
Author pov
Siang itu di kantor Bank BCA yang berada di Menteng Jakarta pusat. Seorang OB seperti biasa setiap jam makan siang disuruh untuk membeli kan nasi bungkus di warung biasa oleh atasannya.
Semua karyawan merasa heran seorang Presdir ternama mau makan di warung pinggir jalan.
'' Pai, dimana kamu beli nasi ini?? Tanya Daniel.
'' Maaf tuan masih di tempat yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
Daniel sempat berfikir '' Kalau memang masih di tempat yang sama kenapa sekarang rasanya berbeda??
'' Apa pelayannya masih sama?? Tanya Daniel lagi.
'' Maaf tuan sepertinya pelayan yang lama sudah tidak bekerja disitu lagi. Terangnya.
'' Benarkah? apa kamu bisa membantu ku cari tahu tentang nya dan dimana dia tinggal?
Paijo sedikit heran dengan atasannya itu, untuk apa mencari tahu tentang pelayan warung pinggir jalan.
'' Apa kamu bisa membantu ku?? dan jangan bocorkan ke siapa pun juga, ini untuk mu.
Daniel memberi segepok uang pada Paijo.
'' Tuan untuk apa ini?? Sok sok an gak tahu.
'' Itu uang jalannya.
Paijo pun hanya mengangguk.
Seminggu berlalu, sejak Daniel menyuruh Paijo untuk mencari keberadaan tentang Mutia.
Tok tok tok
'' Masuk!!
'' Selamat siang tuan...
'' Oh, kamu rupanya ada informasi apa yang kamu dapat???
'' Ini data-data yang tuan minta. Paijo menyerahkan beberapa lembar kertas ke meja Daniel.
'' Terimakasih kamu boleh keluar.
Daniel membaca laporan yang Paijo beri di atas meja.
__ADS_1
'' Mutia Ramadhani hmm jadi dia dari Kendal. Gumamnya.
Hari ini Mutia sedang dalam perjalanan menggunakan kapal laut.
'' Bang berapa hari nyampainya??
'' 3hari dek. Nih minum obat dulu biar gak mabok laut.
Abangnya memberikan sebutir obat anti mabuk.
---
Setelah tiga hari di tengah laut Mutia dan abangnya sampai di pelabuhan Trisakti Banjarmasin yang kemudian harus menempuh perjalanan lagi sekitar sehari dengan bus untuk menuju kota Samarinda.
Keesokannya bus yang mereka tumpangi sampai di terminal. Mutia mengikuti langkah kaki Abang nya menuju angkutan umum.
Mutia mengikuti ajakan abangnya yang menawarkan akan melanjutkan sekolah nya di kota Samarinda.
Setengah jam kemudian angkot itu berhenti di depan gang.
'' Ayo dek. Seru abangnya Mutia pun menurut.
Mutia pov
Sepanjang jalan menuju rumah abang, banyak yang bertanya siapa aku? dan Abang pun mengenalkan kalau aku ini adiknya dari Jawa.
'' Assalamu'alaikum. Ucapku dan juga abangku.
Seorang perempuan muncul di balik pintu dan setengah tersenyum.
Dari sini aku merasa kakak ipar tidak suka dengan kehadiran ku, terlihat dari raut mukanya yang jutek, tapi aku tetap menyalami dan mencium punggung tangan nya.
'' Dik, ini kamar mu besok abang akan tanyakan syarat-syarat apa saja yang diperlukan untuk kamu masuk sekolah lagi yah.
'' Iya bang terimakasih. Jawabku.
---
Malam pun tiba karena masih terasa lelah aku pun membaringkan tubuhku di atas kasur kecil di kamar ku.
Ketika mataku hampir terpejam aku mendengar suara yang tak begitu kentara seperti sedang bertengkar dengan nada sepelan mungkin.
Karena memang rumah abang ku dari papan mau tak mau aku harus mendengar mereka ribut.
Ya, kakak ipar sedang memarahi abangku.
__ADS_1
---
Pagi hari menjelang sehabis sholat subuh aku duduk sebentar di lantai tempat ku sholat aku bingung harus ngapain karena belum tahu memang harus ngapain.
Terdengar kakak ipar di dapur hendak memasak mungkin, aku lekas keluar.
'' Pagi kak,ada yang bisa aku bantu?? Tanya ku.
'' Nih cuci beras nya habis tuh masak nasi!! Kakak ke warung depan belanja sayur. Ucapnya, aku langsung mengerjakan yang kakak ipar suruh.
Author pov
'' Yun, itu adik suamimu yah?? Tanya ibu yang sedang berbelanja.
'' Iya Bu. Jawab Yuni.
'' Oh iya kemarin aku lihat suami kamu bawa anak gadis.Ucap ibu itu lagi.
Tidak berapa lama Yuni, kakak ipar dari Mutia pun pulang membawa sayuran dan ikan berapa ekor.
Mutia yang melihat kakak ipar nya pulang dari belanja dengan muka ditekuk, membuat Mutia beranggapan kalau kedatangan nya tidak disukai oleh kakak ipar nya.
Selesai memasak Yuni memanggil suaminya untuk keluar dan sarapan bersama.
'' Makan yang banyak dik, biar pikiran nya fresh. Ucap Syarif abangnya Mutia.
'' Iya bang. Ucap Mutia.
Keheningan di meja makan seakan membuat Mutia berfikir gimana ia akan ngomong ke abangnya agar tidak si dengar oleh kakak ipar nya.
'' Mas, bentar lagi aku akan ke rumah Mama. Ucap Yuni.
'' Lho Yun, adik ku kan baru di kota ini apa kamu tidak ingin menemaninya dulu?!
'' Tapi aku udah janji mas sama Mama, o ya aku juga minta uang lagi. Ucap Yuni
'' Tidak apa bang Mutia juga gak apa-apa kok di rumah aja. Ucap Mutia.
'' Tuh adek mas aja bilang gak apa-apa.
Selsei sarapan Mutia langsung membersihkan meja makan dan mencuci piring di dapur. Seakan di dengar doanya Mutia pun menghampiri abangnya.
'' Bang, sepertinya Mutia gak usah lanjut sekolah saja kalau Abang bisa Carikan aja Mutia kerjaan disini?!
'' Kenapa dek? apa yang nanti bapak sama ibu bilang kalau ternyata kamu gak jadi lanjut sekolah??
'' Bapak dan ibu pasti tahu bang dan memakluminya.
__ADS_1
'' Terserah kamu dek, baiklah nanti abang tanyakan pada teman-teman Abang ada tidak kerjaan untuk kamu.