
Sebelum magrib Rangga pulang ke rumah. Dia kaget melihat Khanza ada di rumahnya. Cindy segera menceritakan alasan Rara balik lagi ke rumah ini. Tapi tidak keseluruhannya, karena dia tahu putranya ini menyukai Rara. Cindy hanya bilang Rara bertengkar sedikit dengan kakaknya, Ryu.
"Kenapa mama nggak ngabarin aku kalau Rara kembali ke rumah? Aku kan bisa pulang cepat! Kasihan Rara gak punya teman untuk berbagi kesedihan."
"Mama tahu kamu lagi sibuk dengan urusanmu. Makanya mama nggak kasih tahu kamu. Kamu gak perlu khawatir, ada papa dan mama yang menemaninya." kata Cindy.
"Sudah....setelah magrib ajaklah Rara jalan jalan! Katanya tadi dia pengen menghirup udara malam di alun alun kota." kata Cindy kembali.
Rangga segera naik ke atas menuju kamar Rara. Dia menengok kedalam, di lihatnya gadis itu sedang shalat Magrib. Rangga segera ke kamarnya untuk melaksanakan shalat.
.
.
Keduanya kini tampak berada di alun alun kota sambil menikmati kuliner di tempat itu di temani beberapa pertunjukan yang cukup menghibur. Rangga sengaja membawa Rara untuk melihat pertunjukan itu agar hati Rara terhibur. Bukan hanya mereka tapi banyaknya pengunjung yang melihat atraksi pertunjukan kabaret Moulin Rouge yang terkenal akan penarinya yang glamor dan iconic.
Suasana terasa ramai dengan banyaknya orang.Tapi entah mengapa di dalam keramaian Rara malah merasakan sepi. Hatinya terasa hampa dan kosong. Dia melihat hiburan hiburan itu, tapi pikirannya tetap tidak bisa hilang dari Ryu.
Rara merasa risih dengan suasana yang terasa bising di telinganya. Dia segera berjalan menjauhi tempat itu. Ingin menyendiri. Ada kerinduan menyeruak di hatinya terhadap kakaknya. Teringat kebersamaan dan keseruan mereka saat liburan jalan jalan seperti ini mengelilingi tempat tempat terindah di kota Paris. Ryu dengan senang hati menemaninya, selalu ada waktu untuknya, meninggalkan pekerjaan demi untuk memanjakan dan menyenangkannya.
Rara melenguh sedih di dalam hati.
Rangga bisa melihat dan merasakan kegundahan itu.
"Ra, ada apa? Kamu gak suka pertujukannya?"
mengikuti langkah Rara.
Rara segera mengulas senyum untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Suka, Aku hanya capek. Aku ingin duduk sebentar." kata Rara seraya duduk di kursi taman kecil yang berada di tempat itu. Rangga ikut duduk di sampingnya. Dia memperbaiki mantel dan juga topi Rara.
__ADS_1
"Atau kamu ingin melihat pertunjukan yang lebih seru lagi? Ayo kita ke klub." Rangga mencoba mengajak Rara ke tempat lain untuk menghiburnya.
"Kita duduk dulu sebentar." kata Rara melihatnya sekilas.
Rangga membuang nafas berat.
"Seandainya aku bisa menghilangkan kesedihanmu." ucap Rangga menatap wajah Rara dari samping.
Rara melihat kembali padanya mendengar ucapan itu. Keduanya saling menatap.
"Matamu yang merah dan sembab. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menghapus air matamu selamanya? Aku tidak tega melihatmu seperti ini!" kata Rangga kembali menatap kedua mata yang menyiratkan kesedihan. Dia tidak tahu penyebab pertengkaran gadis ini dengan kakaknya. Apakah mungkin karena Rara selalu pergi bersamanya? Tapi apa masalahnya jika Rara selalu bersamanya? mengingat orang tua mereka sahabat karib sudah seperti saudara. Dan Ryu juga tahu hal itu.
Rara tertawa kecil
"Kamu romantis banget tahu nggak? Sepertinya kamu memang terbiasa berkata seperti ini sebelumnya." katanya untuk mengalihkan pembicaraan Rangga.
Rangga kembali membuang nafas panjang.
"Ra, sama seperti orang tua kita yang saling mempercayai satu sama lain, jujur tak menyembunyikan apapun, saling terbuka, saling berbagi masalah, merasakan suka dan duka bersama, tertawa sedih bersama, bisakah kita juga seperti mereka?" tanyanya menatap wajah Rara.
Rara terdiam mendengarnya. Dia menatap wajah Rangga tanpa berkedip. Tiba tiba dia tertawa kecil. Seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapan pri ini.
"Memangnya apa yang haru ku bagi padamu? Aku baik baik saja kok!" kata Rara tersenyum.
"Udah deh Ra, jujur saja apa yang kau rasakan? Aku gak tega lihat kamu tertekan menahan kesedihan. Meski kamu sembunyikan aku bisa tahu dan ikut merasakan." kata Rangga kembali merasakan ada kesedihan dari gelak tawa yang di buat buat itu.
"Aku baik baik saja Ga... Kamu gak lihat aku lagi senang begini?" kata Rara melihat wajah Rangga dengan memasang senyum di wajah.
"Bohong! Kamu sudah pintar berbohong. Kamu pembohong Rai Rara....!"
"Nggak....kamu kok ngomong gitu?" Rara geleng geleng kepala.
__ADS_1
"Memang benar kamu seorang Pembohong. Rai Rara seorang pembohong." kata Rangga dengan suara meninggi.
"Nggak....!" Rara teriak keras seraya berdiri. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Pembohong... kamu seorang pembohong." kata Rangga kembali sambil menatap tajam.
Lalu dia melihat kepada orang orang yang lalu lalang di depan mereka. "Hay kalian.... lihatlah gadis ini. Dia seorang pembohong, pembohong besar!" teriak Rangga sedikit keras.
"Tidak....! tidak....tidak." kata Rara dengan suara terisak. Air matanya jatuh.
Rangga segera memeluknya. Rara semakin terisak. Rangga juga semakin memeluk kuat memberi ketenangan.
Sebuah tangan terkepal kuat melihat apa yang mereka lakukan. Rahang mengeras, sorotan mata menyala memancarkan kemarahan karena tersulut api cemburu.
"Menangislah jangan di tahan. Menangislah lebih keras jika itu membuat lebih baik, membuat hatimu tenang, menghilangkan kesedihanmu!" kata Rangga membelai rambut dan punggung Rara lembut. Dia ikut merasakan kesedihan gadis ini meski dia tidak tahu apa penyebabnya. Papa dan mamanya hanya berpesan "Suasana hatinya sedang tidak baik. Hiburlah dia. Dia sangat butuh bahu untuk bersandar, juga dada untuk tempat membagi dan menumpahkan kesedihannya." kata papanya.
Isakan Rara semakin keras. Dia semakin kuat memeluk Rangga untuk menekan kesedihannya. Untung saja wajahnya terbenam di dada Rangga membuat suara tangisnya tidak sampai terdengar oleh orang orang yang lalu lalang. Tapi mereka tahu kalau dirinya lagi menangis dengan melihat sikap Rangga yang menenangkannya. Tapi siapa yang perduli itu? Mereka tak ambil pusing karena sibuk dengan urusannya. Kecuali hanya Ryu yang terus memperhatikan mereka dari jarak beberapa meter sambil menahan kemarahan. Keduanya tidak menyadari keberadaan Ryu karena dirinya terhalang oleh orang orang yang lalu lalang di berjalan di depannya.
Ryu yang saat itu sedang berjalan bersama Anggi menemani wanita itu atas permintaan Rara tadi pagi. Tidak sengaja melihat keduanya berada di alun-alun. Ryu mengikuti mereka dan tanpa sadar meninggalkan Anggi yang sedang asik menikmati pertunjukan. Ryu melihat semua apa yang di lakukan Rangga pada Rara. Dan itu membuat darahnya semakin mendidih.
Seharusnya dia yang di sana menenangkan Khanza, memberikan bahu untuk tempat bersandar melepas kesedihan gadis.
Ryu tidak tahan melihat kedekatan itu. Amarah, cemburu, sedih dan kecewa bercampur jadi satu di rasakan saat ini.
******
Terimakasih bagi yang sudah mampir.
Tinggalkan jejak dukungan ya....
Like, komen, dan hadiah seikhlasnya....🙏
__ADS_1
Biar emak tambah semangat nge' halu 😘