
Ryu melangkah mendekati Rara.
"Dek, kau ada di sini?" Dia tidak menyangka Rara ada di sini. Senang hatinya melihat Khanza ada di sini.
"I-iya kak..." jawab Rara gagap. Dia meraih tangan kanan Ryu dan mencium punggung tangan pria itu.
"Maaf, Rara datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Sepertinya Rara datang di waktu yang tidak tepat. Rara keluar dulu. Kakak lanjutkan urusannya dengan tamunya. Permisi!" ujar Rara kembali. Dia berbalik, tapi Ryu segera menarik tubuhnya dan di peluk.
Anggi terkejut dengan apa yang di lakukan Ryu. Memeluk gadis yang bernama Rara dan Khanza ini di depannya.
"Siapa gadis ini?" batinnya menatap tajam menyelidik pada Rara yang ada dalam pelukan Ryu. Meski dia sudah mendengar nama gadis itu adalah Rara, dan Ryu juga memanggilnya Khanza.
"Urusan kakak dengannya sudah selesai. Kau tidak perlu keluar!" kata Ryu memegang wajah Khanza. Dia tidak menyangka Khanza datang ke kantornya.
"Kakak senang kau ada di sini. Kakak nggak menyangka kau akan datang ke kantor perusahaan kakak!"
"Apa Rara mengganggu?" tanya Rara tidak enak hati.
"Tentu tidak. Kapan saja kau datang ke sini dan dalam situasi apa pun, kau tidak akan mengganggu pekerjaan kakak!" Ryu mencolek ujung hidung adiknya ini. Rara mengulas senyum. Ryu kembali memeluknya.
Perlakuan mereka menimbulkan kecemburuan serta tanya di hati Anggi. Siapa gadis ini? Apanya Ryu? Melihat sikap mereka yang dekat dan mesra.
"Siapa dia Ryu?" tanya Anggi menyela mereka. Dia berjalan mendekati.
Ryu dan Rara menoleh kepadanya. Masih dengan posisi saling memeluk.
"Khanza, gadis ini Khanza!" jawab Ryu.
"Dia siapa mu...?"
"Adikku."
"Adikmu? Bukannya adikmu adalah Gracia?" tanya Anggi kembali. Karena setahunya Ryu hanya memiliki satu adik. Dia menyelediki status Ryu secara diam-diam. Ryu memiliki satu adik dan seorang ibu. Ayah telah tiada saat mereka kecil.
"Rara adik sepupu kak Ryu!" kata Rara mendahului jawaban Cio yang hendak menjawab pertanyaan Anggi.
Anggi merasa lega setelah tahu siapa gadis ini. Dia mengira gadis muda ini adalah pacar Ryu.
"Pulanglah Anggi. Aku masih punya urusan." kata Ryu.
Anggi dongkol di minta pulang. Kesal dengan sikap Ryu yang di rasakan tidak menyukai keberadaan dirinya di tempat ini.
"Oke Khanza... Rara.... Kapan kapan kita bisa berbincang. Aku ingin sekali mengenal dirimu lebih dekat lagi sebagai adik Ryu!" kata Anggi mengulas senyum menatap Rara. Tapi tetap saja dia tidak suka dengan kedekatan mereka yang terlihat sangat dekat.
"Boleh kak!" jawab Rara.
Anggi mengambil tasnya di sofa.
"Aku pamit dulu sayang. Jangan lupa untuk menghubungiku!" ujar Anggi tersenyum manis pada Ryu sambil menyentuh lengan kekar Ryu. Lalu dia segera keluar.
Begitu pintu tertutup, Ryu mengangkat tubuh Khanza. Khanza kaget dan segera berpegang pada bahu pria itu.
"Kenapa datang ke sini nggak ngabarin dulu? Kan kakak bisa menyambut mu___!" menatap wajah khanza sambil berjalan ke sofa.
Rara tertawa kecil.
"Emang Rara presiden pake acara di sambut segala?!"
Ryu ikut tertawa. Dia duduk di sofa dan mendudukkan Rara di pangkuannya seperti anak kecil. Keduanya saling berhadapan.
"Ini kan pertama kali kamu datang ke sini dek. Kakak ingin melakukan sesuatu yang spesial untuk menyambut kedatangan mu."
"Rara kan bilang mau kasih kejutan. Gak perlu ada sambutan segala." ucap Rara seraya membantu Cio melepas dasi.
"Kak....!"
"Hmmm, kenapa?"
"Benar ya Rara nggak mengganggu kakak?"
"Nggak sama sekali. Kakak sudah bilang kan tadi?"
"Apa wanita cantik itu pacar kakak? Rara gak enak datangnya di waktu yang tidak tepat. Rara takut mengganggu kalian."
"Wanita cantik?" alih alih menjawab pertanyaan Rara tentang Anggi.
"Iya... wanita tadi. Apa dia kekasih kakak? Tadi Rara lihat dia meluk kakak! Wajahnya sangat cantik." kata Rara.
__ADS_1
"Tapi bagi kakak Khanza lah wanita tercantik di dunia ini. Gak ada yang lain!" kata Cio tanpa menjawab pertanyaan Khanza. Dia mengelus pipi mulus Khanza. Yang kulitnya halus dan lembut laksana kulit bayi.
Rara terkekeh mendengar ucapannya. Saat kecil kakaknya ini selalu mengatakan hal itu padanya. Dirinya paling manis, imut dan cantik.
Rara kembali membantu melepaskan jas Ryu yang ingin di lepas pria itu. Membuka kancingnya, lalu melepas dan di letakkan di samping mereka.
"Rara nggak nyangka Kantor kakak gede banget dan sangat tinggi. Lebih tinggi dari punya papa! Kakak sekarang sudah menjadi orang yang sukses!" Rara memberikan dua jempolnya.
Ryu menanggapi dengan senyuman. Dia memegang ke dua jempol mungil itu.
"Kesuksesan kakak karena Khanza."
"Rara?" menunjuk dirinya
"Kamu penyemangat kakak, inspirasi kakak sehingga sukses seperti ini. Kamulah yang memotivasi kakak. Kamu masih ingat kan kata kata kakak dulu sebelum kakak pergi meninggalkan mu? Serta Janji yang kita buat bersama?"
Rara mengangguk. Tentu saja dia selalu ingat.
"Kakak akan melanjutkan sekolah secepatnya, terus bekerja keras biar jadi orang sukses seperti Daddy. Lalu akan pulang untuk Khanza!" ujar Cio memegang Wajahnya.
Rara tersenyum merasa terharu. Dia mengecup kening Ryu.
"Rara sayang kakak!" memeluk pria itu.
"Kakak juga menyayangimu!" mengecup puncak kepala gadis itu penuh kasih sayang.
"Kakak udah makan belum? Rara lapar." mengelus perutnya.
"Khanza belum makan siang?"
Rara menggeleng"Belum. Rara sengaja datang ke sini ingin makan bersama kakak!"
"Ya udah, kita makan sama sama. Kebetulan kakak juga belum makan!"
Ryu mengambil ponselnya di saku jas untuk memesan makanan mereka di kantin kantor.
"Khanza mau makan apa?"
Rara turun dari pangkuan Ryu. Dan duduk di sebelah. Dia tanpa berpikir. Ingin makan apa.
"Mie....?"
Rara mengangguk.
"Rara pengen makan itu."
"Baiklah, kakak akan pesankan. Tapi ingat, jangan selalu makan makanan itu! Kalau sering di konsumsi akan mengganggu kesehatan." kata Ryu
Rara kembali mengangguk. Dia tahu hal itu. Karena papa mamanya sering mengingatkannya.
Ryu segera memesan makanan mereka. Dia juga memesan makanan lain. Sapa tahu saja Rara berselera setelah melihatnya.
Setelah memesan makanan, Ryu menghubungi Simon untuk mengundur agendanya hari ini. Serta melarang masuk tamu yang datang. Dia juga mengatakan itu pada Caroline.
Sementara menunggu pesanan, Rara melihat lihat ruang kerja Ryu yang luas. Juga buku buku yang tertata rapi dalam rak. Dia juga mencoba duduk di kursi kebesaran kerja Ryu yang empuk. Dan memutar tempat duduk itu membuat dirinya ikut berputar. Rara tertawa senang dan girang.
Ryu memperhatikannya senyum senyum. Waktu cepat berlalu, bayi kecil ini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang manis.
Sejam berlalu makanan mereka datang di bawakan Simon.
Simon membawanya ke ruang pribadi Ryu. Menatanya di meja makan. Setelah itu dia pamit keluar.
Rara kaget melihat ada ruang pribadi di tempat ini. Ruang ini sama seperti punya papanya yang terkadang di gunakan Rafa untuk istirahat sebentar saat lelah bekerja. Dia dan mamanya juga kadang istirahat di kamar pribadi itu saat menunggu Rafa selesai kerja.
Rara kembali terkejut melihat ada foto dirinya dan Cio saat kecil terpasang pada bintang foto yang terpajang di nakas dekat ranjang. Foto Cio sedang menggendongnya di belakang punggung. Rara tersenyum melihat wajah imut kecil mereka. Hanya foto itu yang ada di dalam di kamar ini.
"Ayo dek, kita makan!" Ryu menarik kursi untuknya. Rara segera duduk. Ryu ikut duduk di sampingnya.
Rara menatap makanan yang banyak di depannya. Ada beberapa menu, nasi dan lauknya, serta sandwich. Padahal dia hanya memesan mie goreng. Mungkin makanan itu makanan kakak, pikirnya.
Rara mulai makan sambil mengaduk makanannya. Cio pun ikut makan.
Saat menikmati makanan, telepon masuk dari Ara. Ryu menyambung kan pada panggilan video. Terlihat wajah Ara dari seberang.
"Mama.... assalamualaikum!" ucap Rara senang melihat mamanya.
"Waalaikumsalam. Rara lagi makan ya?" kata Ara dari seberang melihat suasana mereka di meja makan.
__ADS_1
"Iya, kami lagi makan! Rara kangen mama!"
"Mama juga kangen kamu sayang. Rara sepertinya udah betah ya di sana? Udah gak ingat ingin pulang?" Ara menggodanya.
"Iya ma, Rara senang di sini. Kan ada kak Cio! Rasanya Rara malas kembali ke tanah air." celetuk Rara dengan raut wajah senang.
Cio tersenyum mendengarnya. Dia mengusap puncak kepala Rara.
"Bersenang-senang lah dengan liburan mu nak, sebelum sekolah di mulai."
"Pasti ma! Papa mana? Rara kangen papa!"
"Nih....papa!" Ara memperlihatkan Rafa yang sedang tiduran di pahanya. Karena kecapean kerja. Pria itu istirahat sejenak di paha Istrinya.
"Halo my princess." sapa Rafa sambil mengerjapkan matanya melihat ke layar ponsel.
"Apa papa sakit?" melihat wajah Rafa yang tanpa semangat.
"Nggak sayang. Papa hanya capek. Lanjutkan makan Rara. Papa mau bicara sebentar dengan kakak mu!" kata Rafa seraya bangun dan duduk.
Rara segera menyerahkan benda pipih itu pada Cio yang sedari tadi hanya mendengar percakapan mereka. Cio segera mengambilnya dan beralih ke sebelah.
Rara melanjutkan makannya.
Cio dan Rafa terlibat pembicaraan penting dalam beberapa saat. Hingga akhirnya pembicaraan di akhiri.
Cio kembali mendekati Rara dan duduk di sebelah gadis itu. Melihat Rara yang sedang serius dan lahap menikmati makanan.
Cio tertarik dengan mie yang sementara di masukkan Rara ke mulutnya. Mie panjang yang masih utuh. Hanya tinggal tersisa itu.
Cio mendekat dan mengambil ujung bawahnya dan di masukkan ke mulutnya.
Rara menoleh ke arahnya. Jarak mereka yang dekat hanya batasan mie tersebut.
"Kakak mau?"
Cio mengangguk tersenyum.
"Ayo, di makan!"
Rara mulai memakan makanan yang berbentuk pipih memanjang itu sedikit demi sedikit.
Cio juga ikut memakan dari ujung sebelah. Keduanya tertawa kecil sambil menikmati.
Seperti adu lomba siapa yang lebih dulu sampai ke tengah dan mendapatkan tengahnya. Dan ternyata Cio yang mendapatkan sisa mie tersebut karena Rara tanpa sengaja menggigit dan putus. Makanan itu tergantung di mulut Cio. Siap di serut ke dalam mulutnya.
"Jangan di makan, itu punya Rara!" Rara cemberut. Cio tertawa meledek melihat wajahnya yang lucu karena kalah.
Rara yang tidak terima dengan ledekan itu, mendekat dan mengambil makanan itu di mulut Cio dengan mulutnya. Cio mempertahankan dengan memasukkan makanan itu ke mulutnya. Rara tidak mau kalah.
Dia memasukkan lidahnya mencari makanan itu ke mulut Cio.
"Ih...kakak Itu makanan Rara! Keluar kan!"
Rara memegang wajah Cio." Buka mulut kakak!" memegang kuat rahang Cio hingga mulut pri itu terbuka sedikit. Rara kembali memasukkan lidahnya mencari dan berusaha menggapai makanan itu.
Gerakan lidahnya yang liar di dalam membuat mata Cio terbuka. Tubuhnya merinding merasakan sesuatu yang aneh menjalar pada tubuhnya. Usapan Lidah Rara menyapu lidahnya untuk mengambil mie tersebut. Sesekali mulut mungil itu mengisap bibir dan lidahnya. Keduanya seperti orang yang sedang berciuman di bibir dan berperang lidah.
Rara terus menyerang mencari apa yang di inginkan.
Beberapa detik kemudian, Rara tersenyum senang karena mendapatkan makanan itu. Cio kembali di buat merinding ketika mulut mungil
lepas dari mulutnya.
"Aku dapat...." kata Rara dengan ekspresi senang kegirangan. Dia menjulurkan lidahnya dan memperlihatkan mie tersebut pada ujung lidahnya. Kemudian langsung menelannya. Lalu meminum air segelas sampai habis.
Cio hanya menatap dengan perasaannya sendiri sembari membayangkan apa yang terjadi barusan, dan juga kelenyar aneh yang masih di rasakan saat ini.
Nafasnya naik turun tak beraturan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia berpikir apa Rara tahu kalau tadi itu mereka baru melakukan ciuman french kiss? Ciuman bibir dan juga melibatkan lidah. Apa Rara menyadari hal itu? batinnya.
"Kakak, Rara udah kenyang." suara Rara membuyarkan lamunannya.
Cio tersenyum. Lalu mengambil tisu dan membersihkan sekitar mulut dan juga bibir merah alami Rara yang berminyak. Pikirannya masih belum bisa lepas dari apa yang terjadi barusan.
Dia saja baru merasakan ciuman seperti itu untuk pertama kali. Bagaimana dengan Khanza? Apa Khanza pernah melakukan ciuman seperti itu? Apa gadis ini sudah punya pacar?
******
__ADS_1