Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
38. Sakit hati Ryu


__ADS_3

"Ryu....kau tidak bisa seperti ini. Kau tidak boleh melakukan hal ini padaku." Kata Anggi begitu di izinkan masuk ke dalam ruang kerja Ryu. Itu pun setelah dia memohon berulang kali dengan membuang rasa malunya.


Ryu sendiri terpaksa membiarkan dia masuk karena menjaga imagenya dari karyawan. Karena sebagian karyawan mengetahui kalau Anggi adalah kekasihnya.


"Aku wajar marah kepadamu. Aku kekasihmu.Tidak akan ada wanita yang bisa terima melihat wanita lain tidur di ranjang kekasihnya."


"Khanza adikku. Sudah ku katakan berulangkali dia adikku bukan wanita lain." Ryu menatap Anggi tajam.


"Meski dia adikmu dan kau kakaknya, yang kalian lakukan sudah tidak pantas Ryu. Tidur bersama dalam ranjang yang sama? Dan keadaan tubuhnya tak memakai pakaian. Kau juga baru keluar dari kamar mandi. Siapa pun yang melihat kalian pasti akan berpikir buruk! Dan aku sebagai kekasih mu tentu tidak terima, marah dan cemburu. Seharusnya kau mengerti kenapa aku bersikap seperti ini!"


Ryu kembali menatap tajam.


"Kami tidak serendah itu Anggi. Kami tahu batasan hubungan di antara kami! Kau melihat Khanza di atas ranjang ku? Karena dari kecil Khanza sudah terbiasa tidur di kamarku. Dari kecil kami sudah terbiasa tidur bersama."


"Dan apa yang kau lihat oleh matamu adalah sesuatu yang salah dan tidak benar! Khanza memakai pakaian tidur. Kau terlalu di kuasai oleh amarah hingga tidak melihat jelas apa yang ada di depan matamu. Apa kau melihat kami tidur bersama saat itu? Apa kau melihat aku berada di ranjang bersamanya?"


"Dengan melihatku keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk maka kau berasumsi bahwa aku dan Khanza melakukan hal kotor seperti yang kau tuduh kan?"


"Aku mandi pagi karena aku harus bersiap ke kantor. Dan itu sudah menjadi kebiasaan ku sejak dulu." kata Ryu menahan kemarahan.


Anggi terdiam. Memang apa yang di katakan Ryu benar. Dia hanya melihat sosok Khanza sendiri yang berada di atas ranjang saat masuk ke kamar. Tidak berselang lama kemudian Ryu keluar dari kamar mandi. Tapi bisa saja Ryu berbohong dan mengarang cerita. Melihat ranjang yang berantakan, sudah pasti karena suatu aktivitas. Aktivitas dari Keduanya tidur berdua menghabiskan malam bersama. Karena dia yakin Ryu pasti tidak akan bisa menahan dorongan hasrat dari reaksi obat perangsang itu.


Dia hendak bicara tapi Ryu kembali angkat suara.


"Sudah cukup, sebaiknya kau pergi. Aku tidak mau dengar apa pun yang keluar dari mulut mu. Jangan pernah menghina Khanza lagi. Dia tidak serendah apa yang kau pikirkan. Dan aku juga tidak serendah dirimu yang bisa melakukan cara kotor menjijikkan untuk mendapatkan sesuatu."


Anggi terkejut. Ternyata Ryu mengetahui rencananya semalam mengenai obat perangsang itu untuk menjebak dirinya?


"Ryu.....!" memegang lengan Ryu.


"Aku kecewa padamu Anggi. Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku capek meladeni mu terus." sentak Ryu seraya menepis tangannya.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku punya alasan melakukan itu."


"Keluar.....!"


"Dengar aku dulu! Ryu....!" berusaha memegang tangan Ryu, tapi Ryu kembali menepisnya.


"Apapun alasannya, seharunya kau tidak melakukan itu." sentak Ryu.


"Ryu.....!"


"Dengan apa yang telah kau lakukan padaku, aku akan memikirkan kelanjutan hubungan kita." Ryu kembali menatap tajam.


Anggi terperangah.


"Tidak Ryu....! jangan seperti ini. Ku akui aku salah. Aku minta maaf.....! Aku melakukan itu karena tidak ingin kehilanganmu." Anggi berusaha untuk memeluk Ryu. Tapi dengan gerakan cepat Simon menahannya.


"Bawa keluar Anggi dari hadapan ku sebelum melakukan hal yang lebih memalukan lagi!" kata Ryu. Dia segera berjalan menjauhi Anggi dengan berdiri di kaca tembok melihat pemandangan di luar.


Anggi berontak dalam pegangan Simon karena tidak terima di perlakukan seperti ini.


"Tenanglah nona. Tenangkan diri anda. Sebaiknya anda keluar dengan baik baik. Tadi anda masuk dengan cara yang memalukan dan menjadi buah bibir para karyawan. Setidaknya keluarlah dengan cara terhormat. Biar orang tidak akan semakin mencibir anda, yang akan semakin membuat image anda bertambah buruk di mata mereka." kata Simon sambil tersenyum.


Anggi mantapnya sinis. Ingin sekali dia menggampar wajah yang tersenyum mengejeknya ini. Tapi benar juga apa yang di katakan pria blasteran ini. Dia segera melepaskan pegangan Simon.


Berusaha merendam emosinya. Menenangkan diri dan hatinya yang masih di kuasai amarah.


"Silahkan...!" kata Simon. Mempersilahkannya untuk keluar setelah melihat dirinya sedikit tenang.


Anggi masih melihat pada Ryu yang tampak sedang menghubungi seseorang. Dia berharap pria itu masih melihatnya sebelum dia keluar. Tapi ternyata Ryu malah fokus dengan ponselnya.


Anggi segera berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia memasang senyum di wajahnya. Lalu melenggang pergi dengan elegan. Dan itu cukup membuat Caroline melongo.


.


.


Setelah menerima telepon dari Ratih, Ryu buru buru meninggalkan kantor. Dia pulang ke rumah. Ratih mengatakan Khanza belum makan siang. Setelah melaksanakan shalat Zhuhur, khanza malah tidur.


"Saya sudah meminta nona untuk makan, tapi nona menolak. Katanya masih kenyang." kata Ratih begitu Ryu tiba di rumah.


"Siapkan kembali makanannya, saya akan membujuknya." kata Ryu.


"Tuan....!" panggil Ratih, membuat langkah Ryu terhenti.


Ryu melihat wajah wanita yang sudah mengikutinya sejak belasan tahun ini. Bukan hanya mengikuti tapi juga menjadi pengasuhnya sejak dia melanjutkan sekolah ke negera ini. Dan hanya Ratih yang sangat tahu tentang dirinya.


"Ada apa buk....?"


"Nona Khanza banyak menangis seharian ini!" kata Ratih lemah. Dia tidak tahu apa yang menjadi penyebab kesedihan Khanza, tapi dia ikut merasakan kesedihan gadis belia itu.


Ratih kembali turun setelah pamit.


Ryu membuang nafas berat kesedihan. Dia segera melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar Khanza.


Dia mengetuk berulangkali.


"Masuk." terdengar suara Khanza dari dalam.


Ryu segera membuka pintu setelah mendengar suaranya. Dia masuk dan menutup pintu kembali. Di dapatnya Khanza bukan tidur tapi sedang berdiri di depan cermin. Pakaiannya juga sudah berubah.


Ryu segera mendekatinya. Tak ada penyambutan riang dan manja seperti biasanya. Khanza hanya diam melihat kedatangannya dari pantulan cermin.


"Dek.....!"


"Kakak sudah pulang?" Rara sendiri kaget melihat Ryu kembali.

__ADS_1


Ryu senang mendengar pertanyaan itu. Dia mengangguk sambil tersenyum. Berharap semuanya sudah membaik. Dia melangkah berdiri di belakang Khanza. Memegang bahu gadis itu dan mencium puncak kepalanya.


Rara diam tanpa ekspresi. Sibuk menyisir rambutnya.


"Apa Khanza mau keluar?"


"Iya. Rara ingin menghubungi kakak untuk meminta izin. Tapi karena kakak sudah di sini, Rara beritahu langsung saja."


"Khanza mau kemana?"


"Ke Mall dan melihat bazar di taman kota."


"Biar kakak temani, Kebetulan kakak tak ada pekerjaan penting setelah ini."


"Tidak perlu."


"Khanza kan sedang tidak sehat. Kakak tidak ingin terjadi sesuatu padamu!"


"Rara gak pergi sendiri kok!"


Wajah Ryu mengernyit.


"Memangnya pergi sama siapa? buk Ratih?" tanyanya.


"Tidak. Pergi dengan Rangga. Sebentar lagi dia akan tiba untuk menjemput Rara."


Senyum di wajah Ryu langsung hilang.


"Rangga?" entah kenapa dia tidak suka dengan jawaban itu. Hatinya terasa sakit.


"Iya...! Rara bosan di rumah, makanya Rara mengajak Rangga untuk pergi jalan-jalan! Dan dia bersedia menemani Rara!" kata Rara.


"Kakak kan sudah bilang kalau Khanza bosan di rumah atau butuh sesuatu hubungi kakak!"


"Rara nggak ingin mengganggu pekerjaan kakak! Rara sudah bilang ada Rangga yang akan menemani Rara untuk main dan jalan jalan. Rara tidak akan mengganggu pekerjaan kakak lagi. Karena sejak kedatangan Rara ke sini, pekerjaan kakak selalu terbengkalai. Rara tak ingin mengganggu pekerjaan kakak lagi!" kata Rara tersenyum.


Tapi Ryu tahu itu adalah senyum yang di paksakan.


"Kakak sudah bilang, kakak tidak terganggu dan tidak masalah menemani Rara kapan pun. Kakak malah senang menemanimu. Dan pekerjaan kakak juga tak terbengkalai sama sekali."


"Tapi kak Anggi juga butuh kakak. Kalau hanya terus menemani Rara, kapan kakak bisa punya waktu untuk kak Anggi? Sejak kedatangan Rara kesini, perhatian kakak jadi berkurang padanya. Rara jadi nggak enak padanya. Rara seperti merampas perhatian kakak darinya. Jika kakak tidak sibuk sekarang ini, sebaiknya temui dia. Sempatkan waktu bersamanya. Kak Anggi pasti senang sekali karena sudah lama kalian tidak menghabiskan waktu bersama." kata Rara kembali tersenyum.


Ryu menangkap sesuatu yang aneh dari perkataan itu.


"Apa Anggi mengatakan sesuatu pada Khanza?'


"Tidak." Rara menggeleng.


Ryu memegang ke dua tangannya.


"Khanza, kakak ingin bicara dengan mu!"


"Kita harus bicara sekarang!" Ryu menatapnya serius.


"Nanti saja. Ini Rangga sudah menelepon!" kata Rara bertepatan ponsel berbunyi.


Ryu melihat itu. Dia segera mematikan panggilan itu. Lalu mengangkat tubuh Rara di dudukan di atas meja rias.


"Kenapa di matikan? Kakak gak sopan!" kata Rara menatap kesal. Dia hendak menghubungi Rangga kembali. Tapi Ryu merampas benda itu dan di non-aktifkan. Lalu menaruh ponsel itu di saku celananya.


Rara semakin kesal.


"Kembalikan ponsel Rara!"


"Akan kakak kembalikan setelah kita selesai bicara." kata Ryu seraya menatap wajah yang bukan hanya terlihat kesal, tapi juga sedih.


"Bicara apa?" Rara menatapnya.


"Dengan sikap Khanza yang tidak biasanya. Katakan ada apa?"


"Ada apa bagaimana?"


"Sikap Khanza, kenapa berubah?"


"Berubah bagiamana?" tanya Khanza menatap tajam.


"Khanza tidak seperti biasanya. Sejak tadi pagi Khanza banyak diam, tidak ceria dan seperti menjaga jarak dari kakak!"


"Banyak diam gimana? Ini lagi ngomong kan? Terus jaga jarak bagaimana? Ini kita bukannya lagi dekat?" kata Rara menatap kesal. Ryu juga menatapnya. Dia tidak menyangka Rara akan menjawab seperti itu.


"Bukan jawaban itu yang kakak ingin dengar." Ryu menatapnya.


"Terus apa? Kakak terlalu berlebihan. Sekarang kembalikan ponsel Rara. Rara mau pergi. Rangga pasti sudah berada di bawah." kata Rara seraya mengambil ponselnya di saku Ryu, tapi Ryu menghindar dan menahan tangannya.


Rara menatapnya sedih. Dia segera turun. Tak mengambil ponselnya lagi. Dia berjalan mengambil tas Selempang nya.


Ryu kembali bingung. Biasanya jika dia menggoda dan menjahili Khanza, gadis itu tidak akan terima. Khanza akan merebut sampai barang nya kembali. Khanza juga akan membalasnya. Tapi kali ini gadis itu diam dan membiarkan.


Ratih datang memberi tahu bahwa makanan sudah siap. Lalu dia kembali turun.


"Khanza sebaiknya makan siang dulu! Kita makan sama sama!"


"Rara mau makan di luar bersama Rangga."


"Kakak tidak mau mendengar penolakan!"


Rara hanya menatapnya. Lalu kembali melangkah menuju pintu.

__ADS_1


Ryu gusar. Dia melangkah cepat mendahului Khanza sebelum keluar. Lalu menutup pintu. Dia menekan tubuh Khanza di pintu. Membuat gadis itu kaget.


"Kakak mau apa lagi? Mundur, jangan dekat dekat." katanya.


"Ada apa sebenarnya dengan mu? Jawab pertanyaan kakak." suara Ryu mulai meninggi.


"A....apa? Rara sudah menjawab pertanyaan kakak." Rara mulai takut.


"Jangan berpura-pura tidak mengerti Khanza!"


Suara Ryu meninggi.


Rara diam. Pandangannya menunduk ke bawah tidak berani menatap mata Ryu.


"Semalam kita baik baik saja. Tapi Sejak tadi pagi kau berubah. Katakan ada apa?" Ryu menatap tajam.


Rara tetap diam dan menunduk.


"Tatap mata kakak Khanza!" Ryu memegang dagunya dan di angkat ke atas.


Keduanya saling menatap dengan bola mata bergerak ke sana kemari.


Jantung Rara berdegup kencang dekat kedekatan ini. Dia mulai takut. Tidak seperti biasanya dia yang berani menatap dan menjawab kata kata Ryu.


"Sebenarnya apa masalahmu? Apa ada kata kata dan sikap kakak yang menyakiti mu?"


Rara menggeleng.


"Lalu kenapa kau seolah-olah menjaga jarak dari kakak? Kau bahkan menyuruh kakak untuk jangan dekat-dekat dengan mu. Kenapa? Ini bukan dirimu dek! Kau yang sangat suka dekat dekat dengan kakak. Tidak mau jauh dari kakak. Tapi sekarang kau malah meminta kakak untuk menjauhi mu! Katakan ada apa?"


Tetap tak ada jawaban.


Ryu memegang wajah Khanza, di hadapkan padanya.


"Apa karena kakak mencium mu semalam? Kau marah dan sedih karena kakak mencium mu?" menatap netra Khanza yang merah.


"Ti- tidak!" jawab Rara terbata bata. Dia kaget dengan pertanyaan itu. Melepas tangan Ryu dari wajahnya.


Ryu ingin membuktikan ucapan itu. Dia mendekatkan wajahnya hendak mencium kening Khanza, tapi Rara segera berpaling.


"Katanya tidak, terus apa ini? Kenapa kau menghindar?" kata Ryu agak keras.


Rara tetap diam, hanya deru nafasnya yang terdengar tak beraturan.


Ryu kembali memegang wajah Rara dan mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir Khanza seperti biasa mereka lakukan. Tapi Rara kembali berpaling. Ryu membuang nafas kasar.


"Terus apa ini Khanza? Katanya tidak, tapi nyatanya kau menghindari kakak!" masih suara keras.


Ryu kaget melihat tangan Khanza yang gemetar. Apa sekarang dia takut padaku? batinnya.


Ryu menyadari suaranya yang keras.


"Khanza, maaf. Kakak tidak bermaksud bicara keras tadi. Kakak hanya bingung dengan sikapmu!" Ryu memegang ke dua tangannya yang gemetaran. Bahkan kedua mata teduh itu di lihatnya berkaca kaca.


"Dek.... Maafkan kakak!"


Rara segera menarik tangannya.


"Kembalikan ponsel Rara!" menahan diri untuk tidak menangis.


Ryu segera mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya, lalu di berikan langsung di tangan Khanza. Dia tidak tahan melihat kesedihan di mata gadis ini.


Rara segera mendorong Ryu, lalu membuka pintu dan keluar.


Rara turun menggunakan lift. Di bawah sudah ada Rangga menunggunya. Rangga duduk di ruang tamu di temani buk Ratih.


Pemuda tampan itu tersenyum melihat kedatangan Rara.


"Ayo Rangga kita pergi." ajak Rara.


"Kamu sudah minta izin pada kakakmu?" tanya Rangga seraya berdiri.


Rara mengangguk.


"Ya sudah, kita pergi sekarang! Buk, kami permisi dulu!" pamit Rangga pada Ratih.


"Tolong jaga nona Rara dengan baik." kata Ratih sopan.


Rangga mengangguk.


Keduanya melangkah pergi menuju pintu.


"Tunggu....!" suara Ryu dari belakang mereka.


Langkah mereka terhenti. Keduanya menoleh kebelakang. Rara tidak tenang, dia khawatir Ryu melarangnya pergi.


Ryu mendekati mereka. Dia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.


"Bawah ini dan pakai untuk keperluan belanja mu! Kode PIN nya tanggal lahir mu!" Ryu menaruh kartu kreditnya dalam genggaman Khanza. Rara menatap benda tipis berwarna hitam itu di telapak tangannya. Lalu segera menarik tangan Rangga kembali berjalan. Keduanya berjalan sambil berpegangan tangan.


Sakit hati Ryu melihatnya. Berbaur dengan rasa amarah dan kecewa.


Sebenarnya dia tidak akan mengizinkan Khanza pergi, tapi dia tidak mau melihat gadis itu sedih dan kecewa padanya.


******


Jangan lupa dukungnya

__ADS_1


Tinggalkan like komen dan hadiahnya.


Terimakasih.


__ADS_2