
Rara menggeliat di tempat tidur.
Merenggangkan kedua tangan dan kakinya seraya menguap berulangkali.
Yuri yang saat itu sedang melihat ke arah bawah lewat dinding kaca segera mendekat ke tempat tidur begitu menyadari nona mudanya telah bangun dari tidurnya.
"Nona sudah bangun?"
Rara melemaskan otot-otot leher dan bahunya.
Lalu menoleh pada Yuri dan mengangguk pelan.
"Sudah malam yang mbak?" tanyanya melihat cahaya lampu gedung dan bangunan di luar yang bersinar menerangi keadaan alam semesta yang gelap. Juga cahaya bintang yang bersinar bertebaran di langit.
"Iya Nona...! hari sudah gelap."
"Jam berapa sekarang?"
"Sudah jam Sembilan Non!"
"Sembilan?" Rara menatapnya dengan mata memicing.
"Selama itukah aku tertidur?" gumamnya, mengingat dia tidur selesai ashar.
Rara membuang nafas kasar.
"Aku terlewatkan waktu shalat Magrib dan Isya."
Segera dia turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Bersih bersih sejenak lalu mengambil air wudhu. Setelah itu melaksanakan shalat isya yang waktunya sudah sangat lewat.Tapi tetap harus dikerjakan dari pada tidak sama sekali, karena itu merupakan kewajiban serta bentuk cintanya pada sang khalik.
Sementara Rara shalat, Yuri menghubungi manager hotel untuk menyiapkan makan malam favorit nona mudanya.
"Buatlah makanan sederhana. Nona tidak terlalu suka dengan makanan mewah ala barat. Jangan sampai ada kesalahan lagi pada bumbu rempahnya. Atau nona tidak akan menyentuh makanan sama sekali dan kalian akan mendapatkan masalah."kata Yuri pada manager hotel.
Sejam berlalu, manager hotel datang di temani dua pelayan laki laki membawa makan malam Rara.
Mereka segera mengaturnya di meja makan.
Terdengar oleh telinga mereka suara merdu Rara yang sedang tadarus.
Salah seorang dari pelayan laki tersenyum mendengarnya. Suara itu mengingatkan dia pada suara gadis kecil yang dulu sering belajar mengaji bersamanya.
Rara segera mengakhiri tadarusnya begitu Yuri masuk ke dalam kamar.
"Nona, makan malam anda telah siap." kata Yuri.
Rara menyimpan Al-Qur'an pada tempatnya.
Lalu melepas mukena. Dia segera berjalan menuju ruang makan. Sebenarnya dia sudah malas makan di jam begini. Tapi karena makanan itu sudah terlanjur ada di dalam kamarnya.
"Nona, kali ini manager datang bersama dua pelayan pria." kata Yuri segera.
Langkah Rara terhenti.
"Ambilkan jubah tidur ku." perintahnya. Karena saat ini dia hanya memakai daster selutut, tali satu. Di tambah lagi dia tidak memakai bra.
Tidak mungkin dia berpenampilan seperti ini di depan pelayan pria.
Yuri segera melaksanakan apa yang di perintahkan. Lalu memakaikan jubah tidur kimono pada tubuh Rara.
Rara melanjutkan langkah menuju ruang makan.
"Selamat malam nona RAIRARA...." sapa manager sopan dan ramah.
"Malam....!" jawab Rara.
Salah seorang pelayan pria segera menarik kursi untuknya.
"Terimakasih..." ucap Rara setelah duduk.
Pelayan tersebut menunduk sekilas.
Manager segera memberi isyarat untuk membuka penutup makanan.
__ADS_1
Aroma wangi masakan itu menguap dan langsung tercium oleh hidung mungil Rara.
"Hmmm.....wangiii!" desis Rara menghirup aroma wangi itu di ikuti matanya yang terpejam.
Dia segera membuka mata untuk melihat makanan itu.
Rara melongo, terdiam menatap setelah melihat makanan apa itu.
Sepiring nasi goreng sederhana dengan toping sosis ayam, telur mata sapi dan kerupuk.
Wajahnya berubah seketika.
Makanan dan aroma wangi ini mengingatkan dia pada seseorang yang selalu membuat makanan sederhana ini untuknya saat main masak masak saat kecil dulu.
Meski baru berusia empat tahun, dia sudah tahu tentang makanan ini dan selalu ingat bentuknya. Karena seseorang itu selalu membuat kan untuknya.
Nasi goreng.
Nasi goreng yang selalu di buat Cio untuknya saat dia meminta di buatkan.
Dia sangat suka nasi goreng buatan kakaknya itu. Meski sederhana, tapi dia suka rasanya yang hanya terbuat dari bumbu seadanya.
Bukan hanya nasi yang selalu di buatkan Cio untuknya saat mereka main masak masak, tapi juga roti bakar selesai pisang dan susu coklat.
"Nona, apa anda tidak suka dengan makanan ini?" tanya manager melihat wajah mendung Rara, wajah yang memerah.
"Maafkan kami nona, karena tidak bisa membuat makanan sesuai selera anda. Kami akan menggantinya secepat mungkin. Tolong nona bersabar sebentar." kata manager dengan perasaan bersalah.
Dia memberi isyarat pada dua pelayan untuk membawa makanan itu kembali.
"Biarkan tetap di situ. Aku akan memakannya." kata Rara tiba tiba membuat gerakan mereka berhenti.
Pelayan pria di sebelahnya tersenyum mendengar ucapannya.
Dia mendekat, menyiapkan piring dan sendok makan Rara. Lalu mengisi piring makan Rara dengan makanan itu. Dua sendok besar.
Menambahkan potongan sosis, telur dan kerupuk. Terkahir meletakkan segelas air putih di samping kanan, dan segelas susu coklat di sebelah kiri.
"Kok bisa sama sih?" batinnya. Bentuk toping susu seperti ini yang juga selalu di buat Cio untuknya.
"Ini siapa yang buat?" tanya Rara melihat pada manager.
"Sala satu koki di hotel kami nona." jawab manager.
"Kokinya laki atau perempuan?"
"Perempuan nona."
Rara membuang nafas panjang.
"Gak mungkin dia yang membuat!" batinnya.
"Gak mungkin juga dia menjadi seorang koki, karena cita citanya ingin menjadi seorang pebisnis seperti papa. Gak mungkin juga dia ada di sini. Dia kan lagi di Australia.....! ngapain juga dia ada di sini. Ngapain buat nasi goreng untuk ku. Dia kan udah lama melupakan aku, gak ingat aku dan gak menganggap aku adik karena udah punya adik lain." batinnya dengan wajah sedih.
"Mungkin saja ini hanya kebetulan!" gumamnya lirih.
Dia mengusap matanya yang basah.
Lalu mulai menyendok makanan dan di masukkan ke dalam mulut.
"Rasanya sama! Enak dan lezat." gumamnya kembali.
Dia terus makan dengan wajah sedihnya sembari mengingat wajah seseorang di masa kecilnya.
Rara makan dengan lahap sampai habis. Sebenarnya dia benci bila ingat makanan ini. Tapi hatinya tidak akan bisa menolak untuk tidak mencicipinya, karena jujur dia rindu dengan makanan ini.
Rara mengeluh sedih. Mengentikan makannya. Nafasnya memburu cepat karena menahan kesedihan.
"Ada apa nona? apa nona baik baik saja?" tanya pelayan pria itu. Dia segera memberi tisu pada Rara.
Rara segera menerimanya dan menyapu matanya.
"Terimakasih. Aku gak apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu!" katanya lirih.
__ADS_1
"Khanza, jangan menangis sayang. Lanjutkan makanan mu. Kakak sengaja memasak nasi goreng ini untuk mu. Karena kakak tahu kamu suka." batin Cio ikut sedih melihat air mata khanza. Dia sengaja menyamar menjadi pelayan untuk menemani dan melihat Khanza makan. Dia tahu kenapa Khanza sedih. Karena teringat kepadanya dan juga kenangan masa kecil mereka.
Yuri melaporkan padanya kalau Khanza tidak berselera dengan makanan hotel. Selama tinggal di hotel ini, Khanza hanya makan sedikit.
Makanya Cio sengaja memasak nasi goreng untuknya. Makanan yang selalu di minta Khanza padanya saat kecil dulu saat mereka main masak masak. Dia yang saat kecil dulu belum tahu memasak, hanya memberi bumbu garam, micin dan penyedap rasa ayam pada makanan itu. Di tambah telur mata sapi, sosis dan kerupuk. Ternyata Khanza kecil sangat suka dengan masakannya yang seadanya.
Rara melanjutkan makannya kembali.
Kali ini dia makan dengan lahap dan habis. Kemarin kemarin dia tidak berselera dan hanya makan sangat sedikit. Meski yang di sajikan adalah makanan terenak dan mewah ciri khas dari hotel ini.
Cio senang melihat dia makan dengan lahap. Artinya Khanza tidak lupa dan masih suka dengan masakannya.
"Apa anda suka dengan makanan ini nona? Besok kami akan membuatnya jika anda suka." kata manager melihat makannya yang tak tersisa.
"Katakan pada koki yang membuatnya terimakasih dariku. Aku suka masakannya!" kata Ara.
"Baik nona, akan saya sampaikan!" kata sang manager seraya melihat sekilas pada Cio.
Lalu segera mengatur peralatan makan dan membereskan meja di bantu pelayan pria yang satunya. Tidak mungkin dia membiarkan bos mereka yang membersihkan.
Rara bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati dingin kaca. Dia melihat arah bawah.
Sementara Cio memperhatikan gerak geriknya.
Ternyata Rara tidak mengenalnya sama sekali.
"Sepertinya di bawah lagi ramai ya buk?" tanya Rara tanpa melihat pada manager.
"Iya Nona. Sedang ada acara pesta pernikahan. Yang berhajat memakai gedung hotel ini untuk menggelar pesta pernikahan mereka."
kata manager.
Oohhh, kata yang keluar dari mulut Rara.
"Apa masih ada yang nona butuhkan?"
"Tidak, terimakasih. Pergilah kalian." kata Rara.
Manager segera pamit diri.
Cio masih melihat kepadanya sebelum keluar dari tempat itu.
'
'
Sejam berlalu.
Rara mengganti pakaian tidurnya dengan dress sederhana selutut.
Dia baru saja menyelesaikan lukisannya dengan mengambil latar pemandangan malam saat ini yang di lihat dari dinding kaca.
Bosan hendak melakukan apa. Dia belum mengantuk karena baru bangun. Sementara Yuri tak ada. Tadi pamit sebentar untuk melakukan sesuatu entah apa.
Dia tidak bisa menahan wanita itu terus terusan berada di sampingnya untuk menemaninya 1x24 jam.
Sebenarnya Rara sudah memberi kebebasan untuknya, kali saja pelayan itu punya tujuan atau tempat yang ingin di lihat atau di kunjungi.
Tapi Yuri mengatakan tidak punya keinginan untuk jalan jalan sendiri atau mengunjungi sesuatu.
Rara segera keluar dari kamarnya hanya menggunakan sandal tidur. Dia niatnya ingin keluar sebentar dan akan segera kembali sebelum Yuri pulang.
Dia sengaja tidak memberi tahu Yuri karena tidak ingin menganggu apa yang di lakukan wanita itu. Mungkin saja Yuri sedang melakukan hal penting. Jika di beri tahu, Yuri pasti akan segera kembali.
Rara memasuki lift.
Tujuannya adalah dapur hotel.
Dia ingin menemui koki yang telah membuat nasi goreng untuknya tadi.
*****
Janga lupa dukung author ya 😍
__ADS_1