
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.
Selama beberapa jam ini Rara dan Rangga menghabiskan waktu bermain di beberapa tempat game dan jalan jalan di Mall. Mereka menikmati dengan penuh keseruan. Terakhir mereka belanja ini dan itu. Rangga memaksa membayar semua belanjaan Rara meski Rara sudah menolak. Rara tak menyangka Rangga banyak duitnya juga. Rangga mengatakan itu duit orang tuanya. Mereka mengabadikan momen keseruan hari ini. Lalu mengunggahnya di Instagram.
"Ra, makan dong, jangan hanya di aduk begitu makanannya!" kata Rangga. Saat ini mereka sedang berada di menara Eiffel dan sedang menikmati makanan resto yang berada di dalam menara tersebut.
Rara hanya melihat ke padanya sekilas.
"Kamu kenapa, sejak tadi diam terus. Kamu gak seperti kemarin kemarin! Kamu lemas Ra!" Rangga menatap wajah Rara. Dia melihat Rara terlihat berbeda hari ini. Meski Rara menikmati keseruan liburan hari ini, tapi pikiran
terbagi pada hal lain.
"Aku hanya gak enak badan Ga. Aku sudah Katakan kan tadi bahwa semalam aku terpeleset."
"Hanya badanmu yang kepeleset yang sakit kan? bukan tenggorokan mu?"
Rara tersenyum mendengar ucapannya.
"Makan siang mu juga tak kau habiskan. Sekarang makan malam pun hanya di tatapi. Kasihan tu makanan nya nangis nangis kesakitan di aduk terus." kata Rangga kembali.
Rara tertawa kecil.
"Aku lagi gak nafsu makan. Sudah ah, jangan menggodaku terus. Habiskan makan mu setelah itu kita jalan ke taman kota."
"Besok saja, ini sudah 7 malam. Sebaiknya aku antara kau pulang! Dan jika kau mau, aku akan mengajakmu ke rumah ku. Aku akan memperkenalkan dirimu pada papa dan mama!"
"Ke rumah mu?"
"Kalau kau mau!" Rangga mengangguk.
"Tentu saja aku mau." kata Rara antusias.
"Tapi ga, apa aku gak mengganggu keseharian mu? kali aja kamu punya urusan lain?" tanya Rara kembali.
"Tujuan ku kemari untuk liburan, gak ada urusan lain. Liburan ku tambah seru dengan adanya kamu di sini. Karena sebelumnya aku hanya sendiri gak punya teman. Jadi selama kita di sini kita akan menghabiskan waktu liburan bersama. Biar nanti setelah kembali, ada hal yang akan kita katakan pada guru dan teman-teman mengenai perjalanan liburan kita tahun ini." kata Rangga juga antusias.
"Kamu benar juga! Mereka pasti akan bertanya tentang liburan kita!" Rara tersenyum.
"Nah, sekarang kita pulang. Besok aku akan menjemputmu. Tapi kamu harus izin dulu sama kakak mu!" Rara menyentuh puncak kepala Rara.
Rara kembali mengangguk tersenyum.
Setelah makan, mereka masih mengambil beberapa foto. Suasana menara Eiffel di malam hari sangat romantis. Karena warna warni lampu menara membuat suasana semakin syahdu. Tempat ini sangat bagus untuk di kunjungi oleh pasangan kekasih.
Setelah itu keduanya menuju mobil.
Rangga memakaikan sabuk pengaman Rara. Di perhatikan temannya itu banyak diam sejak turun dari rumah. tidak seceria kemarin saat mereka bersama.
"Ra....!"
Rara yang sedang melihat ke samping menoleh kepadanya.
__ADS_1
Rangga menatapnya dalam dalam.
"Kenapa menatapku begitu?"
"Kamu cantik Ra, manis."
Rara hanya menanggapi dengan senyuman. Dia tahu Rangga sedang bercanda menggodanya.
Rara kembali mengalihkan pandangannya melihat ke depan.
"Ra," panggil Rangga kembali
Hmmm.... jawaban Rara.
"Apa kamu baik baik saja?"
"Iya, emang kenapa?"
"Apa ada masalah?"
"Masalah? Masalah apa?" Rara melihat Rangga.
"Hari ini kamu banyak diam tidak seceria kemarin. Kamu lemas tak bersemangat. Seperti ada beban pikiran dan masalah. Wajahmu mungkin tersenyum saat kita lagi seru seruan tadi, tapi matamu memancarkan kesedihan. Aku bisa melihat itu."
"Nggak ada kok!" Rara kembali tersenyum menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa.
"Atau apa kakak mu melarang mu jalan sama aku? Aku bisa merasakan kalau dia tidak menyukai ku!" kata Rangga menatapi wajah manis Rara.
"Nggak, selama kamu baik sama aku, kak Ryu gak masalah!"
"Iya." Rara mengangguk tersenyum.
"Manis." ucap Rangga melihat senyuman Rara.
"Apa?" dahi Rara mengerut.
"Senyum mu sangat manis. Kamu juga sangat cantik Ra." kata Rangga terus memperhatikan setiap bagian wajah Rara.
Rara kembali tersenyum.
"Kamu lagi ngegombal sekarang?"
"Gombal apa an? kamu beneran cantik, sumpah!" kata Rangga serius.
Rara tertawa kecil.
"Sudah berapa banyak cewek yang sering kamu gombalin seperti itu? Aku lihat kamu banyak menggoda teman teman kita di sekolah."
Mata Rangga mendelik
"Kata siapa? Mereka sendiri yang datang mendekati ku. Aku gak pernah menggoda mereka." katanya mengelak.
__ADS_1
Rara senyum senyum dengan mata memicing melihatnya, tak percaya dengan omongan pria ini. Karena dia selalu melihat Rangga di kelilingi oleh para primadona sekolah. Rangga salah satu siswa idola mereka. Apalagi kalau Rangga bertanding basket, hampir seantero siswa cewek di sekolah mendukungnya, terpukau dengan wajah tampan dan tubuhnya yang atletis.
"Apa sih lihat lihat kayak gitu? gak percaya?" tanya Rangga tersenyum.
"Tentu saja kau gak percaya. Ada rumor yang beredar di sekolah kalau kamu tuh pria hidung belang, suka merayu gombalin teman teman. Matamu keranjang gak bisa lihat wanita yang lebih cantik dan seksi!"
"Enak saja ngatain gue mata keranjang. Itu rumor yang di edarkan oleh tukang gosip dan tukang ghibah!" kata Rangga sambil memukul pelan jidat Rara.
"Bohong kamu!"
"Benaran.....gak percaya amat sih?"
"Terus cewek cewek di sekolah itu gimana? yang selalu nempel sama kamu kayak lintah?" celetuk Rara.
Rangga tertawa.
"Dekat bukan berarti pacar kan? Aku gak suka satu pun di antara mereka! Tapi jujur, suka sama seseorang . Hanya dia cewek yang aku di sekolah kita!"
Wajah Rara mengernyit.
"Oh ya?"
"Iya, aku benaran serius suka sama dia. Tapi sayangnya dia nolak aku."
"Memang ada juga yang gak suka dan nolak kamu?" Rara menertawainya.
Rangga menatapnya tersenyum.
"Memang siapa? nanti aku bantuin kamu untuk dapatkan dia. Asal benar ya kamu serius sama dia gak main-main! Ayo katakan siapa? kelas berapa? Atau adik kelas kita?"
"Kamu Ra, kamu orangnya. Kamu lupa Aku pernah bilang suka sama kamu! Tapi kamu menolakku, selalu menghindari ku!" kata Rangga menatap serius. Dia memang suka pada Rara. Gadis ini lain dari pada yang lain. Selain cantik, pintar, Rara gadis yang ceria, apa adanya, gaya hidup sederhana, supel bergaul tapi tahu batasan. Dia selalu memperhatikan Rara secara diam-diam. Jujur dia mengagumi Rara. Dia mengutarakan perasaannya, tapi Rara hanya menertawainya dan menganggap itu hanya lelucon.
Rara menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia ingat Rangga memang bilang suka kepadanya tapi tak di gubris. Bukan hanya Rangga tapi ada beberapa cowok juga yang menyukainya. Entah kenapa dia sama sekali tak tertarik sedikit pun. Meski mereka memiliki wajah tampan, kaya raya memiliki orang tua bukan sembarangan.
Rara merasa hatinya telah terikat. Tapi dia tak tahu terikat oleh apa. Hingga dia tak tertarik sedikit pun dengan pemuda pemuda tampan itu.
"Hey kok diam?" Rangga menyentuh hidungnya.
"Aku gak mau pacaran Ga. Aku nggak suka."
"Kenapa? atau kamu sudah ada seseorang di hatimu?"
"Gak ada. Aku memang gak suka aja! Dan kamu jangan berharap apapun dari aku, kita hanya teman. Kalau gak, aku gak mau temanan lagi sama kamu!" kata Rara menatap tajam.
"Sudah ah, jangan ngomongin ini lagi." Rara kembali melihat ke luar.
Rangga membuang nafas kecewa. Tapi dia tidak bisa memaksakan perasaanya karena tidak Rara menjauhinya. Karena sangat sulit berteman seakrab ini dengan Rara.
"Baiklah Ra. Tapi ingat ya, jika hatimu sudah terbuka untuk mau pacaran. Ingat aku? Aku akan selalu menunggu mu!" kata Rangga tersenyum menggoda, dia menyolek ujung hidung Rara.
Rara hanya menanggapi dengan senyuman. Tapi senyuman itu langsung pudar. Kembali datar tanpa ekspresi karena sejak tadi dia sedang memikirkan Cio, kakaknya.
__ADS_1
"Sekarang mari kita pulang. Perjalanan ke rumah mu sangat jauh. Aku berharap kakak mu tidak marah kamu pulang kemalaman begini!" kata Rangga seraya melarikan kendaraannya.
*****