
Enam bulan berlalu.
Khanza melewati kesehariannya seperti biasa. Berusaha tegar dan kuat tanpa Cio lagi. Meski di awal terasa sangat sulit, akhirnya dia melupakan segala kenangannya bersama Cio, dengan menyibukkan diri, melakukan hal hal yang menyenangkan. Dan kini Gadis itu tengah mempersiapkan ujian akhir sekolah dengan giat belajar.
Pagi ini seperti biasa, Rangga datang menjemputnya. Dia duduk di meja makan bersama Rafa dan Ara sambil menunggu Khanza turun. Rangga sudah terbiasa datang ke rumah ini dan sudah di anggap seperti keluarga sendiri. Untung ada pemuda ini yang selalu ada untuk Khanza, mengisi kekosongan, kesepian, kebingungan hingga membantu Khanza bisa melupakan Cio. Selalu mengisi hari Khanza dengan penuh keceriaan, mengobati hatinya yang sakit dengan kelekar canda tawanya, juga memberi kan hal hal positif.
"Selamat pagi semua." ucap Rara yang belari keluar dari lift mendekati mereka. Dia meraih sepotong roti di atas meja, mencium pipi papa dan mamanya lalu menarik tangan Rangga untuk berdiri." Ayo ga.... udah telat nih!"
"Ya ampun sayang, kenapa selalu terburu-buru seperti ini...!" Rafa dan Ara geleng kepala melihat tingkahnya yang selalu seperti itu.
"Jangan lupa makan siang sayang." kata Rafa.
"Iya pa...!" jawab Rara sambil berjalan.
Keduanya segera pamit lalu pergi.
Rafa dan Ara menatap kepergian mereka. Keduanya senang melihat putri mereka sudah kembali tersenyum dan ceria seperti biasa setelah apa yang terjadi antara gadis itu dengan Cio. Sangat sulit bagi Khanza melalui hari dengan penuh kesedihan, tapi perlahan akhirnya gadis itu mulai tenang dan melupakan kenangan masa lalunya
Setelah pulang sekolah mereka pergi ke Sebuah pusat perbelanjaan dan hangout di sala satu cafe tempat biasa mereka nongkrong. Kali ini Rara pergi hanya pergi bertiga dengan ke dua temannya Riri dan Fitri. Rangga hanya mengantar mereka karena ada urusan penting. Tapi dia akan menjemput nanti.
Selesai mengisi kampung tengah, mereka jalan jalan melihat melihat barang barang pajangan di setiap toko. Tanpa sengaja mata Rara menangkap sosok wanita yang tidak asing di matanya. Masuk ke dalam toko emas. Wanita itu melihat lihat perhiasan yang berada di setiap pajangan di temani pelayan. Mata Rara terpusat pada perut wanita itu dan tak berpaling melihat.
"Kamu lagi lihat apa Ra?" tanya Riri melihatnya yang bengong memperhatikan sesuatu.
Rara kaget dan segera melihat ke dua temannya.
"Cowok ganteng ya?" goda fitri.
__ADS_1
"Cowok ganteng mulu otaknya!" Rara memukul pelan kepala Fitri. Fitri menatap judes seraya menyentuh kepalanya.
"Habisnya apa? Kami perhatikan kau melihat tak berkedip ke dalam toko itu! Sudah pasti oppa oppa Korea kan?" katanya Riri menimpali dengan senyuman menggoda.
Rara mendesis kesal pada mereka.
"Nggak, aku seperti melihat seseorang yang aku kenal. Tapi dia sudah menghilang!" kata Rara.
"Siapa?" tanya Fitri penasaran.
"Orang yang aku kenal, kalian gak kenal. Sudah ah...Ayo kita ke toko buku, aku mau mencari bahan untuk referensi! Kalian juga pasti butuh buku kan?" kata Rara mengalihkan pembicaraan agar ke dua temannya itu tak bertanya lagi. Dia segera menarik ke dua tangan sahabatnya kembali melangkah.
Dalam langkahnya, pikiran Rara terus tertuju pada sosok wanita itu. Rara tersenyum membayangkan perut besar wanita itu, yaitu Anggi. Dia sempat melihat perut Anggi yang tampak besar tidak rata seperti dulu.
"Sepertinya kak Anggi sedang hamil. Sebentar lagi kak Cio akan menjadi seorang ayah." batinnya. Rara tersenyum terharu dan senang. Tapi kenapa hatinya merasa sedih. Melihat Anggi mengingatkan dia pada Cio juga kenangan kebersamaan yang mereka rasakan dulu. Kakaknya yang tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak pernikahan itu, hanya sekali berkomunikasi lewat telepon menanyakan dirinya setelah sampai dari Paris dulu. Dan untuk selanjutnya, tak ada lagi komunikasi secara pribadi dan juga bertemu secara langsung untuk saling menyapa dan menanyakan kabar. Meski kakaknya itu lancar berhubungan komunikasi dengan papa mamanya, dia tidak pernah menyapa dan Cio juga tak menanyakan dirinya.
Dan enam bulan berlalu, dia bertemu dengan istri kakaknya dengan perubahan yang tengah hamil besar. Sebagai seorang adik, Rara ikut senang dan bahagia.
Tiba tiba dahinya mengerut memikirkan sesuatu. "Jika kak Anggi ada di sini, berarti kak Cio ada di tanah air? Dan dia ada di mall ini?" batinnya tidak tenang. Karena dia tidak ingin ketemu dengan kakaknya itu.
"Sepertinya kak Cio ada di sini. Gak Mungkin kak Cio akan membiarkan kak Anggi pergi sendiri dengan keadaan hamil besar seperti itu." batinnya lagi.
Rara terus melangkah sambil melamun hingga tak sadar sudah sampai di toko buku dengan di pandu oleh ke dua temannya yang bingung melihatnya tapi tak mau menegur atau bertanya. Mereka segera memilih buku dan membiarkan Rara terus melamun.
"Hay Anggi, kau di sini ya?" suara seorang perempuan terdengar dari arah belakang mereka. Rara kaget mendengar nama Anggi di sebut. Dia segera menoleh ke belakang. Lalu cepat melihat kembali ke depan setelah melihat wajah Anggi. Ternyata Anggi juga datang ke toko buku ini? Apa Anggi melihat dirinya dan sengaja mengikuti? batinnya.
Anggi berdiri tidak jauh di belakang mereka. Berdiri dengan seorang wanita yang datang menegurnya. Rara segera mengambil sembarang buku, di buka lalu di tutupkan pada wajahnya takut wajahnya di lihat Anggi.
__ADS_1
"Hey Clara, gak nyangka ketemu kamu di sini!" kata Anggi. Keduanya cipika-cipiki.
"Iya, aku baru balik dari London kemarin. Kamu sendiri sudah lama di Indonesia?" tanya Clara.
"Seminggu yang lalu." jawab Anggi.
"Kamu lagi ngapain di sini? belanja keperluan calon baby mu ya?"
"Nggak. Mau melihat buku panduan calon ibu!"
"Oh gitu. Terus kamu sama siapa? Sendiri?"
"Iya, aku datang sendiri."
"Kamu gak khawatir jalan sendiri lagi hamil besar begini? Mana suamimu?"
"Aku masih kuat kok jalan sendiri. Suamiku nggak ada di sini. Dia berada di Australia."
"Ooh gituu, ku pikir kau ke Indonesia bersama dengan suamimu. Ya sudah, aku temani kau saja. Kebetulan aku jalan sendiri. Sekalian mau merayakan pertemuan kita. Udah lama kita gak ketemu. Kamu harus traktir aku." kata Clara tersenyum yang langsung di iyakan oleh Anggi.
Rara mendengar kan percakapan mereka dengan berpura-pura melihat buku dan bersembunyi di antara rak buku. Dia lega Anggi tidak melihatnya. Di kiranya Anggi mengikutinya, ternyata mencari buku.
"Ah syukurlah kak Cio tidak berada di sini." batinnya lega setelah mendengar ternyata Cio berada di Australia. Di kiranya ada di sini menemani Anggi. Dia khawatir akan bertemu Cio di tempat ini. Dia gak mau lagi bertemu dengan Cio. Bukan apa-apa, dia hanya gak ingin ada masalah di antara Anggi dan kakaknya jika mendekati Cio lagi, ada di antara mereka sebagai adik Cio.
Tapi mungkin juga Cio sudah melupakannya setelah menikah dan punya keluarga baru. Apalagi sebentar lagi akan punya anak. Cio pasti sudah lupa padanya karena enam bulan ini tak pernah menghubunginya. Bagi Rara itu tak mengapa, yang penting kakaknya hidup bahagia.
Rara segera mengajak keluar ke dua sahabatnya itu secara diam-diam menghindari Anggi. Fitri kesal di tarik paksa karena dia belum menemukan buku yang di inginkan.
__ADS_1
******
Tinggalkan jejak dukungan ya...