Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
59. Ryu dan Anggi Menikah


__ADS_3

Hanya tiga hari Ryu menginap di rumah sakit setelah masa operasi. Ryu memaksa keluar meski dokter belum mengizinkan. Dia sungguh tidak tenang dengan permintaan Khanza yang menginginkan dirinya untuk menikah dengan Anggi. Gadis itu terus memaksanya untuk segera menikah secepatnya. Karena akan segera kembali ke tanah air. Khanza sangat ingin melihat mereka menikah sebelum pulang.


Masa liburan telah usai. Seharusnya Khanza sudah masuk sekolah.


Permintaan itu membuat Ryu stress. Janji sudah di sepakati dan Ryu harus mengikuti kemauan gadis itu. Jika di tolak, maka Khanza akan mengetahui perasaannya pada gadis itu. Dan dia yakin hal itu akan membuat Khanza sedih dan Kecewa kepada dirinya. Dan jika dia memaksa membatalkan pernikahan dengan Anggi, maka Khanza lah yang akan di tuduh sebagai penyebab gagalnya rencana pernikahannya dengan Anggi. Gadis belia itu akan di tuduh sebagai wanita perusak hubungan orang lain. Wanita penggoda kakaknya sendiri. Wanita rendah, tidak tahu malu dan tak punya harga diri. Dan akan di beri cap buruk oleh orang orang/ Masyarakat.


Rara keluar dari kamar untuk turun ke bawah. Berpapasan dengan Ryu yang keluar dari kamarnya lengkap dengan jas kantor.


"Selamat pagi kak." sapanya.


"Pagi." balas Ryu tampak semangat.


"Kok lemas? Mana senyumnya?" Kata Rara menatap wajahnya yang suram.


"Kalau kakak masih merasa sakit jangan kerja dulu. Kakak tuh harus banyak istirahat untuk memulihkan diri. Bentar lagi kan mau nikah!" kata Rara menghadang jalannya.


Ryu membuang nafas berat lalu menatapnya. Meski suasana hatinya lagi gak mood, Hatinya cukup terhibur dengan senyuman manis di depannya ini. Melihat binar keceriaan gadis ini, tanpa ada kesedihan. Tanpa menjaga jarak dan menjauhinya lagi.


Ryu segera mengulas senyum di depan wajah Khanza.


Senyum Rara merekah melihatnya.


"Nah gitu dong. Kan bagus. Wajahnya juga semakin tampan kalau senyum gitu."


Ryu kembali melangkah, Khanza ikut di sampingnya.


"Rara sudah memberi tahu papa, mama, bibi Nesa, kakak R dan kak Cia mengenai pernikahan kakak." kata Rara pada Ryu.


Ryu hanya melihatnya, terus melangkah.


"Apa kakak udah tentukan hari pernikahannya?" tanya Khanza mensejajarkan langkahnya dengan Ryu yang tertinggal karena panjangnya


langkah laki laki ini.


Ryu terus berjalan tak menjawab. Sangat malas membahas masalah ini.


"Kak... jawab dong. Jangan diam saja." Rara menarik ujung jasnya.


Ryu membuang nafas berat. Langkahnya berhenti. Dia segera menghadap pada Rara yang ikut berhenti.

__ADS_1


"Sepertinya khanza kepengen banget kakak segera menikah?" katanya.


"Iya, Rara ingin melihat kakak menikah sebelum pulang ke tanah air. Bisa gak pernikahan segera di lakukan? Sudah dua hari Rara gak sekolah." kata Rara lemas mengingat sudah dua hari tak sekolah demi menunggu pernikahan Ryu yang entah kapan.


"Kakak mau tanya sama Khanza." Ryu memegang bahu gadis itu.


"Tanya apa?" dahi Rara mengerut


"Kakak ingin Khanza jawab dengan jujur. Benaran Khanza ingin kakak menikah?" tanya Ryu lagi menatap netra Khanza.


Rara terdiam beberapa saat. Menatap wajah Ryu. Lalu perlahan mengangguk."Iya....! Rara ingin kakak menikah dengan wanita yang kakak cintai. Kekasih kakak, Yaitu kak Anggi." jawabnya pelan terus menatap mata Ryu.


"Dengan wanita yang kakak cintai?" ucap Ryu yang segera di sambut anggukan kepala oleh Rara.


"Iya, Ayo cepatlah menikah dengan kak Anggi! Rara pengen melihat kakak memakai pakaian pengantin. Pasti keren dan semakin tampan." kata Rara tersenyum.


Ryu menatap dalam-dalam mata gadis itu. Melihat senyum yang di paksakan.


"Baik. Kakak akan penuhi keinginanmu. Kakak akan menikah dengan wanita yang kakak cintai. Wanita yang hanya bisa membuat kakak bahagia." katanya segera dengan serius.


Rara melonjak senang. Hatinya kini lega dan terasa plong. Akhirnya bisa menyatukan sebuah hubungan yang hancur dalam ikatan suci pernikahan yang sempat gagal karena keberadaan dirinya. Dan setelah pernikahan itu, dirinya tidak akan di cap buruk lagi.


Ryu segera menarik tangannya untuk masuk lift. Rara sedikit kaget dan tersadar dari lamunan. Ryu diam tanpa kata saat benda itu turun ke bawah. Matanya terus menatap ke depan. Rara gelisah tidak tenang di sampingnya.


"Terserah Khanza maunya kapan. Hari ini juga bisa." kata Ryu tanpa melihat padanya.


Rara terhenyak mendengar ucapan itu, terdengar pasrah. Rara menelan ludahnya.


"Tapi keluarga kita masih di tanah air. Kakak harus menikah dengan di dampingi oleh bibi Nesa, papa dan mama. Keluarga kita harus ada di sini."


Ryu menoleh padanya.


"Bukannya Khanza maunya cepat cepat? Apa pun yang Khanza inginkan, dan membuat Khanza bahagia akan kakak lakukan. Karena kebahagiaan kakak hanya melihat dirimu bahagia." kata Ryu agak tegas dengan tatapan dingin bercampur sedih.


Rara termangu. Dia kembali menelan ludahnya yang terasa pahit. Dadanya bergemuruh, di rasakan sesak mendengar ucapan itu.


"Khanza jangan khawatir. Meski tak ada orang tua kita pun tak masalah. Pernikahan bisa di laksanakan. Kita bisa meminta doa restu dengan melakukan panggilan video dengan mereka saat pernikahan berlangsung. Cukup Khanza saja yang mendampingi kakak menikah."


Rara segera menunduk. Tak tahan melihat tatapan sedih kakaknya. Begitu pintu lift terbuka, dia segera keluar. Ryu mengikuti dari belakang. Menarik tangan Khanza hingga gadis itu berhenti dan berbalik padanya. Keduanya kembali saling menatap. Para pelayan segera menunduk melihat mereka.

__ADS_1


"Setelah pernikahan itu, kita tidak akan bisa bersama dan dekat lagi seperti sekarang ini. Akan ada jarak dan batasan di antara kita. Bahkan mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama karena kakak akan sibuk dengan keluarga kakak. Dan kamu akan di sibukkan kehidupan barumu! Kakak mau tanya, Apa Khanza sudah siap dengan perpisahan kita nanti?" Ryu menatapnya dengan sedih.


Rara mendesah sedih. Menatap Ryu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Kemarin mereka melewati perpisahan selama belasan tahun dengan kerinduan yang begitu menyiksa. Baru bertemu dan bersama hanya dalam waktu sebulan, kini akan berpisah lagi. Rara kembali mendesah sedih mengingat hal itu. Sekarang saja dia sudah sangat sakit dan lemah merasakan hal itu. Terasa ada yang hilang dan membuatnya lemah. Hanya di sembunyikan dan berusaha untuk kuat di depan pria ini.


"Dek...!" ucap Ryu dengan sedih, tak kalah sedih dari Khanza.


Rara segera mengulas senyum.


"Sudah pasti Rara akan sedih.Tapi kesedihan itu akan berganti kebahagiaan, saat kakak menikah dan hidup bahagia bersama kak Anggi." katanya segera melihat Ryu akan bicara.


"Lagi pula, kemarin-kemarin Rara sudah belajar hidup mandiri bukan? belajar hidup sendiri dan melakukan ini dan itu tanpa kakak. Agar Rara sudah terbiasa dan tidak akan sedih lagi saat berpisah dengan kakak, saat kita tidak dekat dan bersama lagi. Kakak jangan Khawatir, Rara kuat kok dan gak akan sedih seperti dulu." katanya lagi berusaha tenang dan kuat di balik senyumnya.


"Mari kita sarapan." Rara menarik tangan Ryu kemeja makan. Dia mendudukkan Ryu.


"Sepertinya ini terakhir kita sarapan bersama. Rara akan melayani kakak makan. Katakan menu apa yang kakak suka?" kata Rara membalikkan piring Ryu.


Ryu terus diam dengan kesedihan. Matanya tak berpaling sedikit pun dari wajah khanza. Dia tahu bagaimana kondisi jiwa dan hati Khanza saat ini. Berusaha tegar dan kuat di depannya.


Tidak berbeda jauh dari apa yang di rasakan.


Rara menyendok nasi ke piring Ryu.


"Kakak harus banyak makan hari ini karena butuh tenaga ekstra untuk pernikahan nanti." kata Rara menaruh lauk dan sayur pada piring Ryu. Dia tersenyum seraya mengangkat sendok yang berisi nasi dan lauk.


"Buka mulutnya....Aaaaaa!" Rara menyuapi Ryu.


Ryu hanya menatap tak membuka mulut. Rara terus mencoba lagi."Buka dong kak.....aaaaa!"


Rara jengkel."Kakak gak mau Rara suapin?" melihat Ryu terus diam dan tetap tidak membuka mulut, hanya terus menatapnya.


"Ini terakhir kali Rara nyuapin kakak. Besok besok gak lagi. Ayo dong buka mulutnya. Aaaaa....!" kata Rara menatap sedih. Wajahnya memerah menahan tangis melihat Ryu tetap tak membuka mulut.


Ratih dan Simon ikutan sedih melihat drama kesedihan itu. Suasana meja makan hening di liputi kesedihan.


Tepat setelah shalat Dzuhur Ryu dan Anggi menikah. Keduanya menikah tanpa kemeriahan sesuai keinginan Ryu. Hanya di laksanakan secara sederhana dan tertutup. Pihak Anggi tak mempermasalahkan hal itu. Pernikahan dilakukan dengan sangat mudah, hanya di hadiri oleh penghulu, seorang pria juga keluarga Anggi. Dan dari pihak Ryu hanya di hadiri Rara, Ratih dan Simon. Pernikahan berjalan sangat lancar tanpa kendala. Saat pengucapan ijab Kabul, Rara tak tahan untuk melihat karena terlalu sedih. Dia berpaling ke belakang karena air matanya tak bisa di bendung. Lelehan bening itu tak berhenti mengalir. Rara terus melihat kebelakang untuk menyembunyikan kesedihannya agar tak di ketahui oleh Ryu dan lainnya.


Setelah pernikahan Ryu dan Anggi, Rara segera terbang kembali ke tanah air saat itu juga dengan menggunakan pesawat pribadi Ryu. Dia pulang seorang diri menolak di temani Ratih dan Simon. Dia juga tak ingin mengganggu kakaknya yang tengah berbahagia usai pernikahan. Rara pulang sambil membawa kesedihannya. Selama perjalanan dia terus mengeluarkan air mata. Menyembunyikan kesedihannya di ruang tempat tidur, Sungguh sangat sakit terasa. Tapi dia harus berusaha kuat dan tegar untuk kebahagiaan kakaknya.


"Selamat menempuh hidup baru kak. Rara doakan kakak hidup bahagia dengan kak Anggi! Semoga rumah tangga kalian akan di penuhi banyak kebahagiaan." ucapnya lirih dan sendu.

__ADS_1


****


Tinggalkan jejak dukungan ya 😘


__ADS_2