
Pulang dari Mall Rara, Riri dan fitri berjalan kaki di trotoar. Rangga batal menjemput karena masih punya urusan penting di bandara. Ketiganya berjalan sembari menunggu taksi yang lewat.
Datang taksi pertama yang langsung di naikin Riri, lalu taksi berikutnya di naiki Fitri, karena tempat tinggal mereka yang berbeda jurusan tidak memungkinkan mereka naik satu taksi. Rara mengalah karena dia tidak terburu-buru untuk pulang. Rara menunggu taksi berikutnya sambil terus melangkah. Dia masih kepikiran terus pada Anggi. Saking seriusnya melamun, beberapa taksi yang lewat tidak di sadarinya.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di sampingnya. Rem mendadak menyebabkan ban berbunyi menganggetkan Rara. Rara segera menoleh. Memperhatikan mobil siapa yang datang tiba-tiba. Merasa tidak di kenal serta melihat sesuatu yang aneh dari gerakan mobil dan orang-orang di dalamnya, membuat Rara sadar akan adanya bahaya. Rara segera menjauhi mobil dengan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali dia mengalami kejadian buruk seperti ini. Pertama waktu bersama mamanya, kedua dan ke tiga waktu di Belanda dan Paris. Rara mulai belajar waspada untuk menjauhi bahaya orang orang jahat. Apalagi tak ada lagi yang bisa di harapkan untuk melindunginya, Cio. Tinggal pesan Cio yang selalu di ingatnya. "Jangan dekat dekat dengan orang asing, orang tidak di kenal, orang yang mencurigakan. Segera jauhi mereka!"
Rara semakin kencang berlari melihat mobil itu mengejarnya dari belakang. Dia berusaha meraih ponselnya di dalam tas untuk menghubungi papa, dan ketiga kakaknya. Tapi karena pergerakannya yang cepat dan tidak hati hati membuat benda pipih itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke aspal. Rara terhenti hendak mengambil, tapi mobil itu semakin dekat kearahnya. Rara kembali berlari kencang mengabaikan ponselnya. Rara mulai ketakutan dan menangis memanggil papa mamanya. Teriakannya tak membuat kendaraan yang lalu lalang berhenti. Orang orang tidak berani membantu karena takut melihat senjata yang di todongkan dari dalam mobil.
Mobil itu menghadang jalannya dan berhenti tepat di depannya. Langkah Rara sontak terhenti. Dia menabrak samping badan mobil. Secepatnya dia mundur semakin gemetar ketakutan. Melihat orang orang di dalam membuka pintu, reflek saja dia berteriak keras.
"Kak Cioooo, kakak tolong Rara ! Kakaaak!" teriaknya keras menangis memanggil Cio. Hanya nama Cio yang keluar dari mulutnya. Bukan Riez, Ryan atau Raka, juga papanya.
Rara terus memanggil nama Cio. Dia berbalik dan hendak berlari. Tapi kaki kirinya tersangkut pada kaki kanannya hingga tubuhnya jatuh tersungkur ke aspal. Orang orang itu keluar dari mobil dan berjalan mendekatinya. Rara menangis keras ketakutan. Sebelum para berandalan itu menyentuh tubuhnya, sebuah mobil putih meluncur dengan kecepatan tinggi menghantam mobil hitam itu. Terdengar bunyi benturan hantaman keras. Mobil putih menabrak belakang mobil hitam hingga badan mobil itu penyok dan rusak.
Rara terkejut bukan main. Dia memekik keras menutup kupingnya. Tubuh gemetaran dan pucat. Dari dalam mobil putih keluarlah dua pria dengan beda usia. Satunya pria setengah baya, satunya lagi anak muda seusai Rara. Para berandal segera menyerang ke dua orang itu.
"Tuan muda, biarkan saya yang melayani mereka." kata pria setengah paruh baya, yang tak lain adalah Wisnu. Dan satunya lagi Raka.
"Rara sayang." panggil Raka segera mendekati adiknya yang terkapar di aspal. Rara segera mendongak.
"Kakak." Dia langsung bangkit berdiri di bantu Raka, lalu segera memeluk kakaknya.Tangisnya kembali pecah.
Di belakang mereka, Wisnu sementara bertarung melawan para berandalan itu. Meski usianya tak muda lagi, 50 tahun, pria itu masih lincah dan tangguh meladeni setiap serangan dan pukulan yang datang. Bahkan dia membalas menyerang dengan membabi-buta hingga musuh kewalahan. Mereka segera melarikan diri karena tidak mampu melawan kehebatan ilmu beladiri Wisnu. Sementara pengemudi mobil putih segera mengejar mobil hitam yang melarikan diri. Wisnu segera mencegat taksi. Dia membisikkan sesuatu pada sang sopir dan memberikan sesuatu. Sang sopir mengerti dan memberikan taksi itu pada Wisnu.
Raka segera mengangkat tubuh lemas adiknya masuk ke dalam taksi. Keduanya duduk di bangku penumpang. Sementara Wisnu duduk di belakang kemudi dan segera menjalankan kenderaan itu.
Raka terus memeluk tubuh adiknya yang masih gemetaran. Adik perempuannya yang hanya beda usia 12 jam dengannya.
"Rara jangan takut lagi. Para berandalan itu tak ada lagi." kata Raka menenangkan.
"Rara takut kak!" ucap Rara dengan bibir gemetar. Dia memeluk kuat tubuh Raka.
"Semua sudah aman. Rara gak perlu takut lagi. Ada kakak dan paman Wisnu di sini jagain Rara." Raka terus menenangkan mengelus punggung adiknya.
"Siapa mereka?" tanya Rara memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
"Kakak gak tahu. Mungkin saja preman jalanan!" Raka menjawab asal.
"Terus apa salah Rara pada mereka?" tanya Rara yang merasa bingung kenapa dia selalu jadi incaran para penjahat.
"Rara gak salah. Hanya saja mereka orang jahat yang gak punya kerjaan. Kerjanya hanya jahatin orang." jawab Raka seadanya, karena dia juga belum tahu siapa penyerang adiknya itu.
"Kenapa jahatnya harus sama Rara? Rara kan nggak punya masalah sama mereka? Selama ini Rara gak pernah ganggu orang ataupun jahatin orang!" kata Rara dengan polosnya. Mendongak keatas melihat wajah tampan kakak ketiganya ini.
Raka tersenyum lebar. Dia mengecup kening adiknya yang sudah berhenti menangis ini. Tapi masih terlihat ketakutan dari wajahnya yang pucat.
"Mungkin karena Rara cantik dan manis. Terus jalan sendirian lagi." kata Raka menatap mata teduhnya.
"Bukan karena Rara anaknya papa?" Rara tak percaya dengan jawaban kakaknya. Dia balik bertanya. Mengingat papanya bukan orang sembarangan dan sudah pasti banyak musuh. Karena dia mendengar rumor bahwa banyak perusahaan jatuh dan bangkrut karena ulah papanya yang membongkar kedok usaha bisnis ilegal dari perusahaan perusahaan itu. Jadi banyak karyawan yang di PHK dan menjadi pengangguran.
"Mungkin juga." jawab Raka angguk angguk kecil. Mengingat banyak pengusaha bisnis ilegal yang tak suka pada papanya.
"Kalau gitu bilang ke papa untuk memberi mereka pekerjaan biar mereka bisa kerja dan gak akan jahatin orang lagi!"
Raka tertawa kecil. Gak nyangka pemikiran adiknya sampai ke situ. Wisnu juga tersenyum tipis mendengar.
"Ya nona muda!" jawab Wisnu segera.
"Tolong sampaikan pada papa untuk membuka lowongan pekerjaan bagi para preman jalanan dan pengangguran biar mereka bisa bekerja untuk mencari nafkah dan tidak akan berbuat kejahatan lagi. Rara yakin papa bisa memberi pekerjaan untuk mereka. Perusahaan dan tempat usaha bisnis papa kan banyak. Rara yakin bisa menampung mereka untuk bekerja."
Raka kembali tersenyum mendengar perkataan adiknya. Wisnu melihat Raka dari kaca mobil tengah meminta jawaban apa yang harus diberikan pada Rara.
"Baik Nona. Saya akan sampaikan pada tuan Rafa keinginan anda." jawab Wisnu segera setelah mendapat isyarat mata dari Raka untuk mengiyakan saja permintaan adiknya tanpa memperbanyak bicara lagi. Pemikiran Rara yang polos yang menganggap semuanya bisa di lakukan dengan mudah. Dan mengira para penjahat tadi hanya masyarakat biasa, pengangguran yang tidak punya pekerjaan.
Rara melihat kembali pada Raka.
"Katanya kakak punya urusan penting. Tapi kenapa muncul nolongin Rara?"
"Hati kakak berubah setelah Rangga menghubungi kakak. Dia mengatakan tidak bisa mengantar Rara pulang karena ada urusan penting mendadak."
"Ohh gitu...! terus kenapa bisa barengan sama paman Wisnu?"
__ADS_1
Raka tersenyum mendengar rentetan pertanyaan adiknya ini. Tapi dia lega melihat Rara sudah tenang dan tak takut lagi. Bahkan telah lupa dengan kejadian buruk tadi.
"Kebetulan kakak ada urusan penting di bandara. Mau menjemput teman. Tak nyangka ketemu paman Wisnu di sana. Paman Wisnu sedang menjemput tamu penting yang merupakan relasi bisnis papa. Mobil kakak di pinjam sama teman kakak itu, jadi kakak pulangnya barengan sama paman Wisnu. Terus langsung ke Mall tadi nyariin Rara. Untung Paman Wisnu bisa melacak ponsel Rara." kata Raka menjelaskan panjang lebar agar adiknya ini puas.
"Ya ampun....!" kata Rara tiba tiba teringat ponselnya yang jatuh di aspal tadi.
"Ada apa?" Raka melihatnya dengan dahi mengerut.
"Ponsel Rara tadi jatuh di jalan sewaktu berlari tadi! Paman Wisnu, Cepat putar balik taksinya, Rara mau mengambil ponsel Rara. Semoga saja gak ada yang nemu!"
Wisnu segera mengikuti perintah nona mudanya. Setelah sampai di tempat tadi benda pipih itu tak ada lagi. Mereka mencari ke sekitar tempat jatuhnya tetap tidak ketemu. Wisnu dan Raka mencoba menghubungi nomor Rara tapi tidak aktif. Di coba berulang kali hasilnya tetap sama.
"Sepertinya sudah ada yang menemukannya! Mari kita pulang. Nanti bisa beli yang baru lagi." Raka menyerah mencari setelah sejam berlalu tak jua menemukan. Dia mengajak Rara kembali ke dalam taksi.
"Yahhhh.....!" Rara mengeluh Kecewa.
"Sudah, kan nanti bisa ganti. Atau dari sini kita bisa langsung beli."
"Tapi di dalam ponsel itu ada data data penting. Semua foto dan dokumen penting Rara tersimpan dalam ponsel itu. Rara mau ponsel Rara kembali." kata Rara sedih mulai menangis.
"Tapi dek....!"
"Bagaimana pun caranya temukan ponsel Rara. Pokoknya Rara mau ponsel Rara kembali!" kata Rara dengan suara meninggi.
Raka tak berani menyahut lagi kalau sudah begini.
"Iya...iya, kakak dan paman Wisnu akan berusaha untuk mendapatkannya! Sudah, Rara jangan sedih lagi. Kakak janji akan menemukannya." kata Raka meski bingung apa masih bisa menemukan ponsel itu. Dari pada adiknya ini akan sedih terus menerus. Dia tahu kenapa Rara sangat menginginkan benda pipih itu kembali. Karena dalam ponsel adiknya itu tersimpan foto foto dan semua kenangan berharga Rara bersama Cio. Tapi adiknya ini tidak akan mengatakan pada mereka. Sama seperti dia memendam kesedihannya selam ini seorang diri atas perpisahan yang terjadi antara dirinya dengan kakak sepupu mereka itu. Bohong jika Rara telah melupakan Cio juga melupakan kenangan indah mereka setelah pernikahan itu. Raka tahu adiknya ini tidak akan bisa melupakan Cio sampai kapan pun. Sewaktu bahaya tadi, dia mendengar teriakkan Rara memanggil manggil Cio. Hanya Cio.
Untuk itu Raka tidak akan menambah beban kesedihan adiknya ini dengan hilangnya posnel itu. Dia harus menemukan benda yang sangat berharga milik adiknya itu.
"Nona muda jangan khawatir, saya pastikan ponsel itu akan kembali pada nona secepatnya." kata Wisnu ikut berjanji. Karena dia juga ikut merasakan kesedihan anak gadis majikannya ini.
Rara sedikit tenang mendengar janji mereka berdua.
"Sudah, jangan nangis lagi." kata Raka menyapu air matanya, lalu kembali memeluk adiknya.
__ADS_1
*****