Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
41. Menunggu mu pulang


__ADS_3

Hampir dua jam berlalu akhirnya mereka sampai di halaman kediaman Ryu. Penjaga keamanan menyapa Rangga karena sudah tahu pemuda itu teman nona muda mereka.


Rangga membangunkan Rara yang tertidur dalam perjalanan.


"Ra, bangun. Kita sudah sampai!"


Rara bergerak dan membuka mata.


"Sudah sampai ya?" Rara melihat pada Rangga. Lalu melihat kedepan, benar.....di depan sana terlihat pintu utama rumah kakaknya. Dia segera melepas seatbelt.


Rangga memperbaiki rambut Rara yang berantakan.


"Rangga, terimakasih sudah menemani ku hari ini." katanya menoleh kembali pada Rangga.


Rangga mengangguk tersenyum.


"Kapan saja kamu butuh, aku pasti akan datang! Kamu jangan ragu untuk menghubungi ku!" Rangga mengacak pelan puncak kepala gadis itu. Dia tahu gadis ini lagi ada masalah dan sedang sedih. Dan tentu saja butuh hiburan. Tapi sayangnya Rara tidak mau berbagi masalah kepadanya.


Rara mengangguk tersenyum.


"Ayo keluar," Rangga segera ke luar. Lalu membuka pintu untuk Rara.


Mereka berjalan ke pintu utama yang sedang tertutup.


"Ra, aku antar kamu pada kakakmu ya? Aku khawatir ini sudah sangat malam."


"Sampai di sini saja Ga, kak Ryu pasti sudah tidur. Atau mungkin sedang melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja. Dia nggak akan marah karena tadi kita izin padanya. Aku kan sudah bilang tadi, kak Ryu gak akan marah selama kamu tidak melakukan hal buruk padaku!" Rara menatap wajah Rangga.


Rangga tersenyum. Dia memegang kedua tangan Rara.


"Ya gak mungkin dong aku melakukan sesuatu yang akan menyakiti hatimu, dan akhirnya akan membuat mu membenciku!" kata Rangga.


"Aku menyayangimu Ra, gak mungkin aku melakukan hal buruk padamu!" lanjutnya kembali mengelus lembut pipi Rara.


Sepasang tangan terkepal kuat mendengar ucapannya. Wajah merah menahan amarah dan cemburu melihatnya menyentuh Khanza. Ryu yang melihat mereka saat ini, juga mendengarkan pembicaraan mereka lewat kamera CCTV yang tersambung pada ponselnya. Bukan hanya saat ini, tapi dia juga tahu apa yang Rangga dan Rara lakukan di luar seharian ini.


"Sebaiknya kau pulang. Rumah mu juga pasti sangat jauh dari sini. Hati hati di jalan. Ingat, Langsung pulang ke rumah, Jangan keluyuran lagi. Jangan membuat papa mamamu cemas!" pesan Rara.


"Kau seperti mamaku. Selalu banyak memberi pesan saat aku mau keluar." Rangga tertawa kecil, Rara juga jadi ikutan tertawa.


Rangga terdiam menatap wajah Rara yang lagi ceria seperti ini.


"Saat kita bertemu besok, aku ingin wajah ini ceria lagi. Di hiasi senyuman manis dan juga tawa bahagia." katanya memegang kedua bahu Rara.


Rara hanya mengangguk


"Sebaiknya kamu pulang. Aku masuk dulu!"

__ADS_1


Rangga menarik tangannya dari bahu Rara. Pintu di buka dari dalam. Ratih menyambutnya.


"Malam buk," sapanya.


"Selamat malam. Terimakasih sudah mengantar nona Khanza pulang!" kata Ratih sopan.


"Iya buk, sama sama. Saya permisi dulu!" kata Rangga. Dia melambaikan tangan pada Khanza.


Lalu segera berbalik melangkah. Khanza? batinnya dalam langkahnya.


Sedangkan Rara dan Ratih masuk ke dalam.


Ratih menuntun masuk.


"Maaf telah merepotkan buk Ratih. Seharusnya ibu istirahat saja tak perlu menunggu Rara pulang."


"Tidak apa-apa nona. Ini sudah tugas saya!"


Mereka terus melangkah menuju lift.


"Rara naik sendiri saja. Ibu kembalilah kekamar dan istirahat."


"Baik Nona!"


"Oh ya buk, kak Cio?" menanyakan keberadaan Cio. Apa Sudah tidur atau lagi di luar. Siapa tahu kakaknya itu sedang ada urusan penting di luar.


"Tuan Ryu sedang berada di kamarnya." jawab Ratih.


Rara menyusuri koridor lantai atas. Dia berhenti tepat di depan pintu kamar Ryu.


"Kakak pasti sudah tidur!" batinnya. Tidak mungkin kakaknya itu di ruang kerja. Karena sewaktu di lewati, ruang kerja itu tampak gelap. Tak ada lampu menyala di dalam. Cukup lama Rara berdiri mematung di depan pintu, menatap sedih dengan pikirannya sendiri. Kemudian dia segera melangkah menuju kamarnya. Rara membuka pintu dan masuk. Lalu menutup pintu kembali. Saat berbalik dia kaget melihat Ryu sedang duduk di sofa tunggal dekat tempat tidurnya.


"Kakak?" ucapnya pelan. Dia melihat pada Ryu yang sedang menatapnya. Hati Rara sedikit ciut dengan tatapan itu. Tatapan marah bercampur sedih. Rara melepas tas selempangnya dan juga paper bag berisi barang belanjaan. Lalu perlahan berjalan mendekati Ryu yang hanya diam memperhatikannya. Setelah di depan Ryu dia meraih tangan kanan Ryu, menyalim, dan dibawah ke dahinya.


Hati Ryu terenyuh dengan apa yang di lakukan.


Gadis ini masih menghormati dirinya.


"Kenapa kakak di sini? Seharusnya kakak sudah tidur dan istirahat!"


"Menunggu mu pulang." jawab Ryu datar. Dia tidak ingin menegur Khanza pulang selarut ini karena tidak ingin menambah jarak di antara mereka.


Rara terdiam mendengar ucapannya. Rara melihat jam tangannya, ternyata sudah jam 10 dan dia tidak menyadari hal itu. Pantas saja Cio belum tidur jam begini dan menunggunya pulang.


"Rara sudah pulang dengan selamat tak kurang apa pun! Sebaiknya kakak kembali ke kamar kakak, Rara capek mau istirahat." katanya kemudian.


Hati Ryu kembali terenyuh sedih sekali mendengar ucapan itu. Dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Sejak tadi dia hanya duduk di kamar Khanza memikirkan, mencari tahu apa penyebab perubahan gadis itu. Gelisah tidak tenang memikirkan Khanza yang pergi berduaan dengan pria lain.


Dia berharap setelah Rara kembali dari perjalanannya bersama Rangga, akan kembali berubah seperti kemarin. Tapi sikap gadis ini masih tetap sama.


"Istirahatlah, kakak pasti capek kan? Seharian ini bekerja. Rara juga mau tidur!" kata Rara kembali melihat Cio hanya bengong di tempatnya.


Dia melepas sepatunya, lalu berjalan ke ruang ganti untuk berganti pakaian.


Ryu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat mendekat. Begitu dekat dia langsung memeluk Khanza dari belakang.


"Dek, jangan seperti ini terus. Jangan mengabaikan kakak terus. Jangan buat kakak gelisah, bingung dengan sikapmu yang dingin begini!" katanya serak menahan kesedihan.


"Jika kakak ada salah katakan. Jika kamu ada masalah katakan, Jangan memendam sendiri, Jangan menjauhi kakak! Kita baru saja bertemu dan hidup bersama setelah belasan tahun terpisah. Kakak tidak mau jauh lagi darimu!" kata Ryu mencium kepala Khanza.


Kesedihan Rara membuncah. Matanya berkaca-kaca. Dadanya bergemuruh kuat menahan suara tangis agar tidak keluar.


"Khanza.....jangan hanya diam dek, tolong Jawab kakak! Kakak sedih dan tersiksa dengan perubahan sikapmu. Kakak bingung mau melakukan apa jika kamu hanya diam tak mau bicara jujur!"


Rara mendesah sedih. Menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang terasa pahit dan kering. Dia menekan ke dua matanya yang basah. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada Cio.


Dia menatap mata kakaknya yang basah.


"Kakak tidak melakukan kesalahan apapun. Tidak ada yang salah. Juga tidak ada masalah. Semuanya baik kok. Rara nggak berubah. Rara masih sama seperti dulu. Masih sayang sama kakak, menghargai dan menghormati kakak sebagai kakak Rara ! Kakak jangan sedih dan bingung pada Rara. Karena gak ada yang berubah pada diri Rara!"


"Tapi sikap Khanza yang menjaga jarak tidak seperti biasa. Kakak merasa kamu sedang menjauhi kakak!" Ryu menatap setiap bagian wajah adiknya ini.


Rara mengulum bibir dan menelan ludah. Dia kembali tersenyum di antara sedihnya.


"Rara tidak bermaksud seperti itu. Rara hanya ingin belajar mandiri tak mau menyusahkan orang lain. Rara Ingin melakukan semua hal sendiri tanpa bergantung terus pada orang lain termasuk kakak! Rara ingin belajar bisa melakukan ini dan itu sendiri.... melakukan hal yang gampang juga hal yang sulit! Rara belajar untuk hidup sendiri agar kuat dan tidak ketakutan menghadapi sesuatu yang membuat Rara takut." katanya menatap mata Ryu yang merah.


"Rara tidak mau mau bergantung terus pada kakak dalam segala hal. Termasuk menjaga dan melindungi Rara setiap saat!" lanjutnya kembali.


"Sudah kakak bilang berulangkali, kakak tidak merasa terganggu dengan semua itu. Kakak senang melakukannya untuk mu! Kakak tidak terbebani sedikit pun! Kakak wajar menjaga dan melindungi mu, karena Khanza adik kakak!" Ryu memegang wajah Khanza.


"Tapi sampai kapan kak? Kakak tidak bisa menjagaku terus menerus 1x24 jam. Kita tidak mungkin seterusnya akan selalu bersama! Suatu saat nanti kita tetap akan berpisah!" Rara menatapnya.


"Khanza....!" ucap Ryu dengan bibir bergetar.


"Rara memang sangat ingin kita selalu bersama selamanya.Tapi suatu saat nanti kita tetap akan berpisah. Kakak akan meninggalkan Rara saat kakak akan menikah dan punya istri."


Ryu terperangah mendengar ucapannya. Hatinya terasa sakit, dadanya sesak. Air matanya meleleh jatuh.


Rara mendesah sedih. Dia berusaha tersenyum di antara air matanya yang basah. Perlahan dia memegang wajah Ryu. Menyapu air mata pria yang begitu sangat menyayanginya.


"Makanya Rara ingin belajar hidup mandiri tanpa bergantung lagi pada kakak. Belajar untuk hidup tanpa kakak. Agar nanti saat kakak dan kak Anggi menikah, Rara sudah terbiasa melakukan apapun sendiri tanpa meminta bantuan kakak lagi. Dan Rara sudah akan terbiasa hidup tanpa kakak lagi di samping Rara." ucapnya terisak.


Ryu langsung memeluknya. Memeluknya kuat tak ingin melepaskan.

__ADS_1


"Tidak dek, kita akan terus bersama selamanya. Apa pun yang terjadi kakak tidak akan meninggalkanmu, kita tidak akan berpisah! Kakak tidak akan sanggup hidup tanpa kamu!" batin Ryu menangis terisak.


*****


__ADS_2