
Ryu yang melihat Khanza berada dalam pelukan lelaki lain merasa cemburu. Darahnya terasa mendidih.
Dia mendekat dan menarik tubuh Khanza. Tapi dengan cepat Dion menepis kuat tangannya seraya mundur.
"Lepaskan dia." sentak Ryu keras menatap tajam. Tentu saja Dion tidak mau melakukan hal itu. Melihat kemarahan di wajah Ryu. Dia mengira Ryu penyebab ketakutan dan kesedihan Khanza. Ryu telah berbuat buruk pada Khanza.
Sementara Rara semakin memeluk erat pada Dion tak mau melihat wajah Ryu.
"Khanza....!" Ryu kembali meraih tubuh Khanza.
"Rara gak mau! Jangan dekat dekat Rara!" kata Rara terisak semakin menyembunyikan wajahnya di dada dion.
"Anda dengar? Gadis itu tidak mau anda sentuh. Jadi jangan menyentuhnya." kata Dion tegas menatap tajam.
Ryu tidak perduli dengan ucapan Dion. Rasa cemburu semakin menguasai dirinya. Melihat Khanza semakin kuat memeluk Dion. Apa Khanza mengenal pria ini? ada hubungan apa di antara mereka hingga Khanza berani memeluk seperti ini dan meminta perlindungan?
Dia menarik tubuh Khanza dengan kuat hingga lepas dari Dion. Rara dan Dion kaget. Ryu segera memeluk tubuh Khanza.
"Lepas.... Rara gak mau. Lepaskan Rara!" Rara berusaha melepaskan diri. Dion yang tidak terima melihat Khanza di paksa seperti itu mendekat dan melayangkan bogem keras ke wajah Ryu, lalu menarik tubuh Khanza kembali.
"Dasar bajingan. Pria macam apa kau? memperlakukan wanita sekasar ini? Dia hanya seorang gadis kecil. Kau tega menyakitinya?" sentak Dion menunjuk kuat pada Ryu.
Kegaduhan itu menarik perhatian Caroline dan beberapa karyawan yang melihat adegan perkelahian itu.
Ryu memegang bibirnya yang pecah, menatap sinis pada Dion. Sorot matanya memancarkan kemarahan dan kecemburuan.
"Aku batalkan niatku ke sini. Aku tidak mau bekerjasama sama dengan pria bejat seperti dirimu." kata Dion kembali.
Ryu tidak perduli dengan kata kata Dion. Dia kembali ingin mengambil Khanza.
"Dek, maafkan kakak. Kakak tidak bermaksud seperti itu. Kakak tidak sadar melakukannya.
Maaf telah membuat mu takut. Kakak mohon! Jangan seperti ini."
__ADS_1
"Maaf tuan Dionel Alkas. Anda salah faham. Nona Khanza adalah adik tuan Ryu." Simon angkat bicara.
"Adik katamu? Salah faham? Aku tahu kakak kakaknya Khanza. Apa kalian ingin membohongi aku?" kata Dion menatap tajam pada Simon.
"Nona Khanza adik sepupu tuan Ryu. Sebaiknya anda jangan ikut campur urusan mereka!" kata Simon kembali.
Dion mendengus kasar. Dia tersenyum sinis.
"Kau pikir aku akan diam melihat Khanza mengalami tindak kekerasan dari orang brengsek seperti pimpinan mu ini? Aku tidak percaya meski kau katakan Khanza adik kandung atau adik sepupu bosmu ini! Karena aku sangat tahu siapa keluarga Khanza." katanya menunjuk Simon.
"Apa anda mengenal Nona Khanza?" tanya Simon.
"Bukan hanya kenal. Tapi dia juga adalah kerabat ku! Aku akan menghubungi pihak kepolisian dan meminta mereka untuk menelusuri tindak kekerasan yang kau lakukan pada keponakan ku. Aku tidak akan melepasmu begitu saja tuan Ryu Deva Mayandra!" kata Dion penuh tekanan menatap tajam pada Simon dan Ryu bergantian.
Rara terkejut mendengar kata polisi. Dion akan melaporkan kakaknya ke pihak berwajib atas apa yang terjadi pada mereka? Rara tidak mau hal itu terjadi. Karena yang terjadi adalah sesuatu yang pribadi antara dia dan Ryu. Polisi atau pun orang lain tidak perlu tahu. Rara ingin berkata tapi Dion mengajaknya pergi.
"Ayo sayang, kita pergi. Om akan membawa mu ke rumah Om. Om akan segera menghubungi tuan Rafa, papa mu!" kata Dion kembali. Dia memeluk bahu Khanza dan berbalik hendak melangkah.
"Tunggu tuan Dionel Alkas." kata Ryu segera. Dengan menyebut nama Daddynya berarti pria ini benar kenal dengan Khanza.
"Iya om, kak Ryu benar. Dia adalah kakak Rara. Om tidak perlu melaporkannya ke polisi." pungkas Rara pelan tanpa berani menatap wajah Ryu.
Ryu sedikit lega mendengar Khanza membelanya.
"Jika anda memang kenal dekat dengan Daddy Rafa, tentu anda tahu diriku. Aku Sahreza Gracio!" katanya seraya menatap wajah Dion.
"Sahreza Gracio? Putra sulung Nyonya Nesa Saputri?" tanya Dion menatap dalam dalam wajah Ryu.
20 menit berlalu.
Ketiganya duduk di sofa, diam tanpa suara. Sementara Simon berdiri di belakang tuannya.
Rara duduk bersandar di lengan Dion. Keadaan Rara mulai tenang. Dion tak berhenti mengelus lengannya memberi ketenangan. Sementara Ryu duduk di sofa tunggal. Dia tak bergeming menatap Khanza. Sesekali melihat pada Dion.
__ADS_1
Dia tidak menyangka kalau Dion adalah papanya Rangga. Dan merupakan partner bisnis Daddy nya. Istrinya sahabat karib Antenya, Ara.
Ryu mengusap wajarnya kasar. Dia kembali melihat pada Khanza. Seharusnya dia bisa mengontrol dirinya tadi. Tak menuruti keinginan rindunya yang menggebu-gebu pada Khanza. Perlahan dia mendekati Khanza dan duduk di sebelahnya. Rara merapatkan duduknya semakin dekat pada Dion dan memeluk lengan pria itu. Ryu batal mendekati. Dia mendesah sedih melihat apa yang di lakukan, tidak mau di sentuh olehnya. Sepertinya Khanza masih takut padanya.
Sementara Dion segera memberi isyarat pada Ryu untuk menjauh dan jangan dulu dekat dan berbicara dengan Khanza. Dion sendiri bingung dengan sikap mereka. Entah apa yang telah terjadi di antara mereka. Apa yang di lakukan Ryu hingga Khanza takut padanya.
"Om, Rara mau pulang." kata Rara.
"Rara mau pulang? baiklah, Om akan antar!" kata Dion seraya melihat pada Ryu.
"Rara mau ke rumah Om dan tante Cindy!"
"Baik sayang. Kita akan ke rumah Om!"
Ryu membuang nafas berat kesedihan mendengar ucapan Khanza.
"Dek.....biar kakak antar ya?"
Rara menggeleng.
Dion segera menggelengkan kepala pada Ryu untuk membiarkan Khanza ikut bersamanya. Lalu mengajak Rara bangkit berdiri.
"Khanza, maafkan kakak! Kakak menyayangimu!" ucap Ryu.
Rara terus diam. Dion segera membawanya keluar. Dan Ryu hanya bisa menatap kepergiannya mereka dengan rasa sesal dan bersalah.
Kejadian tadi langsung masuk ke ponsel Anggi. Seorang karyawan mengirimkan video rekaman yang telah di ambil diam diam. Rekaman video perdebatan dan perkelahian Ryu dan Simon memperebutkan Khanza.
Dalam perjalanan, Dion mendapat pesan masuk dari Ryu. Meminta merahasiakan kejadian tadi pada Rafa.
"Kau pikir tuan Rafa tidak akan tahu hal ini? Meski kita tidak memberi tahu tapi aku yakin tuan Rafa akan mengetahuinya!" batin Dion. Dia yang sudah tahu sepak terjang Rafa di dunia bisnis dan juga di dunia mafia. Kekuasaan dan juga pengaruhnya. Mata dan telinganya tersebar di semua tempat. Bukan hanya di tanah air tapi juga di luar negeri.
****
__ADS_1
Alhamdulillah, Mak senang bisa menyelesaikan tiga episode hari ini....Tak bosan author meminta dukungan para reader untuk Khanza Gracio. Tinggalkan like,komen, hadiah ya.....
Dan masukan ke favorit bagi yang baru mampir. Terimakasih 🙏😘