
Ruang kerja.
Ryu baru menyelesaikan pertemuan dengan dua orang tamu penting. Setelah tamu itu pergi, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Rara. Rasa rindu menyeruak di hatinya meski baru beberapa jam di tinggalkan.
Entah apa yang di lakukan oleh adiknya itu setelah di tinggalkan bekerja pagi tadi. Dia segera menekan kontak Rara. Berdering.
Sementara di meja kerja, Caroline memperhatikan gerak geriknya diam diam sambil memasang telinga.
"Halo sayang....!" sapa Ryu begitu tersambung.
Caroline terkejut mendengar sapaan itu. Dia yang sedang membersihkan peralatan meja kerja Ryu dan juga gelas minum tamu tadi.
"Siapa itu? apa Anggi? atau gadis belia kemarin?" batinnya.
"Kakak... Assalamualaikum!" suara Rara dari seberang yang hanya bisa di dengar Ryu.
"Waalaikumsalam, lagi ngapain?"
"Rara mau siap siap shalat Dzuhur. Kakak sendiri sedang apa?"
"Baru selesai terima tamu." Kata Ryu seraya bangkit dari duduknya berjalan menuju tembok kaca untuk menjauh dari Caroline.
"Seharian ini Khanza ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain. Hanya melukis, nonton, baca majalah fashion bibi Nesa dan kak Cia, membaca koran, melihat koki memasak, teleponan sama papa mama, kak Riez Ryan dan kak Raka."
Ryu tersenyum mendengar banyaknya jawaban.
"Bosan nggak di rumah?"
"Bosan juga sih....!" kata Khanza sesuai apa yang dia rasakan.
"Ya sudah, sejam lagi kakak jemput. Setelah Dzuhur Khanza siap siap."
"Emang kita mau kemana?"
"Kemana aja Khanza suka. Sekarang Khanza shalat dulu. Kakak juga mau shalat."
"Yeee....!" Khanza melonjak girang dari seberang." Tapi.... bukannya kakak lagi kerja?" ucap Rara ragu mengingat pekerjaan Ryu yang selalu terbengkalai karena dirinya.
"Kakak gak ada lagi pekerjaan penting. Khanza gak perlu khawatir."
"Oke deh, Khanza shalat dulu, setelah itu siap siap! Assalamualaikum!" ucap Khanza dengan riang.
"Waalaikumsalam."
Telepon di matikan.
Simon masuk. Dia baru mengantar ke dua tamu tadi ke bawah.
"Simon, kau handle sisa agenda ku hari ini. Aku ada urusan penting di luar." katanya pada Simon.
"Baik tuan."
Caroline pura pura sibuk dan acuh. Lalu segera keluar setelah mendapat isyarat mata dari Simon.
"Ada urusan penting apa di luar? Apa berhubungan dengan telepon yang masuk tadi?" batinnya setelah keluar dari ruang bosnya.
Ryu sendiri segera masuk ke ruang pribadinya setelah wanita bule itu keluar. Karena dia tidak ingin orang lain tahu tentang ruang pribadinya itu.
.
.
Bertepatan dengan musim dingin. Rara mengutarakan keinginannya untuk main Ski salju. Terinspirasi saat melihat berita yang di lihat pada televisi. Masyarakat Perancis memanfaatkan musim dingin dengan bermain salju di beberapa resort Ski terbaik di kota ini.
Ryu mengajaknya di sala satu resort yang biasa di pergunakan untuk bermain Ski. Bagi pemula seperti Rara tentu sangat sulit dan butuh perjuangan untuk bisa berjalan di atas salju menggunakan papan Ski dengan bantuan tongkat Ski di tangannya. Berulangkali dia terpeleset di lintasan salju akibat kehilangan keseimbangan tubuh, membuat Ryu khawatir. Ryu tanpa bosan mengajarinya di bantu seorang instruktur.
Setelah letih bermain Ski, mereka mencicipi aneka makanan dan minuman lezat untuk mengisi kembali tenaga. Coklat panas, pasta, pancake, Zuppa sup menghangatkan tubuh mereka setelah beberapa jam bermain di dinginnya salju.
"Selanjutnya kita kemana?" tanya Rara.
"Khanza belum capek?" Ryu malah bertanya. Dia mengunci jaket tebal Khanza dan memasang syal Khanza. Terakhir memasang kous tangan dan topi gadis itu.
"Udah hilang setelah makan dan istirahat tadi. Rara udah kuat lagi." jawab Rara penuh semangat.
Ryu tersenyum.
"Terus Khanza mau kemana?"
"Ke Mall."
"Ada yang mau Khanza beli?"
Rara mengangguk.
Ryu melihat jam tangannya.
"Oke, kita ke Mall. Tapi sebelumnya kita cari mesjid dulu. 20 menit lagi shalat magrib." Ryu segera melarikan mobilnya mencari mesjid yang dekat dari tempat mereka.
Setelah melaksanakan shalat Magrib mereka menuju sebuah Pusat perbelanjaan. Keduanya berjalan sambil berpegangan tangan. Ryu tak melepaskan tangan Rara sedikit pun.
Ada ada saja tingkah lucu serta keseruan yang di lakukan Khanza.
"Kakak.....!"
Ryu menoleh. Dia melihat Khanza memakai kacamata hitam sambil berpose.
"Bagus nggak?"
Ryu memperhatikan sejenak. Lalu tersenyum seraya mengatakan oke.
"Kakak....!" terdengar panggilan lagi. Ryu kembali melihat padanya. Rara tampak berpose memakai topi pantai, topi koboi, memakai sepatu boots, high heels, mantel, jaket, jam tangan, anting dan lainnya. Berbagai barang di cobanya dan di perlihatkan pada Ryu. Tapi pada akhirnya tak ada satupun dari barang itu yang di belinya. Padahal semua barang itu terlihat indah dan keren di tubuhnya.
"Kenapa nggak di ambil? bagus kok di tubuh Khanza."
"Rara gak suka. Hanya ingin mencoba saja."
Ryu geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
__ADS_1
Khanza kembali membuat keseruan dengan melakukan aktraksi bersama para badut yang mengais rezeki, Ikut nimbrung dengan band remaja bule yang menjual suara menghibur para pengunjung. Lalu ikut bernyanyi dengan suaranya yang pas pasan. Ryu hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang lucu. Dia mengambil beberapa gambar lucu Khanza dalam foto.
Selanjutnya mereka menuju sebuah toko boneka. Barang yang ingin di beli Rara. Boneka Teddy bear, Mickey mouse, boneka Marsya keluaran terbaru menjadi incaran Rara. Matanya jelalatan dan melongo terpukau melihat beraneka ragam boneka yang imut dan keren. Harganya pun tak kalah fantastis. Rara berbaring di atas tumpukan boneka, berfoto di antara pajangan boneka dengan berbagai style. Ada ada saja kelakuan lucunya yang bikin Ryu geli tak bisa menahan tawa.
Tiga lusin boneka dalam berbagai jenis masuk ke dalam keranjang. Ryu melongo melihat boneka sebanyak itu. Bukan karena harganya yang fantastis, tapi buat apa Khanza membeli boneka sebanyak ini? Sementara di rumah punya nya banyak. Bukan hanya boneka itu yang di ambil Khanza, tapi juga beberapa jenis mainan anak lelaki.
Ryu segera menyelesaikan pembayaran dengan perasaan bingung penuh tanya.
"Kirim semua barang ke alamat kami." kata Ryu pada pelayan toko seraya memberi alamatnya.
"Bukan ke alamat kita kak, tapi ke sini." Rara memberikan sebuah alamat. Ryu membaca alamat yang tertulis pada kertas itu.
"Panti asuhan??" tanya Ryu begitu membaca alamat panti asuhan di kertas itu.
Rara mengangguk. Lalu menyerahkan kertas itu pada pelayan. Sesuai yang di baca pada koran tadi pagi. Ada yang menggunggah hatinya hingga memberi mainan pada anak anak panti tersebut.
"Tolong di kirim secepatnya ya mbak?"
"Baik Nona." jawab pelayan sopan.
"Ayo kak, kita ke sana." Rara menunjuk ke atas seraya menarik tangan Ryu keluar dari toko itu.
Ryu masih berpikir tentang panti asuhan itu. Jadi mainan mainan itu di beli bukan untuk dirinya tapi untuk anak anak panti asuhan?
Ryu tersenyum melihat pada adiknya ini. Sifatnya sama seperti ibunya, Ara. Yang suka berbagi dan peduli pada sesama. Ryu tak ingin bertanya dari mana Khanza tahu tentang panti asuhan itu. Dia ikut senang melihat kebahagiaan di wajah gadis ini. Mereka kembali berjalan. Menelusuri pertokoan di gedung besar bertingkat itu. Semakin naik ke atas. Tiba tiba Khanza duduk jongkok.
"Khanza kenapa?"
"Kaki Rara pegal dan sakit. Khanza capek!" keluh Rara merasakan sakit dan pegal pada tumit dan betis. Dia memegang kedua bagian tubuhnya itu.
Ryu segera jongkok. Lalu mengangkat tubuh Khanza di dudukan pada tempat duduk. Keduanya duduk. Ryu membuka sepatu Khanza, meletakkan kaki Khanza di atas pahanya, kemudian memijit kedua kaki itu bergantian.
Khanza enakan di pijat. Dia sesekali tersenyum melihat pada Ryu. Ryu juga tersenyum melihatnya. Beberapa menit kemudian.
"Udah kak....!"
"Udah gak sakit lagi?" tanya Ryu.
Khanza mengangguk.
Ryu kembali memasang sepatu Khanza. Lalu dia segera duduk jongkok ke bawah.
"Naiklah ke punggung kakak!" kata Ryu seraya menyentuh punggungnya.
"Untuk apa?" Rara kaget.
"Kakak tidak ingin kamu capek lagi."
"Rara udah baikan kok."
"Nanti sakit lagi. Sudah, Khanza nurut saja! Kakak gak mau Khanza merasakan sakit lagi!" kata Ryu bersikeras.
"Tapi Rara berat. Kakak juga pasti capek kan?"
"Nggak, kakak masih kuat kok. Ayo cepat naik!"
"Kakakku terbaik. Rara menyayangi kakak!" ucapnya terharu. Tersenyum kembali melihat mata Cio.
Ryu terkejut dengan apa yang dia lakukan. Lalu membalas senyuman manis itu.
"Kakak lebih menyayangimu. Khanza juga adik kakak yang paling baik." memegang wajah Khanza lalu mengecup kening gadis itu. Keduanya saling menatap tersenyum.
Rara tertawa kecil seraya menyentuh kan hidung mereka. Keduanya tertawa.
Rara segera naik ke punggung Ryu karena kakaknya itu menarik tangannya.
Ryu segera berdiri dan memperbaiki posisi
tubuh Khanza, Kemudian segera melangkah.
"Rara berat nggak?" tanya Rara tepat di telinga Ryu.
"Nggak, malah sangat ringan. Khanza harus lebih banyak makan lagi." kata Ryu tersenyum. Dia merasa geli merasakan hembusan nafas Khanza pada telinganya.
"Nggak ah, nanti Rara malah gendut!"
Ryu tertawa kecil mendengarnya. Dia melihat jam tangannya. Sudah jam 19.30.
"Apa masih ada yang ingin Khanza beli?"
"Nggak ada."
"Ya sudah, kalau gitu kita isya dulu, terus makan malam, lalu pulang."
"Oke kak.....!"
Mereka shalat isya di gedung itu. Kebetulan gedung mewah itu menyediakan tempat untuk shalat bagi pengunjung muslim. Setelah isya mereka makan di restoran. Rara makan dengan lahap karena dia merasa lapar.
"Ayo kak pulang. Rara ngantuk!" kata Rara. Setelah kenyang dia malah merasa ngantuk.
Ryu tersenyum melihat wajah kusut Khanza.
"Ayo.....!" dia bangkit berdiri seraya memegang tangan kanan Khanza.
"RARA...!" terdengar sebuah sapaan dari belakang mereka. Keduanya menoleh pada suara panggilan itu.
"Rangga?" ucap Rara setelah melihat orang yang menyapanya. Pemuda tampan seusai dirinya. Hidung mancung, kulit putih, tubuhnya tinggi proposional.
Yang di panggil Rangga tersenyum dan mendekati mereka. Rangga adalah teman sekelas Rara.
Rara batal berdiri. Sementara Ryu diam hanya melihat Rangga.
"Hay Ra, kamu di sini?"
"Iya aku liburan kesini. Kamu juga?" Rara tersenyum menatapnya.
Rangga mengangguk.
"Nggak nyangka ketemu kamu di sini!" katanya masih dengan senyuman di wajah.
__ADS_1
"Aku juga sama. Ayo duduk." ajak Rara duduk. Rangga segera duduk berhadapan dengan Rara.
Ryu juga kembali duduk melihat Rara tak jadi berdiri dan malah meladeni Rangga.
"Kamu sudah lama di sini?" tanya Rangga.
"Iya, sejak hari ke dua liburan.Tapi aku masih ke Amsterdam, terus ke sini."
"Oh gitu.....!" Rangga mengangguk mengerti.
Rangga menoleh pada Ryu. Ingin tahu tentang pria ini.
Rara mengerti. Dia menoleh pada Cio di sebelah yang sedari tadi hanya mendengar percakapan mereka.
"Ini kakakku!" katanya memperkenalkan Ryu.
"Kakakmu?" dahi Rangga mengerut. Karena dia tahu ketiga kakak Rara.
"Bukannya kakak mu....!"
"Kakak sepupu. Namanya kak Ryu!" kata Rara seraya memegang tangan Ryu.
"Ohhh.....!" ucap Rangga. Dia mengira pacar Rara. Karena sejak tadi dia memperhatikan keduanya sedang makan sambil suap suapan dengan ekspresi wajah bahagia seperti pasangan kekasih. Dia melihat kedekatan dan kebersamaan mereka dari jauh.
"Kak, kenalin....ini Rangga, temanku!" kata Rara pada Ryu.
"Halo kak, aku Rangga teman kelas Rara!" Rangga segera memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan kanannya.
Ryu segera menerima tangan Rangga.
"Ryu....!" ucapnya datar tanpa ekspresi. Lalu menarik tangannya.
"Khanza, ayo pulang, ini sudah jam 9." ajak Ryu.
"Bentar kak, Rara Mau ngomong dulu sama Rangga." kata Rara.
Ryu membuang nafas berat.
"Kamu sendiri sejak kapan ke sini? Sudah lama?" Rara bertanya kembali pada Rangga.
"Aku baru tiba dua hari yang lalu! Kamu tinggal bersama kakak mu?"
"Iya." Rara mengangguk.
"Boleh nggak aku mengunjungi mu? Aku nggak punya teman di sini. Kebetulan ketemu kamu, aku senang bangat!"
"Tentu saja boleh." kata Rara dengan senang.
"Aku juga nggak punya teman di sini!"
"Kebetulan bangat kita sama. Alamat mu?" tanya Rangga ikut senang.
Wajah Rara mengernyit, dia tidak tahu alamat mansion Ryu. Rara menoleh pada Ryu.
"Kak, boleh nggak Rangga main ke rumah kakak? Rara kan nggak punya teman di sini. Biar Rara nggak bosan dan mengganggu pekerjaan kakak terus. Boleh ya?" pinta Rara.
Ryu melihat pada Rangga. Entah kenapa dia tidak menyukai Rangga. Hatinya sungguh tidak suka pemuda ini dekat dengan Rara.
"Kak....! biar Rara punya teman di rumah! Boleh ya?" rengek Rara kembali.
Ryu membuang nafas kasar. Lalu mengambil kartu nama di dompetnya dan di berikan pada Rangga. Tak tega menolak Rara.
Rangga segera mengambil kertas kecil itu. Membaca alamat itu, lalu menyimpan di saku.
"Aku pasti akan datang." katanya menatap Rara dengan wajah sumringah. Tiba-tiba tangannya terulur ke rambut Rara. Dia memperbaiki jepit rambut Rara.
"Jepit rambut mu miring!" katanya kemudian.
"Ohh, aku gak tahu. Terimakasih!" ucap Rara salah tingkah seraya meraba jepit rambutnya. Ryu tidak tenang di tempat duduknya. Dia menatap tajam pada Rangga. Menatap wajah tampan yang terus tersenyum manis pada Rara. Rangga memang memiliki wajah ganteng dan cool. Tubuhnya tinggi ideal.
"Apa dia salah satu buaya tampan yang suka sama Khanza?" batinnya menatap Rangga dengan mata elangnya. Dia teringat pada cerita Khanza yang mengatakan banyak cowok teman di sekolahnya yang suka dan naksir pada dirinya.
Rangga tiba tiba berdiri seraya menarik tangan kiri Rara.
"Ikut aku, kita main game! Kak Ryu, aku ajak sebentar ya?" katanya segera tanpa mendengar persetujuan Ryu.
Rara kaget, begitu juga Ryu.
Rara terpaksa berdiri dan ikut melangkah mengikuti tarikan kuat pada tangannya. Ryu tidak bisa berkata apa-apa hanya melongo. Dia mendengus kesal pada Rangga karena asal mengajak Rara tanpa mendengar persetujuannya. Tatapannya tajam Semakin tak suka pada pemuda itu. Apalagi melihat Rangga memegang tangan Khanza. Entah kenapa dia tidak senang dan semakin tak suka.
Rangga mengajak Rara mencoba games simulator. Rara antusias menerima tantangan Rangga. Keduanya bermain tembak tembakan. Terus berpindah ke balap motor, dan balap mobil. Sesekali terdengar kelakar dari mereka, berusaha untuk menang dan menjatuhkan alwan.
Dari jauh Ryu menatap dengan perasaannya sendiri. Melihat wajah Khanza yang tampak senang dan gembira. Tak ada lagi rasa ngantuk dan lelah terlihat. Khanza tampak bahagia dengan keseruan permainan mereka. Bahkan saking serunya bermain bersama Rangga, membuat Khanza lupa pada dirinya.
Ryu membuang nafas kecewa. Sejam berlalu dia segera menarik tangan Khanza dari pegangan tangan Rangga. Saat itu Rara dan Rangga tampak melakukan dance sambil berpegangan tangan karena takut jatuh. Ryu tidak tahan lagi melihat kedekatan mereka. Hatinya sakit dan muncul perasaan marah.
"Khanza, sudah waktunya pulang." katanya menatap tajam pada keduanya.
"Tapi kak, ini lagi seru-serunya. Bentar lagi selesai!" ujar Khanza melepas tangan Ryu.
Ryu mendengus pelan.
"Kakak mengantuk! Ini sudah jam 10. Ayo!" kata Ryu seraya menarik tangannya. Mau tidak mau Rara mengikuti langkah Ryu.
"Pulanglah Khanza. Nanti kapan-kapan kita main lagi. Kakakmu benar, ini sudah lat." kata Rangga mendukung Ryu, ikut memberi pengertian pada Khanza.
Ryu mengeram dalam hati mendengar ucapannya. Dia kembali menarik tangan Khanza.
"Sampai jumpa lagi!" kata Rangga sedikit keras melambaikan tangan.
Rara melambaikan tangan kepdanya. Kakinya sedikit berlari mengikuti langkah panjang Ryu yang cepat.
Dalam perjalanan pulang Rara sangat antusias berbicara mengenai keseruan permainan games tadi. Tanpa tahu kalau suasana hati Ryu saat ini sedang buruk. Ryu hanya diam tanpa mengucap satu kata pun. Tatapan datar dan tajam ke depan. Kedua tangan memegang kuat pada kemudi menahan kemarahan.
Hampir sejam berlalu, tak terdengar lagi celoteh Rara. Gadis itu tertidur karena kelelahan bicara dan juga karena sangat mengantuk. Kepalanya tersandar pada lengan Ryu. Kedua tangannya memeluk lengan Ryu.
******
Dukung ya, tinggalkan jejak 😘
__ADS_1