Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
51. Aku lemah tanpamu


__ADS_3

Berpelukan sedikit lama untuk mendapatkan ketenangan membuat suasana hati Rara mulai tenang. Dia menarik wajahnya dari dada Rangga.


"Udah selesai nangisnya?" tanya Rangga melihat wajahnya."Ayo nangis lagi bila kamu masih sedih!" katanya lagi seraya menghapus air mata Rara.


"Aku malu suaraku sangat jelek." kata Rara dengan suara serak.


Rangga tertawa.


"Baru sadar kamu?"


Rara ikut tertawa kecil. Rangga kembali memeluknya, lalu melepasnya setelah beberapa saat. Dia memperbaiki rambut Rara yang berantakan. Sungguh dia sangat menyayangi gadis ini.


"Hey, itu bukannya Rara?" seru Anggi yang sudah berada di dekat Ryu. Dia geram karena Ryu meninggalkannya dengan sengaja. Dia kebingungan mencari Ryu kesana kemari. Setelah di dapat ternyata Ryu malah sedang memperhatikan Rara dan Rangga yang sedang berpelukan. Dia melihat Ryu tanpa emosi menahan kemarahan melihat pada mereka dengan tatapan dingin. Timbul ide buruk di kepalanya untuk membuat darah pria ini semakin panas mendidih.


"Ayo sayang, kita dekati mereka!" katanya seraya menarik lengan kekar Ryu sedikit kuat.


"Halo Rara, Rangga!" panggilnya keras.


Suaranya yang cukup keras mengundang perhatian Rangga dan Ryu. Keduanya segera menoleh ke samping. Melihat Anggi dan Ryu berjalan mendekat.


"Ternyata kalian di sini juga? Nggak nyangka ya kita ketemu di sini!" kata Anggi basa basi.


Rara dan Rangga tersenyum mendengar ucapannya. Ryu hanya diam sambil melihat kepada Rara dengan tatapan dingin. Sedangkan Rara tak berani melihat wajahnya.


"Kalian kok ada di sini? bukannya mau melihat tempat favorit kakak?" tanya Rara pada Anggi.


"Sudah, kami baru dari sana. Setelah dari sana masih terus ke sini untuk melihat pertunjukan kabaret. Ternyata malah ketemu kalian di sini!"


kata Anggi.


"Sudah lama kakak berdua di sini?" giliran Rangga bertanya.


"Lumayan. Kami masih sempat melihat kalian berpelukan mesra layaknya pasangan kekasih. Kalian sangat romantis. Kita berdua jadi cemburu melihatnya. Ya kan Ryu?" kata Anggi tersenyum seraya melihat wajah Ryu. Dia sengaja memancing emosi Ryu.


Ryu hanya berpaling ke sebelah tak menjawab.


"Melihat dari sikap kalian, sepertinya kalian sudah pacaran ya? Cieee......apa kalian udah jadian?" celetuk Anggi dengan sengaja untuk melihat reaksi Ryu dan Rara.


Rara dan Rangga, tersenyum dan malu.


"Kak Anggi ngomong apa sih." kata Rara salah tingkah.


Rangga tiba-tiba mendekati mereka dan mendekatkan wajahnya di depan Anggi dan Ryu.


"Doain ya kak? Moga kami akan segera jadian. Aku mau menembak Rara malam ini. Semoga dia menerima aku jadi pacarnya!" bisik Rangga tersenyum melihat mereka bergantian.


Mata Ryu membulat mendengar bisikan itu. Kemarahannya kembali meluap. Dia melihat pada Rara yang tampak buru buru membuang pandangannya ke arah lain begitu dia melihatnya. Sedangkan Anggi tertawa senang dan memberi dukungan jempol pada Rangga.


"Pasti, kami doakan semoga rencana mu sukses. Kalian berdua seumuran dan sangat cocok. Benar kan sayang?" bisik Anggi menoleh pada Ryu. Rangga ikutan senang mendengar perkataan Anggi.


Ryu tak menggubris perkataan Anggi. Dia mendekati Rara.


"Khanza, mari kita pulang." katanya dengan suara pelan agar tidak membuat gadis ini takut.


Rara kaget dengan ajakan tiba tiba itu. Apalagi Ryu langsung memegang tangannya.


"Rara mau pulang bersama Rangga. Rara mau menginap di rumah Om Dion. Kakak pulang saja dengan kak Anggi. Kalian kan datang bersama!" kata Rara tanpa melihat wajahnya. Dia melihat sekilas pada Anggi yang menatap tajam pada tangannya yang di pegang Ryu. Rara menariknya tapi Ryu menahan kuat.


Ryu mengeluh sedih.


"Dek....!"

__ADS_1


"Maaf kak, Tolong jangan paksa Rara!" potong Rangga segera. Dia meraih tangan kanan Rara dan di pegang.


Ryu kembali kesal.


"Aku ingin bicara dengan adikku!" menatap tajam pada Rangga.


"Aku tidak melarang anda bicara dengannya. Aku hanya menjaga Rara agar tidak sedih lagi setelah berbicara dengan Anda!" kata Rangga membalas tatapannya. Ryu semakin tajam melihatnya mendengar ucapan itu.


"Rangga, sudah. Mari kita pergi!" kata Rara segera melihat gelagat yang tidak baik dari keduanya. Dia segera menarik tangan Rangga untuk melangkah.


"Khanza tunggu....!" Ryu terkejut. Dia bergerak cepat mendekati Khanza dan menarik tangan Khanza hingga lepas dari genggaman Rangga. "Aku ingin bicara dengan adikku, jangan ikut campur!" katanya tegas pada Rangga. Lalu manarik Khanza ke sebelah. Rangga yang tidak terima melihat ada pemaksaan pada Khanza bergerak cepat mendekati mereka untuk mengambil khanza kembali. Tapi dengan gerakan cepat Rara menggeleng kan kepalanya. Rangga terpaksa mundur. Rara tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak inginkan melihat kemarahan pada diri Ryu. Sedangkan Anggi juga kaget melihat apa yang di lakukan Ryu.


Ryu memegang wajah Khanza untuk melihat kepadanya."Dek, atas kejadian tadi, kakak minta maaf telah membuatmu takut." katanya pelan dengan tatapan sedih.


"Setelah perpisahan yang cukup lama membuat kita tersiksa dan menderita, apa Khanza ingin kita berpisah lagi?" kata Ryu lagi. Kedua matanya basah. "Jawab kakak dek."


Rara mendesah sedih. Dia tak menjawab hanya menatap sendu.


Ryu segera memeluknya. Dia terisak kecil.


"Jangan tinggalkan kakak. Jangan pergi. Kakak tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Kakak lemah tanpamu. Mari kita pulang ke rumah. Menjalani hidup seperti biasa, sebagai kakak dan adik." pinta Ryu semakin memeluknya kuat. Dia mengesampingkan perasaannya agar Rara tidak merasa takut lagi dan mau pulang bersamanya. Dia tahu Khanza pun tak mau berpisah darinya. Dia sangat marah pada dirinya sendiri karena telah mencium Khanza hingga membuat gadis ini takut dan menghindarinya.


Rara menahan isakan tangisnya mendengar kata kata itu. Tapi kemudian dia sadar dengan keberadaan Rangga dan Anggi.


Dia buru buru menyapu air matanya, lalu segera menarik dirinya dari pelukan Ryu.


"Rara nggak bisa pulang bersama kakak. Rara datang kesini bersama Rangga. Kakak juga bersama kak Anggi!"


"Kita bisa pulang sama sama." kata Ryu.


"Tujuan kita tak searah. Rara akan pulang ke rumah Om Dion!"


Rara menggeleng.


"Gak usah kak. Rara gak mau merepotkan kakak. Dan yang lebih penting dari itu, Rara tidak ingin mengganggu kebersamaan kakak dengan kak Anggi. Sebaiknya kakak temani kak Anggi. Temani kemana pun dia suka. Sudah lama kalian tidak pergi bersama seperti ini. Rara juga masih ingin menginap di rumah Om Dion dan tante Cindy sebelum pulang ke tanah air. Rara ingin meluangkan waktu bersama mereka." kata Rara berusaha untuk tersenyum.


"Kakak jangan khawatir, Rara akan baik baik saja bersama mereka. Om Dion dan tante Cindy sangat baik. Rara seperti merasakan kasih sayang papa dan mama dari mereka!" kata Rara kembali.


"Dan Khanza tidak ingin kasih sayang lagi dari kakak?" tanya Ryu menatap matanya.


Rara tertegun mendengarnya. Keduanya saling bertatapan dengan perasaan masing-masing. Rara segera berpaling ke sebelah menghindari tatapan Ryu yang terlihat sangat sedih.


"Hey, kalian lagi ngomong apa sih?" seru Anggi seraya berjalan mendekati mereka. Rangga pun demikian.


"Kalian kelihatan tegang dan tampak sedih. Apa ada masalah?" tanya Anggi kembali berpura-pura tak tahu apa yang terjadi pada kakak beradik ini.


"Tidak ada apa-apa, kak!" kata Rara segera sambil mengulas senyum.


"Masa sih?" wajah Anggi mengernyit.


"Iya benar. Kak Ryu mengajak Rara pulang,tapi Rara masih ingin menginap di rumah Rangga!" kata Rara kembali.


"Kami akan pulang. Rara capek. Kakak berdua silahkan lanjutkan kembali acaranya! Ayo Rangga, kita pergi!" ajak Rara seraya memegang dan menarik tangan Rangga.


"Eh tunggu bentar.... !" Anggi menarik tangan Rara.


"Mumpung lagi bersama, ayo kita foto bareng untuk mengabadikan momen jalan jalan kita malam ini!" kata Anggi kembali sambil membuka aplikasi kamera ponselnya.


"Ayo dong....aku ingin membagikannya ke sosmed! Rangga kau dekat dengan Rara, peluk Rara dong... kita buat beberapa gaya ya biar keren!"


Rangga memeluk Rara dari samping.

__ADS_1


Sedangkan Ryu sama sekali tidak suka dengan ajakan Anggi ini. Tapi tidak bisa menolak karena Rara pasti akan kecewa padanya. Dia hanya diam tanpa ekspresi tak melakukan gerakan atau style apa pun. Matanya hanya terus bergerak liar melihat pada Rara yang berdiri tegak tersenyum melihat kamera yang Berada di antar dia dan Anggi. Hanya Anggi dan Rangga dan aktif melakukan style ini dan itu. Terutama Anggi yang melakukan gaya romantis pada Ryu yang selalu di tepis Ryu. Dan itu membuatnya geram.


"Sudah cukup Anggi." kata Ryu yang tidak tahan lagi.


"Oke Ryu, kau ini susah sekali bila di ajak foto." katanya kesal. Tapi kemudian dia tersenyum melihat beberapa hasil bidikannya yang sangat indah, antara dia dan Ryu. Juga Rangga dan Rara. Dia memperlihatkan foto foto itu pada Rara dan Rangga.


"Bagus kan?"


Rangga mengangguk setuju. Rara hanya tersenyum dan Ryu hanya diam tak ada ekspresi. Dia benci melihat foto Rangga yang memeluk Rara dari samping dan dari arah belakang.


"Kami permisi dulu!" kata Rara kemudian. Dia menoleh sekilas pada Ryu yang menatap sedih dan isyarat meminta agar dirinya tidak pergi.


Rara segera menarik tangan Rangga.


"Ayo Rangga kita mobil, aku capek berdiri terus."


"Kamu capek? ayo naiklah ke punggung ku!" kata Rangga seraya jongkok di belakang Rara.


Rara kaget. Ryu juga. Anggi menatap tersenyum seraya melihat ekspresi wajah Ryu yang berubah drastis.


"Nggak usah ga...aku masih kuat kok jalan ke mobil." kata Rara kelabakan. Rangga segera menarik tangannya hingga mendekat ke punggungnya.


"Sudah,,,ayo naik.... cepat naik!'


Mau tidak mau Rara segera naik ke punggungnya. Rangga segera berdiri sambil memegang kedua kaki Rara.


"Pegangan yang kuat."


"Aku pasti berat kan?" kata Rara memegang bahu Rangga.


"Nggak kok, sedikit!" kata Rangga tertawa kecil. Rara juga ikutan tertawa.


"Kami pergi!" kata Rangga.


"Oke....hati hati di jalan." kata Anggi tersenyum.


Keduanya segera pergi setelah.


"Rangga sungguh pria yang romantis! Rara pasti akan sangat bahagia bila menjadi pacarnya! Benarkan Ryu?" kata Anggi menoleh pada Ryu yang tak berkedip melihat pada Rangga dan Khanza yang mulai menjauh.


Rara mendengus geram, lalu meninggalkan Anggi yang melihatnya dengan senyuman sinis. Anggi segera berlari mengejarnya melihat Ryu mulai jauh.


Ryu masuk ke mobilnya, dan menyuruh sopir mengantarkan Anggi dengan mobil lain. Dia segera meluncur dengan cepat meninggalkan Anggi yang berlari cepat seraya berteriak teriak keras memanggilnya.


"Brengsek kau Ryu meninggalkan aku!" teriaknya keras sangat kesal.


"Saya yang akan mengantar anda pulang. Ini perintah tuan Ryu. Tuan Ryu masih ada pekerjaan penting!" kata sopir. Dia segera membuka pintu mobil untuk Anggi.


Anggi masuk mobil tanpa berhenti memaki Ryu.


"Sebaiknya tutup mulut anda sebelum tuan Ryu dengar." kata sopir memperingatkan Anggi yang tak suka terus memaki tuannya.


"Cih...!" Anggi mendengus geram melihatnya.


Mobil segera meluncur.


"Ada urusan penting apa dia? Apa dia ingin menyusul Rara dan Rangga?" batinnya. Anggi kembali berteriak keras membayangkan jika itu benar. Dia memukul jok mobil di depannya.


Sopir geleng geleng kepala melihat tingkahnya seperti orang tidak waras."Dasar wanita gila. Mungkin dia lupa meminum obatnya hingga penyakitnya kumat lagi." Batinnya senyum senyum sendiri tak perduli dengan teriakan Anggi.


*****

__ADS_1


__ADS_2