Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
77. Wanita itu lagi


__ADS_3

Para reader pasti sudah lupa jalan ceritanya? Gak seru lagi bacanya setelah vakum sekian purnama, bahkan udah ending No Happy, hehehe. Maaf ! Lanjut ya.... semoga saja masih ada yang suka dan dukung!!!


...Happy reading....


Setelah isya, Ara dan Rara segera pergi ke hotel tempat di adakan acara syukuran pernikahan anak teman Ara. Rara menemani mamanya seperti katanya tadi siang. Karena papanya benar benar sangat sibuk. Ada beberapa orang penjaga termasuk Yuri di tugaskan Rafa untuk menjaga istri dan anaknya. Rara mengenakan dress sederhana tapi terkesan mewah dan elegan. Sesuai dengan usianya. Tak ada polesan make up di wajah tak mengurangi cantik dan manisnya wajah polosnya. Sedangkan Ara memakai long dress muslimah yang semakin membuatnya cantik, anggun dan bersahaja. Begitu tiba di pintu masuk, Nyonya pemilik acara sekaligus teman Ara segera menyambut mereka berdua. Mereka saling salaman. Ara memperkenalkan Rara pada mereka. Beberapa tamu undangan juga menyapa mereka. Hingga akhirnya terlibat obrolan hangat. Hadir juga Cindy dan Dinda yang baru tiba. Kedua sahabat itu saling berpelukan. Ara juga segera memeluk Dinda.


"Tante Dinda." ucapnya.


"Ara sayang!" kata Dinda tersenyum hangat. Keduanya berpelukan. Cindy dan Dinda bergantian menyentuh perut hamil Ara. Mendoakan kehamilannya sehat terus.


Setelah para orang tua itu melepas rindu, Rara segera menyalami mereka. Ini bukan kali pertama Rara bertemu dengan Cindy dan Dinda. Jadi mereka bisa secepatnya akrab. Rara merasa bosan di tempat ini karena tak ada teman untuk ngobrol. Dia hanya menjadi pendengar. Acara yang cukup mewah dan berkelas dengan iringan nyanyian indah dari para artis tanah air terus bergulir.


"Tante, Rangga mana? Kami janjian mau ketemu di sini." tanyanya pada Cindy.


"Rangga akan datang kok." kata Cindy.


"Rara bosan gak ada teman!" keluh Rara cemberut.


"Tunggu sebentar ya sayang, Rangga sedang dalam perjalanan ke mari." kata Cindy kembali memegang dagunya.


Rara mengangguk. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung. Melihat para artis yang sedang bernyanyi.


"Ra, Ines tuh....!" kata Cindy melihat kedatangan Ines di pintu masuk. Mereka melambaikan tangan pada Ines. Wanita itu tidak kalah cantik dan elegan dari kedua sahabatnya. Ketiga sahabat yang sudah tidak muda itu berpelukan seperti Teletubbies. Rara Senyum senyum melihatnya. Kagum dengan persahabatan sejati itu. Ines memiliki dua anak dari pernikahannya dengan Wisnu. Kini dia menjadi wakil direktur utama dan sebagai pemimpin di perusahaan menggantikan Wisnu sebagai direktur utama yang lebih memilih kesetiaannya pada Rafa hingga kini. Sementara Perusahaan mereka yang berada di Eropa telah di berikan kepada Azhar dan Azam. Kedua anak kembar itu yang mengelola dan mengembangkannya. Ines balik ke tanah air setelah merasa Azham dan Azhar cukup mampu mengelola perusahaan itu.


"Halo sayang." Ines menyapa Rara. Keduanya cipika-cipiki.


Tamu semakin banyak berdatangan. Tiga sahabat itu menyalami tamu kenalan mereka, dan berakhir dengan perbincangan hangat. Dan Rara dengan setia menemani mamanya, menjadi pendengar.


Ponselnya bergetar. Di lihatnya panggilan masuk dari Riri.


"Ma, bentar ya.... Rara terima telepon dulu. Riri nih...! Sekalian Rara juga mau ke toilet pengen pipis." bisiknya pada Ara.


"Mama temani....!" kata Ara khawatir membiarkan Rara pergi sendiri.

__ADS_1


"Gak usah. Mama di sini saja. Rara gak mau mama kecapean berjalan. Rara akan segera kembali. Jangan khawatir."


"Baiklah... ingat ya segera kembali. Jangan pergi ke mana lagi." pesan Ara.


Rara mengangguk. Tak lupa dia menitipkan mamanya pada Cindy dan Ines. Dia segera pergi meninggalkan kerumunan ibu ibu sosialita itu. Berjalan mencari toilet sambil berbicara dengan Riri dan fitri di telepon.


"Berisik banget Ra....! Kamu di mana?"


"Lagi di acara pernikahan anak teman mamaku! Udah selesai tugasnya?"


"Nih, sementara di kerjain. Nomor 8 dan 9 tidak kami pahami. Makanya kami hubungi kamu! Tolongin dong.....!"


"Kirimkan soalnya, nanti ku kerjain." lebih baik mengerjakan sesuatu dari pada bosan duduk menemani mamanya tanpa melakukan apa apa.


"Oke Ra...!" telepon di matikan. Rara bertanya pada pelayan letak toilet sebelah mana.


"Mari saya antar Nona." kata sang pelayan sopan.


"Tidak usah, biar saya sendiri saja." tolak Rara.


"Terimakasih." kata Rara. Dia melanjutkan langkah dengan cepat. Tapi langkahnya tiba tiba melambat saat dekat pintu masuk. Melihat seorang pria tampan bersama wanita cantik melangkah masuk dengan elegan. Rara tak berkedip menatap Keduanya. Ryu dan wanita itu. Wanita yang di lihatnya di cafe dan Mall. Ryu juga kaget melihat Rara. Langkahnya ikut melambat. Keduanya saling menatap, pada jarak 7 meter. Dada Rara terasa sesak seketika. Si wanita bergelayut manja di lengan Ryu dengan senyuman manis di wajah. Keduanya melangkah kembali setelah si wanita selesai menyapa tamu kenalannya dan juga menyapa tuan rumah. Wajah wanita itu tersenyum semakin menambah cantik dirinya. Dia kembali bergelayut manja di lengan Ryu dan Ryu membiarkannya meski ada Khanza di depannya. Matanya tanpa berkedip menatap Rara.


Rara mendesah sedih, Dadanya bergemuruh kuat menahan tangis. Dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata."Kenapa harus bertemu dengan mereka lagi sih?" batinnya sedih dan kesal. Hatinya kembali sakit. Tubuhnya terasa lemah melihat kemesraan kedua manusia itu. Dia tidak menyangka kakak yang juga suaminya ini berselingkuh. Punya wanita lain selain dirinya. Bahkan tampak malu memamerkan pada orang banyak.


Rara tak tahan melihat kemesraan yang sengaja di perlihatkan padanya. Dia tak tahan lagi membendung air matanya. Rara segera melangkah cepat menuju toilet. Tapi langkahnya terhenti dengan sebuah panggilan dari pintu masuk.


"Rara.....!"


Rara menoleh."Rangga?!!" ucapnya melihat sedih bercampur senang. Ryu segera melihat ke arah si pemanggil Rara. Yang bertepatan melewatinya mendekati Rara. Ryu mendengus geram setelah melihat siapa orangnya.


Setelah Rangga di depannya, Rara segera memeluknya menumpahkan kesedihannya. Dia sangat butuh Rangga saat ini. Rangga segera membalas pelukannya.


Amarah Ryu semakin meluap. Darahnya mendidih. Dia hendak melangkah mendekati mereka ingin menghajar pria itu, tapi lengannya segera di hentikan wanita di sampingnya, Cia.

__ADS_1


"Tenang kak, jangan membuat keributan di sini." bisik Cia.


"Mana mungkin kakak tenang melihat Khanza di peluk bajingan itu?" kata Ryu emosi. Dia tidak menyangka Rangga berani memeluk istrinya di depan mereka. Padahal dia sudah tahu kalau Khanza adalah istrinya.


"Khanza yang lebih dulu memeluknya." kata Cia pelan.


"Tapi tidak seharusnya dia ikut memeluk Khanza. Dia sudah tahu Khanza adalah istri kakak. Dia sudah berjanji akan menjaga jarak dan batasan dengan Khanza. Tapi apa itu? Kau lihat, sikap dan tatapan lembutnya pada Khanza menyiratkan sebuah arti kalau dia masih punya perasaan pada Khanza. Dia tidak akan bisa melepaskan Khanza."


"Iya aku tahu. Tetap saja kakak harus tenang. Ini juga semua terjadi karena drama Kakak sendiri. Khanza sangat sedih dan butuh teman untuk berbagi kesedihannya! Sudah, tenang dulu. Ada mama Ara di sini. Jangan membuatnya malu." kata Cia lagi seraya melihat ke arah Ara, Cindy, Dinda dan Ines yang sedang asik ngobrol bersama tamu lainnya. Ryu mengikuti pandangannya. Dia melihat Ara yang secara kebetulan melihat padanya. Ante sekaligus ibu mertuanya itu tersenyum sambil melambaikan tangan sekilas pada mereka.


Wajah Ara tampak mengernyit melihat sosok wanita lain di sampingnya." Siapa wanita itu?" batin Ara melihat wanita yang menggandeng tangan Ryu di depan Khanza.


"Hey Nona manis. Kenapa kau selalu sedih seperti ini?" ucap Rangga mengelus punggungnya."Apa ada lagi yang menyakitimu?"


Rara diam tak menjawab. Dia melepas pelukannya setelah merasa tenang.


"Aku mau ke toilet." katanya kemudian.


"Oke, biar ku antar."


Rara melirik tajam pada Ryu lalu segera melangkah di ikuti sosok Rangga. Keduanya menuju toilet.


Ryu semakin geram menatap kepergian mereka. Tatapan sangat tajam."Bajingan." sentaknya kasar.


"Rangga tidak akan macam macam pada Khanza. Kakak redakan emosinya. Aku rasa Rara pergi ke toilet untuk menangis! Kakak sih, aneh aneh aja deh bikin drama kayak gini! Akhirnya kakak sendiri yang kebakaran jenggot dan cemburu. Sedangkan Khanza? meski sedih dia tetap tenang dan membiarkan kakak....!" kata Cia lagi.


"Kalau dia sedih, kenapa tidak mendatangi kita? dan marah pada kakak?"


"Rara tidak akan mungkin melabrak kita. Dia tidak akan berani dan tidak akan mempermalukan dirinya. Apalagi ada mama Ara di sini. Kita sendiri juga tahu Rara adalah pribadi tertutup yang lebih suka memendam rasa sakit dan kesedihannya seorang diri tanpa mengeluarkannya. Sama seperti kalian berpisah dulu. Dia mendam sendiri perasaannya selama belasan tahun tanpa berbagi pada kami." kata Cia lagi.


"Kalau Khanza sedih seperti itu, berarti hatinya sakit dan terluka dengan perselingkuhan kakak. Itu artinya dia cinta sama kakak! Aku yakin itu. Jadi berhentilah menguji hati dan perasaannya. Itu sangat menyakiti dirinya. Dan malah semakin nambah masalah dan jarak di antara kalian. Terus para pria akan semakin banyak yang mendekatinya untuk menjadi dokter penenang hatinya." cerca Cia lagi. Dia membuka wajah dan rambut palsunya. Merasa gerah mengenakan benda benda itu.


Di antara amarah dan kecemburuan yang di rasakan Ryu, ada rasa sedih dan bersalah di hatinya melihat wajah sedih Khanza. Sudah dapat di pastikan Istrinya itu sakit hati dan semakin kecewa padanya. Hatinya hancur.

__ADS_1


*****


__ADS_2