Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
27. Aku hanya menyayangimu, bukan dia atau wanita lain.


__ADS_3

Ryu merasa bersalah karena sempat punya perasaan kecewa dan marah pada Rara. Seharusnya dia tidak mengadakan rasa itu hanya karena sesuatu yang di rasakan pada gadis itu dan ketidak sukaan nya pada Rangga. Rara wajar dekat dengan siapa saja, termasuk Rangga. Apalagi keduanya teman sekolah.


"Maafkan kakak dek," ucapnya seraya mengelus lembut pipi mulus Khanza yang sedang tertidur lelap. Dia membawa tubuh Rara begitu sampai ke rumah, lalu di baringkan ke ranjang. Dia menyuruh pelayan mengganti pakaian Rara dengan baju tidur Ara sewaktu muda dulu. Karena ini mansion pribadi Rafa di Paris. Ryu membawa pulang Rara ke hunian Rafa yang tidak di ketahui Rara sama sekali.


"Selamat tidur, semoga mimpi indah." ucapnya. Lalu mengecup kening khanza lembut, mematikan lampu ruang dan hanya menyisakan lampu duduk di dekat ranjang. Kemudian keluar.


Dia menuju kamar di sebelah. Melepas pakaiannya, dan merendam tubuhnya di dalam bathtub untuk mendinginkan hati dan pikirannya yang panas. Sala satu tangannya menyentuh tato di dadanya yang bertuliskan nama Khanza.


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Setelah melaksanakan shalat malam, Ryu membuka laptop untuk memeriksa laporan pekerjaan yang di kirim Simon lewat email. Karena sulit tidur, dia berpikir lebih baik bekerja saja untuk mengalihkan segala rasa yang menyesakkan dada.


Dua jam berkutat dengan sangat serius, dia tak menyadari kedatangan Rara.


Gadis itu memeluknya dari belakang.


"Kakak....!" suara serak manja.


Rara melingkarkan ke dua tangan di bahu Ryu.


"Khanza?" Ryu kaget.


"Katanya capek dan mengantuk, kenapa kakak nggak tidur dan malah bekerja?" kata Rara tepat di telinga Ryu.


"Kakak sudah tidur tadi. Ini baru mulai kerjanya." bohong Ryu.


"Khanza sendiri kenapa bangun? Ayo tidur lagi! Ini belum subuh." Ryu menarik pelan tangan Khanza. Sehingga gadis itu berdiri di depannya.


Mata Ryu di suguhkan pemandangan indah tubuh Khanza yang memakai lingerie berbahan tipis, terbuka bagian atasnya, dan bagian bawahnya yang hanya sebatas paha. Kedua buah segar seukuran genggamannya tampak membentuk karena Rara tak memakai bra.


Ryu mengalihkan tatapannya dari keindahan itu. Dia menatap wajah kusut Rara yang manis dan polos alami. Rambutnya yang acakan.


Rara segera duduk di pangkuan Ryu dengan posisi menghadap pada Ryu. Kedua tangannya melingkar di bahu Ryu. Ryu kaget dan semakin tidak tenang. Tanpa sadar Ryu menelan Saliva nya merasakan gestur tubuh Rara. Kedua gunung kembar itu menyentuh dadanya. Pucuknya yang bulat sangat terasa menyentuh kulit tubuhnya yang terbuka, karena dia hanya memakai jubah tidur di ikat asal hingga sebagian dadanya terbuka.


Jantung Ryu berdebar-debar. Nafasnya jadi turun naik tak beraturan. Dia sangat gelisah, sementara Rara tanpa tenang tak merasakan apapun.


Ryu segera menormalkan debaran jantungnya, juga rasa yang bergejolak di hati sebelum bagian pribadi tubuhnya di bawah sana memegang dan di rasakan Rara, karena dia hanya memakai celana bokser sepaha.


"Ya tuhan, rasa ini harus di hilangkan. Aku tidak boleh memiliki perasaan seperti ini. Khanza adikku... Adikku. Kenapa aku bisa tergoda oleh keindahan adikku?" batinnya. Berusaha meredam menghilangkan gejolak hasrat yang memenuhi kepala, pikiran dan hatinya. Ryu berusaha tenang, menghirup nafas lalu membuangnya. Di lakukan beberapa kali.


"Kakak kenapa? kok gelisah begitu?" tanya Rara melihat wajah Ryu tampak tegang. Dia memegang wajah Ryu, melihat mata Ryu yang gelisah dan tampak kemerahan karena di penuhi kabut gairah. Tapi Rara tidak tahu hal itu.


"Kedua mata kakak juga tampak merah!" lanjut Rara.


"Ahh.....itu mungkin karena kakak kurang tidur. Gak apa-apa kok. Bentar lagi akan normal kembali." jawab Ryu tersenyum, dia kelabakan dan gugup.


"Sebaiknya Khanza tidur lagi!" mengalihkan pembicaraan.


"Kak, kita ada di mana? Kamarnya kok lain ya? beda sama kamar Rara di rumah Kakak." tanya Rara menatap kembali mata Ryu.


Pasalnya dia kaget saat terbangun dari tidur melihat ruang kamar yang berbeda. Makanya dia keluar mencari Ryu. Dan untungnya dia mendapatkan Ryu di ruang ini.

__ADS_1


Ryu kembali menelan ludah. Hembusan nafas Rara menerpa di wajahnya saat gadis itu bicara. Karena jarak wajah mereka yang hanya sejengkal.


"Kita di rumahnya Daddy Rafa." Ryu segera mengangkat tubuh Khanza membawanya ke tempat tidur.


"Rumah papa?'


"Iya, rumah Daddy Rafa dan mama Ara. Ini rumah mereka di Paris. Kakak sengaja membawamu ke sini biar kamu tahu rumahmu sendiri." ujar Ryu kembali.


Rara sedikit kaget, Jadi ini rumah papa dan mama di Paris, batinnya. Dia sama sekali tidak tahu rumah orang tuanya yang berada di luar negeri, Properti properti lainnya dan juga perusahaan papanya yang berada di luar negeri. Karena baru kali ini dia keluar negeri.


"Sebaiknya Khanza tidur kembali!" kata Ryu.


Membaringkan tubuh Khanza di atas ranjang, lalu menyelimutinya.


"Kakak juga tidurlah.....!" Kata Khanza menahan tangan Ryu yang hendak duduk di bibir ranjang untuk menemaninya tidur.


"Rara mau tidur sama kakak. Baringlah di dekat Rara!" kata Rara seraya membuka selimut hingga tubuh indahnya kembali memenuhi mata Ryu.


Ryu menatap wajah Khanza sejenak. Sengaja dia menyuruh Rara kembali tidur untuk menjaga jarak dekat di antara mereka, tapi Rara malah mengikis jarak di antara keduanya dengan mengajak tidur bersama.


"Dek...!" mencoba untuk menolak, tapi Rara malah kembali memintanya.


"Cepat naik kak, temani Rara tidur!" pinta Rara sedikit merengek. Dia sengaja memaksa Ryu karena dia tahu kakaknya itu belum tidur dengan melihat matanya yang merah.


Rara menarik tangan Ryu hingga tubuh kekar itu bergerak naik ke ranjang. Ryu buru buru menutup dadanya, lalu segera berbaring di samping Rara.


Rara menaruh kepalanya di lengan Ryu, lalu menutupkan selimut ke tubuh mereka.


"Kita tidak bisa terus seperti ini dek." batinnya. Tidur bersama berpelukan, dekat tanpa jarak seperti layaknya pasangan suami istri. Kenapa Khanza tidak bisa menyadari hal itu.


Sebenarnya mereka bisa tidur seranjang, tapi dia yang tidak bisa mengontrol hati dan juga apa yang di rasakan pada gadis ini.


Rara menengadah ke atas melihat wajah Ryu


"Sejak tadi Rara perhatikan Kakak gak tenang, diam terus tidak seperti biasa. Ada apa? Apa kakak marah sama Rara?"


Wajah Ryu mengernyit.


"Marah? Kenapa kakak harus marah sama Rara?" melihat wajah Rara.


"Tadi Rara main sama Rangga sampai lupa waktu."


Ryu tersenyum. Dia mengecup kening Khanza.


"Nggak kok, mana bisa kakak marah sama Khanza? Kakak sangat menyayangi mu dan tidak akan bisa marah kepadamu. Kakak hanya tidak ingin Khanza kecapean dan kakinya sakit lagi!" ujar Ryu menatap mata Khanza.


"Khanza sepertinya senang main sama temannya." kata Ryu lagi mengingat permainan games tadi.


"Iya, Rara senang." jawab Rara tersenyum senang.

__ADS_1


"Orangnya cool dan tampan." kata Ryu menatap mata Rara.


"Iya, Rangga tuh salah satu cowok yang di idolakan teman teman Rara di sekolah. Hampir semua siswi di sekolah menyukainya, bersaing ingin menjadi pacarnya. Berlomba lomba untuk mendapatkan dirinya."


"Hampir semua?"


"Iya," Rara mengangguk.


"Termasuk Khanza?" tanya Ryu menebak isi hati Khanza pada.


"Nggak lah, Rara nggak suka."


"Selain tampan, Rangga juga baik. Sepertinya dia suka dan sayang sama Khanza."


"Iya, Rangga tuh salah satu cowok yang naksir sama Rara di sekolah. Rara pernah bilang kan sama kakak?" kata Rara lagi.


"Terus kenapa Khanza nggak suka sama dia?"


"Rara nggak tertarik."


"Memang Khanza punya seseorang yang di sukai?" kembali menebak hati Khanza.


"Nggak ada." Rara menggeleng.


"Atau Khanza punya kriteria khusus?"


"Nggak ada." Rara menggeleng. "Rara masih ingin sekolah. Gak mau mikir cowok apalagi pacaran. Buat apa mikirin cowok. Rara kan udah punya mama papa, kakak' R( Riez, Ryan, Raka) dan juga kak Cio yang sayang sama Rara." kata Rara dengan polosnya. Dia mendaratkan kecupan cepat di bibir Ryu dengan ujung bibirnya.


Ryu melongo, matanya terbuka mendapat kecupan itu. Ini bukan kecupan pertama yang di lakukan Rara, tapi kenapa hatinya bergetar begini?


Rara tiba tiba teringat pada Anggi, kekasih Ryu.


"Nanti kalau kakak udah nikah sama kak Anggi, Kakak akan tetap sayang kan sama Rara?"


Ryu terpaku mendengar pertanyaan itu. Dia menurunkan sedikit tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Khanza. Di tatapannya netra Khanza. Jarinya membelai lembut pipi Khanza. Keduanya saling menatap.


"Sudah kakak katakan, kakak menyangimu lebih dari apapun di dunia ini. Kakak menyayangimu sejak berada dalam rahim mama Ara, menyayangi mu sekarang dan nanti selamanya. Kasih sayang kakak tidak akan berubah dan berkurang sedikitpun, malah semakin bertambah! Khanza jangan bertanya itu lagi dan meragukan kasih sayang kakak." kata Cio menekankan rasa sayangnya yang bercampur rasa lain pada Khanza.


Rara tersenyum terharu.


"Rara hanya takut, kakak akan melupakan Rara jika sudah menikah dengan....!"


Ucapan Rara terputus oleh kecupan Ryu di bibirnya. Ryu menekan beberapa detik bibirnya.


"Tidak ada yang perlu Khanza takutkan. Jangan memikirkan dan bertanya hal itu lagi. Sekarang tidurlah." katanya kemudian.


"Aku hanya menyayangi mu, bukan Anggi atau wanita lain!" batinnya seraya memeluk tubuh mungil Khanza.


*****

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote nya ya.....!


__ADS_2