
Suasana makan malam kali ini begitu ramai karena Sam dan juga Ferra ikut serta.
'' Alhamdulillah bapak bahagia sekali bisa berkumpul-kumpul dan makan malam bersama.'' Ucap ayah Mutia setelah selesai makan malam.
'' Pak, Bu maaf sebelumnya besok saya akan bawa Mutia ikut ke Jakarta.'' Ucap Daniel.
'' Kenapa harus izin lagi nak dia sekarang adalah tanggung jawab mu, tapi apa bapak boleh tahu? Kenapa secepat itu apa tidak bisa nginap berapa hari lagi?'' Ucap bapak Mutia.
'' Sebenarnya....'' Daniel ragu untuk berterus terang, karena ia khawatir tidak di izinkan membawa Mutia.
'' Ada apa nak?'' Tanya grandma.
'' Begini pak, Bu dan grandma ada urusan penting yang harus saya sendiri untuk menangani nya, maka dari itu saya minta izin untuk membawa Mutia ikut dengan saya.''
'' Ya sudah mana baiknya lah bapak hanya meminta tolong jaga dan lindungilah anak bapak ini dia sekarang tanggung jawab mu!''
" Saya pasti melindungi dan menjaga nya pak.''
Malam mulai larut semua orang sudah menuju kamarnya masing, lain halnya dengan Mutia.
'' Sayang kenapa kamu belum masuk, besok kamu harus melakukan perjalanan jauh.
'' Bapak, ibu Mutia pasti akan sangat merindukan kalian.''
'' Hmm sayang kamu memang Putri ibu tapi kamu sekarang sudah menjadi seorang istri, jadi kamu sekarang harus bisa menjaga kehormatan sebagai wanita yang sudah bersuami.'' Nasehat ibu.
'' Iya nak, kapan pun kamu akan pulang rumah ini selalu terbuka, tapi pesan bapak rukun lah dalam berumah tangga.'' '' Ya sudah pergilah ke kamar kasihan suamimu.''
'' Iya pak, Bu maafin jika selama ini Mutia sudah banyak merepotkan kalian.''
'' Sudah-sudah tidak ada yang direpotkan ayo masuk kamar.!''
Mutia pun pergi meninggalkan orang tua nya dan menuju kamarnya, terlihat Daniel sedang mengutak-atik laptopnya.
'' Mas... maaf yah aku lama.'' Ucap Mutia mendekati suaminya dan duduk di samping Daniel.
__ADS_1
'' Iya sayang sini duduk..!'' Daniel menutup laptopnya dan meraih tangan Mutia untuk duduk di dekatnya.
'' Sayang apa kamu masih berat meninggalkan kedua orang tua mu??'' Tanya Daniel lembut, sesekali mengecup tangan Mutia.
'' Tidak kok mas, tadi aku hanya ngobrol sebentar aja...''
'' Jangan bohong sayang dari wajah kamu seperti nya tidak ingin pergi bersama mas.''
'' S-siapa bilang...'' Ucap Mutia gugup.
'' Ya sudah bubu yuk, kamu pasti sudah lelah.''
'' Hmm....mas...''
'' Ssst sini..!'' Daniel menarik Mutia untuk baring disebelahnya dan mengecup kening Mutia.
'' Mas tidak akan minta hak mas sekarang, karena mas tahu kamu masih lelah dan lagi besok kita akan melakukan perjalanan jauh, tidurlah sayang!!'' Daniel membelai rambut Mutia lembut. Mutia yang mendapat perlakuan manis dari sang suami pun merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan.
Dengan menahan gejolak di dadanya Daniel berusaha memejamkan matanya walau gairah nya seakan ingin segera di tuntaskan.
'' Mas...ada apa, gak bisa tidur?'' Mutia mengucek matanya, ia merasakan kegelisahan yang melanda pria yang berbaring disampingnya.
'' Mas aku siap kok kalau mas mau meminta hak mas, aku merasa berdosa kalau mengabaikan keinginan suami.''
Daniel langsung menge**p bibir mutia dan berubah jadi l****Tan yang lembut.
Mutia merasakan Daniel yang gelisah tidak bisa tidur pun berinisiatif terlebih dahulu.
Malam semakin larut penghuni rumah sudah masuk ke alam mimpinya masing-masing, tapi tidak dengan pengantin baru yang masih terjaga.
" Sayang..." Daniel yang mendengar suara lembut Mutia Semakin tidak bisa menahan nya lagi.
" Iya mas lakukanlah.." Dengan perlahan Daniel menyatukan tubuhnya, Daniel merasa tidak tega melihat wajah Mutia yang menahan sakit.
" Sayang maafin mas yah, sebentar lagi bisa tahan kan...?"
__ADS_1
Mutia meringis dan mengangguk pelan lama kelamaan suara lembut keluar dari mulutnya.
*
*
*
*
Adzan subuh berkumandang di mushola dekat rumah, diluar kamar sudah terdengar aktivitas dari sang empunya rumah.
" Biarkan saja pak, kasihan mereka pasti lelah mereka pasti sholat di rumah." Kata ibu melarang suaminya yang akan mengajak Daniel sholat berjamaah di mushola.
" Auu...sssh..." Terdengar Mutia berdesis menahan sakit di area sensitif nya.
" Sayang sebentar biar mas gendong kamu yah.
" Tidak usah mas aku bisa sendiri kok." Tanpa menunggu ucapan mutia, Daniel menggendong Mutia masuk ke kamar mandi.
" mas mandiin yah.."
Blushhh....wajah Mutia merona menahan malu.
" Tapi mas..."
" Kenapa sayang, ngapain malu toh kita sudah melakukan nya tadi malam.
" Ish mas Daniel ini..." Daniel mencium bibir Mutia.
" Jangan lagi mas, ini ajaasih sakit.."
" Hmmm mesum nya istri mas, emang mau lagi huh..., kita akan mandi nanti ketinggalan subuh nya.
" Iya mas..." Daniel dan Mutia akhirnya mandi bareng, dengan kejahilan Daniel yang sesekali mengecup daerah sensitif Mutia.
__ADS_1
" Gara-gara mas nih, tuh tengok dah jam berapa..."
" Iya iya maaf ayok sholat dulu..."