Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
73. Pengakuan Ryu.


__ADS_3

Setelah Jovita keluar, Rara menarik wajahnya dari dada Ryu.


"Kenapa kakak sampai memecatnya?" Rara yang tidak tega melihat wajah sedih Jovita yang di pecat.


"Aku memang tidak suka padanya. Berpakaian terbuka untuk menggodaku. Aku sudah memberi peringatan padanya. Aku masih mempertahankannya karena kinerjanya yang baik. Tapi kali ini tidak lagi....!" kata Ryu seraya mengatur rambut Khanza dan pakaian yang berantakan. Lalu membantu gadis itu berdiri.


"Rara gak enak dan kasihan padanya."


"Dia gak pantas di kasihani. Khanza gak usah memikirkannya."


"Tapi Rara takut. Bagaimana jika dia bilang ke orang orang apa yang di lihatnya?"


"Memangnya dia melihat apa?" Ryu tersemyum menggoda. Ryu segera menarik pinggangnya membuat tubuh dan wajah mereka dekat kembali.


Wajah Rara berubah merah. Dia menatap kesal campur malu pada Ryu.


"Masih tanya juga?" melototi Ryu "Kakak suka sembarangan mencium Rara."


"Salah bibir Khanza sendiri yang begitu menggoda. Dekat denganmu membuat kakak tidak bisa untuk tidak menyentuh." Ryu kembali mengerat kan pelukan yang longgar, hingga hidung mereka bersentuhan. Ryu mengusap bibir Khanza. Gadis itu kembali salah tingkah dengan wajah semakin merah merona. Kesal tapi salah tingkah, Ryu tersenyum.


Rara melepas tangan Ryu tapi terlalu kuat. Ryu tidak mau melepaskannya.


"Jangan bercanda kak! Rara takut. Kakak pria yang sudah menikah. Dan sekretaris itu pasti tidak terima di pecat. Bagaimana jika dia mengakan pada orang orang kalau Rara menggoda kakak?" kata Rara dengan tatapan tajam campur sedih.


"Rara jadi malu untuk keluar. Mereka pasti akan menatapi Rara, mencemooh Rara datang ke sini menggoda suami orang. Dan jika kak Anggi tahu, aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana sakit dan sedihnya dia. Hatinya pasti hancur. Rara sangat menyesal dan bersalah padanya." kata Rara lagi dengan ekspresi takut dan cemas.


Ryu memegang wajah Khanza. Melayangkan kecupan tiba tiba. Rara kaget menatap tajam.


"Jangan sentuh Rara lagi." Rara menepis tangan Ryu."Lepas, Rara mau pulang. Tapi bagaimana ini? Rara terlalu malu untuk menampakkan wajah ke keluar. Sekretaris itu pasti sudah bicara di luar." keluhnya sedih dan gusar. Dia tidak mau terus berada di sini. Berdua dengan Ryu. Entah apalagi yang akan di buat kakaknya itu. Dia juga sudah janjian sama Rangga untuk bertemu. Pacarnya itu pasti sudah tiba untuk menjemputnya. Berciuman dengan Ryu bukan hanya membuatnya merasa bersalah pada Anggi, tapi juga pada Rangga. Karena pria itu adalah pacarnya.


Ryu bukan melepas malah semakin memeluknya. Dia mengerti apa yang di pikirkan adik sekaligus istrinya ini. Dia tersenyum melihat dua tanda keunguan di leher jenjang putih gadis ini. Yang di tutupi dengan rambut panjangnya.


Rara merasa malu dan kesal di perhatikan.


"Kenapa harus malu? Katakan saja pada mereka kalau Khanza adalah wanita kakak!" katanya dengan senyuman menggoda.


Rara terperangah mendengar ucapannya.


"Wanita kakak? Wanita kakak itu kak Anggi, istri kakak. Apa kakak ingin Rara di cap wanita rendah, murahan penggoda suami orang?" Sentak Rara menatap tajam Ryu.


"Lepas, Rara mau pulang. Rangga sudah menunggu di bawah." Rara melepas tangan Ryu.


Ryu segera menariknya lagi melihat gelagat perubahan dari wajah Rara yang mulai emosi.


"Kamu gak boleh boleh dekat dekat sama Rangga atau Pria lain. Kakak nggak suka."


"Terserah Rara mau berhubungan dengan pria manapun termasuk Rangga, Kakak gak berhak larang. Rangga orang baik. Papa dan mama suka sama dia. Rangga gak sama seperti kakak, udah punya istri tapi masih suka menggoda dan mencintai wanita lain." kata Rara ketus.


"Tidak dek. Kakak tidak punya hubungan apapun dengan Anggi. Dia bukan Istri kakak!" kata Ryu segera dengan tegas.


Rara kembali menatap tajam padanya.


"Kakak sudah gila ya ngomong begitu?" Rara mulai emosi."Kalian menikah dengan sah di depan petugas KUA, ustadz Arif dan di saksikan oleh orang tua kita. Kenapa mengatakan kak Anggi bukan istri kakak?" katanya kesal."Dan kak Anggi sekarang sedang hamil anak! Kakak pecundang, kakak jahat. Rara kecewa sama kakak." kata Rara berapi api dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi itu benar dek. Kakak tidak pernah menikahi Anggi." kata Ryu dengan serius.


Rara semakin kesal mendengar kata kata itu "Terus pernikahan yang terjadi di Paris itu kakak anggap apa?" suara Rara meninggi. Menatap tajam Ryu. Apa kakaknya ini sudah pikun? Hingga berkata seperti itu?


Matanya beralih pada cincin di jari manis kanan Ryu. Benda itu terlihat jelas di matanya, begitu dekat karena Ryu memegang ke dua tangannya tepat di depan dada mereka. Rara memperhatikan dengan lekat. Cincin emas putih polos yang sama bentuk dengan cincin yang berada di jari manisnya. Rara beralih melihat cincin di jarinya. Seperti cincin couple, sangat mirip hanya beda ukuran.

__ADS_1


Ryu melihatnya memperhatikan cincin keduanya. Waktunya dia harus mengatakan tentang pernikahan mereka. Dia harus mengaku pada Khanza.


"Itu adalah Itu pernikahan kita, bukan pernikahanku dengan Anggi." katanya pelan.


Rara terdiam, kembali terkejut. Gerakan tubuh dan matanya terhenti mendengar ucapan itu. Perlahan dia mengangkat wajahnya menatap wajah Ryu yang juga sedang menatapnya.


"Pernikahan kita?" tanya Rara dengan wajah mengernyit."Maksud kakak apa?" tidak mengerti, bingung karena Rara memang sama sekali tidak tahu.


Ryu menelan ludah. Dia memegang jari jemari Khanza, menyamankan cincin di jari keduanya.


"Pernikahan yang terjadi di Paris waktu itu adalah pernikahan kita. Dan cincin ini adalah cincin pernikahan kita! Semua yang ada di situ tahu kalau pernikahan yang terjadi saat itu adalah pernikahan kita, termasuk orang tua kita. Kecuali hanya Khanza yang tidak tahu. Daddy, mama Ara, mama Nesa dan keluarga kita tahu dan merestui! Daddy Rafa mempercayakan ustadz Arif untuk menggantikan dirinya sebagai wali nikah Khanza." Katanya kembali. Perlahan Ryu menceritakan pernikahan mereka yang terjadi saat itu yang di ketahui oleh semua orang terkecuali Khanza. Dan alasan dari penikahan yang terjadi akibat tekanan Khanza yang memaksa dirinya untuk menikahi Anggi. Ryu juga menceritakan kejahatan orang tua Anggi di masa dulu hingga membuatnya harus menjalan hubungan terpaksa dengan Anggi. Bayi yang di kandung Anggi saat ini bukan bayinya, karena dia tidak pernah menyentuh Anggi sedikitpun. Anggi hamil oleh pria lain yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Rara terperangah mendengar penjelasan Ryu. Antara percaya dan tidak dengan apa yang di dengar oleh telinganya. Jadi dia yang menikah dengan Ryu saat itu? Dan sejak enam bulan lalu dirinya sudah menjadi istri dari kakaknya ini. Pantas saja Ryu berani menyentuhnya dengan gairah. Karena dia adalah istrinya.


Rara mendesah sedih. Dadanya bergemuruh kuat. Dia mencoba mengingat kembali pernikahan saat itu. Dia ingat sebelum ijab kabul Ryu memintanya memakai cincin ini dan jangan di lepas sampai kapanpun, tapi dia tidak curiga sama sekali. Terus Ratih memakaikan selendang putih di kepalanya, dia juga tidak curiga karena tidak tahu. Dan saat ijab kabul Anggi di lihatnya duduk bersama ke dua orang tuanya, tidak bersama Ryu. Ayah Anggi juga tidak melakukan ijab kabul dengan Ryu, hanya ustadz Arif. Dia juga tidak terlalu mendengar suara Ryu menyebut nama perempuan saat ijab kabul karena dia terlalu sedih saat itu. Dan lewat video call orang tua mereka memberi ucapan selamat dan doa pada mereka berdua. Tapi lagi lagi dia tidak curiga sama sekali.


Perasaan Rara campur aduk. Antara sedih dan senang. Tapi juga ada rasa marah dan kecewa. Kenapa mereka menyembunyikan hal sangat penting dalam hidupnya dari dirinya. Pernikahan macam apa ini? Dia sudah menikah saat masih sekolah dan tidak tahu sama sekali kalau sudah memiliki suami.


"Khanza. Kakak tahu kamu sedih dan kecewa saat ini......" kata Ryu.


"Jangan bicara apa pun!" desahnya sedih, memangkas ucapan Ryu. Dia menyapu air matanya yang sudah jatuh.


"Rara mua pulang." katanya kembali. Dia melangkah lemah menuju pintu. Hanya itu yang dia inginkan sekarang. Menyendiri memikirkan tentang pernikahannya.


Ryu mengikutinya."Kakak antar kamu."


"Nggak, Rara mau sendiri. Jangan dekat dekat." sentak Rara membuat langkah Ryu terhenti. Dia melihat netra merah berkaca milik Khanza yang sangat sedih.


Rara segera keluar setelah menyapu air matanya. Menuju lift dengan pandangan kosong ke depan. Tak perduli dengan tatapan mata karyawan yang melihat wajahnya sangat mendung. Ryu tidak berani mengejarnya karena tahu suasana hati Khanza saat ini. Dia hanya bisa mengikuti dari jauh.


Rara keluar dari pintu utama gedung ini bertepatan dengan datangnya mobil Rangga yang berhenti tepat di depannya.


"Kamu kenapa? Wajahnya sedih gitu." tanya Rangga melihat wajah Rara yang agak basah oleh sisa sisa air mata. Teman sekaligus kekasihnya ini lebih banyak diam tidak ceria seperti biasa.


Rara tidak menjawab. Tatapan kosong ke depan.


Karena tak ada jawaban, Rangga melarikan kenderaan ke arah maunya dengan menyetel lagu lagu kesukaan Rara untuk menghibur hati gadis ini. Berhenti di taman kota senayan. Rangga membiarkan Rara diam tanpa bertanya. Membiarkan gadis itu menenangkan diri dari suasana hati dan pikiran yang buruk. Hingga dua puluh menit berlalu.


"Rangga....!" panggil Khanza pelan.


Hmmm, Rangga menoleh.


"Sudah baik hatinya?" tanyanya.


Rara mengangguk tersenyum.


"Terimakasih ya sudah menemani aku!" katanya menatap wajah pria yang baru menjadi pacarnya ini kemarin.


"Kamu gak perlu terimakasih. Kamu kan pacarku! Ada apa? Apa yang membuat suasana hatimu buruk begitu?" kata Rangga seraya menepikan rambut di telinga Rara. Wajah imut ini begitu manis di matanya. Tapi sayang, tidak bisa di miliknya. Dan tidak akan pernah karena sudah menjadi milik orang lain.


"Apa kakak mu membuatmu sedih lagi?" tanyanya karena tak ada Jawaban.


"Kamu tahu itu perusahaan kak Cio?" Rara balik bertanya dengan wajah mengernyit. Karena Rangga tahu penyebab dia menangis karena Cio. Berarti Rangga tahu pemilik perusahaan ini adalah Cio.


"Tentu saja. Aku tahu itu perusahaannya. Aku pernah ke sini bersama papa! Aku juga tahu kalau nama perusahaan itu adalah nama dirimu!"


Wajah Rara semakin mengernyit."Namaku??" terkejut. Dia sama sekali tidak tahu.


"Iya," Rangga mengangguk."K'Company. Adalah perusahaan yang di bangun 10 tahun yang lalu oleh tuan Ryu Deva Mayandra. Itu salah satu perusahan miliknya yang berada di tanah air selain perusahaannya yang berada di luar negeri. Kau sudah lihat kan logonya yang berbentuk K. Itu di ambil dari namamu! Saking sayangnya tuan Ryu padamu." kata Rangga menjelaskan tentang siapa Ryu yang di beritahu oleh Dion, papanya.

__ADS_1


Rara kembali terhenyak. 10 tahun adalah waktu yang sangat lama. Dan dia tidak tahu sama tentang perusahaan itu padahal sudah selama itu berdiri. Sama seperti nama perusahaan Ryu yang berada di luar negeri dengan nama K'Company, tapi dia tidak tahu arti dari nama itu dan tidak bertanya. Yang di ketahuinya hanya beberapa properti Ryu yang tertulis nama dirinya, Khanza. Dan Ryu mengatakan memakai nama dirinya karena sayangnya Ryu kepada dirinya. Semua kerja keras Ryu hanya untuk dirinya.


Rara melenguh sedih.


Rangga meraih tangan kanan Rara. Di genggam hangat.


"Aku gak menyangka tuan Ryu Begitu menyayangimu, bahkan sejak kau masih dalam kandungan ibumu!" katanya tersenyum. Tapi senyuman itu redup berganti sedih. Dia yang baru di beri tahu oleh orang tuanya kalau hubungan mereka harus dihentikan karena Khanza sudah menjadi milik sah Ryu. Rara dan Ryu sudah menikah diam-diam saat di Paris enam bulan lalu. Ryu sangat mencintai Khanza, menyayangi nya sejak masih kecil. Khanza pun sangat sayang pada Ryu. Keduanya tidak bisa di pisahkan. Hati mereka sudah terikat satu sama sejak dulu. Begitu kata Cindy, mamanya.


Rangga sangat sedih dan hancur. Dia yang sudah terlanjur cinta pada Khanza. Mengagumi gadis itu sejak dua tahun lalu. Dan pada akhirnya kisah cintanya pada Khanza berakhir menyakitkan sama seperti kisah cinta papanya dulu pada, Ara mamanya Khanza. Hatinya sangat terluka dan hancur saat mendengar kebenaran itu. Tapi dia bisa apa? Seandainya Rara masih gadis dan belum menikah dengan Ryu, dia pasti akan bersaing dengan pria itu untuk mendapatkan Khanza.


"Rangga." panggil Rara pelan, ikut memegang tangan Rangga."Kita pacaran kan?" tanyanya menatap mata pria itu.


"Tentu saja. Kita sudah jadian kemarin setelah hampir tiga tahun aku mengagumimu, mencintaimu dalam diam, sangat ingin memilikimu. Dan akhirnya aku bisa menjadikan kamu pacarku! Aku sangat senang dan bahagia sekali bisa memiliki mu!" kata Rangga mengulas senyum. Dia mengusap pipi Khanza yang basah


Rara kembali mendesah sedih. Baginya Rangga memang pria baik. Tapi tetap saja mereka tidak bisa lanjut karena dia sudah menikah. Meski pernikahan itu tidak di ketahuinya. Tapi orang tua mereka merestui. Dan dia juga sayang pada Ryu. Tidak ingin berpisah lagi sejak perpisahan mereka dulu selama 13 tahun.


"Kamu orang baik Rangga, aku juga senang bisa menjadi pacarmu. Tapi... kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Karena aku sudah menikah! Aku wanita yang sudah bersuami!" kata Rara sedih."Maafkan aku Rangga. Aku baru tahu hal itu." katanya lagi. Air mata jatuh.


Rangga kembali menyapu air matanya.


"Aku tahu Ra. Aku tahu kau sudah menikah dan memiliki suami. Kamu gak perlu minta maaf."


"Kamu sudah tahu?"


Rangga mengangguk."Aku juga baru tahu hal itu! Papa dan mama memberi tahu beberapa jam yang lalu. Dan mereka memintaku untuk menghentikan hubungan kita!"


Rara kembali sedih." Rangga maafkan aku...!" Rara kembali memeluknya.


"Tidak apa apa. Meski tidak bisa memiliki mu selamanya, tapi aku sudah senang bisa menjadi pacarmu walau hanya sehari. Aku sangat bahagia bisa memiliki mu walau hanya sehari. Aku sangat senang bisa menjadikan wanita yang aku cinta menjadi pacarku tanpa paksaan!" kata Rangga menatap mata Rara. "Semua yang terjadi adalah takdir Allah. Sama seperti jodoh mu. Meski aku sangat mencintaimu, menginginkan dirimu menjadi milikku selamanya tapi tuhan yang menentukan segalanya. Tuan Ryu... adalah pria terbaik yang Allah siapkan untuk mu." lanjut Rangga lagi.


Rara terisak mendengar setiap kalimat yang di ucapkan.


Rangga melepas pelukannya, menatap wajah Khanza yang basah air mata. Lalu di sapunya pipi Khanza."Aku doakan hidup mu bahagia bersama kakak sepupu itu! Aku masih sahabatmu. Kita masih sahabat dan bisa saling bantu sampai kapanpun!"


Rara mengangguk tersenyum.


"Jadi jika kau butuh sesuatu padaku, jangan sungkan. Aku selalu ada untukmu."


Rara kembali mengangguk. Terenyuh dengan kebaikan Rangga yang mengerti dan memahami dirinya.


Rangga tersenyum, mendekat kan wajahnya, mengecup kening dan bibir Khanza terkahir kali. Sakit dan hancur yang dia rasakan saat ini. Tapi dia harus ikhlas dengan kebahagiaan gadis ini. Jika Rara bahagia bersama Ryu, maka dia juga merasa bahagia. Karena dia bahagia melihat orang yang dia cintai hidup bahagia.


Air mata Rara kembali jatuh. Dia segera memeluk Rangga."Maafkan aku."


"Hey, kamu tidak perlu minta maaf. Sudah, jangan menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu! Hatiku sakit." Rangga mengelus punggungnya lembut.


Rara melepas pelukannya.


"Aku nggak menyangka sudah menikah di usiaku saat ini dan masih sedang sekolah! Aku....!"


"Kamu jangan khawatir. Ini akan menjadi rahasia kita berdua di sekolah." kata Rangga tersenyum. Dia mengerti maksud Rara tak ingin teman teman mereka tahu kalau dia sudah menikah.


Rara ikutan tersenyum dengan wajah sedihnya. Keduanya saling menatap satu sama lain, lalu tertawa bersama dan kembali berpelukan.


...******...


Tinggalkan jejak dukungannya 😘


Terimakasih sudah mampir 😍

__ADS_1


__ADS_2