
Ferra memarkirkan mobilnya di depan sebuah klinik yang tak begitu besar tapi sudah ramai pasien hendak berobat.
'' Selamat pagi sus, saya Ferra dan sudah buat janji dengan dokter Anita.
'' Oh mba Ferra langsung saja mba, kebetulan sudah ditunggu diruangan dokter Anita mari saya antar...!
Ferra mengikuti langkah suster yang berjalan di depannya menuju ruangan dokter kandungan.
'' Selamat pagi dokter??'' Sapa Ferra.
'' Selamat pagi mba Ferra silahkan duduk, ada yang bisa Saya bantu?, apa ada keluhan yang serius?'' Tanya sang dokter.
'' Begini dokter....'' Ferra menjelaskan keluhan yang di alaminya.
'' Tanggal berapa terakhir mba Ferra menstruasi??
'' Tidak ingat dok tapi sebulan yang lalu.
'' Baiklah silahkan anda berbaring.!!'' Dokter Anita mengoleskan gel pada perut Ferra.
'' Mba Ferra, lihat ini usia janin dalam kandungan anda baru jalan lima Minggu.
'' Deg... jadi dok sa saya hamil???'' Jedarrrrr.....
Raut muka Ferra tiba-tiba terlihat lesu tapi berusaha tersenyum.
'' Selamat ya mba di jaga betul kehamilannya, nanti saya kasih resep vitamin untuk menguatkan kandungan.
'' Terimakasih dokter..
Selesai dari klinik Ferra melajukan kembali mobilnya membelah jalanan kota pandangan nya kosong memikirkan kehamilannya.
'' Aku harus gimana, apalagi kalau papa tahu aku sedang hamil hiks...'' Gumam Ferra air mata nya perlahan membasahi pipi halusnya.
***
" Sayang Minggu besok ke apartemen yah!, ada yang ingin mas diskusikan, kamu gak ada kegiatan kan?" Bunyi pesan via WhatsApp yang Daniel kirim.
Mutia sedang bersiap-siap akan mengantar sekolah Yeo, seperti biasa pulangnya akan mampir untuk belanja.
__ADS_1
" Hmm...ada pesan dari mas Daniel rupanya." Gumam Mutia, ia sengaja berhenti sebentar dan duduk di bangku taman di lobi apartemen tempat tinggalnya.
" Iya mas, nanti aku usahain kesana dan kebetulan juga gak ada kegiatan." Balasan Mutia untuk Daniel.
Tringg...
Ponsel Mutia kembali ada pesan masuk...
" Sayang, mas kangen..."
" Ishh.... mas ini, besok kan jumpa baru berapa hari yang lalu ketemu." Balasnya lagi.
" Udah ya mas, aku habis belanja dan mau siap-siap untuk masak malam.'' Send.
'' Yahhh...'' Send.
****
Brakkkk....
Bunyi benturan keras menggema seperti ada kejadian hari itu.
Benar saja mobil hitam itu menabrak pembatas jalan depan kap nya mengeluarkan asap.
Tubuh Ferra yang pingsan dibopong menuju ambulans yang sudah dipanggil oleh warga sekitar.
" Apaaaa...., baik kami akan kesana."
" Siapa yang telepon mam..?" Tanya sang papa terkejut mendengar teriakan istrinya.
" Pah, Ferra pah, Ferra kecelakaan.." Ucapnya terbata.
Papa dan Mama Ferra yang masih berada di luar kota pun segera pulang.
***
" Bi, apa papa Mama sudah pulang?" Tanya Ferra yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
" Belum non, mungkin malam baru tiba disini."
__ADS_1
" Bi, aku takut, papa Mama pasti akan mengusirku...hiks." Ferra terlihat sangat menyedihkan.
" Non tenang yah, semoga ada jalan keluarnya."
Malam pun tiba kedua orang tua Ferra sampai di rumah sakit.
" Sayang kenapa bisa terjadi, apa ada yang sakit." Ucap sang ibu khawatir, Ferra tersenyum tipis menutupi rasa ketakutan nya.
" Mam, papa mana?'' Tanya Ferra menyembunyikan wajahnya yang ketakutan. Takut akan ketahuan kalau dirinya tengah hamil.
'' Menemui dokter nak, mungkin sebentar lagi datang.''
Benar saja tak lama papa Ferra masuk ke ruangan anaknya yang lagi dirawat, muka papa Ferra seperti tidak bersahabat Ferra menyadari hal itu.
'' Katakan siapa ayah dari janin yang sedang kau kandung itu, biar papa yang akan menghabisi nya.'' Ucap sang papa menahan luapan emosi karena ia sadar sedang berada di rumah sakit.
'' Papa, apa maksud papa berkata seperti itu??'' Tanya Mama.
'' Mah, Mama tahu anak yang selama ini kita sayangi kita manjakan sedang hamil dan tidak tahu siapa ayahnya.''
Ferra masih terisak dalam tangisnya berusaha kuat melihat kemarahan dari sang papa.
'' Ferr apa benar yang Mama dengar???, katakan siapa laki-laki itu?? Mama tak menyangka kalau kamu bisa serendah itu nak?.''
'' Selama ini kalian kemana, apa kalian ingat kalau kalian punya anak?, selama ini yang memberikan kasih sayang pada Ferra hanya bibi, dan kalian hanya sibuk dengan urusan masing-masing.''
Plaakk
Terlihat Ferra mengelus pipi bekas tamparan dari papa nya, nampak sudut bibirnya berdarah.
'' Non, non tidak apa-apa?'' Sang bibi mendekati Ferra dan memeluknya.
'' Tuan, nyonya sebaiknya kalian pulanglah dulu biar non bibi yang jaga.!!
'' Baiklah bi, tolong jagain Ferra !!
'' Ayo pah, kita sebaiknya pulang dan istirahat.
Orang tua Ferra pun keluar dari ruangan itu, tinggallah Ferra yang masih murung dan sedih.
__ADS_1
'' Bi, jangan tinggalin Ferra yah, hanya bibi yang peduli sama Ferra...!
'' Non sebaiknya istirahat biar cepat pulih dan bisa cepat pulang, dan ingat non lagi mengandung setidaknya janin itu tidak bersalah jadi jaga dia yah.!!'' Ferra mengangguk mendengar penuturan bibi.