
Sore itu Kamila sedang menyiram bunga di halaman rumahnya yang tak seberapa lebar. Rumah peninggalan kedua orang tuanya selalu ia rawat dengan baik, biarlah orang sekitar tidak menyukai nya asalkan dia tidak pernah merugikan orang lain.
'' Assalamualaikum neng Mila...''
'' Waalaikumsalam, Eh ibu mari silahkan wah ini Alea yah, makin cantik aja.''
'' Iya ini anaknya Syarif, cucu ibu.''
'' Silahkan Bu, wah tumben ada apa yah kemari...?'' Mata Kamila mengedar takut-takut ada tetangganya yang akan berkata-kata pedas.
'' Kenapa neng kok kaya gak suka yah ibu maen ke rumah neng?''
'' Bukan begitu Bu, takut ada tetangga yang gak suka nanti ibu terkena imbasnya.''
'' Sudah gak usah di gubris, biar saja mereka bilang apa tentang kamu tapi ibu gak percaya sama mereka.''
'' Iya Bu, aku heran kok ibu gak terpengaruh sama ucapan orang-orang..?''
'' Iya walaupun ibu tidak tahu cerita yang sebenarnya tapi ibu percaya kok, kalau kamu bukan seperti yang mereka katakan atau mereka gosip kan.''
'' Sampai lupa tunggu sebentar Bu..!'' Kamila masuk ke dalam rumahnya dan keluar membawa dua gelas minum beserta cemilan buatan nya sendiri.''
'' Nuri suka kue gak, nih bibi buatin kue dimakan yah.!'' Gadis kecil itu menerima dengan senang kue pemberian Kamila.
'' Makasih bibi...''
__ADS_1
'' Sama-sama cantik.''
'' O ya neng Mila, kapan-kapan kalau ada waktu maenlah ke tempat ibu, Nuri sangat suka loh kue-kue buatan kamu.''
'' Heee Iya Bu inshaallah, kalau ada waktu.''
Mereka ngobrol sampe menjelang waktu Maghrib dan ibunya Mutia pun pamit pulang dengan menggendong cucunya yang kelelahan.
Rumah Kamila tidak jauh dari rumah Mutia hanya berbeda berapa gang saja, jadi cukup dengan jalan kaki saja.
Malam harinya...
" Anak ayah tadi sore habis di ajak kemana nih sama nenek?" Tanya Syarif basa basi menyapa sang anak.
" Ayah, Nuri tadi kelumah bibi yang bica bikin kue enak itu yah..." Ucap Alea yang masih sedikit cedal dalam berbicara.
" Heeee gak ada" Ucap gadis kecil itu senang.
" Rif, sekali-kali kalau nampak Kamila sapalah dia nak! ibu merestui jika kamu bersatu dengan Kamila.'' Ucap ibu nya di sela-sela makan malam.
'' Iya Bu...'' Jawabnya singkat.
Syarif sedikit memikirkan apa mila akan menerimanya dan juga anaknya jika dia menikahi Mila. Batin Syarif masih bimbang.
Di kediaman Grandma...
__ADS_1
'' Dan, kamu yakin akan bawa Mutia ke Hongkong?''
'' Grandma ini,ya jelaslah kan Mutia udah jadi istri sah aku.''
''Grandma tahu, tapi tolong jaga dan selalu berada disisinya, grandma hanya khawatir kamu lalai menjaga istri sendiri.''
'' Tidak grandma, aku pasti 24jam bareng istriku yang cantik jelita ini.'' Daniel mengelus lembut rambut Mutia yang panjang itu.
'' Sayang jaga diri yah selagi nanti kamu ditinggal kerja oleh si anak uail ini.'' Ucap grandma pada Mutia. Grandma sudah mengetahui kalau anaknya sendiri yang ingin menghancurkan kejayaan milik sang cucu.
'' Grandma sebenarnya ada apa kenapa terlihat khawatir.?'' Tanya Daniel merasa ada yang aneh pada neneknya.
'' Tidak ada, grandma sedih aja mau ditinggal lagi padahal baru sebentar berkumpul.
'' Lain kali kita kan pasti balik grandma, disana paling berapa bulan aja.''
'' Ya sudah terserah kalian saja.''
Selesai makan malam Daniel mengajak Mutia masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
'' Mas, kasihan grandma sepertinya kesepian kalau kita tinggal.'' Mutia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
'' Iya sayang, tapi mas akan lama disana untuk mengurus perusahaan,selama ini Lee yang harus pontang penting kerja sendiri.''
Mutia sudah terlelap dalam dekapan suaminya.
__ADS_1
'' Hmmm sudah tidur rupanya.'' Daniel merebahkan Mutia dengan pelan dan mengecup kening sang istri.
'' Selamat malam sayang...''