
Saat ini Ryu sedang terbaring lemah di dalam ruangan inap rumah sakit. Dia di larikan ke rumah sakit setelah pingsan. Ryu tidak sadar diri selama dua hari dua malam. Dan pada hari ketiga barulah bisa melewati masa kritis. Lalu beberapa jam kemudian dia sadar terbangun dari koma.
Ryu jatuh pingsan di saat saat terakhir pertarungan. Dia berhasil melumpuhkan segerombolan mafia itu. Ketua mereka dan dua orang lainnya melarikan diri melihat kedatangan Simon.
Penyebab Ryu pingsan karena tubuhnya yang sangat lemah akibat dua hari tidak menyentuh makanan. Dia kehabisan tenaga dan kekuatan. Penyakit Maag nya juga kambuh. Saat bertarung meladeni para Mafia itu, dia merasakan sakit perut, nyeri dada, sesak nafas membuat sulit bernapas, di tambah beberapa luka cukup parah di beberapa bagian tubuhnya. Hingga akhirnya dia jatuh pingsan. Tapi untungnya dia masih bisa melawan para Mafia itu seorang diri hingga mereka melarikan diri saat Simon datang.
Beruntungnya Simon dan orang orang mereka datang tepat waktu dan segera melarikannya ke rumah sakit. Sebagian lagi mengejar ketua Mafia dan sisa anak buahnya.
Dokter segera mencabut beberapa alat kesehatan yang terpasang pada beberapa bagian tubuhnya. Meski sudah sadar dari koma, keadaan Ryu masih sangat lemah. Dokter menyarankan untuk tetap menginap sampai dirinya benar benar pulih.
Saat ini, Ryu di temani oleh Simon. Beberapa orang anak buah mereka berjaga di depan pintu kamar.
Setelah sadar dan terbangun, Ryu teringat pada Khanza. Yang keluar dari mulutnya hanya gadis itu "Bagaimana Khanza?" tanya Ryu sambil menyentuh tatonya.
"Jangan katakan kepadanya tentang keadaan ku. Jangan sampai dia tahu." katanya lemah.
"Ibu Ratih tadi menghubungi saya. Nona muda sudah kembali ke rumah. Dia sampai sejam yang lalu. Nona menanyakan anda!"
"Ah syukurlah....! Aku mau pulang." ucap Ryu senang. Dia berusaha bangun, tapi dokter dan Simon segera menahan tubuhnya.
"Kondisi anda masih lemah tuan. Anda baru tersadar dari koma. Anda harus menginap beberapa hari sampai keadaan anda pilih benar." kata dokter segera.
"Dokter benar tuan. Anda harus mendapatkan perawatan yang intensif. Luka luka anda cukup parah!" Simon juga segera bicara.
"Aku ingin menemui Khanza. Dia sedang mencariku." Ryu bangun kembali tapi tubuhnya sangat lemah. Dia juga merasakan sakit pada lukanya. Dokter dan Simon segera menahan tubuhnya untuk tetap berbaring.
"Anda ingin menemui Nona muda dengan keadaan seperti ini?" kata Simon.
Ryu membuang nafas berat. Benar apa yang di katakan Simon. Khanza pasti akan sedih dan cemas jika tahu dirinya sakit.
"Anda tidak perlu khawatir. Ibu Ratih sudah memberi tahu pada Nona bahwa saat ini anda sedang berada di Jerman untuk urusan bisnis." kata Simon.
Simon memperlihatkan rekaman video percakapan Ratih dengan Rara saat tiba di rumah.
Ryu mendesah sedih.
"Khanza merasakan apa yang terjadi padaku! Aku tidak tahan melihat kesedihan dan kecemasan pada dirinya. Berikan obat untuk membuat ku sembuh. Aku tidak mau berlama-lama di sini." katanya menatap dokter.
__ADS_1
Ryu melihat video rekaman CCTV yang sementara berlangsung di rumahnya. Melihat Khanza berada di kamarnya. Duduk di bibir ranjang sambil melihat foto mereka berdua yang terpasang pada bingkai Foto. Khanza tampak tersenyum melihat foto mereka berdua. Jemari gadis itu menyentuh wajah mereka berdua bergantian.
"Entah kecemasan apa yang aku rasakan beberapa hari ini. Doaku semoga kakak baik baik saja." kata Khanza menyentuh wajahnya.
Ryu tersenyum senang, tapi juga sedih mendengar ucapannya. Sedih melihat kekhawatiran Khanza pada dirinya.
Dia menoleh pada Simon.
"Berikan ponselku." pintanya.
Simon segera memberikan apa yang di minta tuannya. Dia sengaja menonaktifkan ponsel tuannya agar Khanza tidak bisa menghubungi Ryu dan tahu keadaannya.
"Apa Khanza menghubungiku selama aku tidak sadar?" tanya Ryu.
"Iya tuan. Tapi ponsel Anda tidak aktif. Saya sengaja menonaktifkan ponsel anda karena tidak ingin nona muda mengetahui keadaan Anda!" ujar Simon.
"Bagus. Kau melakukan hal yang benar. Jangan sampai dia tahu keadaan ku!" Ryu segera menekan nomor Khanza sambil terus melihat gadis itu pada video CCTV yang sementara berlangsung.
Simon dan dokter segera keluar menunggu di luar.
Ryu mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya agar tidak terdengar lemah.
"Assalamualaikum." ucap Rara
"Senangnya mendengar suaramu!" batin Ryu dalam hati. Dia sangat rindu dengan suara lembut ini.
"Waalaikumsalam dek!" jawabnya kemudian.
"kakak.... bagaimana kabarnya? kata ibu Ratih kakak sedang berada di Jerman." tanya Khanza segera.
"Kamu mengkhawatirkan kakak?" Ryu balik bertanya.
Rara terdiam sejenak.
"I..iya. Rara khawatir karena sudah beberapa hari ini kakak tidak menghubungi Rara!" katanya kemudian.
"Kakak tidak menghubungi mu karena kakak tahu kamu takut dan marah sama kakak." kata Ryu.
__ADS_1
Rara menelan ludah pahitnya. Diam tak menjawab.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan kakak. Kakak kira Khanza tidak ingat kakak lagi! Keadaan kakak baik. Maaf tidak sempat menghubungi Khanza beberapa hari ini. Kakak sangat sibuk." kata Ryu tidak ingin membuat gadis itu sedih dengan pertanyaannya. Dia berbicara sangat pelan. Karena merasa sesak bernapas.
"Tidak apa-apa. Yang penting kakak baik baik saja! Tapi kok suaranya terdengar lemah tak ada tenaganya gitu?" tanya Rara merasa aneh dengan suara Ryu.
"Kakak hanya capek, banyak kerjaan di sini. Khanza gak usah cemas. Kakak baik baik saja, hanya kelelahan."
"Kalau gitu kakak istirahat saja. Rara sudahi dulu teleponnya. Assalamualaikum......!"
"Khanza.....!" kata Ryu segera sebelum gadis itu mengucap salam.
"Ya....!"
"Khanza di mana sekarang?" pura pura tidak tahu.
"Di kamar kakak. Rara baru pulang ke rumah. Kapan kakak Kembali?"
"Apa Khanza merindukan kakak?" Ryu balik bertanya ingin mendengar kata hati gadis ini.
Rara kembali terdiam dengan pertanyaan itu. Wajahnya kembali berubah murung. Tentu saja dia sangat rindu. Tapi dia tidak mau mengungkapkan kerinduannya.
"Kalau Khanza rindu dan tidak takut lagi, kakak akan segera pulang!" kata Ryu melihat ekspresi wajah sedihnya. Dia tahu gadis itu merindukannya. Terlihat dari wajahnya.Tapi tidak di tampakkan. Entah apa penyebabnya. Membuat Ryu bingung dan bertanya-tanya.
Di seberang Rara terlihat diam. Menarik nafas dan hanya mengulum bibirnya.
"Sebaiknya kakak istirahat saja! Rara akan tutup teleponnya. Assalamualaikum!" katanya kemudian.
Ryu mendesah sedih karena tidak mendapat jawaban dari gadis itu. Apa Khanza masih takut padanya? Kalau hanya rindu, sudah dapat dilihat gadis itu merindukannya. Tapi kalau takut? apakah Khanza masih takut pada dirinya? Dia ingin tahu, tapi Rara tidak menjawab. Mungkin Khanza masih takut akan ciuman itu. Pikirnya.
"Kakak berharap Khanza akan kembali tinggal di rumah dan tidak akan pergi lagi. Kakak akan pulang secepatnya! Jangan kemana mana sampai kakak kembali. Assalamualaikum." kata Ryu.
"Waalaikumsalam!" balas Rara.
Telepon ditutup.
Rara mendesah sedih seraya menatap layar ponselnya yang terpasang wallpaper dirinya dan Ryu saat kecil. Dia masih memikirkan pertanyaan pertanyaan Ryu tadi. Tapi hatinya lega setelah tahu Ryu baik baik saja.
__ADS_1
*****