
Rara keluar dari kamar, berjalan menelusuri koridor hotel.
Pikirannya melayang pada nasi goreng yang di makannya tadi. Dia terus melamun hingga tidak menyadari menabrak seorang pria yang keluar dari kamar suite satunya saat dia berbelok.
Rara kaget dan hilang keseimbangan.
Cio, si pria itu langsung menahan tubuhnya yang hampir jatuh.
Cio sendiri kaget melihat Rara di depannya. Saat itu dia keluar untuk turun ke lantai 24 tempat di adakannya acara pernikahan.
"Untuk apa dia keluar dari kamar hotel jam begini?" gumam Cio.
Rara segera berdiri tegak. Menormalkan suasana hati yang sempat kaget dan takut. Menatap pria tampan di depannya dengan pakaian formal, memakai jas, vest dan berdasi kupu-kupu.
"Maaf tuan, aku tidak sengaja. Terimakasih sudah menolong ku!" kata Rara.
Lalu kembali melanjutkan perjalanan tanpa mendengar balasan perkataan Cio. Yang penting dia sudah mengucapkan terimakasih. Dia selalu ingat pesan Rafa dan Ara yang selalu mengatakan jangan terlalu dekat dengan orang yang tidak di kenal. Dia juga masih ingat perkataan Cio sewaktu masih kecil dulu agar jauh jauh dari orang yang tidak di kenal. Bisa saja mereka adalah penculik anak.
"Ternyata kamar suite yang satunya sudah berpenghuni." batinnya.
Karena kata manager hotel, kamar itu kosong sewaktu Rara di beri pilihan untuk menginap di kamar suite yang mana.
Cio menatapnya dengan tersenyum, melihat Rara yang menghindar dan menjauhinya.
"Sepertinya dia selalu ingat di pesanku.....!" gumamnya. Sewaktu kecil dia selalu mengingatkan Khanza, Riez, Raka dan Ryan untuk menjauh dari orang yang tidak di kenal, jangan mendekat jika di panggil saat keadaan sepi. Bisa saja mereka itu adalah para penculik anak. Cio menakut nakuti mereka seperti itu.
10 langkah kaki Rara berjalan, dia mendadak berhenti dan berbalik. Menatap pada Cio yang melangkah di belakangnya.
Cio yang mulai melangkah merasa bingung di perhatikan seperti itu.
"Kenapa dia berbalik dan menatapku?" batinnya.
Dia memperhatikan penampilan Khanza yang sederhana. Dress sederhana, sandal tidur, rambut di Cepol asalan. Mau kemana dia penampilan seperti ini?
Tapi Cio suka dengan penampilannya seperti ini, membuat gadis yang sudah memasuki masa remaja itu semakin manis di matanya.
Cio tersenyum di dalam hati.
Semakin mendekat, Cio terus melangkah dan melewatinya.
"Tuan....!" panggil Rara pelan begitu dia lewat enam langkah di sampingnya.
Langkah Cio terhenti.
Dia berbalik dan menatap Rara.
"Yaa?? kau memanggil ku?" Cio menunjuk dirinya meski dia tau panggilan itu untuknya.
Rara mengangguk.
"Ada apa?"
"Apa anda tinggal di kamar itu?" Rara menunjuk kamar tempat Cio keluar tadi.
Giliran Cio mengangguk dengan mata mendelik. Kenapa dia bertanya begitu? batinnya.
"Berarti kita tetangga dong?" kata Rara Kembali.
Wajah Cio mengernyit, sekaligus tersenyum.
"Tetangga?"
"Aku tinggal di kamar suite sebelah. Hanya kamar kita yang berada di sini, berarti kita berdua tetangga. Bukankah sesama tetangga harus saling menyapa dan mengenal?" kata Rara melihat wajah bingung Cio.
Senyum Cio mengembang.
"Boleh tanya lagi nggak?" tanya Rara kembali.
Cio kembali mengangguk pelan dengan wajahnya yang mengernyit karena penasaran dengan pertanyaan Rara.
"Apa anda orang baik?"
Hah? Cio tertawa kecil.
"Pertanyaan macam apa itu?" batinnya.
Dia berjalan mendekati Rara, berhenti di jarak 1 meter. Mendekatkan wajahnya sebatas satu jengkal di depan wajah Rara.
"Kalau aku orang jahat, kenapa? apa kau takut?"
menatap Rara tak berkedip.
Rara menarik mundur wajahnya.
"Tentu saja aku takut. Tapi aku rasa anda bukan orang jahat. Karena tadi anda menolong ku saat mau jatuh." jawab Rara membalas tatapannya.
Cio tersenyum dengan bibirnya terangkat setengah.
"Apa karena aku membantumu maka kau berasumsi bahwa aku orang baik?" Cio balik bertanya. Menatap sepasang mata indah gadis ini. Mata teduh seperti punya tantenya, Ara. Istri kesayangan Daddynya, Rafa.
Rara terdiam, tak menjawab.
Tapi kepalanya berpikir.
Pria ini memang benar, dulu dia menganggap Cio orang yang paling baik karena selalu membantunya, selalu ada untuknya.Tapi ternyata kebaikan Cio tidak tulus. Cio membohonginya, melupakannya setelah mereka berjauhan, bahkan Cio tak menganggap dirinya adik lagi.
__ADS_1
Wajah Rara berubah sedih, beberapa detik kemudian dia segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Cio yang bingung dengan sikapnya.
Cio membuang nafas kasar menyadari pertanyaan yang di lontarkan tadi. Melihat wajah sedih Rara. Sudah pasti membuat gadis itu kembali membencinya.
Cio segera melangkah menyusul gadis itu yang entah mau kemana.
Rara masuk ke dalam lift.
Cio yang sudah menyusulnya segera masuk.
Rara meliriknya sekilas. Dia bergerak hendak melangkah keluar, takut kalau Cio bukan orang baik.Tapi Cio menahan tangannya sebelum kakinya melangkah keluar.
Rara melihat tangan Cio yang memegang tangannya, lalu menengadah melihat wajah pria ini.
"Lepas...!" kata Rara seraya menarik tangannya.
"Aku orang baik. Kamu tidak perlu takut. Tetaplah di tempat mu!" kata Cio segera. Mengulas sedikit senyum agar Rara tidak takut dan percaya padanya.
Di dalam lift bukan hanya ada mereka, tapi juga pegawai hotel wanita terlihat dari pakaian yang di kenakan. Pegawai yang mengenal Cio segera menunduk kepala sesaat dengan sopan. Dia kaget melihat sigap bosnya ini, yang menyentuh Rara.
Pintu lift tertutup. Lift mulai bergerak turun ke bawah.
Rara segera menarik tangannya.
Mundur mensejajarkan tubuhnya dengan pegawai Hotel.
Dia kembali ingat dengan tujuannya setelah melihat pegawai itu
"Maaf mbak, permisi...!" ucap Rara pada sang pegawai hotel.
"Ya nona, ada yang bisa saya bantu?" kata pegawai ramah.
"Boleh nanya gak?" tanya Rara.
Dahi Cio mengerut mendengar ucapannya.
"Mau tanya apa lagi dia?" batinnya. Setelah tadi bertanya kepadanya.
"Mungkin kah dia akan bertanya lagi apa pelayannya orang baik atau jahat?" gumam Cio kembali tersenyum.
"Tentu saja boleh nona, anda ingin menanyakan apa?" kata pegawai hotel. Dia tahu Rara adalah penghuni kamar presidential suite satunya yang berada di lantai atas.
Rara hendak bertanya, tapi lift berhenti, pintu terbuka.
"Permisi..." kata pegawai itu sopan.
Dia segera keluar. Lift kembali bergerak.
Rara mundur menjauh menyadari tinggal dia dan Cio dalam lift.
Cio berbalik ke belakang dan menatapnya.
Cio mendekatinya.
Rara kaget.
"Jangan dekat dekat....!" katanya segera, mulai khawatir.
"Apa kau takut karena hanya ada kita berdua di dalam lift?" tanya Cio tersenyum dalam hati. Dia melihat rasa takut dari kedua mata Rara.
Rara menelan ludah, menormalkan jalan nafasnya yang sesak.
"A aku sebenarnya tidak takut, karena aku tidak melakukan kesalahan dan juga tidak menggangu anda. Hanya saja....!" kata Rara terbata bata.
"Hanya apa....?" Cio mengulang kata katanya yang terputus.
"Lihat jarak kita. Bolehkah anda mundur?" kata
Rara tanpa menjawab pertanyaan Cio.
Cio memperhatikan jarak mereka yang memang sudah dekat.
"Aku takut anda dekat dekat seperti ini. Aku takut anda melakukan hal buruk padaku!"
kata Rara kembali.
Cio tertawa kecil.
"Kamu jangan khawatir. Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa aku orang baik? orang baik tidak mungkin akan melakukan hal buruk bukan? apalagi kau adalah tetanggaku!"
"Meski anda katakan bahwa anda orang baik, Apakah itu bisa menjamin bahwa Anda adalah orang baik? bukankah anda sendiri yang berkata begitu tadi?" Rara balik bertanya.
Haha...
Cio kembali tertawa kecil dengan gaya bicara Rara yang polos dan apa adanya. Berkata sesuai yang ada di dalam pikirannya.
"Percayalah padaku tetanggaku yang manis, aku orang baik. Kamu jangan takut. Aku juga punya adik perempuan seusiamu. Melihatmu membuat ku teringat padanya." katanya seraya Menyentuh dagu Rara sekilas dengan ujung telunjuknya.
"Adik perempuan?"
"Iya...!" Cio mengangguk.
"Apa anda menyayanginya?" Rara malah tertarik dengan ucapan pria ini, karena mengingatkan dia pada Cio.
Lift berhenti, pintu terbuka.
__ADS_1
"Kau ingin ke lantai berapa?" tanya Cio tanpa menjawab pertanyaan Rara.
Rara tersadar dengan arah tujuannya yang belum di ketahui. Karena dia tidak tahu dapur hotel ada di lantai berapa.
"Aku belum tahu...!" jawabnya kemudian.
Cio menatapnya heran.
"Dia tidak tahu? sebenarnya apa yang mau di lakukannya di luar? keluar kamar hotel tanpa tahu tujuan." batin Cio.
Cio segera keluar seraya menarik tangan Rara sebelum pintu lift kembali tertutup.
Lebih baik Rara ikut dengannya dari pada gadis ini kesasar.
"Yuri kemana? kenapa dia tidak bersama Khanza?" gumam Cio. Seharusnya Yuri menemani kemanapun khanza pergi. Itu tugas dan tanggung jawabnya.
Rara yang kaget karena di tarik oleh Cio segera menarik tangannya dari pegangan pria itu.
Cio segera mengambil ponselnya, menghubungi Yuri menanyakan keberadaan wanita itu. Semenit berlalu, telepon segera di matikan setelah mendengar jawaban Yuri yang sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Yuri sendiri kaget setelah tahu Rara berkeliaran di luar tanpa memberitahu dirinya.
Rara yang hanya melihat Cio menelpon entah pada siapa menekan nekan lengan Cio dengan telunjuk.
"Tuan....! anda belum jawab pertanyaan ku!"
Cio kembali menatapnya.
"Apa anda menyayangi adik anda?" tanya Rara kembali.
Cio menarik nafas panjang kemudian mengeluarkan pelan.
Dia meraih tangan Rara dan genggam.
Rara kaget dan menarik tangannya, tapi Cio menahan sedikit kuat.
"Tentu saja aku menyayanginya. Sangat menyayanginya melebihi diriku sendiri. Meski saat ini kami berjauhan, tapi dia selalu ada di hatiku, selamanya. Aku tidak pernah melupakannya walau hanya sedetikpun."
"Berjauhan?"
"Iya...."
"Memangnya adik anda berada di mana?"
"Tanah kelahiranku.... Indonesia!" jawab Cio pelan.
"Indonesia?" Rara mengulang perkataan Cio.
Cio mengangguk seraya menatap kedua matanya Rara yang berubah mendung.
Dia yakin, Rara pasti teringat dirinya.
"Anda selalu mengingatnya meski berjauhan?"
"Selalu setiap saat. Aku selalu merindukannya. Dia ada di hatiku selamanya." kata Cio menyentuh dadanya.
Rara mengeluh sedih. Seandainya kakaknya seperti pria ini. Tapi tidak, Cio kakaknya bukan seperti pria ini.
Rara menelan ludah yang terasa pahit. Kedua matanya basah.
"Khanza sayang, kakak tidak pernah melupakanmu. Kakak selalu merindukanmu. Kau selalu ada di hati kakak!" guman Cio melihat wajah sedih gadis ini.
Rara mendesah sedih. Lalu berbalik dan melangkah untuk menyembunyikan air matanya di depan pria ini, yang tak di ketahuinya adalah kakak sepupunya sendiri, Sahreza Gracio.
"Hey tetangga ku, kau mau kemana?" panggil Cio.
Rara terus melangkah.
"Katanya kita tetangga, tapi kenapa tidak menjawab pertanyaan ku? siapa tahu aku bisa membantumu." kata Cio mengikuti dari belakang.
Langkah Rara melambat. Dia buru buru menyapu kedua matanya yang basah. Lalu berbalik, melihat pada Cio.
"Dapur hotel.....!" katanya kemudian.
"Dapur hotel????"
"Iya, aku mau ke dapur hotel. Di mana tempatnya? apa anda tahu?"
Cio melongo mendengar ucapannya.
"Dapur hotel? untuk apa dia kesana?" batinnya melamun. Tak menyadari Rara telah pergi meninggalkannya karena melihat dia hanya diam. Rara menganggap dia tak tahu dapur hotel, makanya Rara kembali melangkah meninggalkannya.
.
.
Sadar Rara sudah tak ada di hadapannya, Cio segera menyusul gadis itu ke dapur hotel.
Tapi tak ada Rara di sana. Pada koki mengatakan tak melihat gadis seperti yang di sebut kan masuk ke dapur. Dan tak ada tamu hotel yang menginjak kan kaki dalam sehari ini ke area mereka.
"Apa dia ke sasar?" Cia mengeram pelan karena telah melakukan kesalahan dengan hilangnya Khanza dari pandangan matanya.
"Perintah kan manager hotel dan pegawai lain untuk mencarinya. Dan kerahkan juga orang orang kita. Periksa CCTV untuk memperlihatkan keberadaannya!" perintahnya pada Simon.
"Baik tuan." Simon segera bergerak cepat mengerjakan perintah atasannya.
"Katanya ke dapur hotel, tapi tak ada. Kemana kamu Khanza?" Cio membuang nafas kasar. Khawatir memikirkan terjadi hal buruk pada Khanza.
__ADS_1
*****
Tinggalkan jejak kalau suka karya author...😘