Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
12. Orang Aneh


__ADS_3

"Tunggu di sini, jangan masuk." kata Rara mengalah. Meski, kesal, bingung dan tak mengerti maksud pria ini, dia segera masuk mengambil ponselnya.


"Siap tuan putri." Cio tersenyum kecil melihatnya.


Tak berapa lama Rara kembali membawa benda pintar miliknya. Dia segera menekan nomor papanya, Rafa. Bergetar tiga kali, terhubung.


"Assalamualaikum....papa!"


"Waalaikumsalam sayang! Putri kecil papa kok belum tidur sudah jam begini?"


"Rara gak bisa tidur. Papa lagi ngapain, apa sedang tidur? maaf ya, Rara ganggu."


"Papa kerja sayang, lagi di kantor. Rara lupa ada di mana sekarang? waktu Eropa dan negara kita beda sayang." ujar Rafa.


"Oh iya, Rara lupa." Rara menekan pelan jidatnya karena lupa akan keberadaan dirinya.


Cio terkekeh melihat tingkah polosnya ini. Matanya tak berpaling dari wajah manis ini.


"Katakan, kenapa Rara menelpon papa?"


"Ada orang aneh yang ingin bicara dengan papa. Dia maksa nyuruh Rara menghubungi papa." Rara melirik tajam pada Cio.


Cio kaget di katakan orang aneh.


"Orang aneh? Siapa sayang?" tanya Rafa dari seberang.


"Tamu tak di undang!"


"Tamu tak diundang? Siapa? kamu gak bole terima tamu sembarangan. Apalagi Yuri tak ada bersama mu saat ini!"


"Itu pah, tetangga Rara di Hotel."


"Tetangga?" Rafa tidak mengerti maksud putrinya ini. Tetangga apaan di Hotel?


"Iya pah, kebetulan di lantai atas ada dua kamar suite. Yang satu di tempati olehnya. Karena hanya kami yang menginap di atas, maka Rara menganggapnya tetangga." jelas Rara.


"Oh gitu.….!" Rafa tertawa kecil dari seberang. Dia sekarang mengerti siapa tetangga yang di maksud putrinya ini.


"Papa mau bicara sama dia? Kalau papa nggak mau, gak usah deh. Rara juga nggak ingin papa bicara dengan orang aneh itu. Rara akan tutup teleponnya."


"Orangnya baik nggak?" Rafa berpura-pura tidak tahu tentang Cio.


"Rara nggak tahu, Rara baru bertemu dengannya tadi. Katanya dia orang baik. Tapi gak mungkin kan Rara langsung percaya gitu ajah? kita baru ketemu tadi. Kan papa sendiri yang bilang, harus hati hati sama orang asing dan jangan langsung percaya."


Rafa kembali tertawa.


Sedangkan Cio senyum senyum mendengar percakapan adik dan Daddynya ini. Apalagi Rara berbicara dengan sedikit berbisik karena tidak ingin pembicaraan mereka di dengar olehnya. Sesekali mata indah itu melirik tajam kepadanya.


"Ya sudah, berikan ponsel Rara kepada pria aneh itu. Papa akan bicara. Papa juga harus tahu tentang identitasnya. Papa nggak ingin dia sampai macam macam sama Rara! Mengingat hanya kalian yang berada di lantai atas."


Rara melihat pada Ryu, lalu menyerahkan ponselnya dengan wajah masam.


Ryu segera menerimanya. Dia kembali tersenyum melihat tatapan Rara yang tidak senang.

__ADS_1


"Assalamualaikum tuan Rafa Ravendro Artawijaya." sapa Cio.


Dia menekan tombol spiker agar percakapan mereka di dengar Rara.


Rara terkejut mendengar sapaan itu.


"Kok dia tahu nama papa?" Batinnya.


Rara menatapnya tak berkedip. Cio mengabaikan tatapan itu. Tatapan rasa ingin tahu.


"Waalaikumsalam." jawab Rafa.


"Perkenalkan, aku Ryu Deva Mayandra. Penghuni kamar suite di Hotel Khanza, satu lantai dengan kamar putri anda. Seperti yang di katakan Rara putri anda, aku adalah tetangganya. Aku tahu tentang Anda dari Manager Hotel saat bertanya siapa penghuni kamar suite yang satunya. Dan Manager mengatakan putri tuan Artawijaya dari Indonesia."


Rasa penasaran Rara terjawab. Jadi Manager Hotel yang memberi tahu identitas dirinya.


Percakapan Cio dan Rafa terus berlanjut. Bersandiwara tidak saling mengenal satu sama lain penuh kepura-puraan.


"Aku sengaja memaksa Rara untuk menghubungi anda agar dia percaya bahwa aku orang baik. Tahukah Anda tuan Artawijaya? sejak tadi aku bicara dengannya tapi dia tidak menawarkan diriku untuk masuk. Kakiku sampai keram. Dia malah mengusirku. Dia beranggapan aku orang yang tidak baik. Orang asing yang akan menculik.....!"


"Ih, apaan sih ngomong gitu ke papa." kata Rara ketus menatap kesal. Dia menarik paksa ponselnya secara tiba tiba dari telinga Ryu.


Ryu tentu saja kaget.


"Hey tetangga, apa yang kau lakukan? Aku sedang bicara dengan papapmu."


"Ssst, diam.....!" Rara melototinya


"Papa, udah ya. Lanjut kan kerja papa. Salam sama Mama, kak Cia, kak Riez Ryan dan kak Raka. Rara sayang papa!" berbicara pada Rafa.


"Memang kenapa dia ingin menjaga Rara? Rara kan bukan siapanya."


"Tuan Ryu punya adik seusai dirimu. Melihat mu membuat dia teringat dan rindu akan adik kecilnya. Mungkin karena itu dia perduli padamu! Pokoknya kamu harus percaya padanya, jangan khawatir dia bukan orang jahat. Sudah ya sayang, jaga kesehatan, jangan telat makan, dan telat tidur. Papa sayang sama Rara. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam.....!" jawab Rara.


Rara masih dengan tatapannya masamnya pada Ryu. Dia heran kenapa papa percaya pada pria ini.


"Apa mungkin pria ini salah satu teman bisnis papa?" batinnya. Mungkin saja, batinnya lagi.


Rara kaget saat mendengar suara yang terdengar dari perut Ryu. Suara perut tanda lapar.


Ryu senyum senyum malu sambil meraba perutnya.


"Apa kamu sekarang percaya padaku? Papa mu saja percaya aku orang baik. Aku gak mungkin macam macam sama kamu. Kamu tuh sudah seperti adik bagiku. Aku lapar nih....bikinin aku apa kek, anggap saja untuk merayakan perkenalan kita sebagai tetangga baru." ujar Cio tersenyum menggoda. Terasa lucu melihat wajah kesal Rara yang menatapnya.


"Masuk....." kata Rara judes.


Dia berbalik dan melangkah ke dalam di ikuti Cio yang hanya senyum senyum dengan tingkahnya.


"Wah....Kamarmu luas dan mewah! Aku sudah menduga bahwa kamu bukan orang sembarangan." kata Cio menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Hanya berpura pura untuk sekedar di perlihatkan pada Rara.


Rara menuju dapur.

__ADS_1


"Apa kamu bisa masak?" tanya Cio mengikuti dari belakang.


"Kenapa perut anda bisa berbunyi?" Rara malah bertanya.


"Kau sudah tahu jawabannya bukan?"


"Bukankah anda sudah makan malam di acara pernikahan? Tadi aku melihat anda hadir di sana."


"Aku gak sempat makan. Karena aku ada urusan mendadak. Aku juga tak berselera dengan makanan hotel."


"Mau minum yang panas atau dingin?" tanya Rara.


"Ada makanan nggak?" tanya Cio meski dia tahu tak ada.


Rara menggeleng.


"Hanya ada bahan makanan di kulkas. Tapi aku gak bisa masak!" dia menunjuk kulkas.


"Anak gadis masak gak bisa masak?" Cio membuka kulkas mewah itu. Banyak dan macam isinya.


"Oh iya, aku tahu. Di rumahmu pasti punya koki kan? Makanya kau tidak bisa masak!" katanya kembali sambil tersenyum.


Rara mengangguk, jujur. Berbohong dosa. Memang dia tidak bisa masak.


"Aku sangat lapar, Aku tidak bisa hanya minum. Aku tak akan bisa tidur dengan perut kosong. Aku harus makan sesuatu!"


"Terus anda ingin makan apa? udah Rara bilang kan tadi nggak ada makanan?" Rara menatapnya.


Cio balik menatapnya. Tersenyum tiba tiba.


"Mau makan kamu. Sepertinya daging mu enak dan segar." katanya jahil menakuti.


"Keluar!" sentak Rara menatap kesal.


Cio tertawa kecil. Dia memegang wajah kesal Rara.


"Maaf tetanggaku yang manis, Aku hanya bercanda!"


Rara menatap tajam seraya melepas tangan Cio dari pipinya.


Cio menarik nafas.


Jari kanannya menggaruk dagunya yang tak gatal tanda sedang berpikir.


Sesaat kemudian, dia menghubungi manager hotel. Rara hanya melihat dan mendengar percakapan mereka.


Dia kaget saat Cio menarik tangannya tiba tiba.


"Ikut aku....!" berjalan.


"Kemana?"


"Kita ke kamarku."

__ADS_1


"Apa? kamar anda? nggak, Rara gak mau!" Rara menarik kuat tangannya.


*****


__ADS_2