Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
13. Terkena wajan panas


__ADS_3

"Aku gak akan macam-macam sama kamu. Aku sudah janji sama tuan Artawijaya untuk menjagamu. Sudah diam. Ikut saja. Dari pada kamu sendirian di sini gak ada teman!" kata Cio terus menarik tangannya. Dia memang sengaja datang untuk menemani dan menjaga Rara karena Yuri sedang tak ada.


"Tetap saja gak boleh aku ke kamar anda. Kita baru saja kenalan. Dan gak ada hubungan apa pun." Rara kembali menarik tangannya.


"Aku kan sudah bilang kau itu sudah seperti adikku. Jadi anggap saja aku kakakmu. Gak ada yang perlu kau takutkan! Apa kamu gak takut jika ada orang jahat yang datang menyelinap masuk ke kamarmu sementara kau hanya seorang diri?" menatap lekat mata Rara.


"Seketat apa pun penjagaan di hotel ini tetap tidak bisa menjamin orang jahat untuk tidak datang ke kamarmu! Meski gedung ini sangat tinggi dan di lengkapi alat keamanan yang canggih. Para penjahat sekarang ini lebih pintar dan memiliki banyak cara untuk bisa menyusup masuk. Apalagi jika mereka tahu di dalam hotel ini menginap harta yang sangat berharga milik tuan Artawijaya......?"


"Iihh.... jangan menakuti Rara." teriak Rara agak keras mulai takut. Melihat wajah Cio yang di buat seram.


"Makanya ikut saja." kata Cio seraya menahan tawanya.


Dia kembali menarik tangan Rara melihat gadis itu diam ketakutan berimajinasi tentang penjahat penjahat khayalannya.


Rara meraih baju kimono tidurnya dan di pakainya di sela langkah mereka. Mau tidak mau dia ikut karena merasa takut.


Mereka masuk di kamar Cio yang tak kalah luas dan mewah dari kamar Rara.


Rara takjub akan kemewahan kamar ini, juga pemandangan indah luarnya yang bisa di lihat dari dalam. Rara berjalan jalan mengamati setiap bagian kamar yang terdiri dari dua lantai ini. Ruang tidur tiga buah, ruang makan, ruang tamu, ruang tengah, teras atap, balkon yang memiliki taman hijau, kolam, ruang gym dan fasilitas mewah lainnya.


Rara turun kembali ke bawah mencari Cio yang sedang menyiapkan sesuatu di dapur. Semua keperluan masak dan juga bahannya yang di minta tadi pada Manager Hotel. Semua itu sampai saat Rara berada di lantai atas.


"Tuan, apa anda tahu pemilik dari hotel ini?" tanya Rara begitu dekat.


Wajah Cio mengernyit mendengar pertanyaannya.


"Iya, untuk apa kau menanyakan dirinya?" tanyanya melihat sekilas. Dia sudah tahu keinginan Rara itu dari Yuri. Yang sangat ingin bertemu dengan dirinya, pemilik hotel ini.


"Rara ingin menemuinya. Rara ingin berterima kasih padanya karena telah menyiapkan kamar yang luas dan mewah untuk Rara. Tapi Kata Manager hotel dia sedang berada di Australia."


"Terus?" kata Cio dengan tangan yang bergerak lincah mengiris bawang putih, bawang merah, juga yang lainnya.


"Apa yang anda lakukan?" tanya Rara melihat yang di lakukan Cio.


"Masak makanan favorit ku!"


"Anda tahu memasak?"


"Tentu saja, ini sesuatu yang mudah."


"Terus anda ingin masak apa?"


Cio menunjuk nasi dingin.


"Nasi goreng." ujarnya kemudian.


"Nasi goreng?"


Cio mengangguk dan kembali bekerja.


Rara teringat nasi goreng yang di makannya tadi. Nasi goreng enak dan gurih meski sederhana.


"Boleh bantu aku?" Cio melihat pada Rara yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Rara menoleh kepadanya.


Cio meletakkan talenan, pisau dan batang bawang di depan Rara.


"Tolong iris ini."


Rara melongo melihat batang bawang.


"Rara gak bisa."


"Akan ku ajari. Rara mau kan?"


Rara mengangguk lemah meski ragu apa bisa melakukannya. Dia bersin mencium dari benda ini. Cio tersenyum melihatnya. Dia mengambil tisu dan di sumbatkan pada hidung Rara yang bingung dengan apa yang di lakukan. Tapi akhirnya gadis itu mengerti.


Cio segera berdiri di belakang Rara. Menjulurkan ke dua tangannya ke depan melewati pinggang samping kiri-kanan Rara. Memegang pisau dan bahan. Posisinya seolah memeluk Rara dari belakang.


Rara jadi risih dengan kedekatan mereka.


"Diam saja, nanti jarinya ke iris pisau." kata Cio.


"Pegang pisau dan bahannya seperti ini!" kata Cio seraya mempraktekkan.


Rara mengikuti gerakannya. Lalu di letakkan pada talenan. Dia mulai memotong pelan dan hati-hati sambil memegang tangan Rara.


Rara yang sudah faham melanjutkan mengiris setelah Cio melepas tangannya.


"Dek, dulu kakak selalu memeluk tubuh kecilmu seperti ini sayang. Sekarang tubuh ini sudah besar!" gumam Cio terharu menatap tubuh Rara dari belakang. Teringat kembali kenangan kebersamaan mereka saat kecil. Cio mencium rambut adiknya ini secara diam-diam.


Cio sibuk melamun, tak menyadari potongan irisan Khanza sudah selesai, tapi hasilnya besar besar, tak sesuai ekspektasi.


Cio tertawa melihatnya. Dia ingin mengkritik tapi tak tega merusak suasana wajah senang Khanza.


"Terus, setelahnya apa?" tanya Rara semangat.


"Masih mau membantu lagi?"


"Tentu saja. Ayo cepat.....cepat!" ujar Rara girang tak sabar apa yang akan di lakukan Cio.


"Oke tetanggaku, mari kita mulai!"


Cio segera menaruh wajan pada kompor, dinyalakan. Lalu menaruh margarin tiga sendok. Terus menaruh bumbu halus. Cio mengaduk aduk dengan spatula.


"Rara mau mencoba! Berikan pada Rara!" Rara meminta spatula.


Cio segera menyerahkan.


"Pelan pelan ya, nanti kena panas!"


Rara mengangguk. Dia mengaduk bumbu seperti yang di lakukan Cio. Cio tersenyum melihatnya. Wajah sedih ini kini berubah menjadi ceria. Cio jadi teringat kenangan masa kecil mereka dulu saat bermain masak masak seperti ini.


"Hmmm..... wangiii!" ucap Rara mencium aroma harum bumbu.


"Tuan.... bumbunya udah matang belum?"

__ADS_1


"Sudah," Cio mengangguk. Bumbunya sudah harum tandanya sudah matang.


"Terus?"


"Tambahkan daun bawang dan irisan daging ayam. Lalu aduk!"


Rara segera melakukan apa yang di katakan. Kemudian di aduk aduk.


Rara terlalu bersemangat hingga tak sadar jarinya menyentuh wajan panas.


"Auuuww..." Rara meringis sakit, spatula terlepas seketika.


"Khanza....!" ucap Cio tanpa sadar memanggil nama Khanza karena kaget dan panik. Dia segera mengambil tangan Khanza, membawanya ke wastafel dan di letakkan pada air yang mengalir.


Rara sendiri kaget mendengar namanya kecilnya di sebut.


"Kok dia bisa tahu nama kecilku?" batin Rara. Dia menoleh pelan melihat pada Cio yang sibuk memegang dan membasahi jari tangannya pada air. Wajah pria ini terlihat panik dan cemas.


Rara kembali kaget saat Cio mengangkat tubuhnya dan di dudukan pada meja makan.


"Tunggu di sini, diam. Jangan melakukan apapun." kata Cio dengan buru buru. Dia mematikan kompor, lalu segera berlari mengambil kotak obat. Tidak sampai dua dua menit dia kembali sambil membawa kotak obat. Cio berdiri di depan Khanza yang masih duduk di atas meja.


"Apa sakit sekali?" tanyanya masih dengan panik. Dia memegang jari Rara. Memeriksa luka melepuh itu. Untuk saja tidak parah. Tapi Cio tetap tidak tenang, apalagi melihat ringisan kesakitan di wajah Khanza.


Rara mengangguk pelan sembari menatapnya.


Cio kembali panik.


"Seharusnya aku tak mengizinkan mu membantu." Dia meniup jari Rara berulang, untuk meringankan rasa panas dan perih. Cio mengambil kain basah dan dikompres pada area kulit yang melepuh untuk meringankan rasa sakit dan pembengkakan. Cio melakukannya selama lima belas menit. Setelah itu dia mengoleskan salep anti bakteri. Lalu di tutupi dengan kain steril yang tidak berbulu.


"Masih sakit?" tanyanya menatap Rara.


"Sudah berkurang." jawab Rara pelan masih terus menatap wajahnya. Wajah yang berkeringat dan masih terlihat panik.


"Sudah berulangkali kakak katakan padamu untuk melakukan sesuatu dengan hati hati dan jangan terburu buru. Lihat jarimu sampai melepuh seperti itu!" kata Cio agak keras, sedikit emosi. Karena merasa bersalah dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Khanza.


Khanza mengeluh sedih. Kedua matanya basah. Bukan karena kemarahan Cio, tapi karena kata kata Cio. Kata yang selalu di ucapkan Cio saat kecil dulu jika dia mengalami kecelakaan ringan saat bermain dan melakukan sesuatu tanpa hati hati. Lenguhan kesedihan keluar dari mulut Rara. Air matanya jatuh.


Cio tersadar dengan apa yang dia lakukan.


"Rara, maaf. Aku tidak sengaja berkata keras dan marah padamu. Aku tadi panik dan sangat Khawatir terjadi sesuatu padamu. Karena aku sudah berjanji pada pada tuan Artawijaya untuk menjagamu. Tolong jangan menangis!" katanya menatap wajah sedih Rara yang basah.


"Berhentilah menangis. Maafkan aku ya!" Cio menyapu kedua pipi Rara yang basah.


Rara terisak kecil.


"Tadi anda menyebutku Khanza. Anda memanggil ku dengan nama itu!" menatap mata Cio.


Cio membuang nafas berat, keceplosan memanggil Rara dengan Khanza. Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya karena panik.


Selama ini dia tidak terbiasa dengan nama Rara. Hanya Khanza. Nama yang di berikan pada Rara.


"Rara adikku yang manis. Aku tiba-tiba saja menyebut nama itu karena bibirku terbiasa menyebut nyebut nama adikku, Khanza. Mungkin karena aku terlalu rindu padanya hingga memanggil dirimu seperti itu."

__ADS_1


"Sikap dan kepribadiannya tidak ada bedanya dengan kak Cio, tapi kenapa dia bukan kak Cio? Kenapa dia orang lain? Kenapa juga nama adiknya sama seperti nama kecilku?" batin Rara menatap mata Cio. Air matanya kembali jatuh.


*****


__ADS_2