
Indonesia
Rafa mendatangi kantor Ara. Sebuah perusahaan Fashion Hijab.
Dia baru saja tiba dari Singapura. Begitu menginjakkan kaki ke tanah air, dia langsung menuju tempat kerja istrinya itu. Tentu saja karena rasa rindu dan juga sesuatu yang di rasakan menggangu hatinya.
Rafa masuk ke ruang kerja Ara secara diam-diam. Asisten pribadi Ara kaget melihat kedatangannya.
Rafa segera memberi isyarat untuk diam dan menyuruhnya ke luar. Sang asisten segera keluar pelan pelan dan mengunci pintu.
Rafa melihat Ara sedang berdiri di dekat jendela kaca sambil melihat ke luar. Ara tampak serius melihat pemandangan luar sana. Sudah hampir sejam Ara berdiri mematung di tempat itu dengan pikirannya sendiri.
Rafa membuka jas dan dasinya, di letakkan di sofa. Lalu perlahan lahan berjalan mendekati Ara. Begitu dekat, dia langsung melingkarkan kedua tangannya memeluk perut istrinya.
"Assalamualaikum sayang." ucapnya lembut.
Di susul memberi ciuman di pipi, bahu dan leher istrinya yang tertutup jilbab.
Ara sangat kaget. Dia langsung memegang ke dua tangan kekar yang bertaut di perutnya. Begitu mencium aroma wangi parfum, juga pelukan yang tidak asing lagi, dia sudah tahu siapa si pemeluknya. Buru buru dia melap air matanya.
"Waalaikumsalam." balasnya segera. Lalu membalikkan tubuhnya.
"Kakak?" melihat wajah tampan suaminya yang sedang tersenyum manis.
"Iya sayang."
"Kakak ada di sini? Bukannya lusa baru kembali?" Ara ikut tersenyum.
"Aku sangat merindukanmu. Makanya cepat kembali." ucap Rafa seraya mengecup kening dan bibir Ara.
"Malu ah, ada asisten ku di sini." kata Ara melihat suaminya yang mulai nakal menggoda bibirnya.
"Aku sudah menyuruhnya keluar. Kamu tidak perlu Khawatir." kata Rafa dengan kerlingan nakal.
"Ihh kakak...." Ara mendesis kesal menatap dengan wajah manyun.
Rafa terkekeh dan kembali memeluk pinggang Ara. Plus mendaratkan kecupan di bibir.
"Kenapa kakak cepat kembali?"
"Sudah ku bilang kan merindukanmu!"
"Sudah ah bercanda nya." Ara mendesis kesal. Baru saja berpisah beberapa hari sudah rindu.
"Benar sayang, aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukan ku? kau tidak senang aku pulang?" ucap Rafa kembali menggoda.
Ara tersenyum malu malu. Jangan di tanya lagi, tentu saja dia rindu dan juga senang. Tapi terlalu malu untuk jujur dan bilang "iya".
Rafa tersenyum melihat wajah merah merona ini. Wajah yang semakin cantik dan menenangkan dengan balutan hijan. Tapi Wajah itu saat ini terlihat sembab karena sedih.
__ADS_1
"Kenapa harus malu sayang, aku suamimu!" godanya kembali. Heran sejak dulu istrinya ini tetap merasa malu padanya.
Ara tak menjawab, malah menyembunyikan wajahnya di dada Rafa. Rafa suka dengan tingkah seperti ini. Sungguh menggemaskan dan seolah menggodanya.
Dia kembali memeluk tubuh Ara. mencurahi banyak kecupan di puncak kepala Istrinya. Ara membenamkan wajah di dada suaminya, sekaligus menekan kesedihannya.
Keduanya terdiam beberapa saat. Hingga beberapa detik berlalu Rafa mengangkat wajah Ara yang tampak basah. Istrinya ini baru saja menumpahkan kesedihan dalam pelukannya.
"Sayang, jangan sedih!" Rafa menyapu air matanya.
"Apa kakak juga merasakan?"
"Tentu saja, dia putri kita. Aku mendengar suaranya mengatakan dia sangat merindukan kita."
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Ara terisak.
"Hanya dia yang tahu. Kau sendiri tahu anak itu suka sekali memendam masalah dan juga kesedihannya seorang diri tanpa mau berbagi pada siapa pun termasuk kita! Aku rasa dia juga tidak mau berbagi pada Cio."
"Kasihan dia. Haruskah dia akan merasakan kesedihan itu untuk ke dua kalinya? Memendam seorang diri, menutupi dari kita! Sungguh sebagai seorang ibu, Aku tidak tega melihatnya. Hatiku sakit." Ara semakin terisak seraya menekan dadanya.
"Sayang sudah, Jangan menangis. Nanti kau sakit. Aku tidak mau terjadi apa apa pada dirimu." Rafa memeluk memberi ketenangan pada wanita yang sangat di cintainya ini.
"Anak itu memang sangat manja. Tapi dia memiliki jiwa serta hati yang kuat untuk memendam kesedihan dan juga masalahnya! Sudah, kau jangan sedih. Ada Cio di sana bersamanya. Kita sendiri tahu Cio sangat menyayanginya, tidak mungkin Cio hanya akan berdiam diri." Rafa terus menenangkan sambil mengelus lembut punggung Istrinya.
Karena alasan ini dia buru buru kembali dari Singapura. Dia yakin Ara pasti merasa kan apa yang dia rasakan. Dan dia tidak mau Istrinya menanggung kesedihan seorang diri. Ara sangat butuh seseorang untuk berbagai kesedihannya, dan itu hanya dirinya. Karena hanya dirinya yang sangat mengerti Ara. Ara juga tidak mau membagi kesedihannya selain pada dirinya.
Ikatan batin yang kuat antara mereka pada Riez, Ryan, Raka dan Ara, bahkan pada Cio dan Cia. Mereka akan ikut merasakan jika anak anak mereka sedang mengalami masalah dan juga saat lagi sakit dan sedih. Rafa selalu tahu apa yang terjadi pada anak anaknya. Termasuk yang sekarang terjadi pada Khanza. Kesedihan yang di rasakan putrinya itu. Tapi meskipun dia dapat merasakan apa yang terjadi pada anak anaknya, dia tidak bisa mengetahui isi hati mereka. Terlebih lagi pada Khanza. Yang sangat pintar menyembunyikan, menutupi masalah dan kesedihannya. Entah apa yang membuat putri semata wayangnya itu sedih dan berubah sikap. Dan dia akan mencari tahu hal itu.
"Sayang sudah, berhentilah menangis. Aku paling tidak tahan melihat air mata mu." Rafa memegang wajah Ara dan mengecup bibir merah alami itu.
Ara masih menangis terisak karena teringat anak gadisnya yang berada sangat jauh di Eropa.
Tapi meski pun ada di sampingnya, Khanza tidak akan mau berbagi kesedihan kepadanya. Anak itu sangat berbeda dari kakak kakaknya yang sangat terbuka dalam hal apapun pada dirinya.
Rafa segera mengangkat tubuh Ara, membawanya ke sofa. Di dudukkan Istrinya ke pangkuannya. Tingkah romantis yang tidak pernah hilang meski usia mereka tak muda lagi. Bagi Rafa Istrinya tetaplah istri kecilnya yang manja, muda belia sama seperti saat dia menemukan di taman belasan tahun lalu. Dan dalam kehidupan nyata, istrinya ini memang masih terlihat muda. Wajahnya yang halus, kencang, dan bersih tak ada kerutan dan noda setitik pun. Terkadang jika lagi berjalan bersama ke empat anaknya, orang orang melihat mereka seperti kakak beradik. Usianya yang sudah memasuki 38 tahun tapi terlihat 20 tahun lebih muda.
Rafa melepas hijab Ara. Karena wanita itu keringatan akibat terlalu banyak menangis. Kemudian melepas ikat rambutnya. Dia hanya melakukan itu jika hanya mereka berdua.
Untaian hitam panjang dengan aromanya yang wangi itu jatuh menjuntai indah ke bawah.
Rafa jahil, dia mencurahi kecupan demi kecupan di bibir istrinya karena belum berhenti menangis.
Itu membuat Ara terganggu, hingga tangisannya berhenti.
"Kakak apa an sih! sudah cukup." Ara menatap kesal seraya membungkam mulut suaminya saat hendak mengecup bibirnya kembali.
"Habisnya di suruh berhenti nangis gak mau diam. Nah itu sudah berhenti kan?" kata Rafa tertawa kecil.
Ara menatapnya cemberut. Dia mencubit hidung suaminya.
__ADS_1
"Sayang...berani ya kau padaku!" Rafa memegang tangannya dan menggigitnya.
Ara tertawa tapi juga kesakitan. Rafa senang melihat wajah mendung ini kembali ceria.
Rafa memegang jari Ara yang sakit lalu mengecup nya. Dia tersenyum menatap wajah istrinya. Keduanya saling menatap.
"Kau semakin cantik sayang!"
"Pasti ada maunya lagi muji kayak gitu!" kata Ara seraya turun dari pangkuan suaminya. Dia sudah dapat menebak pikiran mesum suaminya ini.
Rafa terkekeh. Dia menarik lengan Ara hingga kembali jatuh ke pangkuannya. Lalu langsung mendaratkan bibirnya, mencium bibir Ara.
Perlahan lembut, tapi kemudian semakin dalam dan panas. Ara yang terbuai mulai membalas ciuman Rafa. Ciuman panjang dan semakin panas terjadi. Decapan bibir terdengar, saling serang dan membalas. Ruang yang tadinya sepi mulai berisik dengan adanya suara suara aneh dari keduanya. Posisi yang sudah berubah tempat. Ara kini sudah berada di bawah suaminya.
"Kak..!" lenguhan lembut keluar dari mulut Ara tak kala wajah Rafa sudah turun bergerilya pada leher dan dadanya.
Rafa sangat suka bagian ini yang masih padat dan kencang tak berubah. Dia bermain agak lama membuat si empunya tak tahan mengeluarkan lenguhannya. Puas di kedua gunung bersaudara itu, mulutnya turun ke perut dan semakin ke bawah. Membuat Ara semakin mengeluarkan suara merdunya yang membuat Rafa semakin bergairah dan bersemangat.
Lenguhan demi lenguhan lolos keluar dari mulut Ara.
"Kak, sudah berhenti!"
"Sudah ku bilang kan aku merindukanmu sayang!" jawab Rafa disela-sela cumbuannya.
"Gak lihat kita lagi di mana. Jangan buat macam macam di sini. Nanti ada yang masuk!" kata Ara mulai khawatir.
"Hanya satu macam sayang. Sejak dulu keinginan ku padamu hanya satu macam, gak lebih." Rafa kembali menggoda.
Ara mendesis kesal.
"Pintunya nggak terkunci."
"Aman sayang. Kamu jangan khawatir." kata Rafa tersenyum menggoda, lalu kembali melanjutkan aktivitas di bawah tubuh Ara. Kedua tangan Ara memegang kuat kepalanya, hingga akhirnya terdengar lenguhan panjang dari mulutnya. Rafa terus menggoda dengan membersihkan bercak putih itu dengan bagian mulutnya yang tak bertulang.
Rafa tersenyum melihat istrinya *******. Dia bangkit berdiri dan mengangkat tubuh Ara yang sudah polos. Istrinya itu tampak lemah dan kelelahan. Keringat membasahi sekujur tubuh mulusnya.
"Kak, mau ke mana?"
Rafa tak menjawab, dia hanya menanggapi dengan senyuman miring.
Kemana lagi? dia membawa tubuh istrinya ke kamar mandi. Melanjutkan permainan indah mereka di sana untuk melepas rasa rindu.
Di akhir percintaan mereka yang terakhir, Rafa membisikan sesuatu di telinga Ara, membuat wanita bermata teduh terkejut dengan mata melongo.
*****
Tinggalkan jejak dukungan ya...
Like, komen dan juga hadiah seikhlasnya 😁😘
__ADS_1
Terimakasih juga yang masih setia dengan cerita halu author.