Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
63. Bertemu kembali


__ADS_3

Rara semakin pusing dan tidak tenang setelah masuknya pesan terakhir. Di mana orang yang menemukan ponselnya itu memberi waktu padanya hanya sampai batas tengah malam. Jika dia tidak dapat menyiapkan uang yang di inginkan dalam batas yang di tentukan, maka ponselnya akan di hancurkan dan akan di buang ke tempat di mana tak ada seorang pun yang akan menemukannya.


Rara membuang nafas berat dengan wajah di tekuk."Apa Rara minta bantuan papa saja ya?" gumamnya. "Tapi Rara harus jawab apa jika papa tanya alasan untuk uang apa itu?" gumamnya kembali. Tak mungkin dia mengatakan alasan itu pada papanya. Nanti orang tuanya akan tahu perasaan dirinya yang sesungguhnya pada Cio, kakaknya. Perasaan yang di pendam dan sembunyikan selama ini seorang diri. Hanya dia dan tuhan yang tahu.


Mau minta tolong pada ke tiga kakaknya, gak mungkin. Mereka pasti belum memiliki uang sebanyak itu. Belum lagi dia akan kena ledekan dari Riez dan Ryan jika mereka tahu alasannya meminjam uang itu.


"Ya ampun, harus bagaimana? Benar benar menyebalkan tuh orang. Gak war war meminta imbalan sebanyak itu." dengus Rara mengacak kasar rambutnya. Salahnya sendiri juga kenapa menyatakan akan memberikan imbalan apapun dan berapa pun.


Rara teringat sesuatu. Segera dia mengambil tas sekolahnya. Lalu mengambil dompet kartunya. Dia teringat kartu kredit yang di berikan Ryu padanya waktu di Paris. Rara segera mengambil kartu itu.


"Isinya berapa ya?" Rara berpikir mungkin isinya tidak terlalu banyak, tapi yang penting bisa menambah uang tabungannya.


Rara segera keluar menuju ruang kerja papanya. Dia mendekati mesin Atm canggih yang berada di samping meja kerja papanya. Rara segera memasukkan kartu ATM dan mengikuti langkah langkah petunjuk.


Rara terbelalak melihat saldo.


"I- ni....benar isinya?" melongo, dia kaget melihat angka nominal yang tertera. Di cek sekali lagi hasilnya tetap sama. Jumlahnya berlipat lipat dari imbalan yang di minta oleh si penemu ponselnya.


"Kartu ini memang kakak berikan untukmu. Khanza bebas memakainya. Itu milikmu, Pakailah sesukamu." kata Ryu waktu dia mengembalikan kartu itu saat hendak pulang ke tanah air. Kata kata itu terngiang di telinga Rara. Dia tidak sempat memakai kartu kredit itu makanya tidak mengetahui isinya.


"Ini benar kakak berikan untuk Rara? Atau mungkin kakak salah kasih kartu? Tapi sepertinya nggak, karena kode PIN nya tanggal lahir Rara!" guman Rara lagi.


Atau benar memang ini semua untuk Rara? "Khanzalah alasan kakak bekerja keras selama ini. Khanza adalah motivasi kakak, inspirasi dan penyemangat hidup kakak. Semua yang kakak lakukan, hasil keringat, kerja keras dan lelah kakak hanya untuk Khanza." kata kata Cio yang di ingatnya kembali terngiang di telinganya.


Rara mendesah sedih dengan mata berkaca-kaca.


Sekarang dia mengerti semua angka nominal yang ada dalam kartu ini adalah keseluruhan Keuangan Cio yang di berikan padanya. Rara sangat yakin akan hal itu. Belum terhitung harta kekayaan bergerak dan tidak bergerak milik Cio yang tercantum atas namanya. Rara melihat dokumen dokumen penting itu tersimpan pada lemari rahasia Cio. Rara benar benar gak menyangka, begitu sayangnya Cio pada dirinya.


Rara terduduk lemas di kursi kerja Rafa.


"Ya ampun, Kenapa kak Cio memberikan semua ini untuk Rara? Rara tidak pantas memiliki ini semua. Seharusnya ini menjadi milik kak Anggi dan juga anak anak mereka nanti. Rara gak punya hak atas semua itu. Rara harus mengembalikannya." gumamnya. Seandainya ponselnya itu ada, dia pasti akan menghubungi Anggi untuk mengembalikan kartu itu, karena nomor Anggi ada di ponsel itu. Dia mau memberi tahu tentang kartu kredit ini dan menyerahkan kepdanya, karena Anggi adalah istri Cio dan sedang mengandung anaknya.


Setelah tahu isi dari kartu itu, Rara batal untuk memakai uang dari situ karena merasa takut menggunakannya. Meski kata Cio semua itu adalah miliknya, dan bebas di pakai semaunya.


Dia teringat ponsel Wisnu. Pasti ada nomor Cio tersimpan pada kontak telepon asisten pribadi papanya itu. Tujuannya untuk mengembalikan kartu itu. Rara segera memeriksa kontak telepon Wisnu. Benar, ada nomor Cio tersimpan di sana. Rara hendak menekan nomor kontak itu, tapi urung. Sudah lama mereka tidak saling berhubungan. Rara tidak ingin mengganggu kehidupan dan juga kebahagiaan kakaknya itu. Lebih baik dia akan meminta tolong pada papanya untuk mengembalikan kartu itu. Rara menyimpan kembali kartu kredit dan ponsel Wisnu ke dalam tasnya. Dia bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar pribadi. Saat melewati rak rak buku, dia melihat sebuah buku yang sangat di inginkan. Buku untuk bahan referensi tugas sekolahnya. Tadi tak sempat di beli di toko buku karena menghindari Anggi. Dan ternyata buku yang di inginkan itu ada di ruang kerja papanya. Rara tersenyum senang. Dia mendekati rak rak buku dan melihat lihat setiap buku. Setiap sampul di bacanya, siapa tahu ada buku Fitri dan Riri di sini. Lima menit berlalu mencari tak menemukan buku yang dan inginkan ke dua sahabatnya, Rara segera mendekati rak di mana buku yang di inginkan. Susah payah Rara mengambil buku tersebut karena berada di atas. Dia terus menggapai benda itu dengan kaki menjijit, kepala semakin mendongak ke atas. Lehernya di rasakan sakit. "Ampun, betapa tingginya rak ini." keluhnya.


Rara kembali menjijit dan mengambil benda segi empat yang sudah tersentuh oleh jari jemarinya.


"Yeee, akhirnya Rara dapat." ucapnya girang karena berhasil mengambil buku itu. Rara tersenyum senang. Tapi sesaat kemudian dia terdiam merasakan aneh pada dirinya. Tubuhnya terangkat ke atas. Kedua kakinya tidak menyentuh lantai. Rara menunduk ke bawah, benar kakinya tampak tergantung. Matanya menangkap dua tangan kekar melingkar di perutnya.


Hah? dia sadar ternyata tubuhnya di angkat ke atas oleh seseorang saat berusaha menggapai buku itu. Dan orang itu masih terus memeluk perutnya. Rara tidak dapat melihat wajah orang itu karena memeluknya dari belakang. Tapi dapat di pastikan kalau orang di belakangnya ini adalah seorang pria, dengan melihat kedua lengannya yang besar memakai kemeja putih. Rara berontak.


"Lepas...Lepaskan Rara!" merasa takut entah siapa orang ini bisa masuk sembarangan di ruang kerja papanya. Rara menggerakkan tubuhnya dan melepaskan kedua tangan itu dari perutnya.


"Aroma wangi ini?" batinnya termangu ketika hidungnya menangkap aroma parfum yang di kenal betul oleh hidungnya.


Orang itu segera melonggarkan pelukannya pada perut Rara hingga tubuh Rara melorot ke bawah.


Kedua kaki Rara mendarat di lantai. Secepatnya Rara berbalik dan mendongak ke atas melihat siapa pria dengan postur tinggi ini.


Mata Rara membulat sempurna melihat sosok yang berdiri di depannya. Rara terperangah. Kakinya termundur hingga punggungnya menabrak rak. Beberapa buku ringan berjatuhan di kebawah. Tapi belum sempat menyentuh kepalanya, dengan gerakan refleks tangan pria itu menarik tubuh Rara kepadanya dan di peluk. Kedua tangan kekarnya melindungi kepala dan punggung Rara. Buku buku jatuh melewati kepala dan punggung Rara. Rara yang kaget dan juga merasa takut terdiam dalam pelukan pria itu. Hening dalam beberapa saat. Keduanya berdiri dengan masih posisi berpelukan. Di selingi debaran jantung yang berdebar kencang. Keduanya terdiam saling mengekspresikan apa yang mereka rasakan lewat pelukan. Rasa yang hanya mereka sendiri yang tahu. Perasaan senang, bahagia bercampur sedih setelah enam bulan lamanya tak bertemu.


Beberapa saat kemudian Rara tersadar dengan keadaan mereka. Rara mendorong pelan tubuh kekar itu. Dia sungguh tidak menyangka lelaki ini berada di ruang kerja papanya, berdiri tepat di depannya. Lelaki yang membuatnya sedih dan di rindukan dalam diam. Dia baru saja memikirkan pria ini, dan kini muncul di depannya.


Rara segera menetralkan debaran jantung dan juga menenangkan hatinya yang terasa campur aduk.


"Khanza....!" kata yang keluar dari bibir pria itu yang tak lain adalah Cio. Cio tersenyum menatapnya.


Rara menatap wajah yang tampak ditumbuhi bulu-bulu halus, tidak seperti dulu bersih dan mulus. Kakaknya itu kini mempunyai kumis dan jenggot tidak terlalu lebat yang tertata rapi. Hingga membuat kakaknya ini lebih maskulin. Wajah semakin tampan, jantan dan.....seksi di mata Rara. Ya tuhan, kenapa dengan pikiran ini? batin Rara merasa aneh dengan dirinya.


Rara segera berpaling dari wajah itu.


"Papa nggak ada. Beliau sedang bertemu tamu penting diruang rapat. Silahkan kakak susul saja ke sana." kata Rara berusaha bersikap acuh dan tenang. Mungkin saja Cio ke mari karena ingin bertemu papanya.


"Khanza sepertinya gak suka ya kakak ada di sini?" tanya Cio merasakan sikap Khanza yang masih menjaga jarak darinya. Dia tahu kenapa sikap Khanza seperti itu. Karena dirinya yang telah menikah dan mempunyai istri.


"Kakak ke sini bukan untuk bertemu Daddy. Tapi untuk bertemu Khanza." Cio mendekatinya.


Rara menatap wajahnya."Untuk apa?"


"Untuk apa?" Cio balik bertanya sambil menatap lekat wajah Khanza.


"Setengah tahun lamanya kita tidak pernah bertemu dan tidak pernah berhubungan lewat telepon. Tentu saja kakak merindukan mu!" Cio memegang bahunya.


Rara menelan ludah, hatinya terenyuh. Tapi dia tidak mau menampakkan kesedihannya. Rara berusaha tersenyum. Menyingkirkan tangan Cio di bahunya.


"Kakak sudah melihat Rara kan? Rara baik baik saja. Sebaiknya kakak kembali saja. Rara mau keluar menemui papa ! Permisi." kata Rara. Dia tidak mau berduaan dengan pria ini. Bagaimana jika Anggi sampai tahu? cap buruk pengganggu suami orang dan perusak rumah tangga orang pasti akan di lontarkan lagi padanya. Jika Cio tidak mau keluar, biar dia saja yang keluar. Dari pada akan menimbulkan fitnah lagi yang akan merusak hubungan dan kebahagiaan orang lain.


Rara segera meraih tas lalu berjalan meninggalkan Cio. Tapi belum sempat membuka pintu, sebuah pelukan mendarat di perutnya menghentikan langkahnya. Rara kaget. Jantungnya mulai tak karuan lagi.


"Kak, lepas. Jangan peluk peluk." Rara berusaha melepaskan tangan Cio yang melingkar erat di perutnya. Sementara dagu Cio berada di bahu kanannya.


"Kenapa? Apa gak boleh peluk adik sendiri?" kata Cio menghirup aroma wangi rambut gadis ini dengan mata terpejam.


"Kita hanya kakak dan adik sepupu. Bukan saudara kandung. Gak boleh terlalu dekat begini. Kakak juga sudah menikah. Jangan peluk Rara begini lagi." kata Rara tegas dengan perasaan tidak tenang.

__ADS_1


"Kakak gak perduli. Kakak sangat merindukanmu." Ryu acuh, lalu mendaratkan kecupan di pipi kanan gadis itu karena tidak tahan mencium gadis ini.


Rara terperanjat segera menyentuh pipinya yang kena cium.


"Apa yang kaka lakukan?" katanya dengan suara meninggi. Tidak menyangka Ryu akan menciumnya. Dia berusaha melepaskan tangan Ryu, tapi pelukan itu malah semakin kuat.


"Khanza gak tahu apa yang kakak lakukan tadi? Baik, kakak ulang lagi." kata Ryu tersenyum jahil, dengan gerakan cepat kembali melayang kan kecupan kuat di pipi kiri Khanza.


Rara terlambat mengelak. Dia kembali terkejut dengan apa yang di lakukan Ryu.


"Lepas kak, jangan seperti ini." Rara mulai takut.


"Kenapa? Dulu kita biasa dekat dan berpelukan seperti ini. Bukan hanya itu, kita saling berbalas ciuman. Apa Khanza lupa?" Ryu kembali tersenyum jahil menggoda.


Rara kembali kaget mendengar ucapan itu. Ryu berani menggoda dirinya di saat sudah punya istri dan akan menjadi seorang calon ayah.


Ryu membalikkan tubuh Khanza menghadap padanya, lalu menekan tubuh mungil itu ke pintu sehingga sulit bergerak. Dia menatap wajah manis yang semakin cantik dan menggoda.


"Khanza ingat kan sedekat apa kita dulu? Kakak sangat rindu dengan kebersamaan kita dulu." kata Ryu menatap dalam-dalam netra Khanza. Dia sangat merindukan gadis ini. Rindu yang tidak dapat di bendung lagi membuat berat badannya turun karena tersiksa menahan kerinduan yang teramat sangat. Kepergian Khanza membuat separuh jiwanya pergi, separuh hidupnya terasa mati. Dan selama enam bulan gadis ini tidak pernah menghubunginya dan memang sengaja menjauhinya demi kebahagiaannya bersama Anggi.


"Tapi kita nggak bisa seperti itu lagi kak. Kakak udah menikah dan punya istri! Jangan lakukan itu lagi." Rara mencoba memberi pengertian.


"Kakak gak bisa lakukan itu, kakak tidak bisa menjauhi mu. Apa Khanza gak merindukan kakak setelah lama tidak bertemu?" Ryu memegang wajah Khanza yang hanya beberapa centi di depan wajahnya. Hembusan nafas tak beraturan gadis ini sangat terasa menerpa wajahnya. Matanya liar menatap mata dan bibir Khanza bergantian.


Rara gugup dengan kedekatan wajah mereka.


"Rindu, tapi gak kayak gini juga kan? Yang penting kita udah ketemu dan kita baik baik saja! Tolong lepasin Rara. Mundur lah. Nanti ada yang masuk gimana, Terus melihat kita sangat dekat begini? Tolong.....kakak membuat Rara takut." Rara memelas karena jujur sangat takut. "Rara mohon kita jangan dekat-dekat seperti ini lagi." Rara semakin gelisah jika ada yang melihat mereka saat ini. Dan Ryu hanya cuek dan tampak tenang tak ada khawatir sedikitpun terlihat dari wajahnya.


Rara segera mendorong dada Cio kuat saat pria itu lengah. Ryu tergerak mundur. Dia agak kesal dengan sikap Khanza.


"Kalau kakak gak mau jauh dari Khanza gimana?" dia mendekatkan wajah mereka, lalu mencium bibir Khanza dengan gerakan cepat.


Mata Rara membulat sempurna. Kaget bukan main. Dia kembali mendorong tubuh Ryu sangat kuat, lalu menyentuh bibirnya.


Ryu menatapnya."Kakak tidak akan bisa jauh darimu." katanya menatap kesal. Lalu membuka pintu dan melangkah keluar. Dia tersenyum seraya menyentuh bibirnya. Akhirnya dia dapat menyentuh kembali benda kenyal merah alami yang sangat di rindukan itu. Juga memeluk tubuh mungil dan mencium aroma wangi kesukaannya.


Sementara Rara masih termangu di tempatnya mendengar ucapannya. Bagaimana bisa kakaknya bisa melakukan itu padanya? Apa kakaknya itu gak berpikir kalau kelakuannya itu akan menyakiti hati Istrinya? Membuat Anggi hancur dan terluka? Dia tega menyentuh perempuan lain secara berlebihan tak memikirkan Anggi yang sedang hamil anaknya? batin Rara.


Rara merasakan Cio yang dulu beda dengan sekarang. Cio dulu terlalu takut untuk menunjukkan perasaannya kepada dirinya. Tapi setelah menikah malah berani, tidak canggung, tidak merasa bersalah dan tidak memikirkan kalau dia telah mempunyai istri.


Rara mendesah gusar terbayang kembali apa yang di lakukan Cio tadi. Dia terus menyentuh bibirnya.


*****


Rara semakin pusing dan tidak tenang setelah masuknya pesan terakhir. Di mana orang yang menemukan ponselnya itu memberi waktu padanya hanya sampai batas tengah malam. Jika dia tidak dapat menyiapkan uang yang di inginkan dalam batas yang di tentukan, maka ponselnya akan di hancurkan dan akan di buang ke tempat di mana tak ada seorang pun yang akan menemukannya.


Rara membuang nafas berat dengan wajah di tekuk."Apa Rara minta bantuan papa saja ya?" gumamnya. "Tapi Rara harus jawab apa jika papa tanya alasan untuk uang apa itu?" gumamnya kembali. Tak mungkin dia mengatakan alasan itu pada papanya. Nanti orang tuanya akan tahu perasaan dirinya yang sesungguhnya pada Cio, kakaknya. Perasaan yang di pendam dan sembunyikan selama ini seorang diri. Hanya dia dan tuhan yang tahu.


Mau minta tolong pada ke tiga kakaknya, gak mungkin. Mereka pasti belum memiliki uang sebanyak itu. Belum lagi dia akan kena ledekan dari Riez dan Ryan jika mereka tahu alasannya meminjam uang itu.


"Ya ampun, harus bagaimana? Benar benar menyebalkan tuh orang. Gak war war meminta imbalan sebanyak itu." dengus Rara mengacak kasar rambutnya. Salahnya sendiri juga kenapa menyatakan akan memberikan imbalan apapun dan berapa pun.


Rara teringat sesuatu. Segera dia mengambil tas sekolahnya. Lalu mengambil dompet kartunya. Dia teringat kartu kredit yang di berikan Ryu padanya waktu di Paris. Rara segera mengambil kartu itu.


"Isinya berapa ya?" Rara berpikir mungkin isinya tidak terlalu banyak, tapi yang penting bisa menambah uang tabungannya.


Rara segera keluar menuju ruang kerja papanya. Dia mendekati mesin Atm canggih yang berada di samping meja kerja papanya. Rara segera memasukkan kartu ATM dan mengikuti langkah langkah petunjuk.


Rara terbelalak melihat saldo.


"I- ni....benar isinya?" melongo, dia kaget melihat angka nominal yang tertera. Di cek sekali lagi hasilnya tetap sama. Jumlahnya berlipat lipat dari imbalan yang di minta oleh si penemu ponselnya.


"Kartu ini memang kakak berikan untukmu. Khanza bebas memakainya. Itu milikmu, Pakailah sesukamu." kata Ryu waktu dia mengembalikan kartu itu saat hendak pulang ke tanah air. Kata kata itu terngiang di telinga Rara. Dia tidak sempat memakai kartu kredit itu makanya tidak mengetahui isinya.


"Ini benar kakak berikan untuk Rara? Atau mungkin kakak salah kasih kartu? Tapi sepertinya nggak, karena kode PIN nya tanggal lahir Rara!" guman Rara lagi.


Atau benar memang ini semua untuk Rara? "Khanzalah alasan kakak bekerja keras selama ini. Khanza adalah motivasi kakak, inspirasi dan penyemangat hidup kakak. Semua yang kakak lakukan, hasil keringat, kerja keras dan lelah kakak hanya untuk Khanza." kata kata Cio yang di ingatnya kembali terngiang di telinganya.


Rara mendesah sedih dengan mata berkaca-kaca.


Sekarang dia mengerti semua angka nominal yang ada dalam kartu ini adalah keseluruhan Keuangan Cio yang di berikan padanya. Rara sangat yakin akan hal itu. Belum terhitung harta kekayaan bergerak dan tidak bergerak milik Cio yang tercantum atas namanya. Rara melihat dokumen dokumen penting itu tersimpan pada lemari rahasia Cio. Rara benar benar gak menyangka, begitu sayangnya Cio pada dirinya.


Rara terduduk lemas di kursi kerja Rafa.


"Ya ampun, Kenapa kak Cio memberikan semua ini untuk Rara? Rara tidak pantas memiliki ini semua. Seharusnya ini menjadi milik kak Anggi dan juga anak anak mereka nanti. Rara gak punya hak atas semua itu. Rara harus mengembalikannya." gumamnya. Seandainya ponselnya itu ada, dia pasti akan menghubungi Anggi untuk mengembalikan kartu itu, karena nomor Anggi ada di ponsel itu. Dia mau memberi tahu tentang kartu kredit ini dan menyerahkan kepdanya, karena Anggi adalah istri Cio dan sedang mengandung anaknya.


Setelah tahu isi dari kartu itu, Rara batal untuk memakai uang dari situ karena merasa takut menggunakannya. Meski kata Cio semua itu adalah miliknya, dan bebas di pakai semaunya.


Dia teringat ponsel Wisnu. Pasti ada nomor Cio tersimpan pada kontak telepon asisten pribadi papanya itu. Tujuannya untuk mengembalikan kartu itu. Rara segera memeriksa kontak telepon Wisnu. Benar, ada nomor Cio tersimpan di sana. Rara hendak menekan nomor kontak itu, tapi urung. Sudah lama mereka tidak saling berhubungan. Rara tidak ingin mengganggu kehidupan dan juga kebahagiaan kakaknya itu. Lebih baik dia akan meminta tolong pada papanya untuk mengembalikan kartu itu. Rara menyimpan kembali kartu kredit dan ponsel Wisnu ke dalam tasnya. Dia bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar pribadi. Saat melewati rak rak buku, dia melihat sebuah buku yang sangat di inginkan. Buku untuk bahan referensi tugas sekolahnya. Tadi tak sempat di beli di toko buku karena menghindari Anggi. Dan ternyata buku yang di inginkan itu ada di ruang kerja papanya. Rara tersenyum senang. Dia mendekati rak rak buku dan melihat lihat setiap buku. Setiap sampul di bacanya, siapa tahu ada buku Fitri dan Riri di sini. Lima menit berlalu mencari tak menemukan buku yang dan inginkan ke dua sahabatnya, Rara segera mendekati rak di mana buku yang di inginkan. Susah payah Rara mengambil buku tersebut karena berada di atas. Dia terus menggapai benda itu dengan kaki menjijit, kepala semakin mendongak ke atas. Lehernya di rasakan sakit. "Ampun, betapa tingginya rak ini." keluhnya.


Rara kembali menjijit dan mengambil benda segi empat yang sudah tersentuh oleh jari jemarinya.


"Yeee, akhirnya Rara dapat." ucapnya girang karena berhasil mengambil buku itu. Rara tersenyum senang. Tapi sesaat kemudian dia terdiam merasakan aneh pada dirinya. Tubuhnya terangkat ke atas. Kedua kakinya tidak menyentuh lantai. Rara menunduk ke bawah, benar kakinya tampak tergantung. Matanya menangkap dua tangan kekar melingkar di perutnya.


Hah? dia sadar ternyata tubuhnya di angkat ke atas oleh seseorang saat berusaha menggapai buku itu. Dan orang itu masih terus memeluk perutnya. Rara tidak dapat melihat wajah orang itu karena memeluknya dari belakang. Tapi dapat di pastikan kalau orang di belakangnya ini adalah seorang pria, dengan melihat kedua lengannya yang besar memakai kemeja putih. Rara berontak.

__ADS_1


"Lepas...Lepaskan Rara!" merasa takut entah siapa orang ini bisa masuk sembarangan di ruang kerja papanya. Rara menggerakkan tubuhnya dan melepaskan kedua tangan itu dari perutnya.


"Aroma wangi ini?" batinnya termangu ketika hidungnya menangkap aroma parfum yang di kenal betul oleh hidungnya.


Orang itu segera melonggarkan pelukannya pada perut Rara hingga tubuh Rara melorot ke bawah.


Kedua kaki Rara mendarat di lantai. Secepatnya Rara berbalik dan mendongak ke atas melihat siapa pria dengan postur tinggi ini.


Mata Rara membulat sempurna melihat sosok yang berdiri di depannya. Rara terperangah. Kakinya termundur hingga punggungnya menabrak rak. Beberapa buku ringan berjatuhan di kebawah. Tapi belum sempat menyentuh kepalanya, dengan gerakan refleks tangan pria itu menarik tubuh Rara kepadanya dan di peluk. Kedua tangan kekarnya melindungi kepala dan punggung Rara. Buku buku jatuh melewati kepala dan punggung Rara. Rara yang kaget dan juga merasa takut terdiam dalam pelukan pria itu. Hening dalam beberapa saat. Keduanya berdiri dengan masih posisi berpelukan. Di selingi debaran jantung yang berdebar kencang. Keduanya terdiam saling mengekspresikan apa yang mereka rasakan lewat pelukan. Rasa yang hanya mereka sendiri yang tahu. Perasaan senang, bahagia bercampur sedih setelah enam bulan lamanya tak bertemu.


Beberapa saat kemudian Rara tersadar dengan keadaan mereka. Rara mendorong pelan tubuh kekar itu. Dia sungguh tidak menyangka lelaki ini berada di ruang kerja papanya, berdiri tepat di depannya. Lelaki yang membuatnya sedih dan di rindukan dalam diam. Dia baru saja memikirkan pria ini, dan kini muncul di depannya.


Rara segera menetralkan debaran jantung dan juga menenangkan hatinya yang terasa campur aduk.


"Khanza....!" kata yang keluar dari bibir pria itu yang tak lain adalah Cio. Cio tersenyum menatapnya.


Rara menatap wajah yang tampak ditumbuhi bulu-bulu halus, tidak seperti dulu bersih dan mulus. Kakaknya itu kini mempunyai kumis dan jenggot tidak terlalu lebat yang tertata rapi. Hingga membuat kakaknya ini lebih maskulin. Wajah semakin tampan, jantan dan.....seksi di mata Rara. Ya tuhan, kenapa dengan pikiran ini? batin Rara merasa aneh dengan dirinya.


Rara segera berpaling dari wajah itu.


"Papa nggak ada. Beliau sedang bertemu tamu penting diruang rapat. Silahkan kakak susul saja ke sana." kata Rara berusaha bersikap acuh dan tenang. Mungkin saja Cio ke mari karena ingin bertemu papanya.


"Khanza sepertinya gak suka ya kakak ada di sini?" tanya Cio merasakan sikap Khanza yang masih menjaga jarak darinya. Dia tahu kenapa sikap Khanza seperti itu. Karena dirinya yang telah menikah dan mempunyai istri.


"Kakak ke sini bukan untuk bertemu Daddy. Tapi untuk bertemu Khanza." Cio mendekatinya.


Rara menatap wajahnya."Untuk apa?"


"Untuk apa?" Cio balik bertanya sambil menatap lekat wajah Khanza.


"Setengah tahun lamanya kita tidak pernah bertemu dan tidak pernah berhubungan lewat telepon. Tentu saja kakak merindukan mu!" Cio memegang bahunya.


Rara menelan ludah, hatinya terenyuh. Tapi dia tidak mau menampakkan kesedihannya. Rara berusaha tersenyum. Menyingkirkan tangan Cio di bahunya.


"Kakak sudah melihat Rara kan? Rara baik baik saja. Sebaiknya kakak kembali saja. Rara mau keluar menemui papa ! Permisi." kata Rara. Dia tidak mau berduaan dengan pria ini. Bagaimana jika Anggi sampai tahu? cap buruk pengganggu suami orang dan perusak rumah tangga orang pasti akan di lontarkan lagi padanya. Jika Cio tidak mau keluar, biar dia saja yang keluar. Dari pada akan menimbulkan fitnah lagi yang akan merusak hubungan dan kebahagiaan orang lain.


Rara segera meraih tas lalu berjalan meninggalkan Cio. Tapi belum sempat membuka pintu, sebuah pelukan mendarat di perutnya menghentikan langkahnya. Rara kaget. Jantungnya mulai tak karuan lagi.


"Kak, lepas. Jangan peluk peluk." Rara berusaha melepaskan tangan Cio yang melingkar erat di perutnya. Sementara dagu Cio berada di bahu kanannya.


"Kenapa? Apa gak boleh peluk adik sendiri?" kata Cio menghirup aroma wangi rambut gadis ini dengan mata terpejam.


"Kita hanya kakak dan adik sepupu. Bukan saudara kandung. Gak boleh terlalu dekat begini. Kakak juga sudah menikah. Jangan peluk Rara begini lagi." kata Rara tegas dengan perasaan tidak tenang.


"Kakak gak perduli. Kakak sangat merindukanmu." Ryu acuh, lalu mendaratkan kecupan di pipi kanan gadis itu karena tidak tahan mencium gadis ini.


Rara terperanjat segera menyentuh pipinya yang kena cium.


"Apa yang kaka lakukan?" katanya dengan suara meninggi. Tidak menyangka Ryu akan menciumnya. Dia berusaha melepaskan tangan Ryu, tapi pelukan itu malah semakin kuat.


"Khanza gak tahu apa yang kakak lakukan tadi? Baik, kakak ulang lagi." kata Ryu tersenyum jahil, dengan gerakan cepat kembali melayang kan kecupan kuat di pipi kiri Khanza.


Rara terlambat mengelak. Dia kembali terkejut dengan apa yang di lakukan Ryu.


"Lepas kak, jangan seperti ini." Rara mulai takut.


"Kenapa? Dulu kita biasa dekat dan berpelukan seperti ini. Bukan hanya itu, kita saling berbalas ciuman. Apa Khanza lupa?" Ryu kembali tersenyum jahil menggoda.


Rara kembali kaget mendengar ucapan itu. Ryu berani menggoda dirinya di saat sudah punya istri dan akan menjadi seorang calon ayah.


Ryu membalikkan tubuh Khanza menghadap padanya, lalu menekan tubuh mungil itu ke pintu sehingga sulit bergerak. Dia menatap wajah manis yang semakin cantik dan menggoda.


"Khanza ingat kan sedekat apa kita dulu? Kakak sangat rindu dengan kebersamaan kita dulu." kata Ryu menatap dalam-dalam netra Khanza. Dia sangat merindukan gadis ini. Rindu yang tidak dapat di bendung lagi membuat berat badannya turun karena tersiksa menahan kerinduan yang teramat sangat. Kepergian Khanza membuat separuh jiwanya pergi, separuh hidupnya terasa mati. Dan selama enam bulan gadis ini tidak pernah menghubunginya dan memang sengaja menjauhinya demi kebahagiaannya bersama Anggi.


"Tapi kita nggak bisa seperti itu lagi kak. Kakak udah menikah dan punya istri! Jangan lakukan itu lagi." Rara mencoba memberi pengertian.


"Kakak gak bisa lakukan itu, kakak tidak bisa menjauhi mu. Apa Khanza gak merindukan kakak setelah lama tidak bertemu?" Ryu memegang wajah Khanza yang hanya beberapa centi di depan wajahnya. Hembusan nafas tak beraturan gadis ini sangat terasa menerpa wajahnya. Matanya liar menatap mata dan bibir Khanza bergantian.


Rara gugup dengan kedekatan wajah mereka.


"Rindu, tapi gak kayak gini juga kan? Yang penting kita udah ketemu dan kita baik baik saja! Tolong lepasin Rara. Mundur lah. Nanti ada yang masuk gimana, Terus melihat kita sangat dekat begini? Tolong.....kakak membuat Rara takut." Rara memelas karena jujur sangat takut. "Rara mohon kita jangan dekat-dekat seperti ini lagi." Rara semakin gelisah jika ada yang melihat mereka saat ini. Dan Ryu hanya cuek dan tampak tenang tak ada khawatir sedikitpun terlihat dari wajahnya.


Rara segera mendorong dada Cio kuat saat pria itu lengah. Ryu tergerak mundur. Dia agak kesal dengan sikap Khanza.


"Kalau kakak gak mau jauh dari Khanza gimana?" dia mendekatkan wajah mereka, lalu mencium bibir Khanza dengan gerakan cepat.


Mata Rara membulat sempurna. Kaget bukan main. Dia kembali mendorong tubuh Ryu sangat kuat, lalu menyentuh bibirnya.


Ryu menatapnya."Kakak tidak akan bisa jauh darimu." katanya menatap kesal. Lalu membuka pintu dan melangkah keluar. Dia tersenyum seraya menyentuh bibirnya. Akhirnya dia dapat menyentuh kembali benda kenyal merah alami yang sangat di rindukan itu. Juga memeluk tubuh mungil dan mencium aroma wangi kesukaannya.


Sementara Rara masih termangu di tempatnya mendengar ucapannya. Bagaimana bisa kakaknya bisa melakukan itu padanya? Apa kakaknya itu gak berpikir kalau kelakuannya itu akan menyakiti hati Istrinya? Membuat Anggi hancur dan terluka? Dia tega menyentuh perempuan lain secara berlebihan tak memikirkan Anggi yang sedang hamil anaknya? batin Rara.


Rara merasakan Cio yang dulu beda dengan sekarang. Cio dulu terlalu takut untuk menunjukkan perasaannya kepada dirinya. Tapi setelah menikah malah berani, tidak canggung, tidak merasa bersalah dan tidak memikirkan kalau dia telah mempunyai istri.


Rara mendesah gusar terbayang kembali apa yang di lakukan Cio tadi. Dia terus menyentuh bibirnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2