
Hingga pukul 2 dini hari Mutia baru bisa memejamkan matanya, tidak biasanya ia tidur selarut ini, pikirannya selalu terruju pada sang suami yang kini jauh di negeri orang.
Mentari mulai mencari celah untuk masuk kedalam kamar yang ditempati Mutia tidur.
'' Ahhh sudah pagi aja rasanya baru tertidur sebentar. '' Gumam Mutia, ia masih malas untuk bangun badannya terasa lemas.
Buru-Buru Mutia bangun, jam 6 lebih ia baru melaksanakan subuhnya yang terlambat.
'' Mas, apa kabar mu disana kenapa pagi ini belum memberi kabar, aku kangen mas. ''
***
Sudah Seminggu sejak kepergian sang suami, Mutia masih bersabar menunggu kepulangannya karena suaminya bilang hanya pergi sebentar.
" Kemana kamu mas, ponselmu tak aktif begitu juga dengan no Lee, pesan-pesannku pu. tak pernah kamu baca. " Mutia selalu berfikiran positif kalau suaminya selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Tringgg....
'' Assalamualaikum Mutia sayang, apa kabarmu nak? kapan kamu pulang nak seminggu lagi acara abangmu nikahan, pulang yah!''
Mutia membaca pesan dari sang ibu, tiba-tiba hatinya menjadi sedih memikirkan keberadaan suaminya yang belum ada kabarnya.
Mutia selalu mengirimkan pesan walaupun tidak satu pun yang di baca oleh Daniel.
__ADS_1
Hari ini Mutia berencana untuk pulang ke Indonesia sendirian dan dia juga sudah mengabari suaminya lewat pesan whatsapp.
'' Mutia kamu yang sabar yah, selalu berdoa semoga Daniel disana baik-baik aja ?''
'' Iya mba Vi, terimakasih sudah mengantarku ke bandara. ''
'' Iya Mutia kamu jaga diri yah. '' Ucap Erna yang ikut mengantar juga.
'' Ya sudah aku masuk dulu. Mba Vi, Erna sekali lagi terimakasih, kalau kalian ingin main-main ke apartemen datang aja udah tau kan pasword nya. ?''
'' Gampang itu, ok lah kamu hati-hati ya. !''
***
Mutia pulang ke kampungnya dengan menaiki bis ia tidak memberi kabar pada grandma karena tidak ingin merepotkan neneknya itu, apalagi setelah tau kalau suaminya belum ada kabar sama sekali.
Hingga ada kernet bus yang menghampiri tempat duduk Mutia dan laki-laki itu.
'' Maaf boleh liat tiketnya?'' Tanya kernet itu.
'' Ini mas. '' Ucap laki-laki disebelah Mutia.
'' Mbak nya ?'' Ucap si mas kernet itu, akhirnya laki-laki disamping Mutia menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
'' Ehhh a-ada ya mas?'' Kagetnya.
'' Maaf ini ada mas kernet minta lihat tiket?'' Ucap laki-laki itu.
'' Ooh, maaf saya tidak dengar. '' Mutia menyerahkan selembar kertas pada sang kernet, setelah diperiksa dan dikembalikan pada Mutia kernet itu berlalu ke tempat duduk yang lain.
'' Hai, namaku Abim, boleh kenalan?'' Tanya laki-laki itu yang bernama Abimanyu, Mutia menoleh dan menjabat uluran tangan Abimanyu.
'' Mutia. '' Ucapnya.
Hingga larut malam bus yang ditumpangi Mutia dan Abimanyu sampai di terminal kota Kendal.
'' Bisakah kita berjumpa lagi di lain waktu?'' Tanya Abimanyu.
'' Aku tidak janji mas, sampai jumpa terimakasih sudah jadi teman dalam perjalanan. ''
'' Sama-sama. '' Abimanyu menatap kepergian Mutia.
Dari emperan terminal Syarif sudah menunggu kedatangan adiknya.
Mutia yang melihat keberadaan sang kakak berlari menghampiri.
'' Mas Syarif.. '' Mutia memeluk sang kakak menumpahkan tangisnya yang sudah ia tahan sejak berhari-hari lalu.
__ADS_1
'' Sudah-sudah kamu yang sabar ya dek, doakan suami kamu disana baik-baik aja. '' Hibur Syarief .