Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
71. Menghindari


__ADS_3

Sejak kejadian itu, Rara terus mengindari Ryu. Dia terlalu malu, juga marah pada Ryu. Terlebih dia merasa bersalah pada Anggi. Seharusnya dia tidak terlena dengan sentuhan Ryu. Entah kenapa dia tersihir dan terbuai menikmati sentuhan kakaknya itu.


"Sayang, dia kakak mu. Kenapa melarang dia tinggal di sini?" tanya Rafa yang bingung dengan keinginan Rara. Meminta pada mereka untuk menyuruh Ryu pergi dari rumah ini dan tinggal di kediamannya.


"Pokoknya Rara gak mau dia tinggal di sini. Rara gak suka. Titik." kata Rara tegas. Lalu segera meninggalkan mereka yang semakin heran dan bingung. Ada apa lagi di antara dia dengan Ryu? apa yang terjadi dengan mereka? Ryu juga memilih diam tak mau bicara jujur ketika di tanya.


"Ada apa Ka?" tanya Ara melihat Raka.


"Aku gak tahu Ma, Rara tiba tiba saja masuk ke kamar ku. Menangis dan ketakutan! Aku sudah bertanya apa yang terjadi tapi dia diam dan terus menangis. Mama tahu sendiri kan sifat Rara yang tidak mau terbuka pada kita?" kata Raka sambil mengangkat bahunya. Dia juga mengatakan keadaan Ara yang hampir polos berlari masuk ke kamarnya untuk menghindari Cio.


"Apa Cio memaksanya?" kata Rafa melihat istri dan putranya bergantian. Cio juga belum bicara apapun sejak semalam Rara meminta dia pergi dari rumah ini.


"Aku rasa tidak. Gak mungkin Cio melakukan itu. Nanti kakak tanyakan baik baik pada Cio." kata Ara. Tak ingin suaminya curiga pada Cio karena melakukan pemaksaan pada Rara, terus marah pada keponakan kesayangan almarhum suaminya dulu.


Sarapan pagi berkahir dengan begitu saja. Raka pamit keluar karena hari libur, Rafa pamit ke kantor untuk mengerjakan sesuatu. Tak ada hari libur dalam hidupnya, karena banyak pekerjaan yang menunggu sentuhan tangannya. Apalagi setelah beberapa hari tidak masuk kerja karena menemani Ara yang sakit.


Rara ke rumah utama.


Dia di tuntun Sita masuk ke dalam. Sita menjadi kepala pelayan di rumah ini menggantikan Sam. Dia juga menjadi pelayan pribadi Cia dari kecil hingga sampai sekarang. Karena Cia hanya bisa mempercayainya. Sita sudah seperti ibu baginya, bila tak ada Ara dan Nesa untuk tempat berbagi keluh kesahnya.


"Apa bibi Nesa ada?" tanya Rara.


"Ada Nona muda. Nyonya sedang sarapan. Mari saya antar ke ruang makan." kata Sita sopan sambil tersenyum.


"Bik, ada siapa saja di rumah ini?" tanya Rara agak ragu. Dia khawatir ada Cio di sini. Orang yang sangat ingin di hindari nya.


"Hanya Nyonya Nesa dan Nona Cia." katanya tersenyum." Sedangkan Tuan Cio tidak tinggal di sini. Dia tinggal di apartemennya. Tuan hanya sesekali kesini." Sita melanjutkan.


"Ohhh....!" huruf O keluar dari mulut Rara, lega tak ada Cio. Tapi sesaat dia berpikir, kalau Cio tidak tinggal di sini, berarti Anggi juga tak di sini. Padahal dia ingin ketemu sama Anggi. Untuk berterus terang dan meminta maaf dengan apa yang terjadi antara dia dan Ryu semalam.


Mereka tiba di ruang makan. Rara melihat ada orang lain di meja makan selain Bibinya dan Cia.


"Hay Ra....!" seru Cia melihat kedatangannya. Rara tersenyum.


"Rara sayang, kau datang ke sini nak? Ayo duduk lah, sarapan bersama kami!" Nesa bangkit berdiri menyambutnya. Rara segera mencium tangan Bibinya. Lalu mendekati Cia dan mencium tangan kakak perempuannya itu.


"Sendiri ke sini?" tanya Cia.


"Iya kak." Rara melihat pria di samping Cia. Dia ingat pria ini. Yang kemarin datang ke kantor papanya menjemput Cia.


"Selamat pagi Nona Rara." sapa Edgar. Merasa di perhatikan Rara.


"Pagi." jawab Rara segera. Rara duduk di dekat Nesa.


"Kamu pasti masih ingat sama aku kan?" tanya Edgar menatap wajah Rara.


"Iya, Rara ingat." Rara mengangguk.


"Apa tuan kekasihnya kak Cia?" tanyanya lagi.


Cia terkejut mendengar pertanyaannya. Wajahnya merah padam seketika. Tidak menyangka Rara langsung bertanya seperti itu. Dia melototi Rara dengan kesal. Sedangkan Edgar tertawa kecil. Nesa senyum senyum. Dia tahu Edgar menyukai Cia. Pria ini bahkan sudah meminta izin padanya dan Rafa untuk menjadi kekasih Cia. Tapi Edgar belum mengungkapkan perasaannya karena Cia selalu menghindar. Nesa dan Rafa merestui niat baiknya yang tulus dan serius tidak sekedar bermain seperti pacar pacar Cia sebelumnya. Tapi semuanya tetap tergantung pada Cia. Mereka tidak memaksa Cia untuk calon pendamping hidup gadis itu kelak.


Cia langsung bangkit dari duduknya. Karena tidak tahan menyembunyikan rasa malu.


"Ma, aku pergi dulu." dia mengecup kening Nesa. Lalu pergi buru buru dari ruangan itu. Edgar ikutan berdiri, buru buru pamitan pada Nesa dan Rara, segera menyusul Cia.


"Sepertinya tuan Edgar suka sama kak Cia deh Bi..." kata Rara.


Nesa menanggapi dengan senyuman."Bibi juga merasa begitu." katanya meski dia sudah tahu.


"Oh ya, Rara mau makan apa?" tanyanya melihat Rara.


"Minum susu saja." kata Rara. Karena tadi tidak sempat minum susu dan sarapan. Sita segera menuangkan susu ke gelas setelah mendapat isyarat dari Nesa.


Rara segera meminumnya pelan pelan, hangat tidak terlalu panas.


"Apa Bibi mau keluar?" tanya Rara melihat pakaian Nesa. Nesa mengangguk pelan.


"Tapi kalau Rara butuh Bibi di sini, Bibi akan menunda urusan hari ini. Bibi sangat senang Rara datang ke sini." kata Nesa segera.

__ADS_1


"Rara hanya sebentar kok. Rara gak ingin menganggu bibi. Rara mau menanyakan sesuatu." kata Rara.


"Oh ya? Rara mau nanya apa?" Nesa menatapnya.


"Rara ingin menanyakan kak Anggi. Rara juga mau meminta nomor teleponnya. Nomornya yang ada pada Rara sudah gak aktif di hubungi. Sepertinya kak Anggi sudah mengganti nomor telepon!"


Senyum di wajah Nesa langsung pudar. Rara masih berpikir kalau Cio menikah dengan Anggi. Rara hanya tahu kalau Anggi adalah istri Cio.


"Oh ya Bi, apa kak Anggi tinggal di apartemen kak Cio? Karena kata Bik Sita kak Cio tidak tinggal di sini."


"Rara ada perlu apa dengan Anggi?" Nesa balik bertanya. Dia harus segera menjelaskan pernikahan palsu Anggi dan Cio. Dan yang sebenarnya Rara telah menikah dan menjadi istri Cio.


"Rara.... " Rara ragu ragu mengatakan kejadian semalam yang terjadi antara dia dan Cio. Terus niatnya untuk meminta maaf pada Anggi. Karena itu membuatnya merasa di kejar rasa bersalah terus menerus jika teringat kejadian itu.


"Rara ingin.....!" ucapannya terhenti melihat kedatangan Cio. Dia kaget. Kok Cio bisa datang ke sini? Rara segera bangkit.


Cio mendekati mereka.


"Pagi Ma....!" sapa Cio. Dia sengaja datang ke sini setelah mendapat informasi Rara datang ke rumah utama.


"Pagi nak." balas Nesa. Cio mengecup puncak kepala Nesa tapi matanya melihat pada Rara yang menghindari tatapannya.


"Bi, Rara pamit dulu. Rara ada janji ketemu sama teman! Permisi." kata Rara melihat Nesa.


Lalu segera keluar dari meja makan tanpa menunggu jawaban Nesa.


"Kakak akan temani kamu." Kata Cio segera.


"Gak usah, Rara nggak mau merepotkan. Rara pergi sendiri. Permisi." Rara buru buru melangkah pergi. Cio segera pamit mengejar Khanza.


"Ya tuhan.....sampai kapan mereka akan terus seperti itu?" keluh Nesa membuang nafas berat.


Cio berlari cepat. Rara yang melihatnya berlari mengejarnya segera masuk kedalam mobil Cia yang terparkir di depan pintu masuk. Rara naik tanpa berpikir panjang dan segera melarikan kenderaan itu. Untung dia sedikit tahu menyetir setelah beberapa kali di ajari Wisnu dan ketiga kakaknya.


Cio mendengus kesal. Dia terlambat beberapa detik. Dia segera naik ke mobilnya dan mengikuti mobil Rara. Tak ingin mengejar gadis itu karena khawatir Rara akan melaju kencang untuk menghindarinya. Sementara Rara belum lancar mengemudi. Dia mengikuti Rara dari jarak jauh.


Rara merasa lega melihat Cio tak mengejarnya. Dia mengemudi dengan santai menuju kantor papanya. Karena tempat itu yang paling dekat dengan posisinya saat ini. Dia bermaksud meminta bantuan pada Wisnu untuk mengembalikan mobil Cia. Dia mengeluh kecewa karena gagal mendapatkan nomor telepon Anggi karena kedatangan Cio yang tiba tiba.


"Gak usah di antar. Rara sendiri saja!" kata Rara ketika kepala petugas hendak mengantarnya.


Dia segera naik lift privat milik ayahnya. Dan sampai juga di atas.


Setelah mengetuk pintu, dia segera membuka pintu dan masuk.


"Papa... assalamualaikum," melihat Rafa di meja kerja. Ada Wisnu dan juga Lily.


"Sayang, waalaikumsalam.....!" Rafa tidak begitu terkejut, karena kepala penjaga sudah memberi tahu kedatangan putrinya. Wisnu dan Lily segera menyapa dirinya, lalu kembali bekerja.


"Sibuk ya pa?" tanya Rara yang melihat Rafa tampak sibuk. Wisnu dan Lily juga lebih sibuk dari papanya.


Rafa mengangguk dan memberi senyuman. "Ada apa sayang? Rara butuh sesuatu?" bertanya maksud Rara ke sini.


"Nggak, Rara hanya ingin minta tolong sama paman Wisnu untuk mengembalikan mobil kak Cia. Tadi Rara gak sengaja membawanya. Mobilnya Rara parkir di dekat mobil papa."


"Baik Nona." kata Wisnu lalu kembali ke pekerjaannya. Rafa sibuk dengan kerjanya tapi fokus pada perkataan Rara. Gak sengaja membawa mobil Cia? kenapa? Tapi dia mengabaikan hal itu tak ingin bertanya alasannya.


Rara mendekat ke meja kerja. Melihat berkas dan dokumen penting yang di susun rapi oleh Lily. Wisnu sibuk dengan komputer, ayahnya sibuk dengan gadgetnya.


"Ada yang boleh Rara bantu nggak?" Rara menawarkan diri.


"Sudah hampir selesai Nona." kata Lily.


Beberapa menit pekerjaan itu selesai. Semua berkas penting telah di pisahkan.


"Segera kau kirimkan semua berkas itu. Jangan sampai terlambat. Ingat, ini berkas penting. Aku tidak percaya pada orang lain selain dirimu!" kata Rafa pada Lily.


"Baik tuan. Saya mengerti." kata Lily.


"Sayang, papa akan bertemu klien setelah ini. Rara mau ikut papa atau bagaimana?"

__ADS_1


Rara mengerti kalau papanya lagi sibuk.


"Rara mau di sini dulu untuk menunggu Rangga. Dia akan datang menjemput Rara."


"Baik sayang. Jika perlu sesuatu, katakan pada Lily."


"Iya pa...!"


Rafa memeluk dan mencium pipi putrinya, lalu segera keluar di ikuti Wisnu. Lily masih membereskan sesuatu. Tidak lama kemudian, dia segera pamit pada Rara sambil membawa beberapa tumpukan berkas.


10 menit berlalu, Rara menghentikan bacaannya. Dia yang sejak tadi membaca buku sambil berbaring di sofa untuk mengusir kebosanan menunggu Rangga datang. Matanya tiba-tiba menatap cincin di jari manisnya. Cincin yang di beri dan di minta Cio agar di pakainya sebelum melakukan pernikahan dengan Anggi. Dia heran kenapa Cio memintanya memakai cincin ini sebagai syarat menikah dengan Anggi. Rara terus menatap benda kecil mungil sangat cantik, indah dan mewah melingkar di jari manisnya.


Rara mengabaikan cincin itu karena kebelet pipis. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet. Setelah buang air kecil, dia hendak berbaring kembali melanjutkan bacaannya, Tapi batal. Matanya melihat sesuatu tergeletak di lantai depan pintu, yaitu sebuah map. Rara segera mendekati pintu, menurunkan tubuhnya dan memungut berkas itu.


Rara ingat berkas ini salah satu berkas yang tadi sedang di persiapkan oleh Lily dan di minta papanya untuk di antar segera.


"Sepertinya ini jatuh saat bu Lily membuka pintu." gumamnya.


"Bagaimana ini? berkas ini sangat penting. Bu Lily pasti sudah pergi dari kantor ini." Rara bingung. Dia melihat tujuan berkas itu, ke perusahaan K'Company. Dia tidak tahu Perusahaan itu.


"Sepertinya berkas ini di tujukan untuk perusahaan ini. Ya ampun, bagaimana ini?" Rara segera keluar dari ruang kerja. Dia langsung turun ke bawah. Bertanya pada petugas keamanan apa Lily sudah keluar dari perusahaan ini. Dan kata mereka Lily sudah pergi setengah jam yang lalu.


Rara ingin meminta bantuan pada kepala penjaga keamanan untuk mengantar berkas ini. Tapi dia teringat perkataan Rafa yang berkata pada Lily untuk mengantar berkas berkas itu sendiri karena dia tidak mau orang lain yang mengantarnya. Papanya lebih percaya pada Lily.


"Ada yang bisa kami bantu Nona?" tanya kepala penjaga yang melihat Rara melamun.


"Tidak ada. Saya mau pulang." kata Rara. Lalu segera ke jalan mencari taksi. Dalam perjalanan dia mengirim pesan pada Rangga untuk menyusulnya ke alamat perusahaan K'Company.


Sejam lebih kemudian. Taksi berhenti.


"Ini alamat yang Nona tuju." kata sopir taksi.


Rara memperhatikan gedung megah pencakar langit di depannya. Terlihat logo perusahaan tertulis K'Company. Sepertinya memang ini kantornya, batinnya.


Rara segera membayar ongkos.


"Terimakasih pak."


"Sama sama. Ongkosnya kelebihan Nona." kata sopir melihat uang sejuta di berikan Rara


"Buat bapak saja." kata Rara.


"Benar Non?" Kaget seakan tak percaya.


"Iya....!" Rara mengangguk.


"Alhamdulillah, terimakasih Nona." sopir tersenyum penuh rasa syukur. Dia sampai mencium uang itu.


Rara kembali mengangguk sambil tersenyum. Dia memang sengaja melebihkan bayaran melihat keadaan sopir yang sudah tua tapi masih bekerja. Dan sudah pasti semuanya karena tuntutan ekonomi.


Rara segera turun. Dia melangkah menuju pintu masuk. Tapi Petugas keamanan menghentikannya.


"Nona mau bertemu siapa?"


Rara bingung mau jawab apa. Apa petugas keamanan akan percaya jika di katakan mau ketemu pimpinan perusahaan untuk menyerahkan berkas kerja?


"Ehh.....saya ingin bertemu dengan....!" ucapan Rara berhenti. "Dengan Siapa?" batinnya. Dia tidak kenal satu pun orang di di sini.


"Dengan siapa Nona?"


"Itu.... sekretaris dari perusahaan R'A group, menyuruh saya untuk mengantar berkas ini pada pimpinan perusahaan ini!" kata Rara. Asal saja membawa nama Wisnu.


"R'A group? Maksud Anda ibu Lilyana?" tanya kepala petugas keamanan. Dia mendapat kode dari Ryu untuk membiarkan Rara masuk. Ryu baru saja tiba bersama Simon. Tapi Rara tidak melihat kedatangan mereka karena posisi Rara membelakangi pintu masuk dan sedang serius berbicara dengan staf petugas keamanan. Ryu tersenyum tipis dan melangkah masuk.


"I- iya benar. Ibu Lily." kata Rara segera. Dia lega. Ternyata mereka tahu sekertaris kepercayaan ayahnya itu. Padahal yang di maksud adalah Wisnu, bukan Lily. Tapi ternyata Lily juga sudah banyak di kenali oleh rekan rekan bisnis papanya. Di kiranya hanya Wisnu saja.


"Silahkan Nona. Anda langsung ke ruang pimpinan saja. Ruangannya berada di lantai atas." kata kepala penjaga keamanan.


Rara segera masuk. Seandainya kalau bukan karena berkas penting, dia sudah meminta kepala penjaga itu untuk menyerahkan pada pimpinan perusahaan ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2