
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi.
Terdengar ketukan di luar pintu kamar Rara. Karena pintu itu terkunci.
"Masuk!" suara Rara dari dalam sekaligus menekan remot control untuk membuka pintu.
Pintu kamarnya di buka.
Masuklah Ryu. Ryu berjalan mendekati Khanza yang duduk di depan meja rias. Adiknya itu sudah mandi dan berganti pakaian dengan dres rumah lengan pendek, selutut.
Khanza sedang menyisir rambutnya yang panjang. Dia melihat Ryu dari pantulan kaca cermin. Kakaknya itu berpakaian jas formal. Di perhatikan kakaknya itu secara diam-diam. Apakah masih dalam pengaruh obat perangsang atau tidak. Tapi di lihatnya wajah Ryu tampak cerah, tak gelisah seperti semalam. Kakaknya itu terlihat tampak bersemangat.
"Selamat pagi dek....!" ucap Ryu tersenyum seraya memegang bahu Khanza dari belakang, lalu mengecup puncak kepala gadis itu.
"Pagi!" jawab Rara mengulas senyum sekilas. Wajah manis kembali datar tanpa ekspresi. Dia terus menyisir rambutnya. Membelah dua ke kiri kanan untuk di kepang.
"Kakak nggak tahu kalau Khanza sudah kembali ke kamar ini!" kata Ryu. Dia meninggalkan Rara masih tertidur saat pergi ke ruang ganti untuk berpakaian. Saat dia balik, Khanza sudah tidak berada di atas ranjangnya.
Rara hanya menanggapi dengan diam sambil terus mengepang rambutnya.
"Ada apa? kok seperti nggak ada semangatnya? Mana cerianya seperti biasa?" tanya Ryu tersenyum melihat Khanza yang tampak pendiam tidak seperti biasa banyak bicara, jahil dan mengganggunya.
Rara tak menjawab, terus fokus dengan apa yang dia lakukan.
Ryu berjalan di depan Khanza, mengangkat tubuh gadis itu dan di dudukkan di meja rias.
Rara sedikit terkejut. Tapi diam tak mengatakan apapun.
Selanjutnya Ryu mengambil sisir, menyisir rambut Khanza, lalu melanjutkan kepangan rambut gadis itu.
Rara segera memegang rambutnya.
"Biar Rara saja."
Ryu kembali di buat kaget dengan sikap ini. Biasanya Khanza akan memintanya untuk mengikat rambutnya. Menyuruh ini dan itu.
"Kakak saja, lihat tuh yang satunya berantakan!" Ryu kembali meraih rambutnya dan menyisir.
Rara yang belum mahir mengepang sendiri.
Rara diam tak membantah.
"Kenapa pintunya di kunci?" tanya Ryu. Karena hal yang tidak biasa di lakukan Khanza. Meski dia sedang mandi dan berganti pakaian tak akan mengunci pintu kamarnya.
"Rara lagi berganti pakaian." jawab Rara seadanya.
Ryu kembali tersenyum.
"Aneh. Tak biasanya gadis ini seperti ini. Mungkinkah karena kekacauan yang dilakukan Anggi tadi pagi? Tapi bukannya dia sedang tidur saat itu?" batinnya.
"Kok hanya diam? Mana suaranya?" tanyanya. Dia sudah menyelesaikan kepangan rambut Khanza yang di kuncir dua ke depan kiri kanan. Sangat muda baginya untuk melakukannya, karena dia sudah terbiasa mengikat, menguncir dan mengepang rambut Khanza sejak kecil.
"Rara lagi malas ngomong!"
"Kenapa? Apa Khanz sakit?" Ryu tersenyum mendengar jawaban itu. Dia menatap wajah manis tanpa ekspresi ini.
"Nggak ada apa-apa. Rara hanya tidak enak badan."
"Sebentar lagi akan ada yang memijit Khanza. Kakak menyuruh dokter spa kesehatan tubuh ke sini. Juga dokter spesialis yang akan memeriksa kaki Khanza yang keseleo!" kata Ryu seraya memakaikan bedak ke wajah mulus Khanza.
__ADS_1
"Tapi itu nggak perlu." kata Rara.
"Mereka sedang dalam perjalanan kemari! Sudah, jangan menolak. Sebaiknya kita ke ruang makan. Kakak ke sini untuk mengajak Khanza sarapan. Sekarang kita turun!" Ryu melihat rambut Khanza yang sudah rapi dan menatap wajah Khanza yang manis dan cantik hanya dengan polesan bedak. Tatapan Ryu berhenti pada bibir Khanza. Dia teringat dengan apa yang di lakukan semalam pada benda kenyal itu. Ryu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia segera mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Khanza segera turun. Dia meraih ponselnya. Lalu berjalan sedikit pincang karena kaki kirinya masih terasa sakit. Ryu mendekat dan segera mengangkat tubuhnya.
Rara kaget.
"Rara bisa jalan!" melingkarkan kedua tangannya di bahu Ryu.
"Sudah diam, kaki mu sakit. Kakak nggak mau kakimu tambah parah." Ryu terus berjalan keluar.
Begitu sampai di meja makan, dia segera mendudukkan Khanza. Selanjutnya dia duduk di dekat Khanza. Masih terus memperhatikan sikap Khanza yang diam terus. Biasanya gadis ini akan langsung mengambil menu ini dan itu di letakkan pada piringnya, setelah itu akan menaruh makanan di piringnya sendiri. Lalu keduanya akan suap suapan dan nambah berkali kali.
"Kenapa hanya di tatap makanannya?" tanya Ryu melihat Khanza hanya melihat makanan.
Rara membuang nafas.
"Apa Khanza tak suka dengan menunya?"
"Suka."
"Terus kenapa hanya di lihat?"
"Rara masih kenyang."
"Gimana bisa kenyang? kan belum makan?"
"Rara gak pengen makan."
"Terus Khanza maunya apa? atau minum susu saja?" Ryu meletakkan segelas susu di depannya.
Khanza diam tak menjawab.
"Rara belum lapar."
"Ya sudah, kalau begitu nggak ada sarapan pagi untuk hari ini. Kakak juga masih kenyang, belum lapar." kata Ryu seraya menutup kembali piringnya.
Wajah Rara mengernyit mendengar ucapan itu.
"Bik Ratih, bawa semua makanan ini ke belakang. Bereskan mejanya!" kata Ryu menoleh pada Ratih, koki dan beberapa pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Rara mau makan." kata Rara segera. Dia segera membalikkan piringnya. Lalu mengambil nasi goreng.
Kalau dia nggak makan Cio juga tidak akan makan. Sementara kakaknya itu perlu sarapan karena perlu tenaga untuk bekerja.
Ryu tersenyum.
Dia kembali membuka piringnya. Lalu mengambil menu yang sama seperti Khanza.
Di lihatnya Khanza makan tanpa semangat, seperti tak berselera. Sejak tadi hanya di aduk aduk. Padahal nasi goreng ini kesukaan Khanza.
"Kenapa hanya di aduk? makan dong!"
Rara memasukkan setengah sendok ke mulutnya. Mengunyah perlahan. Lalu mengambil gelas susu dan meminumnya.
Ada sisa susu yang belepotan di sekitar bibirnya. Ryu melihat itu. Dia menjulurkan tangannya ke bibir Khanza untuk membersihkan. Tapi dengan cepat Rara memalingkan wajahnya sehingga jari Ryu mengenai tempat kosong.
Selanjutnya Rara segera membersihkan bibirnya. Sedangkan Ryu terdiam melihatnya. Dia segera menarik tangannya perlahan. Dia merasa heran dengan sikap gadis ini.
__ADS_1
Rara kembali melanjutkan makan.
Ponselnya bergetar. Dia segera melihat pesan yang masuk lewat WhatsApp. Pesan dari Rangga. Rara segera membalas chat dari teman kelasnya itu sambil tersenyum.
Ryu memperhatikan hal itu.
"Dari siapa?" tanya nya meski dia tahu itu dari Rangga.
"Teman!" jawab Rara hanya menoleh sekilas. Lalu kembali lanjut mengetik.
Mereka saling chatingan beberapa saat. Rara lupa pada makanannya. Dia terus menunduk melihat pada ponselnya.
Benda pipih itu tiba tiba lepas dari tangannya karena di ambil Ryu.
Wajah Rara langsung berubah cemberut.
"Jangan menerima telepon saat sedang makan. Sebaiknya habiskan dulu makanannya!" kata Ryu seraya menonaktifkan posnel Khanza, lalu meletakkan di depan gadis itu.
Rara menatap kesal, lalu segera melanjutkan makannya.
10 menit berlalu, sarapan pagi selesai. Walau hanya makan sedikit, Ryu senang Rara sudah sarapan. Dia bangkit dari duduknya. Rara juga ikut berdiri seraya mengambil ponselnya.
"Kakak mau ke kantor. Khanza di rumah saja, jangan melakukan apapun dan Jangan ke luar. Kakinya sakit! Jika bosan atau butuh sesuatu hubungi kakak!" katanya pada Khanza.
Khanza mengangguk pelan. Lagi lagi tanpa senyuman. Padahal Ryu ingin melihat wajah manis itu tersenyum sebelum pergi ke kantor.
Dia mendekat dan menyodorkan tangan kanannya yang langsung di terima Khanza kemudian di bawah ke hidungnya.
Setelah Rara mencium punggung tangannya, Ryu memegang kepala Khanza ingin mengecup keningnya. Tapi Rara segera menarik kepalanya ke belakang, hingga kecupan itu gagal.
Ryu kembali di buat bingung dengan sikap ini.
Dia menatap wajah Khanza sejenak, lalu segera melangkah menuju pintu utama di ikuti Ratih.
"Buk, jaga Khanza dengan baik, kakinya masih sakit. Sebentar lagi dokternya akan tiba. Anda temani dia. Dan berikan informasi setiap saat."
"Baik tuan." jawab Ratih sopan.
Simon yang sudah menunggu sejak tadi segera membuka pintu untuknya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Ryu masih melihat ke arah Khanza yang melangkah sangat pelan dan hati-hati menuju kolam.
Ryu semakin bingung dan heran dengan sikapnya. Biasanya gadis ini akan mengantarnya sampai masuk ke dalam mobil sambil berceloteh riang. Dan sebelum masuk kedalam mobil, Khanza akan mencium punggung tangannya, mengecup kening dan terkadang juga bibirnya. Memberinya semangat dan mendoakannya. Tapi pagi ini, gadis itu sangat berbeda. Bersikap lain. Dan menjaga jarak darinya.
Ryu segera masuk mobil dan duduk.
"Ada apa denganmu? Apa karena aku menciummu semalam?" batinnya.Tapi masa iya karena hal itu? Karena di ingatnya Khanza masih membalas pelukannya sebelum mereka tidur.
Ryu merutuk dirinya.
"Seharusnya aku tidak melakukan itu padanya. Seharusnya aku bisa menahan diri." batinnya teringat ciuman semalam.
Dia yang tergoda dengan bibir ranum itu dan tidak bisa menahan diri untuk menciumnya. Ciuman yang awalnya di lakukan dengan lembut makin lama makin ganas karena dorongan dari hasratnya.
Dorongan hasrat yang semakin menggebu gebu menginginkan lebih dari sekedar ciuman.Tapi untung saja akal sehatnya masih tersisa sedikit, sehingga menyadarkan dirinya untuk berhenti. Dia yang sempat terlena dan lupa diri di kuasai oleh nafsu akibat reaksi dari obat laknat itu. Hampir saja dia melakukan khilaf.
Entah apa yang di rasakan dan di pikirkan khanza tentang dirinya setelah melakukan ciuman itu. Dia berharap perubahan sikap Khanza bukan karena ciuman itu.
Mobil bergerak berjalan. Tatapan Ryu tak lepas dari Khanza. Dia terus melihat gadis itu.
__ADS_1
Khanza masih melihat kepadanya sebelum mobil berbelok.
*****