Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
66. Bercak merah di tubuh Khanza Vs kehamilan Ara.


__ADS_3

Happy reading.


Setelah subuh, Rara pulang ke rumahnya. Dengan membawa ponsel miliknya yang sengaja di letakkan Ryu di dekat bantal kepala. Rara pulang dengan di antar Wisnu. Dia pulang tanpa pamit pada Ryu dan malah menghindari. Sebenarnya Wisnu juga tidak pulang, tetap berada di parkiran apartemen yang merupakan milik Cio. Dia stand by hingga pagi meski Cio telah menyuruhnya untuk pulang ke rumahnya. Wisnu sudah tahu apa yang terjadi di apartemen Cio dan dia merasa bersalah karena tidak jujur pada Khanza tentang siapa penghuni apartemen unit paling atas itu. Dalam perjalanan dia meminta maaf pada Khanza, tapi Khanza hanya diam dan menangis dalam diam, tak ada suara tapi Air matanya terus mengalir. Sampai di rumah pun Rara langsung masuk ke kamarnya tanpa menyambangi kamar papa mamanya. Dia buru buru masuk ke kamar mandi. Saat melepas pakaian, Rara terkejut melihat ada bercak merah keunguan di leher dan dadanya. Setelah ingat dan sadar bercak apa itu, dia kembali menangis.


30 menit berlalu Rara turun ke bawah lengkap dengan seragam dan tas sekolahnya. Dia menuju ruang makan dituntun kepala pelayan wanita. Rara kaget melihat ke tiga kakaknya ada di meja makan. Biasanya hanya Raka yang selalu ada setiap pagi di meja makan bersama mereka. Riez dan Ryan kadang sarapan pagi bersama mereka.


"Good morning my sweet little sister." sapa mereka sedikit menggoda. Terutama Ryan yang suka sekali menggodanya." Adikku sayang, kau semakin cantik dan manis." godanya sedikit berkelakar.


Rara hanya diam tanpa ekspresi dengan godaan itu. "Selamat pagi pa, ma...!" sapanya lemas pada Rafa dan Ara.


"Pagi sayang." balas Rafa dan Ara hampir bersamaan. Mereka ikutan tak bersemangat melihat keadaan putrinya yang tampak gairah.


Rara mengambil tempat duduk di antara papa mamanya. Dia ingin meminta maaf tentang kepergiannya semalam secara diam-diam ke apartemen Cio yang sama sekali tidak di ketahuinya.


"Pa, ma.... Rara minta maaf. Semalam Rara...!"


"Kakakmu, Cio sudah memberi tahu. Wisnu juga sudah memberi tahu papa! Selama Khanza baik baik saja, papa dan mama fine fine aja." kata Rafa segera memotong ucapannya. Dia mengelus lembut lengan Rara.


Rara mengulas senyum sekilas, melihat papa mamanya bergantian, lalu menunduk menatap piring di depannya.


"Sekarang Khanza makan ya." kata Ara lembut.


Rara mengangguk pelan tanpa semangat. Dia mengambil gelas dan menuangkan susu. Dia gak berselera untuk makan.


Semuanya diam diam memperhatikannya sambil makan.


Riez bangkit dari duduknya, mendekati adik perempuannya itu, lalu mencium puncak kepalanya."Kakak merindukanmu." ucapnya. Lalu kembali mengecup pipi kanan Khanza. Ryan pun melakukan hal yang sama, mencium pipi kiri Khanza. Karena kedua pria ini jarang bertemu dan bersama dengan Rara. Tapi meski begitu mereka sangat menyayangi adik kembar yang beda 12 jam dari mereka ini.


Rara hanya diam tak menanggapi. Riez dan Ryan kembali duduk. Sementara Raka menyapa Khanza dengan memberi senyuman manis.


"Ada apa sih, mukanya jelek begitu?" goda Ryan kembali. Pura pura tidak tahu suasana hati Khanza yang lagi buruk. Rafa sengaja menyuruh mereka sarapan pagi bersama di rumah untuk menghibur adik mereka itu setelah Cio menceritakan yang terjadi semalam.


Rara hanya melihat sekilas pada Ryan lalu menghabiskan susu. Mereka berlima saling berpandangan.


"Hanya minum susu? Makan dong dek!" kata Raka. Rara menggeleng pelan.


"Mau kakak ambilkan?" tanya Raka lagi.


Rara kembali menggeleng.


"Apa Rara gak suka menu sarapannya? Atau ada menu yang Rara inginkan?" sela Riez menatapnya.


Rara geleng geleng kepala lagi.


"Ada apa sayang? apa Rara sakit." tanya Rafa memancing agar Rara mau berbagi kesedihannya akibat apa yang di lakukan Cio. Mereka tahu saat ini Khanza lagi sedih, tapi berusaha di tahan. Di sembunyikan.


Rara hanya geleng-geleng kepala dengan pertanyaan pertanyaan itu, sebagai isyarat dia baik baik saja. Dan mereka sudah memastikan hal itu. Rara pasti tidak akan bercerita dan lebih memilih diam memendam sendiri apa yang di rasakan.


Riez tiba tiba tersenyum dan angkat bicara. "Dek, setelah pulang sekolah yuk kita ke bioskop. Ada film baru lho..... Ryan dan Raka juga akan ikut. Pasti tambah seru bila ada Rara. Udah lama lo kita nggak nonton bareng." kata Riez dengan antusias. Karena dia tahu Rara sangat senang bila di ajak ke bioskop ketika ada film baru.


"Kakak juga akan traktir kalian, kebetulan dompet kakak lagi tebal nih. Apa aja yang Rara mau kakak bayarin. Makan, belanja bebas apa aja." Ryan ikut menyambung.


"Benar tuh, aku setuju. Sudah lama ya kita tidak menghabiskan waktu bersama. Kak Riez dan kak Ryan sibuk dengan urusan sendiri. Aku jadi kangen kebersamaan kita... Rara juga pasti kan?" timpal Raka.


Rafa dan Ara senyum senyum mendengarkan sambil menikmati sarapannya, tapi tetap fokus pada Rara. Mereka berharap putrinya ini akan senang dan tersenyum dengan keberadaan kakak kakaknya.


Rara hanya melihat mereka secara bergantian tanpa mengeluarkan satu katapun. Lalu melihat pada Ara.


"Mama....!" panggilnya pelan.


"Ya sayang....!" Ara sedikit kaget langsung menoleh padanya.


Rara menyingkap rambut panjang ke samping. "Rara tutupin ini pakai apa ya?" tanyanya dengan polosnya, seraya memperlihatkan bercak di lehernya.


Ara dan juga mereka memperhatikan cermat bercak itu. Setelah melihat jelas, mereka tahu tanda itu. Riez, Ryan dan Raka juga tahu tanda bercak seperti itu. Mereka gak terlalu polos dengan hal seperti itu. Mereka saling melempar pandang sejenak.


"Kenapa lehernya sayang?" tanya Rafa pura pura-pura tidak tahu.


Rara menutup kembali lehernya dengan rambut. "Semalam ada nyamuk usil yang menggigitnya. Rara udah bersihkan berulang ulang tapi gak hilang." kata Rara pelan dengan suara serak. Wajahnya memerah karena sedih.


Mereka termangu mendengar perkataan itu. Kasihan juga melihat kesedihan Rara. Berusaha menyembunyikan apa yang terjadi. Tapi mereka bisa apa? yang melakukannya adalah suaminya sendiri, Cio. Mungkin Rara berpikir dengan mengatakan di gigit nyamuk mereka akan percaya dan tidak curiga kalau itu adalah tanda bekas ciuman yang di lakukan Cio.


"Kakak juga sering di gigit nyamuk seperti itu. Terus kakak kasih telon, hilang deh. Rara cobain deh." kata Raka tersenyum memberi saran.


"Di kompres air dingin dek, terus di kasih salep. Nanti kakak antar Rara ke sekolah. Kita mampir ke apotik untuk beli salepnya." timpal Riez memberi saran.


"Kebangetan nyamuknya berani menggigit adik kesayangan kakak. Nanti kakak basmi mereka." kata Ryan kesal dengan wajah di buat marah. Meski dia tahu itu bukan di gigi nyamuk. Mana ada nyamuk di rumah yang begitu banyaknya pelayan ini, yang setiap hari membersihkan setiap sudut ruang rumah ini. Jangankan nyamuk, debu saja tak ada yang menempel.


"Mbak, tolong ambilkan concealer di kamar saya." kata Ara pada kepala pelayan, Rima yang seumuran Rafa. Dulu Narsih kepala pelayan mereka, tapi karena wanita itu sudah tua dan mulai sakit sakitan, Ara mengistirahatkan Narsih di hari tuanya. Narsih merekomendasikan Rima, sebagai penggantinya. Dia tidak mau sembarangan memasukkan orang lain mengurus keluarga ini.


Tidak waktu lama, Rima datang dengan membawa apa yang di minta majikannya.


Ara segera mengaplikasikan cairan kental senada dengan warna kulit Rara ke leher putrinya. Rima ikut membantunya.


Bertepatan dengan masuknya Ryu dengan jas formal. Ryu menyapa mereka setelah dekat. Ryu duduk di dekat Riez, memperhatikan Khanza diam diam. Ryu tampak kecewa melihat Khanza membuang wajah ke arah lain begitu melihatnya datang.


"Kak Cio udah sarapan belum? Ayo sarapan bersama kami." ajak Riez mencairkan suasana yang tampak tegang.


"Kebetulan kakak gak sempat sarapan dari rumah." kata Ryu mengulas senyum. Dia mengambil piring sembari melihat kembali pada Rara yang masih tetap menatap ke arah lain dengan wajahnya yang dingin tanpa ekspresi. Cio memperhatikan apa yang di lakukan Ara dan Rima.


"Ada apa ante? Apa yang terjadi pada leher Khanza?" tanya Ryu yang tidak tahu menahu dengan bercak hasil karyanya semalam. Rara melirik tajam dengan ekspresi marah mendengar pertanyaannya.

__ADS_1


Rafa menatapnya dan memberi isyarat untuk diam.


Beberapa detik HP nya bergetar. Ryu segera memeriksa pesan yang masuk. Dia kaget setelah membaca pesan itu. Pesan yang di kirim diam diam oleh Ryan.


Ryu kembali melihat pada Rara. Menatap dengan menyelidiki dari jauh bercak itu. Dia memaki dirinya setelah ingat apa yang di lakukan semalam, terbawah oleh hasrat gairah hingga tidak sadar telah membuat tanda itu. Pantas saja Rara terlihat sedih, kesal dan tidak suka dengan kedatangannya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya selesai apa yang di kerjakan Ara dan Rima pada leher Rara.


"Nona muda, maafkan kami yang tidak becus menjaga kebersihan kamar nona." kata Rima. Meski dia tahu tidak ada seekor nyamuk di kamar Rara.


"Bibi gak perlu minta maaf. Bibi dan pelayan sudah bekerja dengan baik kok. Yang salah nyamuknya, terlalu jahat sama Rara." sindir Rara melirik tajam dengan wajah sedih pada Cio.


Cio membuang nafas kasar. Sesak dan sakit hatinya mendengar sindiran itu.


Yang lainnya hanya bisa diam mendengar kata kata yang mereka tahu di tujukan pada Cio.


Ponsel Rara bergetar, ada pesan masuk. Setelah membaca pesan itu, Rara bangkit dari duduknya, memakai tas sekolah.


"Khanza....!" ucap Cio merasa menyesal.


Dia mengerti dengan sikap Khanza seperti ini karena ulahnya.


Rara tidak menyahuti panggilannya.


"Rara berangkat ke sekolah dulu." kata Rara. Dia mencium tangan Ara, terus Rafa, lalu ketiga kakaknya secara bergantian. Dia melewati Cio.


"Kakak akan mengantarmu." Cio menawarkan diri.


"Tidak perlu." kata Rara ketus.


"Sayang, kok gitu ngomong sama kakak mu?" Rara menegurnya dengan pelan. Rara diam tak menjawab perkataan papanya.


"Assalamualaikum, selamat pagi semua!" Suara terdengar dari arah samping. Rangga muncul mendekati dengan pakaian sekolah.


Mereka membalas sapaan Rangga, kecuali Cio. Dia kaget melihat pemuda ini datang.


"Rara akan pergi sekolah bersama Rangga ! Tadi Rara memintanya ke sini untuk menjemput Rara. Kami pergi dulu. Assalamualaikum." kata Rara. Lalu meraih tangan Rangga mengajak untuk berjalan. Rangga buru buru pamit pada mereka karena tangannya di tarik Rara.


Tangan Ryu mengepal kuat menahan kemarahan melihat istrinya berpegangan tangan dengan pria lain dan meninggalkan dirinya.


Sebuah tepukan di bahu sedikit mengagetkannya. Ryu menoleh ke samping. Melihat Riez berdiri di dekatnya.


"Kakak sudah tahu kan konsekuensi menikahi Rara tanpa sepengetahuannya?" kata Riez.


"Kak Cio harus sabar, jangan terburu mendekati Khanza. Bukan apa apa, aku hanya khawatir Khanza akan semakin takut dan menjauhi kakak." timpal Raka.


"Menurut ku, sebaiknya kakak berterus terang saja pada Khanza. Katakan saja yang sebenarnya bahwa dia telah menikah dan sudah menjadi istri kakak, agar Khanza bisa menjaga jarak dan batasan pertemanan dengan pria lain! Dan juga katakan kepadanya kakak tidak melakukan pernikahan dengan Anggi. Aku menyarankan ini karena kita semua tahu, Rangga menyukainya. Rangga juga anak baik. Dan dia tidak tahu kalau Rara sudah menikah dengan kakak! Siapa yang bisa menjamin kalau suatu saat Khanza akan menanggapi perasaan Rangga?" ujar Ryan memberi saran.


"Bisakah Ante membantuku?" pinta Ryu menatap memelas pada Ara.


Ara membuang nafas panjang. Dia ikut merasakan kesedihan Ryu.


"Ante akan berusaha. Tapi ante minta, kamu harus sabar dan menahan diri dulu. Khanza masih sangat belia, sifatnya masih bocah untuk menyingkapi pernikahan kalian yang sama sekali tidak di ketahuinya. Kita harus bisa menjelaskan pelan pelan agar tidak membuatnya tertekan dan syok."


Ryu mengangguk lemah.


"Daddy mengerti dengan apa yang kau rasakan, juga keinginan mu sebagai suami. Tapi Daddy minta kamu haru bisa menahan diri dulu untuk tidak menyentuhnya. Daddy tidak mau Khanza tersakiti. Daddy menyayangimu, memahami apa yang kau rasakan. Tapi Khanza juga putri Daddy. Kita semua sangat menyayanginya dan tidak ingin dia terluka." kata Rafa memegang kedua bahunya.


"Iya Daddy. Aku mengerti. Khanza bersikap seperti itu juga karena aku." kata Cio tanpa semangat.


Dia segera pamit untuk menyusul mobil Rangga.


"Aku akan bicara dengan tuan Alkas." kata Rafa setelah kepergian Ryu.


"Kakak mau membicarakan apa?" wajah Ara mengernyit.


"Tentang status Khanza sekarang yang sudah menjadi istri Ryu. Sementara Rangga tidak tahu hal itu. Aku tidak ingin kejadian di masa dulu tentang kita terjadi pada mereka." ujar Rafa.


Ara mengerti maksud suaminya.


"Apa kak Dion ada di tanah air? Ah....aku jadi rindu sama mereka." kata Ara tersenyum sembari berjalan meninggalkan Rafa.


Rafa melongo mendengar ucapannya, terlebih lagi melihat senyuman di wajah istrinya yang menyiratkan sesuatu. Entah kenapa dia tidak suka dengan kalimat dan senyuman itu. Segera dia melangkah cepat menyusul Ara yang masuk ke dalam lift untuk naik ke atas.


"Sayang, apa maksud dengan perkataan mu barusan? Ada senyuman juga di wajahmu itu?" menatap tajam mata Ara.


"Perkataan apa?" Ara tidak mengerti. Dia menekan angka paling atas. Lift berjalan.


"Kata kata rindumu itu? Tadi aku mengingatkan kembali tentang hubungan masa lalu di antara kita dan tuan Alkas, terus kamu langsung mengatakan kata rindu sambil senyum senyum." ujar Rafa menjelaskan dengan cepat karena mulai emosi.


"Ohhh....itu, aku merindukan Cindy." kata Ara asal tak mengetahui suasana hati Rafa yang buruk.


"Cindy? Kamu gak menyebut namanya tadi!"


"Iyaa, maksudnya aku merindukan mereka berdua.....kak Dion dan Cindy! Sudah ah, sebaiknya kakak pergi ke kantor!" kata Ara keluar dari lift, menghindari Rafa yang terlihat marah. Ara tersenyum geli melihat kecemburuan itu. Udah tua dan memiliki anak gede gede masih aja cemburuan. Sifat buruk suaminya itu memang susah di hilangkan sejak dulu


"Sayang, aku gak suka ya....kamu punya rasa rindu sama Dionel Alkas." Rafa mencengkram lengannya.


Ara meringis.


"Lepas ah...sakit!" memegang tangan kekar Rafa yang masih mencengkram nya. Dia menatap Rafa kesal.

__ADS_1


Rafa beralih mencengkram ke dua bahunya. Membawa tubuh itu menghadap kepadanya.


"Jujur sama aku, kamu merindukan pria itu?" sentak Rafa semakin emosi.


"Iya, aku merindukannya, merindukan mereka berdua. Udah lama aku gak ketemu sama mereka. Puas???" teriak Ara agak keras membalas sentakan suaminya.


Rafa terkejut mendengar teriakannya. Sikap seperti ini sudah sebulan lebih dia rasakan. Ara mulai berani dan tidak takut padanya. Ara bahkan suka uring-uringan tak jelas jika dia terlambat tidur dan lembur bekerja.


"Ara....!" panggil Rafa semakin emosi dan kembali mencengkram kuat bahu Ara.


"Ya ampun,,,,apaan sih kak, jangan teriak teriak. Lepas ah.....sakit!" Ara meringis kesakitan.


"Aku gak suka kamu merindukan bajingan itu." kata Rafa kasar menyorot tajam.


"Sembarangan bilang kak Dion bajingan. Kakak tuh yang keterlaluan. Dari dulu aku hanya menganggap kak Dion sebagai kakak, tante Dinda dan Om Ray seperti orang tuaku sendiri. Kakak yang terlalu berlebihan cemburunya." kata Ara kesal menatap tajam menantang tatapannya.


"Tetap saja aku gak suka kamu punya rasa rindu pada pria lain. Biarpun kau menganggapnya hanya seorang kakak, bajingan itu bukan saudaramu!"


"Ya ampun, dari dulu sifat kakak tuh gak ilang ilang!" kata Ara dengan suara meninggi. Heran dan kesal dengan sikap ini.


"Udah ah, aku malas berdebat terus, kupingku juga sakit! Anak anak lagi bermasalah, jangan nambah masalah lagi." kata Ara kesal seraya menepis kasar kedua tangan Rafa di bahunya.


Dia berbalik meninggalkan Rafa menahan kemarahan yang semakin meluap.


"Ini sudah jam 8, sebaiknya kakak ke kantor. Aku mau menghubungi Cindy dan kak Dion dulu. Biar aku saja yang menjelaskan pada mereka," kata Ara di sela sela langkahnya seraya menekan nomor Cindy.


"Kamu ya....mulai berani lagi sama aku!" teriak Rafa geram. Dia melangkah cepat menyusul Ara. Begitu dekat dia langsung menyergap tubuh Ara dari belakang, mengangkat dan menaruhnya di atas bahu.


Ara terkejut.


"Apa apaan ini kak, ponselku jatuh dan retak!" katanya marah melihat ponselnya yang tampak retak tergeletak di lantai.


Rafa tak perduli, dia membawa tubuh Ara ke kamar mereka. Mengunci pintu kamar. Membawa dan meletakkan tubuh Ara di atas ranjang.


"Kakak mau apa? Jangan macem-macem." kata Ara berusaha melawan dan bangun. Rafa tak perduli, dia mencium bibir Ara dengan rakus. Berhenti melihat Ara mulai susah bernafas. Dia menahan tangan Ara seraya melepas pakaiannya.


"Jangan menyentuh ku, Aku gak mau!" teriak Ara panik. Melihat kemarahan di mata suaminya. Kemarahan bercampur api gairah. Tidak mau di sentuh, bukan karena menolak melakukan kewajibannya, tapi karena dia takut tidak mampu menahan keganasan Rafa. Makin tua usia suaminya, gairah bercintanya malah semakin meningkat, semakin ganas dan liar di atas ranjang. Dan dia tidak mampu untuk mengimbangi keperkasaan suaminya.


"Aku akan membuat mu melupakan bajingan itu!" kata Rafa menatap sinis. Dia melucuti pakaian Ara tanpa sisa. Lalu melahap setiap inci tubuh istrinya dengan ganas dan liar. Tak perduli dengan teriakan, tangisan, pukulan, cakaran dan tendangan Ara di tubuhnya.


Rafa heran dengan sikap kasar istrinya ini, yang berani berteriak, main tangan dan kaki kepdanya. Ara tidak lembut dan penurut seperti biasanya.


Dan Jika dia lagi ada masalah pekerjaan atau di buat marah oleh Ara seperti ini, dia akan melampiaskan kemarahannya dengan memakai tubuh Ara tanpa ampun, memaksa berhubungan **** berjam jam, sampai dia merasa puas.


Dua jam berlalu, terdengar teriakan panjang dari mulut Ara, lalu tubuhnya melemah, diam tak bergerak pingsan. Bersamaan dengan erangan panjang keluar dari mulut Rafa karena mencapai puncak kepuasan yang keempat kali.


Rafa terengah-engah dengan nafas yang memburu cepat, tubuh mandi keringat, serta kepuasan di wajah. Rafa memperhatikan wajah Ara yang tampak mandi keringat campur air mata di bawah tubuhnya. Dia melihat mata Ara yang terpejam dan tak ada suara dan pergerakan.


"Sayang.....!" panggilnya pelan.


"Sayang....!" panggilnya lagi, tetap tak ada pergerakan dan balasan apapun. Rafa curiga dan khawatir, dia turun dari tubuh Ara dan segera meriksa keadaan istrinya. Rafa terkejut setelah mengetahui Ara pingsan, dan melihat ke bawah ada darah yang keluar dari milik pribadi istrinya. Rafa semakin terkejut dan panik. Ada darah juga pada bagian pribadinya bercampur dengan cairan.


"Sayang, kau kenapa?" semakin panik dan khawatir. Secepatnya dia turun dari ranjang mengambil tisu banyak dan melap miliknya juga milik Ara. Tidak ada waktu untuk mandi. Dia lebih mementingkan keselamatan istrinya. Segera dia memakai pakaian sambil menghubungi Wisnu "Siapkan mobil, kita ke rumah sakit. Hubungi Rizal segera....ah tidak....hubungi Winda!" katanya buru buru. Lalu memakaikan gamis ke tubuh Ara dan juga jilbabnya. Dia mengangkat tubuh Ara dan segera Keluar dengan cepat.


"Ada apa tuan? apa yang terjadi dengan nyonya?" Wisnu dan Rima yang sudah berdiri di depan pintu kamar terkejut melihatnya menggendong tubuh Ara.


"Kita ke rumah sakit, cepat." teriak Rafa berlari cepat ke arah lift. Melihat darah di tubuh Ara tentu saja membuatnya sangat panik dan khawatir. Entah darah apa itu, karena dia tahu Ara sedang tidak berhalangan. Dan itu membuatnya sangat takut."Sayang, maafkan aku.....! Maafkan aku....!" ucapnya lirih sedih merasa menyesal bermain terlalu intens dan sedikit kasar tadi.


Dengan kecepatan tinggi yang di kendarai Wisnu, 30 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Winda dan Rizal segera memberikan pertolongan dan melakukan pemeriksaan. Tapi yang melakukan pemeriksaan hanyalah Winda. Rafa melarang Rizal melakukan pemeriksaan terhadap Ara.


Beberapa saat setelah menjalani pemeriksaan.


"Nyonya Ara baik baik saja. Tuan tidak perlu khawatir." kata Winda tersenyum. Winda adalah adik Wisnu yang sudah menjadi dokter.


"Tapi darah itu.....!" kata Rafa masih belum bisa menghilangkan kekhawatirannya dengan darah itu.


"Pendarahan itu hal umum terjadi dan tidak apa-apa.....! "


"Biar aku yang menjelaskan padanya." kata Rizal segera memangkas ucapan Winda. Lalu dia melihat pada Rafa dengan kesal.


"Dari dulu sudah kukatakan padamu jangan bermain kasar saat berhubungan. Kau harus bermain lembut Jangan hanya mengikuti nafsu bejadmu. Kau ini benar-benar bajingan. Kau ingin mencelakai Ara dan membunuh janin yang ada di dalam kandungannya? Hah?" Rizal mencengkram kerah Rafa.


Wajah Rafa mengernyit, mendengar ucapannya.


"Janin? Apa maksudmu?"


"Saat ini Ara sedang hamil muda. Usia kandungannya sudah memasuki dua bulan. Dan kau hampir membuatnya keguguran." kata Rizal menatap tajam.


Rafa terperangah. Senyuman langsung menghiasi wajahnya. Dia tersenyum antara percaya dengan tidak dengan ucapan Rizal.


"Hamil? Ara hamil? jadi istriku saat ini sedang hamil?" tanyanya kembali. Rafa tertawa senang sekali. Juga sedih dan terharu. Dia melepaskan cengkraman tangan Rizal dan berjalan cepat mendekati Ara di tempat tidur.


"Sayang, kau hamil, kau hamil sayang."ucapnya tertawa senang dan bahagia. Dia mencurahi ciuman bertubi tubi di wajah dan perut Ara.


"Seharusnya aku sudah curiga dengan sikap mu itu sayang. Tapi ternyata aku tidak peka! Terimakasih sayang, kau sudah mengabulkan keinginan ku!" kata Rafa sangat bahagia dan bersyukur. Dia ingat bisikkan nya pada Ara 7 bulan lalu, saat dia baru pulang dari Jepang dan mereka bercinta di kamar mandi ruang kerja milik Ara. Dia membisikkan sesuatu di telinga Ara saat terakhir permainan cinta mereka "Sayang, anak anak udah pada gede. Suatu saat nanti, satu persatu mereka akan meninggalkan kita pergi bersama pasangannya. Rumah akan sunyi dan kosong. Aku ingin ada tangis dan tawa bayi mungil yang cantik dan tampan memenuhi ruang rumah kita!" bisiknya waktu itu dan membuat Ara terkejut. Dia mengira Ara mengabaikan keinginan itu, tapi ternyata istrinya ini sedang berusaha mewujudkan keinginannya di usia mereka yang tak lagi muda.


"Terimakasih sayang, terimakasih!" ucapnya tanpa henti sangat bahagia. Berulangkali dia mengucapkan syukur pada Allah.


*****


Tinggalkan jejak dukungan ya 😘

__ADS_1


__ADS_2