Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
16. Insiden buruk


__ADS_3

Beruntung bagi Ryu, masih ada celah sedikit untuk telunjuknya masuk membuat pintu lift terbuka kembali. Terlambat sedetik saja dia tidak akan melihat Rara.


Ryu segera masuk kedalam dengan nafas memburu cepat. Dia terkejut melihat pemandangan di dalam. Tubuh Khanza di bekuk. Mulutnya juga di bekap. Keadaan adiknya itu kacau berantakan. Rara yang hanya memakai pakaian tidur pendek, membuat tubuh bagian bawahnya terlihat.


Mata elang Ryu memperhatikan ke lima pria dengan tampang kasar wajah sangar menatap beringas padanya. Tubuh besar, tinggi kekar berotot. Tiga kulit hitam, Dua kulit putih, pakaian hitam coklat di lapisi jaket tebal.


Khanza berontak dalam bekapan sala seorang di antara mereka.


"Tuan, tolong Rara....! Tolong. Rara takut." berusaha bicara. Wajahnya pucat ketakutan, tubuh gemetaran.


"Papa, papa, papa.... tolong Rara!" teriaknya keras memanggil Rafa sambil menangis.


"Rara, tenanglah..... jangan takut... jangan takut! Kamu tidak sendiri dek, ada kakak di sini! Kamu tenang ya?" Ryu berusaha menenangkan melihat ketakutannya.


Tiga orang di antara mereka maju mendekati Ryu. Ryu mundur selangkah sambil merenggangkan otot dan sendinya. Dia sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ryu tidak akan bertanya lagi siapa kelima pria ini, sudah pasti orang jahat. Dan entah kenapa mereka melakukan ini pada Khanza.


"Rara, tutup matamu. Jangan di buka sebelum kakak menyuruhmu. Apapun yang akan kau dengar nanti jangan di buka. Cepat lakukan!" perintahnya pada Rara.


Rara segera mengikuti perkataannya meski tidak mengerti untuk apa. Dia juga tidak mau membangkang. Karena hanya pria ini yang bersama dirinya sekarang. Orang yang di harapkan bisa melindungi dan melepaskannya dari kelima pria jahat ini.


Rara segera memejamkan mata.


Ryu melepas kimono tidurnya.Terpampang lah tubuh kekarnya yang berotot.


Dengan gerakan cepat dia melempar pakaian tersebut pada tiga orang di depannya. Lalu bergerak cepat melayang kan pukulan keras ke arah tempurung ketiganya dengan gerakan cepat, titik rentan yang bisa menyebabkan cidera parah bahkan kematian.


9 tahun lalu saat dia duduk di bangku kelas tiga SMP, dia mulai memperdalam ilmu bela dirinya yang sejak kecil dulu di gelutinya. Insiden penculikan yang terjadi pada tantenya Ara, neneknya, dia dan juga Cia adiknya mengajarkan dirinya betapa pentingnya membekali diri dengan ilmu beladiri untuk menghadapi orang-orang jahat, kejam dan juga kerasnya dunia ini.

__ADS_1


Dengan bimbingan, ajaran Rafa dan Wisnu yang selalu melatihnya. Dia belajar berbagai jenis jenis ilmu bela diri dengan tekun dan giat.


5 menit berlalu, terdengar pekikan tertahan dari mulut salah satu pria asing ketika merasakan pukulan ke rahang dagunya. Selanjutnya dia tumbang ketika Ryu memutar kuat kepalanya. Tubuh pria itu jatuh tersungkur bawah, bergabung bersama rekannya yang sudah tumbang duluan. Beberapa senjata tajam berserakan. Juga darah dari musuh yang mengenai dinding lift dan lantai ubin.


Ryu mengatur nafasnya yang memburu cepat tak beraturan. Melap darah dan keringat ditubuhnya, lalu memungut kimono tidurnya dan di pakai. Dia terkena sabetan pisau pada perut juga punggung karena sempitnya ruang untuk bergerak melakukan perlawanan. Di tambah lagi dia harus bergerak cepat untuk melindungi Rara.


Bersyukurlah dia, karena gadis itu tidak terluka sedikitpun. Karena hal yang di takutkan bukan dirinya, tapi pada Rara. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya itu.


Ryu melihat Rara yang menggigil gemetar menangis di sudut lift. Gadis itu patuh pada perintahnya, terus memejamkan mata meski berulangkali teriak teriak histeris akibat mendengar jeritan pekikan. Dia memanggil manggil Ryu untuk memastikan apa Ryu baik baik saja.


Seandainya Rara melihat pertarungan mereka, sudah pasti gadis itu pingsan sejak tadi. Karena dia menyerang ke lima orang tadi dengan brutal, kejam dan sadis, pukulan pukulan mematikan yang langsung menyebabkan mereka roboh, pingsan, atau mungkin saja ada yang mati di antara mereka.


Pintu lift terbuka. Di luar sudah menunggu petugas keamanan yang mendapat laporan kejadian itu. Beberapa orang melapor ketika melihat adegan pertarungan yang terjadi saat lift terbuka dan membuat mereka batal masuk.


Ryu segera mendekati Rara dan perlahan mengangkat tubuhnya, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya agar tidak melihat tubuh yang tergeletak di bawah.


"Iya dek, ini kakak! Semua baik baik saja. Khanza tidak perlu takut lagi." Ryu membawanya keluar dan masuk ke lift lain untuk membawa mereka ke kamar Rara.


Selanjutnya Rara di periksa oleh dokter yang di datangkan Ryu untuk memeriksa kondisi kejiwaannya. Mengingat gadis itu belum dapat menghilangkan rasa takut akibat trauma dengan apa yang menimpanya. Untuk menenangkan Rara, dokter memberinya suntikan penenang yang membuatnya tertidur.


Dokter juga mengobati luka Ryu. Ryu menolak ke rumah sakit karena tidak ingin meninggalkan Rara yang tidur sendiri tanpa ada menemani. Dokter melakukan operasi kecil di kamarnya dengan menjahit luka di perut dan punggungnya. Untung saja luka itu tidak terlalu dalam, tapi kata dokter tetap harus di jahit agar tidak infeksi.


Dua jam berlalu Rara masih tertidur.


Simon yang sudah mendapat kan informasi tentang ke lima pria itu segera datang melapor.


Penyerangan yang di lakukan pada Rara memang sengaja di lakukan. Mereka di perintahkan untuk menculik Rara yang telah mereka ikut dari Belanda. Mereka ingin menculik Rara karena mengetahui kalau gadis itu adalah harta yang paling berharga milik Rafa. Dan tentunya otak dalang penculik kan itu adalah musuh bisnis Rafa. Ryu mengira kejadian ini adalah ulah dari kelompok mafia.

__ADS_1


"Tapi Siapa musuh bisnis Daddy yang melakukan hal itu?" ucapnya dengan dahi mengerut.


"Saya masih menyelidikinya tuan. Secepatnya saya akan dapatkan!" kata Simon.


Ryu membuang nafas panjang.


"Sepertinya Khanza tidak bisa tinggal di sini lagi! Para musuh Daddy banyak yang mengintainya karena sudah mengetahui keberadaannya di Eropa." ucapnya seraya menatap pada Khanza yang masih tertidur.


Hanya lewat Rara mereka bisa balas dendam pada Rafa. Karena Rara adalah kelemahan Daddy nya. Lepasnya Rara dari tanah air dan pergi keluar negeri menjadi kesempatan mereka untuk membalas dendam pada Rafa. Karena banyak pebisnis yang memusuhi Rafa yang selalu menggagalkan usaha bisnis kotor mereka. Rafa di duga bekerja sama dengan pihak pemerintah dalam memberantas bisnis ilegal dan juga semacamnya.


"Hubungi paman Wisnu dan tuan Azham. Katakan kejadian yang menimpa Khanza. Mereka pasti tahu siapa dalangnya. Dan minta mereka untuk tidak menyampaikan kejadian buruk ini pada Daddy dan tante Ara. Aku tidak ingin mereka cemas!"


"Baik tuan!" Simon segera pamit diri.


"Simon....." panggil Ryu kembali.


Pria itu menghentikan langkah dan kembali berbalik.


"Ya tuan....!"


"Juga beri tahu ketiga putra Daddy..... Riez Ryan dan Raka." Ryu berpikir ketiga putra Daddy nya itu harus tahu kejadian buruk yang terjadi pada Rara.


"Baik tuan." Simon kembali pamit.


Ryu melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di bibir ranjang. Dia menyingkap beberapa helai rambut di pipi Rara. Gadis remaja itu tertidur lelap dengan dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.


"Kakak tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti mu!" ucapnya pelan mengelus lembut pipi mulus Khanza.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2