Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
28. Tamu spesial


__ADS_3

Hanya dua hari tinggal di kediaman orang tuanya, Rara kembali ke rumah Cio. Dia tidak mau tinggal di situ tanpa Cio.


Saat ini Rara berada di kamar Cio. Menyiapkan pakaian kantor kakaknya.


Telepon Ryu berdering. Rara mengabaikannya, di biarkan terus berdering hingga mati sendiri. Tapi kemudian berdering kembali. Rara segera mendekati benda pipih itu karena merasa terganggu. Di lihatnya tertera nama Anggi. Rara ingat nama itu, dan juga orangnya. Anggi, kekasih kakaknya.


Rara tidak mengangkatnya.


Dia segera memungut benda itu dan berjalan ke kamar mandi, karena saat ini Ryu sedang mandi.


"Kakak, kak....!" panggilnya sedikit keras. Tapi tak ada suara balasan. Rara segera masuk. Terdengar suara gemercik air. Dia dapat melihat Ryu dari balik tembok kamar mandi yang bagian atas terbuat dari kaca tembus. Sedangkan bawahnya buram.


"Kakak! Kakak ada telepon." panggilnya seraya mengetuk kaca berulangkali. Dia tidak melihat pada Ryu dan memalingkan wajah ke sebelah karena dia tahu Ryu sedang telanjang polos.


Ryu tidak melihatnya karena membelakanginya. Posisi Ryu yang saat itu sedang menunduk, satu tangannya menyentuh dinding, satunya lagi menyentuh tato nama Khanza di dadanya.


"Kakak, kak....!" panggil Rara lagi sedikit keras.


Benda itu kembali berbunyi, lalu mati lagi.


Ryu menoleh sedikit ke samping. Dia menangkap keberadaan Rara dengan ekor mata. Dia sedikit kaget dan panik. Tapi dia kembali tenang setelah mengingat dinding kaca bagian bawah gelap.


Sementara Rara segera membelakangi setelah Ryu tahu keberadaan dirinya.


Ryu cepat menyelesaikan ritual mandinya. Lalu memakai bathrobe. Dia keluar sambil melap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Khanza.....!" panggilnya pelan.


Rara segera berbalik. Dia menyerahkan ponsel.


Ryu.tidak langsung menerima, hanya melihat benda itu.


"Ada telepon masuk." kata Rara


"Kenapa nggak di angkat?" masih terus dengan gerakan melap rambutnya.


"Nggak ah, itu kan telepon kakak!"


"Dari siapa?"


"Kekasih kakak."


"Kekasih?" wajah Ryu mengernyit.


"Iya..." Rara mengangguk." Nih....!" Rara meletakkan benda itu ke dalam genggaman Ryu. "Segera telpon balik, sepertinya penting." katanya lagi, lalu segera keluar.


Ryu memeriksa panggilan masuk, Anggi....


Empat panggilan telepon dari Anggi yang tak terjawab. Ryu hanya melihat nama Anggi tanpa menelpon balik. Dia segera keluar menuju kamar. Di dapatnya pakaian formal kantornya sudah teratur di atas ranjang. Lengkap dengan dasi, kous kaki, dan sepatu yang warnanya senada. Bahkan tersedia juga sapu tangan dan jam tangan.


Ryu tersenyum melihatnya. Dia melihat sekeliling ruang kamar, tapi tak menemukan apa yang di cari oleh matanya. Ryu menyentuh satu persatu semua barang itu. Kemudian segera mengenakannya.


Sementara di bawah.


Ting...ting...ting.


Terdengar bel berbunyi.

__ADS_1


Saat itu Rara sedang melihat koki memasak dan menyiapkan sarapan pagi.


"Sepertinya ada tamu." katanya.


"Iya nona, saya ke depan dulu." kata kepala pelayan.


"Tidak perlu, biar Rara yang buka. Ibu kembali bekerja saja!" kata Rara. Dia segera melangkah menuju pintu utama.


Setelah sampai, Rara segera membuka pintu.


Di lihatnya seorang wanita cantik, tinggi semampai berdiri mengenakan kacamata hitam. Tas mewah tergantung di tangan.


Rara menatapnya sejenak, selanjutnya dia ingat.


"Kak Anggi?"


"Hay Khanza. Kau masih mengingat ku." sapa tamu itu yang tak lain memang Anggi.


Anggi tersenyum, lalu membuka kacamata.


"Tentu saja. Silahkan masuk." ajak Rara ramah. Dia berjalan masuk di ikuti Anggi.


"Bukannya kakak tadi menelpon?"


"Iya benar. Kok kamu tahu?"


"Tahulah.... Saat itu Rara ada di kamar kak Ryu. Rara melihatnya. Sewaktu kakak menelpon, kak Ryu sedang mandi. Tapi udah Rara sampaikan kok kepadanya."


Anggi mengerti kenapa Ryu tidak mengangkat teleponnya. Karena pria pujaannya itu sedang mandi. Dia sempat geram karena Ryu tidak mengangkat teleponnya.


"Terus mana dia?" tanyanya melihat ke atas. Karena dia yakin Ryu di kamarnya yang berada di lantai atas.


"Kak Anggi ke atas saja, ke kamar kak Ryu." kata Rara lagi.


"Memang bisa? Aku khawatir Ryu akan marah!" kata Anggi. Karena selama ini dia tidak pernah masuk ke kamar Ryu. Karena Ryu melarang dan tidak mengizinkan.


"Tentu saja boleh. Kak Ryu nggak akan marah kok. Kak Anggi kan kekasihnya. Rara saja bisa masuk, bahkan tidur di kamarnya." jawab Rara dengan polosnya.


"Kamu tidur di kamar Ryu?" tanya Anggi dengan wajah mengernyit. Dia kaget.


"Iya," Rara mengangguk." Rara sering tidur bersama kak Ryu saat takut tidur sendiri."


Anggi kembali kaget.


"Pergilah ke atas. Kak Ryu pasti senang melihat kakak!" kata Rara.


"Senang apanya? Ryu tidak pernah mengajakku ke atas, apalagi masuk ke kamarnya. Ryu melarang. Dia bahkan memperingatkan diriku jangan pernah masuk ke kamarnya." batin Anggi dengan rasa kesal. Rara bisa masuk dan tidur di kamarnya, sedang kan dia hanya ingin melihat ruang itu saja tak di izinkan.


"Rara mau ke dapur dulu. Mau melihat koki memasak." ujar Rara tersenyum. Dia berbalik melangkah.


Tapi langkahnya terhenti dengan panggilan Anggi.


"Rara, Khanza....!" dia bingung manggil dengan nama apa.


"Ya....!" Rara berbalik.


"Kalau boleh tolong antar aku ke atas...ke kamar Ryu. Aku tidak enak dengan pandangan para pelayan jika masuk ke kamar Ryu seorang diri. Jadi tolong temani aku!" katanya berpura-pura. Sudah lama dia ingin masuk ke kamar Ryu, tapi Ryu melarang.

__ADS_1


"Please, temani aku." pintanya lagi melihat Rara yang bengong.


"Baiklah, ayo kak!" ujar Rara. Dia segera berjalan menaiki tangga, di ikuti Anggi. Anggi tersenyum senang. Keinginannya untuk masuk ke kamar Ryu sebentar lagi akan terwujud. Terutama melihat ranjang tidur pria itu.


Rara mengetuk setelah sampai di depan pintu.


"Kakak, boleh Rara masuk?" tanya Rara meminta izin dulu mengingat Ryu baru mandi dan pasti sedang berganti pakaian. Biasanya dia langsung nyelonong masuk.


"Masuk saja." terdengar suara Ryu dari dalam.


"Ayo kak," ajak Rara setelah membuka pintu kamar.


"Iya, kamu duluan." kata Anggi ragu untuk segera masuk. Ragu karena khawatir Ryu akan menolak dan bisa bisa malah mengusirnya.


Rara segera masuk. Anggi tidak langsung masuk, matanya melihat ke dalam, memperhatikan keadaan kamar mewah dan luas itu. Matanya bergerak cepat menyapu ruang ini dan berhenti pada ranjang king size mewah.


Rara mendekati Ryu yang membelakanginya. Ryu tampak memasang dasi, tapi terhenti dengan kedatangan Rara.


Ryu langsung memeluk pinggang Rara begitu gadis itu berdiri di depannya. Kedua tangannya terpaut di belakang pinggang Rara. Dia mendaratkan kecupan lembut di bibir Rara.


"Terimakasih sudah menyiapkan pakaian kakak!" katanya kemudian dengan senyuman manis menghias wajah tampannya.


"Sama sama." ucap Rara, balas mengecup bibir Ryu.


Anggi melongo melihatnya. Melihat keduanya saling kecup mengecup, dekat dan berpelukan. Mata dan mulutnya sampai terbuka menganga. Dia tidak menyangka sampai sedekat itu hubungan mereka sebagai kakak dan adik sepupu? Dia sering melihat orang tuanya dekat seperti ini. Saat papanya mau bersiap ke kantor dan mamanya membantu menyiapkan pakaian dan memakaikan. Berpelukan dan kemudian berciuman di bibir.


Nafas Anggi turun naik tak beraturan. Hatinya tidak tenang. Ada Rasa cemburu dan marah melihat kedekatan ini. Kedekatan yang terlihat mesra dalam pandangannya. Kedekatan yang tak lazim.


"Apa kakak suka warnanya?" tanya Rara sembari melanjutkan memasang dasi Ryu.


"Tentu saja. Suka banget. Kamu pintar memilih warna dan menyesuaikan dengan sepatu dan dasi." ujar Ryu. Satu tangannya bergerak ke wajah Khanza, mengelus lembut pipi mulus Khanza. Lalu mengatur rambut gadis itu kebelakang.


"Pilihan jam tangannya juga bagus." katanya kembali.


Rara kembali tersenyum.


"Syukurlah kalau kakak suka! Rara sering melihat mama menyiapkan pakaian papa! Oh ya, Rara kesini bersama dengan seseorang."


"Seseorang?" dahi Ryu mengerut.


Rara mengangguk.


"Siapa?" tanya Ryu.


"Tamu istimewa. Rara membawanya ke kamar kakak, karena Rara tahu Kakak pasti suka dan senang!" ujar Rara tersenyum menatap mata Ryu.


Dahi Ryu semakin mengerut.


"Tamu istimewa?" penasaran.


"Seseorang yang sangat spesial bagi kakak. Dia adalah kekasih kakak." ucap Rara sambil menunjuk pintu. Ryu mengikuti jarinya. Dia melihat Anggi berdiri di depan pintu dengan wajah tersenyum manis. Wajah Ryu kembali mengernyit.


"Halo sayang." sapa Anggi masih dengan senyum mengembang di bibirnya. Memaksa tersenyum meski suasana hatinya sedang buruk.


Rara menarik diri dari pelukan Ryu.


"Rara keluar dulu." katanya tersenyum. Lalu melangkah keluar meninggalkan Ryu yang masih mematung, bengong melihat Anggi.

__ADS_1


****


Jangan lupa like, komen, dan hadiahnya ya 😘


__ADS_2