakaknya, terus dari Rafa, Ara. Teman karibnya di sekolah, Riri dan Fitri. Pesan yang masuk beberapa hari lalu dan sudah terbaca.


Ryu kembali pada nomor tanpa nama. Siapa ini? batinnya merasa aneh dengan nomor itu.


Segera dia membuka, wajahnya berubah melihat pesan yang masuk. Ryu terus men scroll ke bawah membaca setiap chat yang masuk dari nomor itu. Dia terkejut, dahinya mengerut, mata melotot, wajah langsung memerah menahan amarah.


Ryu memegang kuat benda pipih itu dengan geram. Meski tanpa nama dia tahu siapa pengirim pesan pesan itu. Jadi karena pesan dan telepon dari si pemilik nomor itu yang membuat sikap Khanza berubah kepadanya. Dan dia tidak berpikir sampai ke situ.


"Beraninya kau melakukan itu pada adikku. Beraninya kau menghina dan merendahkan Khanza!" katanya geram.


Ryu segera menekan sesuatu dengan emosi meluap luap. Pintu di ketuk. Masuklah Simon.


"Ada apa tuan?" Simon kaget melihat wajah tuannya yang merah padam.


"Sadap semua panggilan dan pesan yang masuk ke dalam ponsel Khanza! Cepat lakukan sebelum Khanza bangun." katanya seraya menyerahkan ponsel Khanza. Simon segera menerimanya.


"Save nomor tanpa itu ke ponselku!" kata Ryu lagi. Simon melihat nomor itu dan membaca pesan. Dahinya mengerut membaca pesan chat itu.


"Kau sudah mendapatkan bukti kejadian itu?"


Ryu menatapnya.


"Saya sedang berusaha tuan. Saya pastikan akan cepat menemukannya."


"Hanya kau dan bu Ratih tahu perasaan ku pada Khanza selama ini. Bergeraklah dengan cepat. Aku tidak tahan lagi untuk segera mengakhiri semuanya." katanya gusar.


"Maaf kan saya tuan. Lambat menyelidiki kasus itu." Simon segera pamit untuk melaksanakan perintah tuannya.


Ryu kembali menatapi wajah Khanza yang tampak tenang dan nyenyak dalam tidurnya. Wajah polos tanpa dosa. Ryu tidak menyangka ternyata selama ini Khanza depresi. Menahan, memendam kesedihan, rasa bersalah, tekanan dan juga ancaman dari tuduhan buruk yang di berikan padanya. Pantas saja sikap adiknya ini berubah drastis. Menjaga jarak dan menghindarinya.


Pagi menyapa alam semesta, termasuk penghuni rumah sakit besar itu. Rara menggeliat di tempat tidur. Dia menguap berulang kali sambil merenggangkan otot tubuhnya yang kaku. Dia kaget saat tangan kirinya menyentuh sesuatu di sampingnya. Dia yang belum sadar tertidur di bed Ryu.


Hah? kaget setelah melihat Ryu di sampingnya. Kakaknya itu sedang tertidur di lihat dari matanya yang tertutup.


"Rara tertidur di sini? ya ampun. Rara kecapean dan ngantuk banget hingga tak menyadari hal itu." gumamnya. Dia segera mengangkat kepalanya di lengan Ryu.


"Kasihan, tubuh kakak pasti keram di tempa Rara! Kenapa juga kakak nggak bangunin Rara?" katanya kembali melihat pada Ryu. Perlahan dia bangun setengah badan agar tidak membangunkan Ryu. Dia miring menghadap pada Ryu untuk melihat keadaan kakaknya apa sudah semakin membaik atau masih sama seperti semalam. Dia tersenyum lega melihat tidur Ryu yang nyenyak dengan wajah tenang tak pucat lagi


"Cepatlah sembuh. Rara ingin kakak cepat pulih dan sehat kembali. Rara gak mau kakak sakit. Karena Rara takut dan sedih jika kakak kenapa napa." ucapnya pelan. Dia mendekati Ryu dan mengecup kening pria dewasa itu pelan.


"Rara menyayangi kakak! Maaf atas sikap Rara yang membuat kakak sedih, bingung dan kecewa." ucapnya lagi. Dia memperhatikan dada bidang, kekar Ryu. Ada beberapa luka di sana. Matanya turun ke bawah. Keperut Ryu yang kotak kotak seperti roti sobek dan batangan coklat. Ada beberapa goresan luka juga di bagian itu.


"Pasti sakit." ucapnya menyentuh luka luka itu dengan lembut. Sentuhannya berhenti pada tato Ryu."Seharusnya nama kak Anggi yang ada di sini. Bukan nama Khanza." gumamnya lagi.


Rara melihat wajah tampan Ryu yang masih terlelap. Rara tersenyum. Lalu membuka selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Kemudian bergerak pelan pelan turun dari tempat tidur. Dia menyelimuti tubuh Ryu kembali. Rara teringat pada ponselnya. Dia segera berjalan ke sebelah. Melihat dan meraba pelan mencari benda pipih itu di bawah pinggang Ryu. Rara tersenyum senang menemukan benda itu. Segera dia meriksa pesan dan panggilan yang masuk. Dia lega tak ada pesan dan panggilan masuk dari nomor tak bernama itu.

__ADS_1


Rara segera berjalan ke toilet dengan sedikit berlari karena kebelet pipis.


Ryu membuka mata perlahan. Dia melihat pada Khanza yang tampak buru buru masuk kamar mandi. Ryu tersenyum seraya menyentuh dadanya.


Saat sarapan pagi.


Rara menyuapi Ryu pelan pelan. Lalu Ryu balik menyuapinya.


"Rara bisa makan sendiri nanti. Kakak makanlah dulu." kata Rara karena terus di suapi Ryu.


"Kita makan sama sama!" kata Ryu.


"Gimana kakak akan kenyang kalau hanya terus menerus nyuapin Khanza? Rara enggak sakit. Gak usah di suapi. Rara bisa sendiri kok. Kakak kan lagi sakit, kakak saja yang makan."


"Meski gak makan, kakak akan merasa kenyang jika melihat Khanza makan. Udah, buka mulutnya....Aaaaaaa...." kata Ryu ikut membuka mulut sendiri.


Mau tidak mau Rara membuka mulutnya dan menerima suapan itu, lalu mengunyahnya.


"Pintar." kata Ryu tersenyum senang. Dia mengusap rambut Khanza pelan. Giliran Rara lagi yang menyuap Ryu. Kalau tidak di suapi kakaknya itu pasti tidak akan makan. Beberapa menit kemudian sarapan pagi selesai. Rara segera meminumkan obat Ryu. Ryu dengan semangat meminumnya.


Ratih tersenyum senang melihat kebersamaan ini lagi.


"Kak...!" panggil Rara pada Ryu yang tampak menulis sesuatu pada ponselnya.


Hmmm....


"Kakak kan lagi sakit. Apa kak Anggi tahu kakak di sini? Kak Anggi kan kekasih kakak. Dia udah di beri tahu belum?"


Ryu tak menjawab, meski dia tidak tenang dengan pertanyaan itu. Khawatir Khanza akan memaksanya untuk memberitahu Anggi tentang keadaannya, terus meminta wanita itu datang kesini.


"Kok nggak di jawab? Kakak dengar nggak Rara ngomong?" tanya Rara lagi melihat Ryu hanya diam.


"Udah berhari hari kakak di rumah sakit tapi gak ngabarin kak Anggi. Dia pasti khawatir sama kakak! Dia pasti kebingungan nyari kakak."


Ryu melirik sekilas pada Ratih.


"Tapi waktu Rara mau menghubunginya semalam, ibu dan asisten Simon melarang."


"Iya, karena semalam nona Anggi sedang sibuk saat saya hubungi memberi tahu keadaan tuan Ryu. Nomornya gak aktif. Biasanya dia sibuk dan tidak mau di ganggu kalau tidak aktif begitu. Tapi tadi saya sudah menghubunginya kembali. Dan katanya akan berusaha untuk kemari setelah urusannya selesai." kata Ratih mengarang cerita." Maafkan saya nona karena membohongi anda!" batinnya merasa berdosa.


"Ohh,,gitu." kata Rara akhirnya.


"Sudah ada Khanza di sini yang temani kakak. Itu udah lebih dari cukup." kata Ryu.


"Tapi ada kak Anggi kan lebih bagus. Kakak juga pasti senang kan jika dia ada di sini? Dan kakak akan semakin pulih jika di temani dia." kata Rara Tersenyum.


Ryu membuang nafas panjang.


Rara memegang wajah Ryu.


Kak, Rara suka sama kak Anggi. Dia baik dan cantik. Dan lebih penting lagi dia mencintai kakak dengan tulus. Kakak tepat banget milih kak Anggi sebagai kekasih kakak." kata Rara tersenyum.


"Terimakasih Rara." seru Anggi yang baru saja masuk. Dia masuk pelan pelan tanpa mengetuk. Saat membuka pintu, dia mendengar kata kata Rara. Sementara Ryu dan Ratih kaget melihat keberadaannya. Rara juga kaget tapi senang dengan kedatangannya.


Anggi melenggang mendekati keduanya.


"Aku juga suka sama kamu. Kamu gadis baik, cantik dan mengerti aku." kata Anggi menyentuh ujung hidung Rara begitu tiba di depan mereka. Lalu memajukan wajahnya pada Ryu yang tampak dingin menatapnya. Tak suka dengan keberadaannya. Ryu bahkan jijik dan muak melihat wanita ini.


"Maaf sayang, aku baru bisa datang sekarang. Aku sibuk sekali kemarin dan semalam. Pekerjaan gak ada habisnya!" cipika cipiki pada Ryu yang berbaring. Ryu hanya diam tanpa ekspresi dan kata kata. Entah kenapa wanita ini bisa tahu keberadaan dirinya di sini? Apa dari Rara? karena gak mungkin Simon dan Ratih yang memberi tahu. Ryu menatap sinis padanya. Seandainya kalau gak ada Rara, dia pasti sudah mengusir dan menyeret paksa perempuan munafik bermuka dua ini.


"Syukurlah kau sudah membaik. Aku sangat Khawatir sama kamu." kata Anggi memasang wajah sedih dan simpatik. Dia memeriksa tubuh Ryu dari atas hingga kaki.


Rara bangkit berdiri memberi ruang pada Anggi untuk dekat dengan Ryu. Anggi segera duduk.

__ADS_1


"Terimakasih ya Ra, sudah menghubungi ku."


"Sama sama kak Anggi! Kakak senang kan ada kak Anggi di sini? Lihat tuh kak Anggi sudah ada di sini. Cepatlah sembuh." kata Rara tersenyum melihat pada Ryu yang tampak kesal.


"Aku yakin dengan keberadaan kak Anggi akan membuat kakak cepat pulih. Kakak juga harus berjuang untuk sembuh. Kak Anggi tuh udah bela belain datang ke sini ningalin pekerjaannya demi kakak. Hargai pengorbanannya. Udah Rara bilang kan tadi, kak Anggi memang wanita baik dan sangat pas untuk kakak. Dia sangat cinta sama kakak." katanya melihat Ryu dan Anggi bergantian. Wajah Ryu semakin merah padam menahan kekesalan mendengar. Sedangkan Anggi senyum senyum senang mendapat pujian itu.


"Kak...boleh gak Rara minta sesuatu?" kata Rara menyentuh tangan Ryu.


Ryu menatap wajahnya. Pertama kalinya gadis ini meminta sesuatu darinya. Dia bekerja keras selama ini hanya untuk Khanza. Apa pun yang di minta olehnya tentu akan di beri. Tak perlu di minta pun semua harta kekayaannya, hasil kerja kerasnya selama ini atas nama Khanza. Semuanya telah di berikan pada adiknya ini.


"Rara akan senang dan bahagia sekali jika kakak memenuhi keinginan Rara. Boleh nggak? Kakak mau kan?" pinta Rara kembali.


"Kamu tuh adik kesayangan Ryu Ra.... Apa pun keinginan mu pasti di penuhi. Kamu tenang aja. Apa sih yang nggak buat adik berharganya Ryu Deva Mayandra? Benar kan sayang?" kata Anggi tersenyum melihat pada Ryu yang tampak bingung dengan permintaan Khanza.


"Nggak mewah dan mahal kok yang Rara minta." kata Rara tersenyum menatap Ryu.


"Ini permintaan Rara yang pertama dan terakhir sebelum pulang ke tanah air. Untuk selanjutnya Rara gak akan minta apa lagi sama kakak!" kata Rara kembali.


"Oh jadi kau akan kembali ke tanah air?" Anggi pura pura kaget.


"Iya kak, masa liburan akan segera berakhir. Setelah kakak keluar dari rumah sakit, Rara akan kembali ke tanah air."


"Ohh gitu. Ya udah yang.... Rara akan pulang. Penuhi apa pun keinginannya. Jangankan satu, banyak pun gak apa-apa. Yang mahal dan mewah juga gak apa-apa. Kau harus turutin keinginannya!" kata Anggi memaksa Ryu untuk memenuhi keinginan Rara.


Ryu menatap Khanza. Sedih sangat di rasakan mendengar gadis ini akan pulang.


"Khanza ingin minta apa?" tanyanya pelan.


Rara manarik nafas. Dia tersenyum menatap Ryu.


"Kakak janji akan penuhi keinginan Rara? Janji dulu!" katanya memberi jari kelingking kanan pada Ryu.


Ryu tampak aneh dengan sikapnya ini. Keinginan apa yang di inginkan gadis ini?


"Ayo, janji dulu baru Rara katakan." kata Rara melihat Ryu yang hanya diam.


Ryu tetap diam. Semakin bingung.


"Katanya sayang sama Rara. Apa yang Rara mau akan di penuhi. Tapi Rara minta satu keinginan saja gak di penuhi. Artinya kakak nggak tulus, nggak benar dan bohong sayang sama Rara." kata Rara cemberut dan sedih.


Ryu membuang nafas panjang melihat wajah sedih itu. Dia segera meraih tangan Khanza dan genggam.


"Tentu saja kakak sayang kamu dek. Sangat menyayangi mu melebihi apapun di dunia ini. Kakak hanya bingung dengan keinginan mu entah apa. Kakak merasa aneh saja. Perasaan kakak jadi gak enak." kata Ryu lembut juga dengan tatapan lembut. Cukup membuat hati Anggi dongkol. Drama kemesraan yang menjijikkan baginya.


"Bukan yang aneh aneh kok. Kan udah Rara bilang keinginan Rara ini hal yang baik. Bikin Rara senang dan bahagia." kata Rara semakin cemberut.


"Oke baik. Kakak akan penuhi apa pun demi kesenangan dan kebahagiaan Khanza. Udah jangan sedih dan cemberut gitu." kata Ryu segera. Dia mengelus pipi Khanza dengan satu tangannya. Lalu menautkan jari kelingking mereka.


"Kakak janji." katanya lagi.


Rara langsung tersenyum senang. Anggi juga ikutan senyum senyum senang.


"Sekarang katakan apa keinginan Khanza?" tanya Ryu. Dia senang melihat wajah Khanza yang ceria lagi.


"Rara ingin kakak secepatnya menikah dengan kak Anggi. Kalian juga sudah berencana menikah kan? jadi segera menikah segera. Itu keinginan Rara!" kata Rara antusias.


Ryu terperangah mendengarnya. Begtu juga dengan Simon dan Ratih.


Sementara Anggi pura pura kaget dan senyum malu-malu.


"Rara, kamu kok mintanya itu? aku pikir kamu mau minta mobil mewah atau semacamnya...!" katanya masih dengan berpura-pura panik dan salah tingkah, karena merasa malu dengan keinginan itu


"Rara gak butuh itu. Rara hanya ingin melihat kak Ryu menikah dengan wanita yang dia cintai dan membuatnya bahagia, yaitu kak Anggi.

__ADS_1


Rara udah gak sabar melihat kakak berdua menikah." kata Rara antusias dengan binar bahagia.


*****


__ADS_2