
Sejam berlalu.
Ketukan pintu terdengar berulang, di selingi bel berbunyi. Rara menggeliat di tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Tapi dia tidak bisa tidur. Berulangkali memejamkan mata tapi rasa ngantuk tak kunjung datang menyerang. Karena kepikiran nyanyian Ryu di atas panggung tadi, serta pernyataannya betapa sayangnya dia pada adik kecilnya yang bernama Khanza. Nama seperti namanya yang di berikan Cio, Kakaknya. Sungguh dia merasa iri dengan Khanza adiknya Ryu itu. Jauh tapi selalu di rindukan Ryu. Selalu tersimpan di dalam hatinya.
Bel dan ketukan kembali terdengar. Rara segera bangun, memperbaiki baju tidurnya berbentuk tank top, celana pendek sepaha. Juga merapikan asalan rambut panjangnya yang tergerai berantakan. Menekan ke dua matanya yang basah. Lalu segera turun dari ranjang melangkah lemah mendekati pintu.
"Kenapa gak di buka aja?" gumamnya mengira Yuri yang mengetuk. Karena wanita itu belum pulang.
Rara segera membuka pintu. Rara kaget melihat siapa orang yang berdiri di depannya.
Wajahnya mengernyit menatap pria yang merupakan tetangganya.
Ryu.... pria yang baru saja mengisi pikirannya tadi, hingga membuatnya tak bisa tidur. Pria ini memakai kimono tidur berwarna putih gading sebatas betis.
"Halo tetanggaku yang manis." sapa Cio tersenyum manis. Berdiri tepat di pintu. Memperhatikan keadaan Rara yang kusut.
Wajah Rara kembali berubah mendung melihatnya.
"Anda....?"
"Iya tetangga, Ini aku. Kau belum lupa kan padaku?"
"Bukannya anda di acara pernikahan?"
"Acaranya sudah selesai. Apa aku mengganggu?" tanya Cio terus menatapnya. Memperhatikan pakaian tidur Rara yang agak terbuka, sehingga kulit putih mulusnya terlihat.
Rara menggeleng lemah dengan mimik wajah sedih.
"Sepertinya kau belum tidur?"
Rara mengangguk lemah.
Malas ngomong.
Cio tahu kalau adiknya ini baru selesai menangis dapat di lihat dari matanya yang merah dan basah.
"Maafkan kakak Khanza, karena banyak membuatmu sedih dan menangis!" batin Cio ikutan sedih melihat wajah sembab gadis ini.
Wajah kusut kayak kain yang belum di setrika, tapi untungnya ayu dan manis. Rambutnya yang tergerai acak acakan, wangi tercium oleh hidung mancungnya.
Cio kembali mengulas senyum.
"Kebetulan aku juga tak bisa tidur. Terus aku tiba-tiba teringat tetangga baruku, yaitu kamu. Entah kenapa aku merasa kalau kamu itu belum tidur. Makanya aku ke sini, dan ternyata dugaan ku benar, kau memang belum tidur. Kau tidak keberatan kan aku bertamu tengah malam begini?" ujar Cio tersenyum menatap wajah Rara lekat.
"Apa nama anda benar Ryu?" tanya Khanza beralih topik.
Senyum di wajah Cio langsung redup. Keduanya saling menatap dengan perasaan masing-masing, perasaan sedih tentunya.
Perlahan Cio mengangguk.
"Iya, Namaku Ryu.... Ryu Deva Mayandra." katanya pelan. Ingin sekali dia mengatakan bahwa dia adalah Sahreza Gracio, tapi takut Rara akan semakin marah dan membencinya.
Rara mengeluh sedih. Namanya Ryu Deva Mayandra, bukan Sahreza Gracio.
"Rara, Gak perlu berharap pria ini adalah Gracio." batin Rara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Oh ya, apa kau menginap sendiri di sini?" Ryu melihat ke dalam untuk mengalihkan kesedihan Rara.
"Berdua sama teman ku! Tapi dia masih keluar." jawab Rara.
"Oh gitu. Berarti kamu sendiri dong?" reaksi Cio pura pura tidak tahu.
Cio memasukkan kepalanya ke dalam.
"Apa aku boleh masuk? Capek nih berdiri terus. Masa tamu gak di suruh masuk!" meminta.
"Aku kan gak minta anda datang. Anda tuh tamu tak di undang. Jangan berharap bisa masuk. Pergi sana!" usir Rara tegas.
Cio melongo. Lalu tertawa kecil.
"Hey tetangga. Kamu jahat amat sih...cantik cantik tapi sadis. Di udang atau gak, tamu tetap lah tamu. Tamu itu pembawa rezeki lho..... Apalagi niatnya baik untuk menjalin silaturahmi!"
"Bukan seperti itu, aku hanya gak bisa sembarang masukin orang ke dalam. Apalagi udah larut malam begini." kata Rara menatap matanya." Lagian kenapa juga bertamu di tengah malam begini?"
Cio tertawa kecil dengan jawaban polos jujur ini.
"Aku sudah bilang kan tadi bahwa aku orang baik, kenapa masih gak percaya sih?"
"Aku hanya khawatir saja. Kata orang tuaku, gak boleh dekat dekat dan berbicara dengan orang asing." kata Rara.
Cio kembali tertawa.
"Orang tua mu memang benar. Aku pun selalu mengingatkan hal seperti itu pada adikku." menatap Rara.
"Pada adik Anda?" Rara merasa tertarik.
"Anda khawatir orang asing itu adalah penculik anak?" tanya Rara kembali.
"Benar sekali....!" Ryu mengangguk cepat tanpa sadar.
Rara kembali mengeluh sedih.
"Kok bisa sama sih seperti kak Cio?" ucapnya tanpa sadar.
"Apanya yang sama? nyebut siapa tadi?" tanya Cio kembali berpura pura.
Dia menggerutu di dalam hati karena keceplosan menjawab hingga membuat wajah Rara kembali sedih.
"Bukan apa-apa!" kata Rara lirih.
Cio segera tersenyum.
"Oh ya, sepertinya suasana hatimu lagi buruk. Terlihat dari wajahmu yang mendung! Aku mau jadi teman berbagi keluh kesah mu. Katakan, apa yang membuat mu sedih? Apa kau teringat orang tuamu?"
Rara mengangguk.
"Boleh aku bertanya lagi?" kata Cio.
Rara menatapnya. Lalu mengangguk pelan.
"Apa kau punya kakak? Karena tadi kau bertanya siapa nama ku, dan juga adikku,"
__ADS_1
"Iya, punya...." jawab Rara tak bersemangat.
"Kau pun pasti senang kan punya kakak yang menyayangi dirimu?"
Rara mengangguk. Ketiganya kakaknya itu memang menyayanginya. Riez, Ryan, Raka.
Dan..... juga Cio. Tapi sudah tidak lagi.
"Oh ya tetanggaku yang manis. Dari tadi kita ngobrol terus tapi aku belum tahu namamu. Sementara kau sudah tahu namaku! Siapa...!!"
"RAI RARA....anda bisa panggil Rara saja!" jawab Rara segera, memotong ucapannya.
"Ouhh, nama yang manis, seperti orangnya. Tapi kenapa wajah mu sedih gitu? Kau terlihat tak bersemangat. Ada apa? Ayo bagilah padaku. Kau bisa percaya padaku. Anggap aku Kakak mu! dan aku akan menganggap kau adikku." kata Cio kembali tersenyum.
"Kakak?"
"Iya....!" jawab Cio di iringi anggukan.
"Gak ah, kau punya adikmu. Nanti kau akan melupakannya seperti kak Ci......!" ucapan Rara terputus begitu menyadari ucapannya.
"Seperti siapa..?" Cio pura pura bertanya.
"Bukan siapa-siapa. Sebaiknya anda kembali saja!" jawab Rara sendu.
"Lagi lagi kau mengusirku, padahal tujuan ku baik. Aku gak akan pergi ke kamarku. Aku mau di sini untuk menjaga dirimu. Kan katanya tadi temannya lagi keluar? Aku akan temani kamu."
"Ya sudah, berdiri saja terus di situ. Pokoknya gak boleh masuk. Rara mau ke dalam." Rara mundur menatap dengan wajah masam.
"Hey....hei, kok gitu sih....!" kata Cio Cepat menahan tangannya melihat Rara hendak menutup pintu.
"Oke Rara, begini saja, aku ingin bicara dengan orang tuamu!"
Dahi Rara mengerut.
"Bicara dengan papa dan mama?" Rara heran.
Cio mengangguk menatap.
"Untuk apa?"
"Untuk meminta izin pada mereka agar bisa masuk ke tempat mu. Habisnya kamu gak ngizinin aku masuk, dan malah mengusirku. Aku akan meminta izin langsung pada mereka, biar kamu percaya sama aku."
"Apa anda mengenal orang tua ku?"
"Nggak, tapi aku yakin papa mamamu bukan orang sembarangan. Melihat kau menginap di hotel semewah ini. Cepat hubungi, Aku ingin bicara dengan mereka. Siapa tahu saja aku mengenal orang tuamu setelah bicara."
"Nggak, Rara gak mau. Papa dan mama pasti sudah tidur. Nggak sopan ganggu orang tidur."
kata Rara tegas.
"Aku yakin belum. Coba saja." tentu saja Cio tahu karena waktu di Eropa dan Indonesia berbeda sekarang ini, tapi Rara belum menyadarinya.
"Ayo segera hubungi. Ambil ponselmu. Atau pakai ponselku saja?" Cio memaksa sambil mengangkat ponselnya di depan wajah masam Rara.
******
__ADS_1