
"Khanza..... Khanza....!" terdengar suara lembut memanggil namanya.
Khanza mencari arah suara itu.
Matanya menyapu sekeliling ruangan.
Samar samar dia melihat wajah anak kecil yang memanggilnya. Semakin dekat semakin jelaslah wajah itu. Wajah yang sangat rindukan selama ini. Pemiliknya yang sangat di benci, tapi juga membuatnya rindu.
Anak kecil itu mendekat, semakin mendekat dan menjulurkan tangannya mengusap pipi mulusnya lembut.
Khanza segera memegang tangan itu dan di peluk.
"Jangan pergi....jangan pergi, jangan tinggalkan Khanza. Jangan pergi lagi, hiks,hiks... kak Cio....! Khanza rindu kakak." ucapnya sendu di alam mimpi.
Kedua matanya basah, bulir bulir keringat membasahi wajah dan sekitar lehernya yang putih mulus.
Cio yang berada di sampingnya tersenyum senang mendengarnya. Tapi juga sedih. Ternyata selama ini Khanza merindukannya, memendam kerinduan kepadanya, meski membencinya. Kerinduan itu bahkan terbawa sampai ke alam tidurnya.
Benci tapi rindu.
Cio lega dan senang.
"Jangan pergi....!" ucap Khanza lagi dengan suara serak semakin mendekap tangan Cio di dada.
Khanza kembali tertidur dengan wajah tersenyum bahagia sambil terus memeluk lengan Cio.
Dia sedang bermimpi, melihat Cio datang di alam mimpinya. Tapi yang di lihatnya hanyalah bayangan wajah kecil Cio.
Perjalanan yang cukup panjang membuatnya lelah dan mengantuk.
Setelah mandi dan shalat ashar, Dia langsung tidur. Tidurnya sangat pulas hingga bermimpi melihat Cio yang datang kepadanya.
Karena sebelum tidur tadi, dia memikirkan Cio karena rindu pada kakaknya itu.
Mimpi itu datang lagi, selalu datang menganggu tidurnya selama belasan tahun.
Dia memang membenci Cio, tapi bohong jika dia tidak merindukan Cio.
Rindu yang selama ini di pendam sendiri dalam diam, hingga sampai terbawa ke alam mimpi dan menjadi bunga tidurnya.
Yang sebenarnya di alam nyata, Cio memang berada di kamar Khanza saat ini, duduk di sampingnya. Melihat wajahnya, dan mendengar mimpi tidurnya yang merindukan dirinya.
__ADS_1
Tadi, setelah mendapat laporan dari Yuri bahwa Khanza sudah tertidur lelap, dia segera datang ke kamar Khanza. Dia tidak tahan lagi melihat adiknya ini.
Cio berada di kamar suite yang satunya, selantai dengan kamar Khanza.
Cio mendekati tempat tidur dan duduk di samping tubuh Khanza yang tertidur lelap. Menatapi wajah polos alami Khanza yang tertidur nyenyak.
Setelah belasan tahun berlalu, akhirnya dia melihat wajah Khanza secara langsung dari dekat. Wajah yang dulu kecil imut dan lucu, kini telah berubah menjadi paras yang manis dan cantik.
"Tak terasa kamu sudah tumbuh besar dek. Kakak sangat rindu sama kamu. Setiap saat setiap waktu kakak selalu mengingat mu. Tak sedetikpun berlalu tanpa merindukanmu." ucap Cio mengelus lembut pipi mulus Khanza yang sedang tertidur.
Dia menatapi setiap bagian dari wajah manis ini. Kening, mata, hidung, bibir, pipi tembem lucu yang selalu di kecupnya saat kecil dulu.
Cio tersenyum mengingat masa itu. Saat keduanya saling kecup mengecup membalas satu sama lain.
Perlahan Cio mendekatkan wajahnya, lalu mengecup lembut kening, mata, hidung, pipi dan.... gerakan berhenti pada bibir ranum Khanza yang terkatup. Cio menatap sejenak benda kenyal merah alami itu sambil meneguk Salivanya.
Lalu menarik wajahnya batal mengecup, di ganti dengan mengusap bibir Khanza menggunakan ibu jarinya.
Khanza bukan lagi anak kecil seperti dulu, yang bebas di peluk, di kecup dan di cium.
Lama Cio menatapi wajah Khanza tanpa bosan dengan terus menggenggam tangan gadis itu.
"Kakak tidak akan pergi lagi meninggalkan mu. Kita akan bersama seperti dulu lagi!" ucapnya seraya membelai lembut kepala Khanza.
Cio segera menutup tubuh Khanza sebatas dagu, karena gadis itu hanya menggunakan atasan tank top.
Simon mengatakan sesuatu yang di jawab Cio dengan anggukan kepala.
Cio segera bangkit berdiri setelah mengecup kening Khanza.
"Tidurlah lebih lama dek, mimpikan terus kakak dalam tidurmu!" ucapnya tersenyum. Mengelus pipi Khanza sesaat.
Kemudian segera melangkah keluar di ikuti Simon.
Yuri tinggal di dalam untuk menemani nona mudanya yang masih tertidur pulas.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam.
"Apa acaranya sudah di mulai?" tanya Cio sambil melepas pakaiannya satu persatu begitu tiba di kamarnya.
"Iya tuan. Sekarang sementara proses ijab kabul." jawab Simon seraya menerima pakaian tuannya.
__ADS_1
Di bawah sana, sedang ada perayaan pesta pernikahan besar besaran oleh relasi bisnisnya dengan menyewa hotel miliknya, Khanza.
Nama hotel yang sengaja di ambil dari nama Khanza Ghaniya Artawijaya.
Khanza lah yang menjadi penyemangat hidup serta inspirasinya selama ini. Dalam menyelesaikan pendidikan secepatnya, kemudian bekerja keras hingga menjadi sukses seperti ini. Juga dukungan serta bimbingan dari Rafa, Ara, Nesa yang tidak di ketahui oleh Khanza. Seperti janjinya dulu pada Khanza akan kembali secepatnya demi gadis itu.
Dia bekerja keras selama belasan tahun ini agar bisa secepatnya pulang pada adiknya itu.
Yang juga berjanji akan menunggunya pulang meski lama.
Cio segera masuk ke kamar mandi dengan hanya memakai boxer. Dia mengusap tubuhnya yang basah oleh guyuran air shower.
Bayangan wajah manis Khanza belum lepas dari pelupuk matanya. Dia tersenyum sendiri sambil terus mengusap tubuhnya.
Sesaat kemudian dia mengangkat wajahnya menatap ke arah cermin. Lalu menyentuh dada kirinya, tepatnya pada letak jantungnya. Yang tertera sebuah nama yang di ukir indah sejak dia duduk di bangku kelas 1 SMA. Tulisan tato yang tertera nama Khanza. Dia mengukir nama Khanza di dadanya karena begitu sayangnya dia pada adiknya itu. Dan juga sebagai pengingat dirinya pada Khanza setiap saat. Nama itu akan terlihat setiap kali dia mandi. Dan akan terus mengingatkan dirinya pada adik kecilnya yang manis.
"Khanza, Khanza, Khanza Ghaniya.... itu adalah nama mu, bukan RAIRARA....!" ucap Cio seraya mengusap pelan nama khanza di dadanya.
******
Semoga suka ya π
N jangan lupa dukung author ππ
Mampir ya ke karya author yang lain
πππ
Rafa & Ara ( mencintai adik ipar)
πππ
Sakitnya Mencintai Milik orang
(Mencintai istri orang)
πππ
Arley & Ana
(Kisah cinta kakak dan adik kandung)
__ADS_1
Terimakasihπ