Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
43. Kita berdua seperti orang asing


__ADS_3

Rara keluar dari kamarnya. Dia mau ke bawah untuk menunggu Rangga. Karena semalam sudah janjian untuk jalan lagi hari ini. Rara berjalan menuju koridor lantai atas. Saat dekat dengan kamar Cio, kakinya melambat mendengar suara Ratih. Kepala pelayan itu baru saja dari kamarnya untuk mengajak sarapan. Dan saat ini singgah di kamar kakaknya.


"Tuan, sarapan pagi sudah siap."


"Apa Ibu sudah dari kamar Khanza?" tanya Ryu seraya memasang dasi.


"Sudah tuan. Nona Khanza tidak akan sarapan di rumah. Dia akan makan di luar bersama temannya. Nona akan keluar lagi bersama temannya pagi ini!" kata Ratih.


Ryu membuang nafas berat.


"Aku tidak ingin makan." kata Ryu kembali memasang dasi.


"Tapi sejak kemarin anda belum makan. Makanlah sedikit." Ratih tetap meminta dengan sopan, mengingat Cio punya penyakit asam lambung. Kata dokter tidak boleh terlambat makan. Tapi nyatanya sejak kemarin tuannya tidak menyentuh makanan, kecuali sarapan pagi sedikit kemarin pagi.


"Aku tidak berselera untuk makan. Pergilah, bereskan kembali makanannya dan bawah ke belakang. Ibu sarapan saja bersama pelayan lainnya." kata Cio kembali.


Ratih membuang nafas panjang, dia menatap kasihan pada tuannya. Tersiksa menahan segala rasa karena Khanza. Khanza tak makan, tuannya juga ikut ikutan tak menyentuh makanan. Ratih segera pamit ke bawah. Dia tidak melihat Rara karena langsung berbelok dan melangkah tanpa melihat lagi ke arah lain.


Rara terpaku di tempatnya.


"Jadi kemarin siang kak Cio gak makan karena Rara menolak makan? Semalam juga kak Cio tidak makan karena Rara gak makan di rumah? Dan pagi ini pun kakak gak makan karena tahu Rara akan sarapan di luar bersama Rangga?" batinnya. Rara mendesah sedih. Kedua matanya langsung berkaca-kaca.


"Maafkan Rara kak!" gumamnya pelan. Dadanya terasa sesak dan bergemuruh kuat menahan tangis.


Rara kembali melangkah. Saat melewati pintu kamar Cio, dia agak kaget dengan kemunculan Cio di depan pintu yang mau keluar.


Keduanya saling menatap sejenak.


"Selamat pagi kak!" sapa Rara mengulas senyum sekilas. Lalu wajah itu kembali berubah datar.


Cio belum membalas, hanya terus menatapnya. Memperhatikan mata Khanza yang merah.


"Pagi!" katanya kemudian.


Rara kembali melanjutkan langkah. Cio mengikuti dari belakang, karena dia juga akan turun ke bawah.


Dia melihat penampilan casual khanza. Jeans, kous oblong dan sneaker putih yang di kenakan gadis itu. Pakaian santai sederhana tapi sangat cocok ditubuhnya.


Keduanya masuk kedalam lift, berdiri diam tanpa suara, tanpa canda dan tawa seperti biasa. Mereka diam seperti orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Hingga pintu lift terbuka tak ada pembicaraan di antara mereka. Dan itu sangat menyakitkan bagi Cio.


Keduanya segera keluar, bertepatan dengan bel berbunyi. Rara segera berlari menuju pintu meninggalkan Ryu. Karena dia tahu Rangga yang datang. Sementara Ryu kembali naik ke atas karena melupakan sesuatu yang penting.


Dengan semangat Rara membuka pintu. Tapi setelah pintu di buka, bukan Rangga yang datang, tapi Anggi. Rara terkejut melihatnya.

__ADS_1


Sedangkan Anggi tersenyum padanya.


"Halo Rara....!" sapanya dengan kerlingan mata.


"Hay kak...!" jawab Rara pelan.


"Apa Ryu ada?"


"Iya, silahkan masuk kak!"


Anggi segera melenggang masuk. Rara tetap berdiri mematung di pintu. Melihatnya berjalan masuk ke dalam.


"Maaf nona Anggi. Silahkan duduk. Tuan Ryu masih kembali ke kamarnya. Anda tunggu saja di sini." kata Ratih segera mempersilahkan Anggi untuk duduk saat melihat Anggi hendak menuju keatas menyusul Ryu.


Anggi mendengus kesal. Lagi lagi dia di suruh duduk layaknya tamu untuk menunggu Ryu turun. Padahal dia sudah terbiasa datang di rumah ini.


"Buk, biarkan kak Anggi menyusul kak Ryu ke atas!" kata Rara mendekati mereka.


"Tapi Nona....!"


"Gak apa-apa. Kak Anggi kan kekasih kak ryu. Ayo kak.... naiklah ke atas. Mungkin kak Ryu ketinggalan sesuatu hingga harus balik lagi ke atas." kata Rara menatap Anggi.


Anggi tersenyum manis.


Anggi terus berjalan menuju kamar Ryu. Pintu Ryu tampak terbuka. Saat itu Ryu mau keluar setelah mengambil flashdisk yang tertinggal. Dia kaget melihat Anggi berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kau? Mau apa kau kemari!" kata Ryu menatap tak suka. Dia segera menutup pintu kamarnya.


Anggi segera memasang wajah sedih.


"Berulangkali aku menelpon mu tapi selalu kau matikan. Makanya aku datang kemari. Aku ingin bicara dengan mu sayang." katanya, lalu tersenyum manis agar pria ini tidak marah.


"Aku tidak punya waktu Anggi."


"Aku mohon Ryu, dengarkan aku dulu. Kau jangan menghindar terus seperti ini. Kita bicara baik-baik. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskan sayang!" pinta Anggi memelas.


"Tak ada lagi yang perlu di bicarakan! Sebaiknya kau pulang. Aku mau ke kantor!" Ryu menatapnya tajam. Lalu melanjutkan langkah.


"Baiklah, kita bisa bicara dalam perjalanan ke kantor. Aku akan naik mobilmu!" Anggi mengikuti langkahnya.


"Aku tidak mau mendengar apapun lagi. Jangan mengikuti ku!" sentak agak keras.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku Ryu."

__ADS_1


"Kenapa tidak? sementara kau sendiri bisa melakukan hal kotor itu padaku." Ryu menatap tajam menahan kemarahan.


Anggi terdiam. Kembali terpojok oleh kata kata itu. Terpojok dengan kelakuan kotornya.


"Sudahlah Anggi. Jangan berulah lagi di rumahku. Aku tidak ingin Khanza mendengar keributan ini. Sebaiknya kau pulang sekarang." kata Ryu mulai kehilangan kesabaran. Dia meninggalkan Anggi berjalan menuju tangga.


Anggi mendengus geram. Ryu sangat menjaga perasaan Khanza dari pada hatinya yang tersakiti. Anggi tersadar dari lamunannya melihat Ryu sudah jauh. Dia berlari cepat mendekati Ryu.


"Ryu, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan! Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.!" Anggi menarik lengan Ryu.


"Cukup Anggi.... cukup. Aku muak mendengar alasan mu yang tak masuk akal." sentak Ryu keras melepas tangan Anggi.


"Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?" Ryu semakin menyorot tajam menatapnya.


"Dan sudah berulangkali aku katakan padamu jangan pernah naik ke atas, terutama masuk ke kamarku, tapi.....!"


"Rara yang meminta kak Anggi untuk menemui kakak di atas." suara Rara memangkas ucapan Ryu. Dia baru keluar dari lift dan melihat pertengkaran di antara mereka. Dan ternyata benar, ada hubungan yang rusak karena dirinya..Dan itu membuatnya sedih dan merasa bersalah. Dia tidak menyangka kedekatannya dengan Ryu membuka Anggi cemburu dan bermasalah pada hubungan mereka.


Ryu dan Anggi langsung melihat ke arahnya.


Ryu kaget dengan keberadaannya. Dia berharap Khanza tidak mendengar pertengkaran mereka.


Rara mendekati mereka.


"Kenapa kakak melarang kak Anggi untuk datang ke atas dan masuk ke kamar kakak?"


"Bukan begitu dek...!" Ryu gugup, Kelabakan.


"Rara juga sering masuk ke sana, buk Ratih, juga asisten kakak. Kenapa kak Anggi gak boleh? Kak Anggi kan pacar kakak?" kata Rara kembali memotong ucapan Ryu. Dia mendekati Anggi, memegang kedua tangan wanita itu.


"Kakak bahkan marah marah kepadanya. Kakak gak boleh kayak gitu lagi sama kak Anggi ! Lihat tuh, kak Anggi ketakutan dan sedih, kasihan kan? Awas ya kakak sampai marahin kak Anggi lagi!" kata Rara menatap menyorot pada Ryu.


Ryu membuang nafas kasar. Dia terdiam tak bisa membalas ucapan Khanza. Karena dia tidak ingin gadis ini mengetahui pertengkarannya dengan Anggi yang nantinya akan membuat Khanza sedih dan Kecewa padanya. Padahal Khanza sudah tahu. Hanya Khanza berpura pura tidak tahu.


Sedangkan Anggi tersenyum penuh kemenangan melihat Ryu diam seribu bahasa. Dia tidak menyangka Ryu takluk pada ucapan Rara.


****


Tinggalkan jejak dukungan ya kalau suka.


Like, komen, favorit, dan hadiah seikhlasnya 😁


Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2