
Melihat keadaan adiknya yang sudah tenang, Raka berhenti di tengah jalan karena harus ke suatu tempat. Dia punya urusan yang sangat penting. Rara juga gak keberatan, karena merasa sudah baikan, dia tidak ingin mengganggu urusan kakaknya. Ada juga Wisnu yang akan menjaganya. Tak ada yang perlu di khawatirkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Paman Wisnu. Rara gak langsung pulang ke rumah." kata Rara memecah keheningan.
"Apa Nona masih mau ke suatu tempat?"
"Iya," Rara mengangguk mengingat mamanya tak berada di rumah. Karena saat ini mamanya sedang mengunjungi Yayasan Azahra yang berada di kota B. Dan malam baru kembali. Kakaknya Riez dan Ryan juga jarang ada di rumah, kadang tidur di rumah Nesa, kadang juga kediaman mereka. Kedua kakaknya itu sudah punya apartemen sendiri. Karena di samping bersekolah, mereka juga telah bekerja. Mengikuti jejak Rafa sebagai seorang pebisnis.
Mereka sama seperti masa muda Rafa yang gila kerja, pekerja keras tak mau bergantung pada nama besar ayah mereka. Sementara kakak ketiganya Raka, di samping punya usaha sendiri, juga membantu mengurus usaha dan bisnis mamanya. Termasuk urusan Yayasan Amal, Yayasan sosial, Yayasan pendidikan dan Yayasan kesehatan milik mamanya yang tersebar di beberapa wilayah tanah air. Karakter dan kepribadian Raka menuruni jejak almarhum paman mereka Raka, yang sangat mencintai dan mengutamakan urusan agama di atas segalanya.
"Nona mau kemana?" tanya Wisnu.
"Rara mau ikut paman ke kantor papa."
Wajah Wisnu mengernyit mendengar ucapannya. Karena ada pertemuan antara tuannya Rafa dengan tamu penting sore ini.
"Baik Nona." jawabnya mengiyakan. Karena sepenting apa pun pekerjaan Rafa, tuannya itu tetap memprioritaskan istri dan anaknya.
"Papa nggak sibuk kan?" tanya Rara melihat waktu telah sore. Para karyawan pasti telah kembali.
"Tidak Nona, kebetulan agenda tuan hari ini tidak terlalu padat."
"Terus tamu papa yang paman jemput di bandara tadi bagaimana? Papa pasti akan melakukan pertemuan dengannya kan?"
"Nona jangan khawatir. Pertemuan akan di lakukan di kantor tuan Rafa. Dan hanya sebentar ! Sembari menunggu tuan Rafa bertemu dengan tamu itu, Nona bisa menunggu di ruang kerja atau beristirahat di ruang pribadi." ujar Wisnu.
"Paman benar. Rara bisa beristirahat sebentar di ruang pribadi papa! Oh ya, jangan beri tahu kedatangan Rara. Rara mau kasih kejutan untuk papa. Sudah lama Rara gak ke kantor papa.Tolong paman pikirkan cara agar papa tidak melihat kedatangan Rara." kata Rara tersenyum antusias.
"Baik Nona." jawab Wisnu meski tak yakin akan hal itu. Karena tanpa diberi tahu pun, tuannya sudah tahu kedatangan mereka.
Sementara di ruang kerjanya, Rafa tersenyum mendengar perkataan putrinya itu.
"Tentu saja kedatanganmu akan menjadi kejutan istimewa untuk papa. Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya kau mengunjungi kantor papa lagi. Cepatlah datang sayang, papa tidak sabar untuk memelukmu setelah inseden buruk itu." ucap Rafa melihat wajah manis putrinya yang sedang tersenyum. Apa yang tidak di ketahui tentang putra putrinya? Setiap helaan nafas dan langkah pergerakan mereka selalu di ketahui olehnya.
Dalam perjalanan ke kantor papanya, Rara mencoba menghubungi nomor teleponnya dengan menggunakan ponsel Wisnu. Di coba berulang kali tapi tetap tidak aktif. Rara mengeluh sedih. Dia mengirim beberapa pesan. Berharap, jika ponselnya telah aktif maka pesan itu akan dibaca oleh orang yang menemukannya. Rara mengiming-imingi bayaran besar 10 kali dari harga ponselnya jika si penemu mengembalikan ponselnya. Ditambah dengan hadiah fantastis. Rara menyertakan alamatnya dan nomor yang bisa di hubungi.
Tiba di kantor, keadaan gedung itu tampak sunyi. Para karyawan telah kembali. Hanya penjaga keamanan yang terlihat berjaga-jaga di pos penjagaan dan di pintu masuk, juga di beberapa titik yang perlu di waspadai.
"Bagaimana jika papa keluar dari ruang kerja dan melihat Rara datang?" tanya Rara saat berada di dalam lift.
"Nona, jangan khawatir. Tuan Rafa sedang sibuk memeriksa dokumen penting saat ini. Asisten saya yang memberi tahu."
"Baguslah." kata Rara lega.
Lift berhenti, mereka segera keluar dan berjalan menuju ruang kerja Rafa. Beberapa staf sekretaris yang sedang bersiap untuk pulang menegur Rara dengan sopan." Selamat sore Nona muda!" sapa mereka.
"Sore." balas Rara sambil tersenyum.
"Sekertaris Wisnu, jika tak ada lagi pekerjaan, kami akan pulang." kata salah seorang staf sekretarisnya sopan.
"Siapa yang menemani tuan Rafa sekarang?"
"Ibu Lili sedang bersama bos."
"Baik, kalian boleh kembali." kata Wisnu. Dia segera mengajak Rara ke ruang kerja Rafa.
Wisnu mengetuk pintu tiga kali, lalu segera membuka pintu untuk Rara.
"Silahkan Nona."
Rara mengangguk tersenyum. Hatinya agak deg degan tak sabar untuk memberi kejutan buat papanya.
Rara segera masuk.
"Papaaaa... Assalamualaikum!" panggilnya girang begitu masuk beberapa langkah ke dalam. Di lihatnya Rafa sedang sibuk dengan dokumen penting di atas meja. Di sampingnya berdiri seorang wanita seumuran papanya, Lili yang merupakan asisten Wisnu yang selalu di percayakan untuk menemani Rafa jika dia tidak berada di samping tuannya ini.
Rafa segera mengangkat wajahnya begitu mendengar panggilan. Dia pura pura terperangah melihat keberadaan Rara.
"Saaayang?" katanya terkejut dengan mata membulat. Rafa tersenyum senang dan langsung bangkit dari duduknya berjalan cepat mendekati Rara."Waalaikumsalam....!"
Rara ikut tersenyum senang dan berjalan mendekati papanya. Begitu dekat dia langsung masuk ke dalam pelukan Rafa yang sudah membuka ke dua tangannya lebar lebar untuk dia masuk.
Rafa memeluk tubuh mungil itu dan mengangkatnya. Dia mencurahi kecupan di wajah putrinya. Lalu menurunkan tubuh putrinya.
"Papa mengira hanya Wisnu yang datang. Ternyata ada putri kecil papa juga! Kenapa gak beri tahu dulu untuk datang ke sini?" Rafa memegang wajah Khanza yang memeluk pinggangnya.
"Rara mau kasih surprise untuk papa. Udah lama Rara gak ke sini." kata Rara tersenyum manja.
"Dan kejutannya benar benar berhasil. Papa benar benar terkejut melihat Rara berada di depan papa. Papa gak nyangka gadis kecil papa akan datang ke sini. Papa senang sekali." Rafa kembali mengecup kedua pipi manis itu, lalu memeluk.
"Rara Khawatir akan menggangu pekerjaan papa. Kata paman Wisnu papa ada tamu penting."
"Wisnu benar sayang. Tapi Khanza lebih penting dari tamu itu." kata Rafa memegang wajah Khanza lembut.
Rara tersenyum terharu. Beruntung banget punya orang tua yang begitu menyayanginya dengan tulus. Dia sangat bersyukur dan berterima kasih pada Allah karena di kasih orang tua sebaik ini.
__ADS_1
"Papa juga sangat penting buat Rara. Papa dan mama selalu ada di sini dan sini....!" kata Rara membawa satu tangan Rafa menekan jantung dan hatinya bergantian.
Rafa terharu, lalu kembali memeluk putrinya penuh kasih sayang.
Wisnu dan Lili ikut tersenyum terharu melihat kasih sayang di antara ayah beranak itu. Wisnu segera memberi isyarat pada Lili untuk membawa tamu ke ruang meeting. Barusan dia sudah mendapat informasi kalau tamu itu sementara naik ke atas.
Karena ada Rara di ruang kerja bosnya, tak mungkin mengadakan pertemuan di ruang ini.
Asisten wanita itu segera keluar.
"Daddy, Cia pulang dulu." kata Cia yang baru keluar dari ruang pribadi Rafa. Dia kaget melihat Rara ada di sini.
Rara juga kaget dengan keberadaan dirinya. Rara segera melepas pelukannya pada Rafa.
"Kak Cia ada di sini?" tanyanya menatap wajah kakak sepupunya ini.
"Iya, tadi kakak mampir ke sini. Ada yang kakak diskusi kan dengan Daddy." Cia mendekati mereka. Rara segera mencium punggung tangan kakaknya. Dibalas Cia dengan mengecup kedua pipi Khanza.
Tadi dia datang membicarakan urusan pekerjaan dengan Rafa. Karena merasa kecapean, Rafa menyeluruhnya istirahat.
Rafa mengecup kening Cia lalu memeluk keponakannya ini.
"Daddy akan suruh sopir kantor mengantarmu."
"Gak usah Daddy, Cia pulang sendiri saja."
"Tapi keadaan mu lagi capek sayang. Daddy gak mau terjadi sesuatu padamu saat menyetir."
"Cia gak pulang sendiri kok. Ada yang jemput Cia." kata Cia agak ragu untuk mengatakan.
"Ada yang jemput?"
"Iya, maksa jemput maksudnya. Cia udah menolak tapi dia ngotot dan maksa kemari untuk menjemput." kata Cia sedikit tidak tenang.
Dan sikapnya itu membuat Rafa merasa aneh.
"Siapa?" tanya Rafa penasaran. Selesai pertanyaan Rafa, terdengar pintu di ketuk. Serentak mereka menoleh ke arah pintu. Wisnu bergerak cepat dan segera membuka. Masuklah sosok pria tampan memakai jas formal. Wajahnya di hiasi senyuman manis.
Mereka kaget melihat Pria itu.
"Edgar?" kata Rafa menatap Edgar dalam dalam. Sekarang dia mengerti siapa yang di maksud Cia memaksa untuk menjemputnya.
"Selamat sore tuan Ravendro." Sapa Edgar mengulas senyum kembali. Dia melihat orang orang yang berada dalam ruang itu, termasuk Rara. Edgar sudah dapat menebak kalau Rara adalah putri Rafa. Di lihat dari perpaduan antara wajah tampan Rafa dan wajaj cantik Ara. Tapi lebih dominan kemiripannya dengan wajah Ara.
Setelah basa basi sedikit, Edgar meminta izin untuk menjemput Cia dan mengantar pulang. Rafa tak keberatan, karena dia tahu edgar menyukai Cia. Dia juga tidak perlu khawatir akan keamanan Cia pergi bersama dengan pria itu.
Lili datang membawa beberapa cemilan dan minuman untuk Rara. Sekalian memberi tahu kalau tamu calon relasi bisnis Rafa sudah menunggu di ruang rapat.
Rara segera masuk ke dalam ruang pribadi ayahnya sambil membawa cemilan. Dia membuka jas seragam sekolahnya. Menyisakan kemeja putih dan rok pendek di atas lutut. Rara naik ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya yang pegal. Dia tidak bernafsu untuk makan karena teringat terus pada ponselnya yang jatuh dan entah di ambil siapa. Berulangkali dia mengeluh sedih dan kecewa atas hilangnya benda itu. Rara memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan pelan pelan. Dia kaget dan segera membuka mata mendengar bunyi suara ponsel.
Dengan segera Rara bangun dan meraih ponsel Wisnu. Berharap itu bunyi pesan dari nomornya. Setelah di cek ternyata benar. Ada pesan masuk yang di kirim oleh nomornya. Sepertinya si penemu ponselnya itu sudah mengaktifkan ponselnya.
"Kau ingin ponselmu kembali?" Balasan dari seberang. Dengan cepat Rara menelpon, tapi di matikan. Di coba lagi hasilnya sama. Rara kesal.
"Kok di matikan? Angkat dong, Rara pengen bicara. Tolong kembalikan posnel Rara...Om tante, kakak, adik entah siapa diri anda di seberang. Tolong kembalikan ponsel Rara." sungut Rara kesal. Rara tidak tahu siapa orang yang di seberang. Makanya dia menyebut semua panggilan itu.
"Jangan menelpon, kalau tidak aku akan mematikan ponselmu, terus merusaknya. Dan ingat jangan menyadap pembicaraan kita. Jangan ada yang tahu." pesan ancaman dari seberang.
"Oke, baik....baik. Rara gak akan telepon lagi! Katakan siapa dirimu, alamat mu, kau ingin apa sebagai hadiah? Rara akan berikan apa saja, asal kembalikan ponselnya segera." tulis Rara segera dan di kirim sebelum orang itu menonaktifkan ponselnya.
"Jadi namamu Rara? Nama yang indah. Kamu juga sangat cantik dan manis. Aku melihat foto foto mu di galeri. Aku sangat suka matamu, sangat indah." pesan masuk.
Rara kesal dengan pujian yang sangat tidak di inginkan ini. Karena yang dia mau hanya ponselnya. Sepertinya orang di seberang itu bukan orang sembarangan hingga bisa membuka kode sandi untuk masuk dan membuka password seluruh aplikasi ponselnya yang terkunci.
"Maaf, Rara gak mau banyak bicara. Tolong kita buat transaksi dan kesepakatan sekarang. Apa pun yang anda inginkan akan Rara beri. Dengan syarat tolong kembalikan posnel itu secepatnya."
"Sepertinya kamu anak orang kaya. Kenapa tidak beli yang baru saja dari pada harus memberi imbalan yang banyak?" mengalihkan pembicaraan Rara.
"Itu bukan urusan anda! Rara gak perlu kasih tahu alasannya." kata Rara ketus
"Hey nona, aku tidak ingin jawaban itu. Katakan apa alasannya." pesan di sertai emot kesal.
Rara menatap pesan itu dengan kesal.
"Itu ponsel kesayangan Rara, sangat istimewa. Rara gak bisa menggantinya dengan ponsel lain. Tolong jangan bicara lagi. Cepat katakan alamat anda, Rara akan segera ke situ."
"Tapi aku rasa benda ini sangat berharga bagimu." kembali mengalihkan pembicaraan Rara.
"Iya...banyak data data penting di tersimpan dalam ponsel itu. Tuan.. tolong hentikan obrolan ini."
"Hanya itu? Tapi aku lihat ada banyak kenangan indah tersimpan di sini. Aku melihat ada wajah tampan tersimpan indah. Apa dia kekasihmu?" pesan masuk tak perduli dengan permintaan Rara.
"Ya ampun anda ini, benar benar menyebalkan!" kata Rara pakai emot wajah ketus.
Masuk pesan emot tertawa dari orang itu.
Rara semakin kesal.
__ADS_1
"Pasti wajah mu lagi kesal sekarang ini dan sudah pasti sangat menggemaskan. Aku bisa membayangkannya!" pesan masuk.
Rara tambah kesal, entah siapa orang ini.
"Nona manis, bagaimana jika aku menghapus semua data data yang tersimpan? Terutama kenangan indah dirimu bersama laki laki ini? Banyak kenangan indah kalian di sini. Dari kecil hingga kalian besar."
Rara terperanjat.
"Tolong Jangan lalukan itu. Rara mohon. Jangan.... Jangan....!"
"Siapa pria ini? Apa sangat penting dan berharga untuk mu?"
"Iya...dia kakak ku. Tolong jangan menyentuhnya."
"Kakak mu? Seberapa penting dan berharga dia untuk mu? Aku ingin Jawaban jujur, kalau tidak.....!"
"Sangat berharga. Sama berharganya seperti orang yang anda cintai." kata Rara segera sambil mengeluh sedih. "Rara sangat menyayanginya, lebih dari diri Rara. Tolong, kembalikan ponsel Rara. Apa pun yang anda inginkan akan Rara beri."
Tak ada pesan balasan yang dikirim. Karena yang di seberang termangu membaca pesannya. Tentu saja dia memiliki orang yang sangat di cintai dan berharga dalam hidupnya.
Sementara Rara panik karena pesannya belum di balas. Dia khawatir orang itu akan memutus hubungan pesan mereka.
"Tuan....om tante, kakak, dek.... tolong Jangan di matikan ponselnya. Rara mohon kembalikan ponselnya. Apa pun yang anda minta akan Rara kasih. Rara gak bohong dan menipu anda. Sumpah. Ayo kita ketemu sekarang juga. Hanya kita berdua. Rara gak akan kasih tahu siapa pun." katanya segera sangat meminta.
"Baiklah, aku akan mengembalikan ponselmu. Selain aku ingin imbalannya, aku juga mau bertanya dan aku berharap kau Jawab dengan jujur. Kau mau?"
"Iya...!" kata Rara lega akhirnya orang itu kembali mengirim pesan. Jujur jari jarinya terasa keriting menulis pesan banyak seperti ini.
"Kau janji akan berkata jujur?"
"Iya, Rara janji."
"Katamu pria itu sangat berharga untuk mu. Kau sangat menyayanginya melebihi dirimu sendiri! Apa kau mencintainya?"
Rara termangu setelah membaca pesan itu. Kesedihannya membuncah. Wajahnya seketika mendung. Tapi kemudian dia menguatkan jari jemarinya yang gemetar untuk menulis.
"Dia kakak Rara, dan dia telah menikah enam bulan yang lalu. Dia sudah berkeluarga."
"Ya atau tidak? cukup jawab di antara dua kata itu. Aku tidak mau membaca tulisan pesan mu yang lain."
Rara kembali termangu. Kenapa orang ini bertanya tentang perasaannya pada Cio?
"Tidak!" jawabnya kemudian. Bagaimana mungkin dia mencintai suami orang.
"Kau bohong, tidak jujur. Aku bisa tahu dan merasakannya. Transaksi kita batal."
"Hey, Jangan seperti itu. Rara gak bohong. Rara tidak mencintainya. Bagaimana mungkin Rara mencintai suami orang? Dia juga kakak Rara." kata Rara kelabakan dan segera turun dari ranjang.
"Kau membuat ku kesal Nona karena tidak jujur dengan perasaanmu! Baiklah, kalau kau ingin ponselmu kembali, beri minta imbalan saja."
Raut wajah Rara langsung cerah.
"Rara akan penuhi apa pun yang anda minta."
"Kau berjanji?"
"Iya, Rara janji." kata Rara meyakinkan.
"Kau sepertinya anak orang kaya. Orang tuamu pasti orang yang berkuasa dan punya segalanya! Beri aku 100 triliun sebagai ganti ponselmu!"
"Apa???" Rara terbelalak."Seratus triliun?"
"Iya, apa artinya jumlah segitu di banding kenangan berharga mu ini?" pesan enteng dari seberang seperti tahu kenangan itu sangat berharga bagi Rara.
"Tapi Rara gak punya uang sebanyak itu. Rara hanya punya tabungan satu M. Yang Rara tabung selama ini dari sisa uang jajan! Satu M saja ya? Rara mohon." kata Rara memelas.
"Aku tidak mau ada penawaran." pesan tegas dari seberang.
"Hey tuan, nyonya siapa pun anda. Seandainya Rara punya uang sebanyak itu Rara gak akan tawar menawar dengan anda. Dan jika Rara punya uang lebih dari yang anda minta, akan Rara kasih semua apa yang Rara punya! Tolong mengertilah. Rara hanya seorang siswi SMA! Mana punya uang sebanyak itu." Rara kembali kesal mencoba meminta pengertian orang itu.
Orang itu tertegun membaca pesannya.
"Orang tuamu kan kaya raya. Pasti punya uang banyak." katanya kemudian.
"Iya... tapi semua itu kan punya mereka. Bukan punya Rara! Rara mana punya uang sebanyak itu? Rara masih sekolah belum bekerja. Rara saja hanya numpang hidup, makan dan minta uang jajan dari papa dan mama!" kata Rara ketus jika dalam posisi bicara. Benar benar menyebalkan orang itu baginya.
"Ya minta saja sama mereka. Kamu kan anaknya, pasti akan di beri. Apalah arti uang segitu untuk anak berharga seperti dirimu."
Rara mendengus kesal. Semakin menyebalkan orang ini. Seenak jidat saja meminta keinginannya. Di bilang akan di penuhi apa pun yang di minta bukan berarti harus meminta sebanyak itu juga kali.
"Gak bisa begitu. Biar pun papa akan kasih, tapi Rara gak enak minta uang sebanyak itu. Mereka pasti akan bertanya untuk apa uang sebanyak itu."
Keduanya terus mengirim pesan mengekspresikan perasaan mereka. Hingga akhirnya pesan obrolan berakhir di putuskan dari seberang karena Rara tidak bisa memenuhi keinginannya. Orang itu kesal lalu menonaktifkan posnel Rara. Dia mengatakan akan menghubungi Rara jika Rara telah menyediakan jumlah yang dia minta.
"Seratus triliun? Ya ampun!" Rara mengeluh sedih. Seratus triliun jumlah yang sangat banyak, tapi kenangan itu sangat berarti juga untuknya. Sangat berharga lebih dari apapun. Seandainya dia punya uang sebanyak itu, tak akan melakukan penawaran dan tidak akan berpikir lagi untuk menuruti keinginan orang itu. Jangankan seratus triliun, semua apa yang menjadi miliknya akan di berikan agar ponsel itu kembali.
*****
__ADS_1
Tinggalkan jejak dukungan ya...
Like, komen dan hadiah seikhlasnya 😘