Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
57. Obat mustajab adalah dirimu


__ADS_3

Rara duduk di dekat bed Ryu. Dia memegang satu tangan Ryu yang sedang terpasang infus. Pria itu berbaring diam di atas tempat tidur rumah sakit. Ryu di larikan ke rumah sakit setelah pingsan bertarung dengan Melvin. Dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di pahanya.


Rara terus menatap Ryu. Melihat tubuh Ryu yang penuh luka dan lebam. Dia sangat sedih dan khawatir melihat keadaan Ryu. Sudah beberapa jam berlalu, Ryu belum juga sadar.


"Sebaiknya Nona istirahat." kata Ratih.


"Kenapa ibu tidak memberi tahu Rara apa yang terjadi pada kak Ryu? kakak sakit tapi kalian menyembunyikannya dari Rara." kata Rara sendu.


"Ini perintah tuan Ryu. Tuan tidak ingin Nona sedih dan khawatir. Maafkan saya Nona!"


"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakak? Apa kalian tetap tidak akan memberi tahu Rara?" Rara mulai terisak menangis.


Ratih tertunduk diam.


Rara kembali menatap pada Ryu. Menyentuh luka luka di dada kakaknya. Bahkan di saat kakaknya ini sedang terbaring sakit, masih tetap datang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya. Rara kembali terisak mengingat pengorbanan Ryu kepadanya. Rara membenamkan wajahnya di lengan Ryu terus menangis. Ratih dan Simon ikut terenyuh mendengar tangisannya.


Semenit berlalu sebuah usapan lembut mendarat di kepalanya.


Rara langsung terdiam.


"Khanza...!" panggilan lemah terdengar.


"Tuan Ryu sudah sadar." kata Ratih senang.


Rara mengangkat kepalanya.


"Kakak!" ucapnya girang, dan tersenyum senang. Dia langsung berdiri dan memeluk Ryu.


"Syukurlah kakak sudah sadar!" Rara berulangkali mengecup keningnya. Ryu terharu merasakan itu. Dia sangat senang rindu dengan kecupan ini.


Sementara Simon segera memanggil dokter.


"Berhentilah menangis. Kakak tidak apa apa!" Ryu menyapu air matanya pelan pelan. Rara segera memegang tangannya.


"Kenapa gak beri tahu Rara kalau kakak sakit? Kenapa bilangnya lagi Jerman? Kakak jahat, kakak tega menyembunyikannya dari Rara. Selama beberapa hari ini Rara tidak tenang memikirkan kakak. Dan ternyata apa yang Rara rasakan benar. Kakak lagi sakit." Rara mencercanya dengan pertanyaan yang di sertai luapan kekesalan.

__ADS_1


Ryu tersenyum terharu. Ternyata Khanza merasakan apa yang terjadi pada dirinya.


"Kakak tidak ingin membuat mu sedih dan khawatir. Sudah berhentilah menangis. Kakak gak tahan lihat air matamu!" ucap Ryu menyapu pipi Khanza.


Rara kembali memeluknya. Menangis sesegukan. Air matanya jatuh di dada Ryu. Ryu merasakannya.


"Sudah dek. Kakak baik baik saja."


"Kakak menyembunyikan kesakitan kakak dari Rara. Saat Rara mengalami bahaya kakak datang menyelamatkan Rara meski lagi sakit. Dan sekarang kakak tambah sakit karena Rara."


Ryu memegang Wajahnya. Menatap dalam dalam wajah memerah bercampur air mata.


"Khanza satu-satunya milik kakak yang paling berharga. Jangankan terbaring sakit di sini, meski terbaring dalam kuburan pun kakak akan bangun untuk menyelamatkan Khanza." kata Ryu. Dia mengecup kening Khanza. Dia senang Khanza tidak menolak. Perlakuan Khanza yang kembali dekat dan manja seperti ini membuatnya merasa baikan. Sungguh gadis ini obat penyembuhnya.


Sementara Rara terkejut dan terdiam mendengar ucapan Ryu. Dia wanita yang paling berharga milik Ryu? Bukan Anggi? batinnya. Jadi benar kakaknya ini mencintainya. Tadi dia hendak menghubungi Anggi untuk mengatakan tentang keadaan Ryu yang lagi sakit. Anggi harus tahu karena dia kekasih Ryu. Tapi Simon dan Ratih melarangnya. Keduanya berkata Ryu hanya butuh dirinya untuk menemani, bukan Anggi.


Dokter datang ke ruangan.


"Maaf, permisi Nona Khanza. Kami akan memeriksa tuan Ryu."


"Perkembangannya cukup bagus. Keadaan anda mulai stabil. Tidak seperti kemarin. Anda sangat lemah tak bergairah untuk hidup." kata dokter tersenyum setelah melakukan pemeriksaan. Ryu tersenyum.


"Terimakasih dokter. Adikku ada di sampingku. Tentu saja aku bersemangat untuk sembuh."


"Oh ternyata begitu tuan Ryu! Nona Khanza, kenapa anda tidak di sini kemarin-kemarin untuk menemani? Tolong jaga kakak Nona dengan baik. Sepertinya andalah obat paling mujarab untuk kesembuhan tuan Ryu dari pada obat yang kami berikan." dokter tersenyum menatap Rara.


Rara mengangguk tersenyum dengan perasaannya sendiri mendengar ucapan Dokter. Dokter segera pamit keluar di antar Simon, karena ada beberapa hal yang ingin di sampaikan dokter. Sementara Ratih keluar mengurus sesuatu.


Rara duduk di dekat Ryu. Keduanya saling menatap. Ryu tersenyum membelai lembut wajahnya. Dia sangat bersyukur masih bisa menyelamatkan gadis ini dari nafsu setan Melvin.


"Kakak minta maaf karena membuat mu mengalami kejadian buruk untuk yang kedua kali." katanya merasa bersalah.


"Tapi kakak juga yang menyelamatkan Rara. Terimakasih karena selalu datang tepat waktu menyelamatkan Rara." kata Rara tersenyum. Entah kenapa dia merasa canggung dengan belaian sentuhan lembut Ryu.


"Khanza tidak perlu berterima kasih. Sudah tugas kakak menjaga dirimu. Kakak senang melakukannya. Tapi lain kali, jangan keluar sendiri seperti itu lagi." kata Ryu.

__ADS_1


"Maaf!" ucap Rara. Teleponnya tiba tiba berdering. Dia segera melihat siapa peneleponnya. Nomor tanpa nama, Anggi. Buru buru Rara menutup layar ponsel.


"Dari siapa?" tanya Ryu melihat aneh m


"Ah ....teman Rara. Rara keluar dulu sebentar!" tersenyum menyembunyikan kepanikannya.


"Rangga?" Ryu melihat matanya.


"Bukan, teman lain!" kata Rara menggeleng. Dia segera bangkit. Tapi dengan cepat Ryu menarik tangannya, merebut ponselnya dan mematikan panggilan itu. Lalu menonaktifkan. Dia meletakkan ponsel Rara di samping sebelah.


"Kenapa di matikan?" Rara menatap cemberut.


"Tolong jangan menerima telepon dulu. Kakak ingin Khanza tetap di sini menemani dan tak meninggalkan kakak." kata Ryu.


"Tapi itu telepon penting. Kembalikan ponsel Rara!" Rara meraih ponselnya, tapi Ryu menahannya.


"Telepon penting dari siapa? Katakan. Khanza harus jawab jujur." kata Ryu merasa aneh dengan penelpon yang sempat di tangkap ekor matanya tak memiliki nama.


"Udah di bilangin teman Rara! Rara juga hanya sebentar kok, gak lama ngomongnya!" Rara terus merebut. Ryu menyembunyikan di bawah pinggangnya.


"Kakak...kembalikan." Rara semakin kesal. Dia naik ke atas ranjang. Tak sadar posisinya sudah di atas tubuh Ryu. Dia hanya fokus mengambil apa yang dia inginkan. Ryu merasa sakit tapi sekuat tenaga menahannya. Dia rindu kedekatan seperti ini. Rindu kekesalan Khanza, sikap manjanya.


Tubuh Khanza hilang keseimbangan. Saat tangannya salah tempat menekan luka Ryu. Tubuhnya jatuh terjerembab di dada Ryu. Wajah mereka saling bertemu. Bibir hidung bersentuhan. Keduanya terkejut, saling menatap. Ryu segera memeluk dirinya ketika Khanza hendak bangun. Wajah mereka kembali bersentuhan. Ryu mendaratkan kecupan di bibirnya. Mata Rara membulat, jantungnya berdegup kencang. Dia menggigit bibir bawahnya.


Ryu tiba-tiba mencabut selang infusnya.


"Kenapa kakak melepasnya?" Rara kaget dengan apa yang dia lakukan. Ryu tak menjawab. Dia memiringkan tubuhnya, lalu menjatuhkan tubuh Rara sampingnya. Kemudian segera di peluk. Keduanya berbaring berhadapan.


"Kakak......!" Rara menarik tubuhnya.


"Diam Jangan bergerak. Biarkan seperti ini dulu. Kakak sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu." kata Ryu semakin memeluk Rara tak perduli rasa sakit di tubuhnya. Dia mengecup kening Khanza berulang. Menghirup aroma wangi tubuh gadis ini.


Rara terdiam gelisah. Jantung semakin meletup letup terasa hendak copot dari tempatnya. Matanya tepat berada di tato Ryu yang bertuliskan namanya. Perlahan dia menyentuhnya. Ryu memejamkan mata merasakan sentuhan itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2