Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
18. Wajah menakutkan


__ADS_3

Pintu dibuka.


"Khanza?" ucap Cio begitu melihat sosok Khanza di dalam.


Sedangkan Simon segera pamit begitu tahu adik tuannya yang berada di dalam. Mereka mengira ada penjahat yang menyusup masuk sembunyi sembunyi ke rumah ini.


Ryu masuk mendekat. Dia memperhatikan Wajah Khanza. Wajah itu basah oleh air mata dan memancarkan kemarahan dari tatapannya yang tajam.


"Sepertinya Khanza telah melihat semua gambar foto itu. Hingga membuatnya sedih dan marah." batinnya melihat wajah sedih Khanza basah air mata.


Kenapa Khanza bisa ada di sini? Karena setahunya gadis ini sedang tidur di kamar sebelah. Kamar yang memang telah di buatkan untuk Khanza sejak dia membangun hunian mewah dan megah ini.


Cio segera mengulas senyum. Ingin mengalihkan suasana hati Khanza yang buruk.


"Khanza ada di sini ya? Kakak pikir masih tidur. Apa sudah lama bangunnya?" bertanya sambil berjalan. Tak ingin menanyakan alasan keberadaan Khanza di ruang ini.


"Jangan mendekat." sentak Rara seraya meletakkan tangannya di depan dada untuk memberi jarak dia dengan Cio.


Langkah kaki Cio seketika terhenti pada jarak dua meter."Khanza.....!"


"Jahat....dasar jahat." ucap Khanza dengan suara di tekan, lalu menyapu air matanya.


Kemudian berjalan menjauhi Cio melangkah menuju pintu.


Cio terkesiap.


"Khanza..." Panggilnya. Dia segera berbalik dan mengejar Khanza. Dia sudah dapat menebak hal pasti terjadi. Mendapatkan kemarahan dan kebencian gadis itu.


"Khanza, dengarkan kakak dulu."


"Rara gak mau dengar apa pun. Rara benci kakak. Kakak benar benar jahat. Kakak tega melakukan ini pada Rara?" teriak Khanza terus menangis dan berlari. Dia tidak menyangka Cio tega membuat dirinya tersiksa menahan kerinduan selama ini. Setiap saat setiap waktu dia selalu menunggu telepon dari Cio dan kepulangan Cio.


Dia memang marah dan membenci Cio, tapi bukan berarti dia melupakan dan tidak merindukan kakaknya itu. Bohong jika dia tidak merasakan hal itu. Selama ini dia menangis tersiksa dalam kerinduan. Dia memendam seorang diri tanpa mau berbagi pada siapa pun termasuk papa mamanya. Terkadang kerinduan itu terbawa hingga ke dalam tidurnya. Dia sering terbangun tengah malam memikirkan Cio yang tega melupakannya. Pikiran itu berlanjut marah dan benci. Tapi akhirnya kemarahan dan kebencian itu berubah jadi rindu. Rindu yang membuatnya menangis setiap saat.


Cio terus mengejarnya.


"Kakak tidak bermaksud seperti itu. Dengarkan kakak dulu dek!"


Khanza tak mengindahkan ucapannya. Khanza terus berlari menuju lift dan segera masuk. Menekan angka paling bawah. Dia mau pergi dari rumah ini. Dia tidak menyangka kalau rumah ini adalah rumah Cio.


Jadi di sini tempat kakaknya itu tinggal selama ini dan melupakannya? Bukan... tapi berpura pura melupakannya.


Para pelayan memperhatikan mereka dengan diam. Tak ada yang berani bertanya atau ikut campur karena takut.


Cio segera menuju tangga dan turun dengan langkah cepat. Dia menghubungi penjaga pintu masuk untuk menahan Khanza di pintu keluar.


Larinya yang sangat cepat membuatnya dapat menemui khanza tepat di depan pintu lift yang terbuka.


Cio segera menangkap Khanza saat gadis itu hendak lari.


"Lepas...!" teriak Khanza berontak.


"Nggak, kakak nggak akan lepasin kamu!Silahkan kamu marah pada kakak. Tapi sebelumnya dengarkan dulu penjelasan kakak!" Cio memeluknya kuat.


"Rara mau pulang. Rara mau papa dan mama!" Rara terus menangis. Menangis seperti anak kecil. Saat ini dia sangat butuh pelukan Papa dan mamanya.


"Kakak akan mengantarmu pulang. Kakak janji! Tapi kamu tenang dulu. Kamu tidak boleh pergi dengan keadaan seperti ini." Cio menekan tubuhnya di dinding lift karena terus berontak.


Cio terenyuh dan ikut sedih melihat air mata yang terus mengalir serta mendengar tangisan yang menyayat hatinya.


"Rara gak mau di sini. Rara benci kakak, Rara benci! Kakak jahat, Kakak tega. Kakak lebih jahat dari penjahat penjahat itu!"


Cio kembali terkesiap. Dadanya bergemuruh menahan kesedihan.


"Kakak minta maaf dek! Silahkan kamu marah dan benci kakak! Kakak akan terima!"


Cio menyapu pipi Rara yang basah.


"Tolong dengarkan penjelasan Kakak!"


Tapi Rara terus menangis.


"Kalau memang ada alasan yang harus di jelaskan, Kenapa gak dari dulu?" Rara menatap Cio.


"Jangan katakan apa pun, Rara gak mau dengar!" teriak Rara seraya menutup kupingnya.

__ADS_1


Cio kembali mendesah sedih. Mungkinkah memang dia yang salah dalam ini karena tidak mengatakan alasan menjauhi Khanza sejak awal? Tapi apa Khanza bisa menerima alasan itu di usianya yang masih kecil? Dia berpikir Rara pasti akan ketakutan dan menjauhinya.


"Rara mau pulang.... Rara mau papa, Rara mau mama, Hiks Hiks....!" Rara kembali menangis.


Cio kembali menyapu pipi Khanza yang terus basah sambil menekan tubuh mungil itu.


"Khanza sayang, maafkan kakak!"


"Rara...namaku RAIRARA, bukan nama jelek itu! Jangan panggil Rara dengan nama jelek itu. Rara benci nama itu, Rara gak suka!" kata Rara ketus dengan nada tinggi.


Cio membuang nafas berat menekan kesedihannya, menelan ludahnya yang terasa pahit.


"Gak apa-apa kalau Rara tidak suka nama itu dan tidak ingin menggunakannya lagi! Tapi kakak mohon, kasih kakak kesempatan untuk bicara dan menjelaskan____!"


"Diam...diam" sentak Rara keras memangkas ucapannya."Sudah Rara bilang jangan katakan apa pun. Rara tidak mau dengar! Kakak menyakiti Rara dan membuat Rara menderita selama ini. Kakak menyiksa Rara dalam kerinduan. Selama belasan tahun Rara menunggu kakak, menunggu telepon kakak, menunggu Kakak pulang seperti janji kita. Tapi____!"


Cio segera menutup mulut Rara dengan tangannya sebelum banyak mengeluarkan kata kata yang membuatnya sakit. Dia mengecup kening Rara, menempelkan hidung dan dahi mereka. Air matanya mengalir. Dia memegang Wajah Khanza. Keduanya saling menatap dengan isakan keluar dari mulut masing-masing.


"Maaf dek, maafkan kakak." Ucap Cio menangis terisak merasakan penderitaan yang dialami adiknya ini. Hatinya sungguh teriris setelah tahu isi hati dan perasaan Khanza yang sebenarnya pada dirinya selama belasan tahun ini. Dia mengira selama ini Rara sudah membencinya, melupakannya dan tidak menganggapnya kakak lagi. Karena selama belasan tahun Rara tak pernah menyebut namanya, mencari tahu dirinya, menanyakan kabarnya. Tapi ternyata gadis ini tersiksa, tertekan menahan kerinduan kepada dirinya dalam diam dan di pendam seorang diri. Sama seperti yang dia rasakan selama belasan tahun ini. Tersiksa menahan kerinduan.


Cio semakin terisak. Dia memeluk Khanza yang terus menangis dan berusaha melepaskan pelukannya.


"Kakak jahat, kakak tega!" Khanza memukul dada Cio.


"Kakak tidak bermaksud seperti itu! Tidak ada niat kakak untuk menyiksamu dan merasakan penderitaan itu. Kakak sangat menyayangi mu melebihi apapun di dunia ini. Maafkan kakak karena telah membuatmu menderita selama ini." Dia kembali memegang wajah Rara.


"Silahkan balas kakak, hukum Kakak! Kakak akan terima apa pun itu. Tapi tolong jangan benci Kakak! Kakak tidak tahan menerima kebencian mu setelah sekian lama kita terpisah! Kakak tidak mau kita berpisah lagi."


Tangisan Rara semakin keras mendengar ucapannya. Dia menangis seperti anak kecil.


Lift terbuka.


Cio segera mengangkat tubuhnya dan membawanya keluar dari lift karena di rasakan tubuh gadis itu mulai lemah dan gemetaran karena terlalu banyak menangis. Cio membawa Rara ke dalam kamarnya. Rara berontak dalam kondisi lemahnya untuk turun tapi Cio menahannya kuat.


"Rara gak mau di sini. Rara mau pulang ke rumah papa dan mama!"


Cio mengunci pintu.


"Kakak akan mengantarmu hari ini juga jika itu mau mu. Tapi sebelumnya kita harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita selama ini. Biar semuanya jelas dan kamu gak akan nuduh kakak buruk!" Mendudukkan Rara di sofa.


Rara menatap wajahnya. Mencari kejujuran di mata pria ini.


"Kakak ingin memperlihatkan sesuatu padamu." kata Ryu setelah melihat Rara diam. Dia mengambil ponselnya di meja sofa. Terus membuka galeri.


"Coba Khanza lihat foto ini." menunjukkan sebuah foto pada Rara.


Rara tak langsung melihat foto itu, tapi terus melihat Cio sambil terisak.


"Lihatlah dek, kakak mohon." pinta Cio kembali. memperlihatkan layar ponsel tepat di depan wajah Rara.


Rara mengalihkan tatapannya dari wajah Cio dan melihat pada layar ponsel. Foto apa yang ingin di perlihatkan?


Rara tiba tiba berteriak karena ketakutan setelah melihat foto itu. Dia bahkan sampai mendorong ponsel itu hingga jatuh ke lantai.


"Ini wajah siapa? Rara takut melihatnya. Rara takut! Jauhkan dari Rara." teriaknya menutup wajah dengan kedua tangan. Terus segera membelakangi Cio.


Cio memungut ponselnya dan di bawahnya kembali di depan wajah Rara.


"Lihat baik baik Rara! Lihat wajah siapa itu!" Foto itu adalah foto dirinya sewaktu mengalami insiden buruk lalu saat duduk di kelas tiga SMP.


"Gak...! Rara gak mau lihat." Rara mendorong kuat hingga ponsel itu kembali jatuh.


"Kenapa Rara takut melihatnya? apa yang Rara lihat pada ponsel."


"Wajahnya buruk sekali. Seram menakutkan. Jauhkan dari Rara! Buang cepat!" teriak Rara keras.


"Seseram dan menakutkan kah wajah itu bagi Rara?"


Rara mengangguk.


"Tentu saja, sangat menyeramkan mirip seperti monster!" katanya merinding. Masih terus menutup wajah dan membelakangi Cio.


"Itulah alasan kenap kakak tidak menghubungimu, serta menjauhi mu selama belasan tahun ini. Karena kakak tahu kau pasti akan takut setelah melihat wajah seram menakutkan itu." kata Cio.


Rara termangu mendengar perkataan itu. Dia mencermati kalimat itu. Lalu perlahan memutar tubuh melihat pada Cio. Dengan tangan masih menutupi wajah untuk menghindari ponsel Cio yang tergeletak di lantai. Takut foto dalam layar akan terlihat olehnya matanya.

__ADS_1


Setelah mematikan layar ponsel berubah gelap, dia segera menurunkan ke dua tangan nya.


"Apa maksud kakak?" tanyanya menatap Cio.


"Wajah seram seperti monster yang kau katakan itu adalah wajah." jawab Cio menatap balik netra Rara.


Rara terperangah.


"Wajah Kakak? Jadi wajah anak dalam foto itu adalah kakak?" memperjelas.


Cio mengangguk."Apa kamu masih ingat insiden buruk yang terjadi pada kakak saat SMP dulu?"


Rara mengangguk. Dia ingat.


Dan insiden itu membuat Cio Amnesia hingga lupa pada dirinya. Papa dan mamanya yang memberi tahunya.


"Insiden itu bukan hanya membuat kakak kehilangan ingatan hingga melupakan mu. Tapi juga membuat wajah dan tubuh kakak cacat parah." kata Cio.


Rara kembali terperangah.


"Saat itu kamu masih kecil, kakak sengaja tidak memberi tahu dirimu karena kakak tahu kamu pasti akan ketakutan dan menjauhi kakak setelah melihat wajah buruk kakak yang menyeramkan seperti monster! Sama Buktinya kamu ketakutan melihatnya." ujar Cio.


Rara mengeluh sedih. Ekspresi wajah sendu. Benar apa yang di katakan Cio. Segede ini saja dia sangat ketakutan melihat wajah yang terlihat seram, buruk rupa seperti monster yang di lihat oleh matanya.


Rara menunduk. Seharusnya dia tidak berkata buruk mengenai wajah itu. Cio pasti sedih, kecewa dan sakit hati. Rara terisak. Air matanya kembali jatuh.


"Rara____." Cio mengangkat wajahnya.


"Maafkan Rara." pangkas Rara memotong ucapannya.


Rara segera memeluknya.


"Seharusnya Rara gak ngomong buruk begitu. Mengatakan kakak Monster, seram dan menakutkan! Rara seharusnya bersyukur karena kakak masih selamat dari insiden itu. Hiks Hiks, maafkan Rara____" kembali menangis.


Cio membuang nafas panjang, terasa longgar di rasakan oleh dadanya. Batu besar yang menghimpit hilang seketika. Semuanya terasa plong.


Dia balas memeluk Rara.


"Sebenarnya kakak ingin memberi tahu mu dari awal. Tapi kakak melihat kemarahan dan kebencian mu. Kakak juga berpikir kau tak perduli dan telah melupakan kakak. Tak ada lagi nama kakak kau sebut dalam bibirmu!"


Rara geleng geleng kepala.


"Itu bohong___Rara menyimpan kakak di sini!" membawa satu tangan Cio di dadanya.


"Sakit kak....sakit...." kembali menangis.


Cio tersenyum bercampur sedih.


"Kakak juga sakit dek di sini. Sakit mendam nya!" membawa tangan Khanza ke dadanya. Keduanya saling menatap dengan senyum sedih. Lalu kembali saling memeluk.


"Khanza gak marah lagi kan?"


Rara menggeleng kepala, semakin meluk erat.


Ryu tersenyum senang dan bahagia. Dia mengecup bahu Khanza.


Beberapa saat kemudian dia bangkit dan menggendong Khanza. Membawanya duduk di balkon.


"Khanza ku sayang. Kakak sangat merindukanmu! Rindu masa kecil kita dulu. Rindu memelukmu. Rindu main dengan mu, rindu menjahili mu, rindu semua apa yang kita lakukan bersama dulu!" mengecup kening Khanza dan memeluknya.


Rara tersenyum.


"Rara juga sangat rindu kakak!" memeluk Cio. Mengecup dahi dan kedua pipi Cio seperti kebiasaannya dulu. Cio pun membalasnya. Keduanya saling berpelukan, tertawa bersama.


Cio lega akhirnya permasalahan dan kesalahpahaman di antara mereka sudah terselesaikan.


"Kakak jangan pergi lagi tinggalkan Rara!" ucap Rara di atas pangkuan Cio.


"Tidak sayang. Kakak tidak akan meninggalkan Khanza lagi. Kakak janji mulai detik ini kita akan selalu bersama selamanya tidak akan terpisah!" Cio kembali memeluknya. Memeluk tubuh mungil yang selama belasan tahun sangat di rindukan.


Bersambung.


Akhirnya bisa menyelesaikan bab ini...


Tinggalkan jejak dukungan ya...

__ADS_1


__ADS_2