Khanza & Gracio

Khanza & Gracio
55. Rara di culik


__ADS_3

Untuk menghilangkan kesedihannya, Rara ingin keluar menenangkan diri sekaligus menghibur diri. Di pintu keluar dia di hentikan oleh Ratih.


"Nona mau ke mana? biar saya temani." Ratih menawarkan untuk menemani.


"Tidak perlu. Ibu lanjutkan saja pekerjaan. Rara pergi sendiri saja."


"Nona tidak perlu khawatir dengan pekerjaan rumah. Ada banyak pelayan di sini. Tugas utama saya menjaga nona selama tuan Ryu tidak berada di rumah."


"Rara ingin sendiri, tidak ingin di temani." menatap Ratih agar wanita itu mengerti dengan keinginannya untuk menyendiri.


Ratih membuang nafas berat. Dia tahu suasana hati Khanza tidak baik. Gadis ini butuh hiburan. Tapi dia tidak mau membiarkan adik tuannya pergi sendiri dengan alasan keselamatan. Mengingat kejadian yang terjadi di Belanda waktu itu. Apalagi saat ini Ryu tidak berada di rumah, tidak menemani Khanza. Tuan mereka sudah berpesan untuk menjaga Khanza sebaik-baiknya.


"Rara permisi dulu." pamit Rara.


"Nona, mohon izinkan saya menemani anda. Tuan Ryu sudah memberi pesan dan perintah untuk menjaga Nona dengan baik. Nona masih ingat kejadian di hotel Khanza di Belanda? Tuan Ryu tidak ingin terjadi hal buruk seperti itu lagi pada Nona. Tolong jangan menolak keinginan saya!" pinta Ratih.


Rara menghela nafas. Dia mengerti alasan Ratih ingin menemaninya. Tugas dan tanggung jawab yang di berikan kakaknya ke pada kepala pelayan ini. Dan jika terjadi sesuatu pada dirinya, sudah pasti Ratih yang akan di minta pertanggungjawaban dan kena imbasnya. Rara tidak mau hal itu terjadi pada Ratih. Tapi dia ingin sendiri saat ini. Tak ingin ada yang melihat dia sedih dan menangis.


"Saya hanya keluar di sekitar kompleks sini kok buk. Gak jauh." katanya kemudian.


"Tetap saja harus ada yang menemani nona." Ratih terus bersikeras.


"Ibu jangan khawatir, tidak akan terjadi sesuatu pada Rara. Dan jika itu terjadi, Rara akan segera menghubungi ibu." meyakinkan Ratih.


"Baiklah nona. Saya akan menghubungi tuan Simon dulu!" Ratih mengalah.


"Jangan buk, nanti kak Cio tidak akan mengizinkan. Tolong jangan memberi tahu dirinya dan juga kak Cio. Nanti Rara sendiri yang akan mengatakan pada kak Cio. Ibu jangan khawatir." kata Rara seraya berjalan ke luar dari pintu utama. Ratih segera berlari untuk mengambil mobil.


"Rara ingin jalan kaki. Gak butuh mobil!" kata Rara.


"Tapi nanti kaki nona sakit."


"Rara hanya ingin jalan jalan di kawasan sini, gak pergi jauh kok!" kata Rara kembali berjalan. Ratih membuang nafas berat. Lalu mengikuti dari belakang. Mengantar sampai di pintu gerbang.


"Hati hati ya non?" pesannya penuh kekhawatiran.


Rara mengangguk. Dia keluar dari pintu gerbang.


Ratih memberi isyarat pada penjaga keamanan untuk mengikuti Khanza diam diam.


Juga pada beberapa orang anak buah Ryu yang di tugaskan menjaga kediamannya dari luar.

__ADS_1


Rara berjalan menelusuri trotoar berbaur bersama para pengguna lainnya. Langkahnya sangat lambat karena pikirannya melamun pada pembicaraan dirinya dengan Anggi tadi. Kata kata Anggi yang terus menyalahkan dirinya atas retaknya hubungan mereka. Karena kedekatan dirinya dan Ryu yang terlalu berlebihan, tidak wajar mereka lakukan. Rara teringat pada pelukan dan ciuman yang sering di lakukannya bersama Ryu. Apa benar itu tidak pantas mereka lakukan? Apa itu sudah berlebihan? Dan benarkah Ryu menyukainya? Masa iya Ryu menyukainya. Pelukan serta ciuman seperti sudah menjadi kebiasaan yang mereka lakukan dari kecil.


Langkahnya tiba tiba melambat dan berhenti. Pikirannya melayang pada ciuman yang Ryu lakukan di ruang kerja kantor. Juga ciuman yang di lakukan Ryu saat di pengaruhi obat perangsang malam itu. Ciuman itu di rasakan lain tidak seperti biasa mereka lakukan. Dia ingat Ryu tak segan-segan menghisap bibirnya, juga menggunakan lidahnya. Ciuman yang menyiratkan ungkapkan perasaan. Menyalurkan emosi dan perasaan yang di rasakan.


Rara mendesah sedih. Sementara dia melakukan ciuman hanya sekedar kecupan di bibir Cio. Rara tersadar, pikirannya terbuka setelah menyadari ciuman yang di lakukan Cio padanya memang berlebihan dan mengandung arti lain.


"Mungkin kah yang di katakan kak Anggi dan tante Cindy benar? kak Cio mencintai Rara? Ciuman yang di lakukannya untuk menunjukkan perasaannya pada Rara?" gumamnya.


Pikirannya kembali melayang pada tato Cio yang tertulis namanya. Terlalu berlebihan rasanya Cio mengukir indah namanya di dada Cio.


"Nama mu sudah terukir di jantung kakak sejak kakak masuk SMA. Biar kakak terus mengingat mu. Kamu selalu ada di hati kakak." kata Cio.


"Kita akan bersama selamanya, tak kan terpisah!" kata Cio.


"Kakak tidak akan sanggup berpisah dari kamu. Jangan pergi dan tinggalkan kakak!" kata Cio.


"Khanza penyemangat, inspirasi dan motivasi kakak dalam bekerja hingga sukses seperti sekarang ini. Semua yang kakak lakukan hanya untuk Khanza!" kata Cio.


"Kamu wanita tercantik di mata kakak!" kata Cio.


Semua yang di katakan Cio itu terngiang di telinganya. Belum lagi beberapa properti milik Cio di beri atas namanya.


"Artinya selama ini kak Ryu mencintai Rara dalam diam? Dan dia memendamnya, menyembunyikan selama ini tak berani mengungkapkan pada Rara?" ucap Rara lirih. Dia terduduk pada kursi pedestrian.


Rara terkejut. Dia mendongak keatas melihat wajah sangar keduanya. "Siapa kalian?" kata Rara melihat pada mereka bergantian. Wajah sedihnya langsung hilang berganti ketakutan.


"Diam dan Jangan berisik." bisik salah seorang di antara mereka dengan sorotan tajam melihat Rara hendak berteriak dan melakukan perlawanan. Orang itu menempelkan pisau ke leher bagian kanan Rara yang tertutup rambut panjangnya. Rara bergidik semakin ketakutan.


Orang orang Ryu yang melihat dari jauh berlari cepat mendekat mereka.


"Berdiri cepat!" menarik lengan Rara dan semakin menekan pisau.


Perlahan lahan Rara berdiri begitu mendapat isyarat dari keduanya yang menyuruhnya untuk berdiri. Tubuhnya sudah gemetaran, wajah pucat.


Keduanya langsung memegang lengan Rara dan menyeretnya cepat ke dalam mobil. Begitu masuk, mobil langsung bergerak meluncur cepat. Orang orang Ryu terlambat dan mengejar mobil dari belakang. Dua orang menghadang dari depan. Mobil menabrak mereka dan kembali melaju kencang. Keduanya terpental ke jalan raya. Arus lalu lintas jadi kalau. Bunyi klakson terdengar bersahutan karena kemacetan.


.


.


Rumah sakit.

__ADS_1


Ryu terbangun sejam lalu saat Ratih menghubunginya memberi tahu kepergian Rara yang ingin keluar rumah. Dan itu membuatnya gelisah tidak tenang. Dia berbaring lemah sambil menatap Simon. Keduanya sementara membicarakan sesuatu penting kejadian di masa lalu.


"Kau sudah mendapatkannya?" tanya Ryu lemah.


"Sudah tuan. Mereka bersembunyi di suatu tempat. Orang orang kita terus mengintai tempat tinggal mereka!"


"Jangan sampai mereka curiga."


"Anda tidak perlu khawatir!"


"Terus bagaimana dengan para mafia yang menyerang ku?"


"Kami terus menginterogasi. Pimpinan mereka tetap bungkam. Tapi saya curiga mereka orang orang suruhan dari pimpinan perusahaan X."


Wajah Ryu mengernyit.


"Maksud mu Robinson?"


"Benar tuan. Sepertinya dia tidak terima setelah anda menyebarkan usaha usaha bisnis kotornya. Karena itu berdampak buruk pada perusahaannya. Beberapa perusahaan memutus kontrak kerja dengannya." ujar Simon.


Ryu tersenyum menyeringai. Robinson adalah ayah Boby mantan pacar Cia yang melakukan pelecehan seksual pada adiknya sewaktu di bali dan hampir memperkosa Cia di hotel.


Sebagai balasan dari kebejatan yang di lakukan Boby, dia memutuskan hubungan kerja sama dengan Robinson. Juga menyebarluaskan usaha usaha bisnis kotor Robinson ke beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan Robinson. Lalu memasukkan Boby ke dalam penjara dengan tuduhan pemerkosaan.


Telepon Simon berdering. Dia segera mengangkatnya. Wajahnya langsung berubah tegang. Dia melihat pada Ryu.


"Ada apa?" melihat wajah gelisah Simon.


Simon diam. Dia semakin tegang.


"Ada apa? telepon dari siapa? katakan." sentak Ryu lemah menatap tajam.


"Ibu Ratih."


"Apa Katanya?"


"Tuan....nona muda.... !"


"Khanza? ada apa dengannya?"


"Nona muda di culik!"

__ADS_1


*****


__ADS_2