
Rara segera melepas pegangan tangan Ryu.
"Rara juga mau pergi sama mama." katanya melirik tajam pada Ryu.
"Dek, kakak mau bicara sama kamu."
"Rara gak mau. Bicara saja sama wanita selingkuhan kakak." kata Rara ketus menatap tajam. Lalu melepas kuat tangan Ryu. Dan segera berlari. Tapi Ryu dengan cepat menangkap tubuhnya dari belakang. Rara terkejut.
"Khanza, banyak tamu penting di sini. Sebaiknya diam dan Jangan melawan karena akan memancing perhatian mereka. Ada mama Ara di sini. Kau tidak ingin kan mama Ara malu?" bisik Ryu di telinganya. Rara berhenti meronta mendengar perkataan itu. Dia melihat pada mamanya yang tampak melihat pada mereka dengan wajah bingung penuh tanya, melihat sikap dan kelakuan mereka, Ada apa lagi? Ines dan Cindy juga melihat pada mereka. Juga beberapa tamu di dekat mereka. Bahkan ada yang menyapa Ryu."Ada apa tuan Ryu?"
Tapi Ryu tidak menggubris pertanyaan mereka. Dia segera menarik tangan Khanza keluar dari ruang itu dan membawanya ke sebuah ruangan kosong.
Dia segera memeluk Khanza." Maaf kan kakak dek."
"Lepas, jangan peluk peluk." kata Khanza tidak tahan mencium aroma parfum lain di tubuh Ryu."Peluk saja kekasihnya."
Ryu melepas pelukannya. Dia melihat netra Khanza yang mengembun dan memerah.
"Khanza, Maafkan kakak membuatmu terluka. Wanita itu......!"
"Rara gak mau tahu wanita itu. Sekarang lepas, Rara mau keluar." kata Rara serak, bongkahan bening itu jatuh merembes di kedua pipinya.
"Sayang......" Ryu semakin bersalah dan menyesal melihat air mata itu. Dia memegang kedua tangan Rara. Tapi Rara menepis.
"Kakak jahat....bajingan."
"Tidak dek, kakak hanya mencintaimu, dengar dulu....!"
"Nggak, Rara nggak mau. Pergi sana sama wanita itu." Kata Rara ketus.
"Khanza, wanita itu.....!"
"Selingkuhan kakak kan? Jadi gak perlu katakan apa apa lagi." potong Rara menatap tajam Ryu.
__ADS_1
"Kakak brengsek. Punya istri tapi masih selingkuh. Dasar Bajingan. Rara Kecewa. Rara gak mau lagi jadi istri kakak. Rara mau pisah. Rara mau cerai! Lepaskan Rara, Sebaiknya kakak kembali pada wanita itu. Kembali lah pada kekasih kakak!" kata Rara emosi dengan air mata mengalir.
Ryu memegang wajahnya. Menatap dalam dalam netra Khanza yang semakin memerah dan berair. Ryu tersenyum mendengar ucapan kekesalan di sertai luapan emosi itu. Dia senang, juga kaget mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mungil itu. Ada kemarahan dan kecemburuan di sana.
"Sayang, kamu lagi cemburu ya? Itu artinya kamu cinta sama kakak dek." katanya tersenyum menggoda.
Wajah Rara mengernyit."Gak, buat apa cemburu pada lelaki bajingan seperti kakak?" katanya ketus dan kesal. Dia segera menyapu air matanya.
Ryu kembali tersenyum, lalu segera memeluknya, memeluk kuat. Tak memberi ruang gerak untuk Khanza melepaskan diri. Rara menangis memukul mukul dadanya.
"Kakak jahat, kakak tega sama Rara. Kakak selalu nyakitin dan buat Rara menangis!" Rara kembali terisak Isak.
"Nggak sayang! Kakak tidak bermaksud seperti itu! Kakak sangat mencintaimu! Kakak melakukan hal itu karena takut kehilangan kamu." kata Ryu mengelus rambut dan punggungnya lembut.
Rara terisak-isak"Tapi jika wanita itu bisa bikin kakak bahagia, Rara ikhlas. Mari kita berpisah. Rara gak apa-apa. Rara benar ikhlas. Rara sayang sama kakak. Bagi Rara kebahagiaan kakak yang paling utama. Kakak bahagia, Rara lebih bahagia." Rara mendongak melihatnya.
Ryu terenyuh, mendengar penuturan itu. Dia mengecup kening Rara, lalu kembali memeluknya. Rasa bersalah semakin menyeruak di hatinya.
"Tidak dek, Jangan bicara begitu. Kebahagiaan kakak adalah kamu. Tidak ada wanita lain di hati kakak selain kamu, sejak kecil hingga saat ini dan selamanya. Hanya kamu seorang di hati kakak, hanya kamu yang kakak inginkan menjadi wanita dan istri kakak!" Ryu sedih mendengar pengakuan isi hati Khanza. Pantas saja Khanza tidak marah dan membiarkannya dengan wanita itu. Ternyata Khanza lebih memikirkan kebahagiaannya dan berpikir wanita itu adalah kebahagiaannya.
Tangis Rara terhenti. Dia menarik wajahnya yang terbenam di dada Ryu, lalu menengadah ke atas melihat pada Ryu yang menunduk menatapnya."Kak Cia?" tanyanya kembali.
Ryu mengangguk."Iya sayang, dia memakai wajah dan rambut palsu. Awalnya dia nolak karena takut akan membuat mu sedih dan terluka. Tapi kakak maksa dia." kata Ryu.
"Untuk apa kakak lakukan hal itu?" wajah Rara mengernyit.
"Ingin mengetahui isi hatimu, perasaan mu pada kakak, juga pada pernikahan kita! Kau diam acuh tak acuh, mendiami kakak, menghindari kakak, menjaga jarak dan batasan hubungan kita. Meski kita di rumah. Padahal kamu tahu kita sudah menikah. Kakak bingung dengan sikapmu, bahkan stress memikirkannya. Kakak takut kau tidak menerima pernikahan kita dan akan meninggalkan kakak!" kata Ryu menjelaskan.
Wajah Rara berubah masam mendengarnya.
"Drama selingkuh?" menatap tajam."Gak lucu!" katanya kesal. Dia menarik diri dari pelukan Ryu. Karena apa yang lakukan Ryu benar benar keterlaluan. Sangat menyakiti hatinya. Dia benar benar takut jika harus kehilangan Ryu lagi untuk ke dua kali. Tapi salahnya juga karena bersikap seperti itu.
"Maaf sayang. Jangan marah. Sikapmu membuat kakak tersiksa! Kakak hanya ingin tahu alasannya." Ryu kembali memeluknya. Rara segera menepis tangannya.
__ADS_1
"Rara masih sekolah. Apa kakak ingin orang orang mengetahui Rara sudah menikah dan punya suami?" Rara menatap tajam.
"Kakak kan sudah bilang akan merahasiakan pernikahan kita sampai kau lulus!"
"Ya sudah, kita akan seperti ini sampai Rara lulus!" kata Rara kembali kesal.
"Tapi bukan berarti kita harus menjaga batasan dek. Di rumah kita adalah pasangan suami istri. Bebas ngelakuin apa saja.Tapi kau sangat cuek, mendiami kakak, bahkan menghindari. Kau tidak menerima kakak masuk ke kamar mu dan tidur bersama. Di rumah kita seperti orang asing yang tidak saling mengenal!" kata Ryu.
"Masa punya istri cantik dan semanis ini hanya di biarkan tidur sendiri? Kakak gak tahan. Setiap malam selalu membayangkan dirimu. Kamu tidurnya enak dan lelap tanpa ada beban. Tapi kakak? sulit tidur dan gelisah sepanjang malam memikirkan mu." kata Ryu sok polos dan manja. Dia kembali memeluk Khanza." Sayang, Kakak ingin tidur sambil meluk kamu, merasakan hangatnya dan wangi tubuhmu! Ingin cium kamu dan.....!" katanya manja.
"Ihh... gak boleh. Rara gak mau! Dasar mesum!" Rara mendorong tubuhnya kuat. Dia menatap tajam dan kesal pada Ryu.
"Pokoknya kakak gak boleh tidur di kamar Rara. Kita gak boleh tidur berdua. Gak boleh dekat dekat. Ntar khilaf lagi. Rara masih ingin sekolah." katanya tegas.
Ryu tersenyum di dalam hati. Lucu dan menggemaskan melihat wajah kesal ini. Dia lega permasalahan mereka berkahir. Khanza sudah mau di ajak bicara dan terbuka padanya.
"Nggak sayang, kakak janji Cuma meluk dan tidur doang. Gak akan macam macam deh! Sumpah." tersenyum menggoda.
"Gak, Rara gak percaya. Udah beberapa kali kakak nyentuh nyentuh Rara dan hilang kendali." kata Rara tegas.
"Khanza juga nggak nolak kan? Buktinya saat kakak nyentuh, kamu menikmati." Ryu senyum menggodanya.
Rara kaget mata bulat. Wajahnya berubah.
"I- itu terpaksa karena kakak nahan tubuh Rara! Rara udah nolak tapi kakak maksa." katanya kesal dengan suara meninggi. Dia jadi salah tingkah.
"Awas ah... Rara mau keluar." Rara mendorong kuat tubuh Ryu. Mau menyembunyikan malu di wajahnya yang memerah. Karena jujur apa yang dikatakan Ryu benar. Dia menikmati sentuhan lembut itu karena terbuai dan terlena."Ingat, jangan sentuh sentuh Rara lagi." gertaknya melototkan mata lalu segera keluar.
Ryu terkekeh dengan tingkahnya. Lucu buat dia geli.
"Sayang, kamu benar benar menggemaskan! Rasanya aku tak akan bisa lagi menahan diri untuk menyentuhmu!" ucap Ryu melihat punggung Rara yang yang mulai menjauh. Dia berjalan cepat mengikuti Rara dari belakang.
"Ngapain ikuti Rara? Udah di bilang jangan dekat-dekat...!" gertak Rara saat Ryu hendak memegang tangannya, Lalu kembali melangkah meninggalkan Ryu yang senyum senyum sendiri. Bukannya menjauh, Ryu malah menyergap tubuhnya dan mengangkatnya ala bridal style. Tak perduli teriakan, pukulan Rara meminta untuk menurunkannya. Dia mencurahi banyak kecupan di wajah manis mengemas kan itu. Tak perduli tatapan orang orang.
__ADS_1
******