
Malam semakin larut. Rara tidak dapat memejamkan mata. Dia susah tidur. Suara Guntur menggelegar sertai kilat menyambar membuatnya takut. Derasnya hujan dan angin kencang.
Beberapa jam lalu Ryu sudah menemani meninabobokan dirinya. Lalu pria itu segera keluar setelah melihat Rara tertidur. Yang sebenarnya Rara belum tidur. Dia pura pura tidur karena tidak enak hati pada Ryu yang sudah menemaninya selama dua jam. Karena dia tahu kakak sepupunya itu mempunyai pekerjaan yang harus segera di selesaikan malam ini. Dia mendengar percakapan di telepon dari Simon secara tidak sengaja.
Rara melihat jam, sudah menunjukan pukul dini hari.
"Mungkin kakak sudah selesai bekerja." Gumamnya. Rara turun ke ranjang. Perlahan melangkah ke luar menuju kamar Ryu. Suara guntur menggelar membuatnya kembali terkejut dan takut. Dia mempercepat langkahnya. Pelan pelan dia membuka pintu kamar. Tak terkunci.
"Khanza?" seru Ryu melihat dirinya di pintu.
Rara melihat kakaknya berhadapan dengan komputer dan juga beberapa tumpukan berkas.
"Kakak belum tidur?" tanya Rara, meski melihat Ryu sedang terjaga dengan pekerjaan di depannya. Benar dugaannya, kakaknya sedang sibuk bekerja.
"Kakak belum ngantuk!" jawab Ryu.
"Apa Rara boleh masuk?"
"Tentu saja dek. Kenapa masih bertanya? Kamu bisa masuk kapan saja sesuka hatimu! Ayo Kemari lah." ajak Ryu. Dia membuka kedua tangannya untuk menerima Rara ke dalam pelukannya.
Rara segera melangkah mendekat, lalu duduk di pangkuan Ryu seperti anak kecil duduk di pangkuan ayahnya. Merebahkan tubuhnya di dada Ryu.
Ryu segera memperbaiki posisi duduknya agar Rara bisa duduk nyaman di pangkuannya.
"Apa Khanza sakit?" meraba dahi Rara.
Rara menggeleng.
"Terus kenapa bangun? Apa Khanza butuh sesuatu?" mengusap punggung Khanza seraya mencium puncak kepala gadis itu.
"Rara gak bisa tidur."
"Tadi bukannya udah tidur?"
__ADS_1
"Rara kaget dengan suara petir dan hujan keras! Rara takut!" menunjuk ke arah jendela kamar Ryu di mana terdengar suara hujan keras dan angin kencang. Kemudian merebahkan kembali wajahnya di dada bidang Ryu dan memeluk pria itu.
"Kakak bekerja saja. Lanjutkan pekerjaan kakak!Rara boleh tidur di sini? Rara takut sendirian di kamar."
"Ya sudah, Khanza tidur di sini saja." kata Ryu seraya melihat ke dinding kaca. Memang hujan keras, di sertai angin kencang dan petir menyambar sejak tadi. Dia tidak sempat berpikir kalau Rara takut dengan gejala alam itu.
Rara menguap, lalu memejamkan mata. Dia merasa tenang berada dalam pangkuan kakaknya.
Ryu melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit meski sedikit kesulitan karena memangku gadis ini. Sesekali dia melihat Khanza yang mulai mendengkur. Ryu tersenyum, mencium rambut wangi adiknya ini. Lalu kembali melanjutkan pekerjaan.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Pekerjaannya selesai. Pelan pelan dia mengangkat tubuh Khanza dan di baringkan ke tempat tidur. Terus di selimutnya.
Dia ikut berbaring dan memberi batas guling di antara mereka.
"Selamat tidur dek, semoga mimpi indah." Ryu menatap wajah polos itu sejenak. Melihat setiap bagian wajah Khanza. Kembali teringat di kepalanya ciuman mie tadi saat matanya berhenti pada bibir pink Khanza. Ryu tersenyum dengan perasaannya sendiri. Perlahan wajahnya mendekat, mengecup kening Khanza.
Lalu menarik wajahnya.
Ryu menguap berulangkali. Dia juga sangat mengantuk. Pekerjaan yang tak ada habisnya dan menuntut dirinya untuk menyelesaikannya. Semua dilakukan untuk siapa? Yang ada dalam pikirannya hanya Khanza. Setiap lembaran lembaran pekerjaannya ada wajah Khanza. Khanzalah yang membuatnya giat dan tekun bekerja keras selama ini. Sejak dia mulai merintis usahanya dari nol.
Meski dia sangat mengantuk, meski sedang sibuk bekerja serta melakukan sesuatu yang penting, dia tidak pernah mengabaikan kewajibannya itu.
"Khanza....bangun dek sudah waktunya subuh." panggilnya pelan seraya mengusap punggung Rara berulang.
"Khanza.... Khanza...bangun dek!" panggilnya lagi. Rara tampak bergerak gerak di atas tubuhnya mendengar suara di dekat kupingnya.
"Kakak.....?!" suara serak Rara.
"Bangun ya, kita shalat subuh!"
"Udah subuh ya...?" tanya Rara seraya mengucek matanya. Dia terbiasa bangun subuh dengan bantuan alarm pada jam weker dan juga handphone. Tapi ponselnya tertinggal di kamarnya.
"Kok Rara tidur di sini?" tanyanya setelah sadar berada di atas tubuh Ryu. Dia segera bangun dan duduk di perut Ryu.
__ADS_1
Ryu duduk ikut duduk. Keduanya saling berhadapan.
"Kakak juga kaget lihat Khanza udah di atas sini. Bukannya Khanza sendiri yang naik?" menatap wajah kusut Rara. Dia mengatur rambut Khanza yang berantakan, menyalip rambut berantakan itu di telinga gadis itu.
Khanza tampak bingung. Bola matanya bergerak berputar ke atas mengingat.
"Rara gak tahu. Rara nggak ingat!" jawabnya geleng geleng kepala.
Ryu tersenyum melihat wajahnya. Dia memperbaiki piyama tidur Khanza.
"Ya sudah.... sekarang kita siap siap shalat subuh." Ryu segera mengangkat tubuh Rara dan membawanya ke kamar mandi.
"Apa tidurnya nyenyak?"
"Iyah...!" Rara mengangguk.
"Khanza takut petir dan kilat?"
Rara kembali mengangguk.
"Kalau Khanza takut tidur sendirian oleh sesuatu yang membuat Khanza takut.... Khanza tidur di kamar kakak. Atau Khanza bisa di temani bibi pelayan."
"Gak ah, gak mau sama mereka. Rara nyamannya tidur sama kakak. Kan dari kecil kita selalu tidur bareng. Kakak selalu menemani Rara tidur!" Rara segera memeluk leher Ryu.
"Iya, iya....mana yang terbaik untuk Khanza dan membuat nyaman. Kakak nggak masalah!" terus melangkah seraya mengusap punggung adiknya yang sangat manja ini.
Memang tidak masalah buat Ryu, tapi dirinya merasa tak nyaman. Karena kini mereka sudah besar, bukan anak anak kecil lagi yang dulu selalu tidur bersama. Meski mereka tidak melakukan apapun. Jujur Ryu mulai canggung dan merasakan hal aneh dekat dengan gadis itu. Beda dengan kedekatan mereka saat kecil dulu. Di tambah lagi mereka bukan saudara kandung.
"Dek, kita tidak bisa seperti ini terus. Karena kita bukan anak kecil lagi. Nggak pantas lagi kita tidur bersama." batinnya.
"Tapi bagi kakak kamu tetap adik kecil kakak yang polos dan manja. Kakak akan selalu menemani mu, selalu ada untukmu." gumamnya. Merasakan sikap Rara yang polos dan lugu terhadap dirinya seperti saat kecil.
Entah bagaimana ke depannya. Apakah Khanza masih akan tetap bersikap seperti ini padanya?
__ADS_1
******
Tinggalkan jejak dukungan ya 😘